Ragnar Aditya van Der Veen—pria berdarah campuran Indonesia–Belanda—memiliki segalanya: karier mapan di Jakarta, wajah tampan, dan masa lalu yang penuh gemerlap. Namun di balik itu semua, ia menyimpan luka dan penyesalan yang tak pernah benar-benar sembuh. Sebuah kesalahan di masa lalu membuatnya kehilangan arah, hingga akhirnya ia memilih kembali pada jalan yang lebih tenang: hijrah, memperbaiki diri, dan mencari pendamping hidup melalui ta’aruf.
Di Ciwidey yang sejuk dan berselimut kebun teh, ia dipertemukan dengan Yasmin Salsabila—gadis Sunda yang lembut, sederhana, dan menjaga prinsipnya dengan teguh. Yasmin bukan perempuan yang mudah terpesona oleh penampilan atau harta. Baginya, pernikahan bukan sekadar cinta, tapi ibadah panjang yang harus dibangun dengan kejujuran dan keimanan.
Pertemuan mereka dimulai tanpa sentuhan, tanpa janji manis berlebihan—hanya percakapan-percakapan penuh makna yang perlahan mengikat hati. Namun perjalanan ta’aruf mereka tak semulus jalan tol.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara Takdir dan Tuduhan
Malam setelah pengakuan itu terasa lebih panjang dari biasanya.
Yasmin tidak langsung masuk ke kamar setelah Ragnar pulang. Ia duduk sendiri di beranda, memandangi jalan yang mulai sepi. Gelang kayu itu masih melingkar di tangannya, kini terasa lebih berat dari sebelumnya.
Takdir memang mempertemukan mereka dua kali.
Tapi apakah setiap pertemuan berarti harus dipersatukan?
________________________________________
Di dalam rumah, Pak Asep memerhatikan putrinya dari balik tirai.
“Min,” panggilnya pelan.
Yasmin masuk dan duduk di hadapan ayahnya.
“Apakah kamu marah padanya?”
Yasmin menggeleng perlahan. “Tidak.”
“Kecewa?”
Ia terdiam. “Saya lebih takut, Pak.”
“Takut apa?”
“Takut kalau saya hanya bagian dari cerita penebusan dosanya.”
Pak Asep tersenyum tipis. “Kalau dia menikahimu hanya karena rasa bersalah, itu tidak akan bertahan lama. Tapi kalau karena kesadaran… itu beda.”
Yasmin menunduk. Ia tahu ayahnya benar. Namun hati perempuan tidak sesederhana logika.
Ada rasa yang tumbuh pelan, tanpa ia minta.
Dan justru itu yang membuatnya gentar.
________________________________________
Sementara itu di Jakarta, suasana rumah keluarga van Der Veen memanas.
Helena berdiri di ruang kerja suaminya dengan map laporan di tangan.
“Ini ceroboh sekali,” katanya tajam.
Willem membaca dokumen kecelakaan lama itu. “Semua sudah diselesaikan secara hukum.”
“Masalahnya bukan hukum,” balas Helena. “Masalahnya reputasi.”
Ragnar berdiri di hadapan kedua orang tuanya dengan tenang, meski dadanya bergejolak.
“Saya sudah bertanggung jawab waktu itu.”
Helena menatapnya tajam. “Dan sekarang keluarga gadis itu tahu?”
“Sudah.”
Helena terdiam sesaat. “Reaksi mereka?”
“Mereka mendengarkan.”
Willem mengangkat kepala. “Dan kamu pikir itu cukup?”
Ragnar menatap ayahnya lurus. “Saya tidak bisa menghapus masa lalu. Tapi saya tidak akan lari lagi.”
Sunyi menyelimuti ruangan besar itu.
Helena akhirnya duduk perlahan. “Kamu benar-benar ingin menikahinya?”
“Ya.”
“Bahkan jika itu membuatmu bertentangan dengan keluarga?”
Ragnar menarik napas panjang. “Saya tidak ingin bertentangan. Saya ingin Ayah dan Ibu percaya pada pilihan saya.”
Helena menatap anaknya lama. Untuk pertama kalinya, ia melihat keteguhan yang berbeda. Bukan keras kepala. Tapi keyakinan.
Namun keyakinan itu belum cukup untuk menghapus kekhawatirannya.
________________________________________
Di Ciwidey, gosip kembali berembus.
Beberapa tetangga mulai mengaitkan kabar kecelakaan lama dengan kedatangan keluarga kaya dari Jakarta.
“Jangan-jangan mereka datang bukan karena cinta, tapi karena takut rahasia terbongkar.”
Kalimat itu sampai ke telinga Fikri.
Sore itu ia mendatangi Yasmin lagi.
“Min, kamu yakin ini semua bukan karena tekanan?”
Yasmin menghela napas. “Semua orang selalu bilang saya polos.”
“Karena kamu memang terlalu baik.”
Yasmin tersenyum kecil. “Baik itu bukan berarti bodoh, Kang.”
Fikri terdiam.
“Aku cuma tidak ingin kamu terluka.”
“Kalau saya mundur hanya karena takut terluka, saya tidak akan pernah tahu jawabannya.”
Fikri menatapnya lama. Ia tahu, perlahan Yasmin sudah berjalan ke arah yang tak bisa lagi ia cegah.
________________________________________
Beberapa hari kemudian, ustazah penghubung mengatur pertemuan lanjutan. Kali ini bukan hanya keluarga inti, tapi juga beberapa kerabat dari kedua pihak.
Ruang tamu rumah Yasmin terasa penuh.
Ragnar datang bersama kedua orang tuanya.
Helena tampak lebih tenang dari sebelumnya, tapi sorot matanya tetap menyelidik.
Percakapan awal berjalan formal.
Hingga seorang paman jauh Yasmin angkat bicara.
“Maaf, saya ingin bertanya langsung. Apakah benar dulu Anda hampir mencelakai orang di Bandung?”
Ruangan langsung hening.
Ragnar tidak menghindar.
“Benar.”
“Kenapa kami harus percaya Anda bisa menjadi imam yang baik, kalau dulu Anda begitu ceroboh?”
Pertanyaan itu tajam. Tapi wajar.
Ragnar menatap Yasmin sekilas sebelum menjawab.
“Karena saya belajar dari kesalahan itu. Dan sejak hari itu, hidup saya berubah pelan-pelan. Saya sadar saya tidak bisa hidup sembarangan.”
“Masuk Islam juga karena itu?” tanya paman itu lagi.
“Sebagian,” jawab Ragnar jujur. “Saya diingatkan tentang kematian dan tanggung jawab.”
Pak Asep akhirnya berbicara.
“Menjadi baik bukan berarti tidak pernah salah. Tapi berani mengakui salah itu yang sulit.”
Semua terdiam.
Helena melirik suaminya. Ia tidak menyangka keluarga sederhana ini justru bersikap lebih dewasa dari banyak kolega bisnis mereka.
Yasmin sejak tadi diam. Hatinya bergetar melihat Ragnar tidak membela diri secara berlebihan.
Ia tidak menyalahkan keadaan.
Ia tidak menyalahkan orang lain.
Ia hanya mengakui.
Dan itu membuat Yasmin perlahan merasa tenang.
________________________________________
Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Malamnya, sebuah berita online muncul tiba-tiba di salah satu portal gosip bisnis:
“Pewaris Van Der Veen Pernah Terlibat Kecelakaan, Kini Akan Menikahi Gadis Desa Saksi Kejadian?”
Artikel itu disertai foto lama Ragnar dan potongan laporan polisi.
Berita itu jelas dibocorkan oleh seseorang.
Ragnar tahu siapa.
Clara.
Ponselnya terus berdering. Pesan dari rekan bisnis. Telepon dari kolega ayahnya.
Di Ciwidey, sinyal internet yang lambat tak mampu menahan berita itu menyebar.
Yasmin membaca artikel itu dengan tangan gemetar.
Bukan karena malu.
Tapi karena ia sadar, ini baru permulaan.
________________________________________
Malam itu Ragnar menelepon Yasmin melalui ustazah.
“Saya minta maaf,” katanya pelan.
“Karena berita itu?”
“Iya. Saya tidak bisa menjamin badai ini cepat reda.”
Yasmin terdiam sesaat.
“Kalau saya mundur sekarang,” katanya perlahan, “apakah itu akan menyelamatkan Anda?”
Ragnar terhenyak. “Saya tidak ingin kamu merasa terpaksa bertahan.”
“Saya hanya ingin tahu… apakah Anda tetap ingin melanjutkan?”
Di ujung sana, Ragnar menutup mata.
“Lebih dari sebelumnya.”
Yasmin menggenggam gelang kayu itu.
Badai sudah datang.
Nama baik keluarga Ragnar dipertaruhkan.
Nama Yasmin ikut terseret.
Kini bukan hanya tentang perbedaan budaya, usia, atau status.
Tapi tentang apakah mereka mampu berdiri di sisi yang sama ketika dunia mulai menuduh.
Di langit Ciwidey, kilat menyambar jauh di balik gunung.
Dan untuk pertama kalinya, Yasmin tidak lagi hanya takut.
Ia mulai bersiap.