NovelToon NovelToon
Jawara Pasar : Cicit Dua Milliarder

Jawara Pasar : Cicit Dua Milliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Romansa
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ottoy Lembayung

SMA Harapan Bangsa—tempat di mana kemewahan dan status sosial menjadi ukuran utama. Di tengah keramaian siswa-siswi yang terlihat megah, Romi Arya Wisesa selalu jadi pusat perhatian yang tidak diinginkan: berpakaian lusuh, tas dan sepatu robek, tubuh kurus karena kurang makan. Semua menyebutnya "Bauk Kwetek" dan mengira dia anak keluarga miskin yang hanya diurus oleh orang tua sambung. Tak seorangpun tahu bahkan Romi pun tidak mengetahui bahwa di balik penampilan itu, Romi adalah cicit dari dua konglomerat paling berpengaruh di negeri ini—Pak Wisesa raja pertambangan, dan Pak Dirgantara yang menguasai sektor jasa mulai dari rumah sakit, sekolah, mall hingga dealer kendaraan.
Perjalanan hidup Romi sudah ditempa dari Kecil hingga Remaja pelajar SMA.
Dari mulai membantu Emaaknya berjualan Sayuran, Ikan, udan dan Cumi, sampai menjadi kuli panggul sayur dan berjualan Bakso Cuanki.
Ditambah lagi dengan konflik perseteruannya dengan teman perempuan di sekolahnya yang bernama Yuliana Dewi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ottoy Lembayung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33. Romi VS Preman Bedil dan Jabrik part 3

"Jangan kalian berpikir bahwa bocah yang bernama Romi tersebut bisa dengan mudah mengalahkan kita semua ya! Bahkan PITUNG JAWARA BETAWI yang dulu dianggap sebagai orang yang paling kuat dan tangguh di seluruh wilayah Jakarta saja bisa termehek-mehek dan tidak mampu melawan ketika terkena tembakan dari peluru emas yang terbuat dari bahan berkualitas tinggi ini!" ucap Jabrik dengan suara yang penuh dengan rasa percaya diri yang luar biasa dan kesombongan yang tidak perlu, sambil berdiri di samping kursi Bang Bedil dan memperlihatkan senjata spesial yang ia miliki kepada seluruh anak buah mereka yang ada di dalam ruangan tersebut.

Senjata yang diperlihatkannya adalah sebuah pedang samurai dengan panjang yang sangat luar biasa – jauh lebih panjang dari samurai pada umumnya yang hanya memiliki panjang sekitar satu meter saja. Pedang tersebut adalah hasil modifikasi sendiri yang dilakukan oleh Jabrik dengan bantuan dari sebuah bengkel mobil lokal yang dikenal sebagai tempat untuk membuat atau memodifikasi berbagai jenis senjata tajam atau api yang tidak legal.

"ALAA BUSYEET BUNEENG! Apakah itu benar-benar sebuah samurai atau hanya sebuah galah kayu besar yang kamu buat-buat jadi senjata ya bang? Panjangnya sungguh tidak masuk akal sekali!" teriak kompak Sadeli dan Toha yang baru saja tiba di markas tersebut dengan kondisi yang tidak terlalu baik – Toha masih membawa perban putih di dahinya yang masih sedikit merembes darah akibat benturan yang ia alami saat bertempur dengan Romi, sementara Sadeli dengan wajah yang masih menunjukkan rasa takut dan kekalahan yang memalukan tersebut.

"Diam kalian berdua dasar tidak berguna! Dua orang manusia tidak berguna sama sekali yang bahkan tidak mampu mengalahkan seorang bocah yang baru saja keluar dari rahim ibunya!" marah Bang Bedil dengan suara yang sangat keras dan kasar hingga terdengar jelas ke seluruh penjuru ruangan tersebut, wajahnya yang besar dan penuh dengan rambut hitam yang tebal tersebut memerah karena kemarahan yang meluap-luap darinya, "Hanya dalam waktu satu pagi saja kalian sudah bisa mengalami kekalahan yang sangat memalukan seperti itu! Bagaimana mungkin kalian bisa membantu saya untuk menguasai seluruh wilayah dan pasar di sekitar sini jika kalian tidak mampu melakukan sesuatu yang sederhana seperti mengumpulkan uang jatah preman saja?!"

"Maaf sekali lagi bang... sebenarnya kejadian tersebut terjadi pada waktu sore hari bukan pagi hari seperti yang Bang Bedil katakan tadi" koreksi Toha dengan suara yang sangat pelan dan penuh dengan rasa takut terhadap bosnya yang sedang dalam kondisi marah besar tersebut, sambil menundukkan kepalanya agar tidak melihat langsung wajah marah dari Bang Bedil.

"Terserah gue lah mau menyebutkannya sebagai pagi atau sore hari! Mulut gue adalah milik gue sendiri jadi jangan sampai kalian berani membantah atau memperdebatkan apa yang gue katakan dengan hal yang sepele dan tidak penting seperti itu!" balik Bang Bedil dengan suara yang semakin menunjukkan rasa tidak sabar terhadap anak buahnya yang dianggapnya tidak berguna tersebut, sambil dengan kasar menepuk meja kayu yang terletak di depannya untuk menunjukkan kemarahan yang ia rasakan.

"Lalu apakah kalian semua sudah benar-benar siap dan bersedia untuk melakukan tindakan pembalasan yang akan kita lakukan terhadap bocah yang bernama Romi tersebut beserta seluruh pedagang yang ada di Pasar Sewon?!" tanya Bang Bedil dengan suara yang sangat tegas dan penuh dengan kekuasaan, sambil berdiri dengan cepat dari kursinya yang membuat kursi tersebut berderak keras menyentuh lantai tanah yang tidak rata tersebut.

"Siaap sudah bos! Kami siap dan bersedia untuk melakukan apa saja yang diperintahkan oleh bos!" jawab serempak seluruh anak buahnya dengan suara yang penuh dengan kesetiaan dan kesediaan untuk melakukan segala sesuatu yang diperintahkan oleh bos mereka tersebut.

"BAIKLAH! MAKA SEKARANG KITA BERGERAK KE PASAR SEWON! JALAAAAN!!!" teriak Bang Bedil dengan suara yang sangat keras dan menggema hingga terdengar jelas ke luar ruangan dan bahkan ke jalanan yang terletak di depan kontrakan tersebut, lalu ia dengan cepat mengarahkan seluruh anak buahnya untuk segera bergerak menuju tujuan mereka yaitu Pasar Sewon dengan langkah yang cepat dan penuh dengan hasrat untuk membalas dendam.

Di Pasar Sewon sendiri, suasana yang baru saja mulai kembali tenang dan normal tiba-tiba menjadi sangat ramai dan penuh dengan kegembiraan yang berubah menjadi rasa takut dan panik secara tiba-tiba. Seseorang yang melihat kedatangan Bang Bedil beserta rombongannya dari kejauhan langsung berlari kesetanan ke dalam area pasar sambil berteriak dengan suara yang sangat keras dan jelas agar bisa didengar oleh semua orang yang ada di dalam pasar: "Bang Bedil dan seluruh anak buahnya sedang datang dan menuju langsung ke arah lapak sayuran kita! Bang Bedil datang dengan membawa banyak orang dan senjata tajam! Semua harus berhati-hati dan bersiap diri!"

Panggilan dan teriakan tersebut diulang-ulang berkali-kali oleh orang tersebut saat ia berlari dan berputar-putar di seluruh penjuru pasar untuk menyampaikan kabar buruk tersebut kepada semua orang yang ada di sana. Beberapa pedagang yang sedang berjualan dengan tenang langsung merasa panik dan tidak tahu harus melakukan apa – mereka tidak memiliki cukup waktu untuk menutup atau merapikan lapak-lapak mereka yang penuh dengan barang dagangan yang berharga, sehingga akhirnya mereka hanya bisa pasrah dan memilih untuk bersembunyi di dekat atau di balik lapak-lapak mereka masing-masing dengan harapan bahwa mereka tidak akan menjadi target atau korban dari tindakan kekerasan yang mungkin akan dilakukan oleh Bang Bedil dan rombongannya tersebut.

Tak lama kemudian, seperti yang telah disampaikan oleh orang yang memberikan peringatan tersebut, Bang Bedil beserta seluruh rombongannya yang berjumlah sekitar sepuluh orang muncul dengan jelas di pintu masuk Pasar Sewon. Semua mereka membawa senjata tajam yang cukup berbahaya – mulai dari samurai panjang yang dimiliki oleh Jabrik, golok besar dengan bilah tajam, pedang tradisional yang memiliki bentuk unik, hingga pistol kuno "Bongkok" yang selalu dibawa oleh Bang Bedil di tangan kanannya yang kuat dan penuh dengan otot. Wajah mereka semuanya menunjukkan ekspresi yang sama yaitu kemarahan yang luar biasa dan hasrat untuk membalas dendam terhadap Romi yang telah membuat mereka merasa tersinggung dan mengalami kekalahan yang memalukan.

"ROMIIII! KELUARLAH KAMU BAJINGAN TENGIIIIK! JANGAN SAMPAI KAMU MENYEMBUNYIKAN DIRI SEPERTI ORANG YANG PENGECUT DAN TAKUT!" teriak Bang Bedil dengan suara yang sangat keras dan meradang hingga membuat beberapa orang yang berada di dekatnya merasa sedikit tuli atau tidak nyaman dengan suaranya yang menyakitkan telinga tersebut, wajahnya yang besar dan kasar tersebut memerah padam karena sedang menahan amarah yang sangat besar yang meluap-luap dari dalam dirinya.

"Jangan sampai kamu hanya bisa bersembunyi di balik punggung ibumu yang lemah dan tidak berdaya seperti itu ya bocah kecil! Tunjukkan bahwa kamu memiliki keberanian untuk menghadapi kita secara langsung dan tidak menjadi orang yang tidak tahu diri!" sambung Jabrik dengan suara yang sangat kasar dan penuh dengan rasa penghinaan terhadap Romi serta Emak Susi tersebut, memecah keheningan yang tiba-tiba menyelimuti seluruh area Pasar Sewon setelah teriakan dari Bang Bedil tersebut.

Beberapa saat kemudian, setelah beberapa detik keheningan yang sangat tegang dan membuat semua orang merasa tidak nyaman tersebut berlalu, seorang laki-laki muda yang tampak masih sangat muda namun dengan wajah yang penuh dengan keberanian dan keyakinan mulai berjalan keluar dengan sangat santai dan penuh percaya diri dari balik lapak sayuran milik Emak Susi – itu adalah Romi yang telah menunggu kedatangan Bang Bedil dan rombongannya dengan penuh kesediaan untuk menghadapi mereka. Di sebelah kanannya berdiri Emak Susi dengan wajah yang luar biasa tenang dan tidak menunjukkan tanda-tanda rasa takut sedikit pun, sementara di sebelah kirinya berdiri Mpok Wati dengan wajah yang sangat pucat dan menunjukkan tanda-tanda ketakutan yang sangat besar yang ia rasakan akibat kedatangan Bang Bedil dan rombongannya tersebut.

Bersamaan dengan itu, secara perlahan-lahan banyak kepala mulai muncul dari balik lapak-lapak pedagang yang ada di sekitar mereka – seolah-olah semua orang yang ada di pasar tersebut secara tidak langsung memberikan dukungan kepada Romi yang mereka anggap sebagai pahlawan muda yang telah berjasa untuk melindungi mereka dan menjaga ketertiban di dalam Pasar Sewon tersebut.

"Kasihan sekali melihat kondisi Mpok Wati yang wajahnya sangat pucat seperti itu – pasti dia sedang mengalami sakit atau tidak enak badan ya?" ucap Bang Rokib kepada anak buahnya yang bernama Malih dengan suara yang penuh dengan rasa prihatin dan kekhawatiran terhadap kondisi Mpok Wati tersebut, sambil melihat ke arah Mpok Wati yang masih berdiri dengan sangat tegang di sebelah Romi.

"Bukan sakit atau tidak enak badan yang dialami oleh Mpok Wati bos, wajahnya yang pucat seperti itu adalah karena rasa ketakutan yang amat sangat besar yang ia rasakan melihat kedatangan Bang Bedil dan rombongannya yang sangat berbahaya tersebut!" jawab Malih dengan suara yang pelan namun jelas, seolah ia sangat paham dengan kondisi yang sedang dialami oleh Mpok Wati tersebut.

1
ceuceu
masih bertele" ceritanya,blm sesuai judul
Kang Ottoy: Terima kasih masukannya kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!