SMA Harapan Bangsa—tempat di mana kemewahan dan status sosial menjadi ukuran utama. Di tengah keramaian siswa-siswi yang terlihat megah, Romi Arya Wisesa selalu jadi pusat perhatian yang tidak diinginkan: berpakaian lusuh, tas dan sepatu robek, tubuh kurus karena kurang makan. Semua menyebutnya "Bauk Kwetek" dan mengira dia anak keluarga miskin yang hanya diurus oleh orang tua sambung. Tak seorangpun tahu bahkan Romi pun tidak mengetahui bahwa di balik penampilan itu, Romi adalah cicit dari dua konglomerat paling berpengaruh di negeri ini—Pak Wisesa raja pertambangan, dan Pak Dirgantara yang menguasai sektor jasa mulai dari rumah sakit, sekolah, mall hingga dealer kendaraan.
Perjalanan hidup Romi sudah ditempa dari Kecil hingga Remaja pelajar SMA.
Dari mulai membantu Emaaknya berjualan Sayuran, Ikan, udan dan Cumi, sampai menjadi kuli panggul sayur dan berjualan Bakso Cuanki.
Ditambah lagi dengan konflik perseteruannya dengan teman perempuan di sekolahnya yang bernama Yuliana Dewi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ottoy Lembayung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Curhatan Hati Yuliana Dewi part 2
Yuli terdiam sejenak setelah mendengar kata-kata Erna, matanya mulai menggelitik dan dia teringat pada suatu kejadian yang tidak sengaja dilihatnya beberapa waktu yang lalu. Saat itu dia kebetulan melewati kamar orang tuanya dan melihat papah Hartawan serta mamah Lusi sedang berpelukan erat dengan gaya yang mirip sekali dengan yang ada di majalah dan video porno yang diberikan Romi kepadanya.
"Gaya erotis yang sama persis antara yang diperagakan mereka berdua dengan apa yang ada di majalah dan film DVD itu..." gumam Yuli dalam hati dengan rasa kebingungan yang luar biasa. Tanpa dia sadari, dia mulai menjerit histeris dengan suara yang cukup keras, membuat Erna langsung terkejut dan berdiri dengan cepat.
"Pusiiiiing pusiiiing gue jadinya Er! Gue nggak bisa mikir dengan jelas lagi sekarang," ucap Yuli dengan suara yang penuh kebingungan dan rasa sakit hati, menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kenapa loe pusing Yul? Apa kamu sakit? Gue bawa aja loe ke ruangan kesehatan deket kok—ada di sebelah gedung kesenian ini lho, tinggal beberapa langkah lagi," ucap Erna dengan suara penuh kekhawatiran, sudah siap membimbing Yuli keluar dari ruangan untuk mencari bantuan.
"Gak usah Er... gue bukan pusing sakit kepala, tapi pusing mikirin tentang si Romi brengsek itu yang udah menodai gue dengan memberikan barang haram itu padaku!" ucap Yuli dengan suara yang kembali penuh kemarahan, menarik tangannya dari wajahnya dan berdiri dengan cepat.
"Yuli loe ternoda sama si Romi? Benarkah itu? Kapan dan dimana loe melakukannya dengan si Romi?" tanya Erna dengan suara yang penuh kejutan, bahkan sedikit meremas karena salah paham makna yang diberikan Yuli.
"Auu Aah gelap banget pikiran loe Er! Aku bukan berarti itu... Cukup aja kita balik lagi ke kelas sebelum guru mencari kita dan malah kita kena hukuman lagi," ajak Yuli dengan suara yang sudah mulai tenang kembali, mengambil tasnya dan langsung berjalan keluar dari ruangan. Erna mengangguk dengan cepat dan mengikuti langkahnya dengan hati-hati.
Baru berjalan sekitar 10 langkah dari gedung kesenian menuju arah kelas mereka, kaki kedua siswi kelas 10D itu tiba-tiba dihadang oleh dua orang siswa kelas 12 yang tampak sudah menunggu mereka dari jauh. Mereka adalah Bowo dan Yoga—dua orang yang dikenal sebagai anggota geng yang suka mengganggu siswa lain.
"Haiii Cantik... dan Haiii Manis!" sapa Bowo dengan senyum yang mengandung racun berbisa, matanya terus menatap Yuli dengan tatapan yang tidak baik. Di sisinya, Yoga hanya tersenyum nakal sambil menggosok-gosok tangannya, juga memandang Yuli ...dengan tatapan yang penuh dengan maksud tidak baik.
"Kalian mau apa menghadang jalan kita? Kami sedang tergesa-gesa mau kembali ke kelas lho," tanya Yuli dengan nada yang ketus dan tidak mau main-main, sudah mengenal betul karakter kedua orang ini yang suka membuat masalah.
"Jangan coba-coba ganggu kita ya! Kami gak takut sama kalian berdua atau siapapun juga," ucap Erna dengan suara yang kuat dan tegas, matanya berapi-api menunjukkan bahwa dia siap melindungi teman sekaligus dirinya sendiri.
"Tenang... slow aja nona-nona cantik dan manis. Kami hanya ingin berkenalan saja kok, tidak ada maksud jahat apa-apa," ucap Yoga dengan suara yang dibuat ramah namun tetap terasa licik, menyelinap sedikit mendekati kedua siswi tersebut.
"Boleh dong kita kenalan? Biar saling mengenal aja kan teman satu sekolah," sambung Bowo sambil perlahan mengulurkan tangannya ke depan seolah ingin bersalaman dengan Yuli.
"Minggir kalian berdua! Aku gak mau kenalan sama kalian berdua yang suka berbuat salah dan membully teman-teman sekolah," ucap Yuli dengan suara yang semakin keras, menjauh sedikit dari tangan Bowo yang ingin menyentuhnya.
"Tuuh dengerin dan pasang telinga kalian masing-masing! Teman gue gak mau kenalan dengan kalian berdua, jadi sebaiknya kalian berdua hengkang dari sini cepaaaat!!!," teriak Erna dengan marah, mengangkat dagunya menunjukkan bahwa dia tidak akan menyerah dengan mudah.
Lalu Bowo dengan cepat menghampiri kedua siswi tersebut, membuat mereka sedikit terkejut dan mundur ke belakang. Suasana yang tadinya sudah tegang menjadi semakin kencang.
"Kalian berdua akan menyesal karena telah menolak niat baik kami untuk berkenalan dengan kalian berdua," ucap Bowo dengan suara rendah namun penuh ancaman, menatap Yuli dengan mata yang menyala marah.
"OMG menyesal? Maksud loe apa kita bakalan menyesal karena gak kenalan sama kalian berdua yang selalu suka mengganggu orang lain?" ucap Yuli dengan nada menantang, berkacak pinggang menunjukkan bahwa dia tidak akan mudah ditakuti.
"Tunggu saja tanggal mainnya nona-nona cantik dan manis. Nanti kalian akan tahu apa yang terjadi kalau berani menolak kita," ucap Yoga dengan tersenyum licik, kemudian memberikan sinyal kepada Bowo untuk pergi bersama-sama.
Dan keduanya berjalan pergi menjauh dari Yuli dan Erna dengan langkah yang santai, tanpa melihat lagi ke arah mereka. Namun sebelum benar-benar hilang dari pandangan, Yoga menoleh sebentar dan memberikan tatapan yang menyeramkan.
"Serem juga itu keduanya ya Yul... Senyumnya terlihat menyeramkan seperti aura mereka adalah aura orang-orang jahat yang siap melakukan apa saja," ucap Erna dengan suara pelan setelah Bowo dan Yoga benar-benar pergi, masih merasa sedikit takut dengan ancaman mereka.
"Tepat sekali Er... memang keduanya sering berbuat jahat kepada anak-anak baru atau siswa yang mereka anggap lemah hanya sekedar untuk membully mereka dan merasa puas," ucap Yuli dengan suara penuh kemarahan, masih mengingat bahwa salah satu korban utama dari tindakan mereka adalah Romi.
"Apaaa loe bilang Yul? Romi adalah salah satu korban mereka? Kenapa aku tidak tahu tentang ini sebelumnya?" ucap Erna dengan suara penuh kejutan, tidak menyangka bahwa Romi yang sudah sering dipermalukan juga menjadi korban bullying dari Bowo dan Yoga.
"Betul sekali Er... aku tahu ini karena beberapa waktu yang lalu aku melihat mereka sedang mengganggu Romi di belakang gedung," ucap Yuli dengan suara yang sedikit lebih lembut sekarang, merasa sedikit iba dengan kondisi Romi yang terus menerus mendapatkan masalah.
"Dan kita harus benar-benar membantu semua siswa atau siswi yang dibully oleh Bowo dan Yoga ini. Tidak bisa lagi diam melihat teman-teman kita diperlakukan tidak adil," ucap Yuli dengan tekad yang bulat, sudah memutuskan untuk tidak hanya berpikir tentang masalah dirinya sendiri.
"Membantu siswa dan siswi SMA Harapan Bangsa atau cuma Romi doang Yul? Hehe kayaknya kamu mulai merasa iba sama dia ya," ledek Erna dengan sedikit tersenyum, mencoba untuk merelaksasi suasana yang kembali menjadi serius.
"Sueee loe Er! Gue beneran serius nih tentang hal ini. Bullying adalah hal yang sangat tidak baik dan bisa merusak masa depan korban nya," ucap Yuli dengan suara yang tegas, namun tetap menunjukkan bahwa dia tidak marah dengan candaan Erna.
"Lah gue juga dua rius kok Yul! Kalau memang ada cara untuk membantu mereka, aku pasti akan ikut membantu juga," ledek Erna lagi kepada Yuli dengan senyum lebar, membuat Yuli sedikit tersenyum kembali. Dan tidak terasa mereka sudah berada di depan pintu kelas mereka yang sudah mulai ramai dengan suara siswa yang sedang berbicara.
Di tempat lain, tepatnya di halaman belakang sekolah yang menjadi tempat kumpul geng Tamvan, terlihat Ronal berdiri dengan pose sombong di depan dua anggotanya—Indra dan Sapta. Geng Tamvan adalah kumpulan siswa kelas 10 yang terdiri dari anak-anak konglomerat yang merasa lebih tinggi dari siswa lain.
"Loe udah dapat kabar tentang Yuli belum? Apakah dia sudah melaporkan kejadiannya ke kepala sekolah?" tanya Ronal dengan suara yang penuh dengan ketegasan, menatap kedua temannya dengan mata yang tajam.
"Udah ada kabar berita tapi hanya berita yang biasa saja Nal. Sepertinya dirinya belum melaporkan ke kepala sekolah atau guru apapun tentang kejadian itu," ucap Indra dengan suara rendah, menunjukkan bahwa dia sedang melaporkan informasi yang dia dapatkan.
"Heeem... Kok Yuli belum melaporkan ya? Aneh nih. Apa jangan-jangan si Yuli naksir sama si Romi yang miskin itu? Waduuuh kalau itu benar jadi kacau semuanya niih! Bagaimana dengan rencana kita untuk mendapatkan perhatian Yuli?" ucap Ronal dengan suara penuh kekhawatiran namun juga sedikit kemarahan, tidak menyukai adanya orang lain yang bisa menarik perhatian Yuli darinya.
"Sambil menunggu berita apakah Yuli akan melaporkan kejadian perihal majalah dan keping DVD atau tidak, baiknya kita bully dulu aja si Romi itu. Biar dia tau siapa yang sebenarnya berkuasa di sekolah ini," perintah Ronal kepada kedua temannya dengan suara yang tegas dan tidak bisa ditentang.
"Aku setuju Nal! Sudah lama juga aku ingin menghajar si Romi yang selalu menyombongkan diri itu," ucap Indra dengan suara penuh semangat, sudah tidak sabar untuk melakukan tindakan yang dia rencanakan.
"Aku juga setuju banget Nal! Tangan rasanya udah gatel banget pengen mencicipi wajah dan perut si Romi yang selalu dianggap lebih baik dari kita," ucap Sapta dengan suara yang penuh dengan kebencian, menggenggam kepalannya dengan erat.
"Bagus lah klo begitu! Kita persiapkan secepatnya karena lebih cepat selesai maka lebih baik untuk kita semua," ucap Ronal dengan senyum liciknya yang khas, sudah membayangkan bagaimana Romi akan menangis dan menyerah di depannya.
"Apa kita bawa tambahan orang lain lagi untuk menghajar Romi Nal? Supaya dia benar-benar takut dan tidak berani lagi muncul di depan kita," tanya Indra dengan suara yang penuh rasa ingin tahu, ingin memastikan bahwa tindakan mereka akan berjalan dengan lancar.
"Terserah kalian aja mau bawa siapa atau tidak. Tapi yang perlu kalian ingat adalah jangan sampai ada yang tahu kalau aku ada di belakang kalian semua. Kalau ada yang tahu, kalian tahu konsekuensinya kan?" ucap Ronal kepada Indra dan Sapta dengan suara yang rendah namun penuh ancaman, menunjukkan bahwa dia tidak akan bertanggung jawab jika mereka terbongkar.
"Siiaap lah Ronal... Kalau begitu aku ijin mau kembali kekelas dulu ya Nal, agar tidak terlalu mencolok dan membuat orang lain curiga," ucap Indra dengan suara rendah, sudah siap untuk pergi dan mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan.
"Saya juga ijin dulu Ronal, mau mencari teman-teman lain yang mau membantu kita menghajar si Romi," ucap Sapta dengan suara yang sama rendah seperti Indra, kemudian berniat untuk pergi bersama Indra.
"Dasar anak mamah! Baru sebentar nyetor muka di depan gue... eeh malah kalian udah pada mau masuk ke kelas aja. Apa kalian bisa melakukan sesuatu yang penting kalau hanya bisa berlari dan menghindar seperti ini?" ucap Ronal kepada Indra dan Sapta dengan suara yang penuh dengan penghinaan, merasa bahwa kedua temannya itu sangat tidak berguna.
"Payah kalian berdua! Jangan sampai kalian gagal ya kalau tidak ingin mendapatkan hukuman dari gue," tambah Ronal lagi sebelum akhirnya memalingkan wajahnya dan berjalan pergi meninggalkan Indra dan Sapta yang sedang berdiri dengan wajah penuh rasa malu.