"Sentuhan kakak-kakakku adalah napasku, tapi sentuhannya... adalah hidupku."
Shine terlahir dengan mata yang bisa melihat melampaui waktu. Namun, setiap penglihatan tentang masa lalu yang kelam dan masa depan yang berdarah menuntut bayaran mahal: energi hidupnya. Ia rapuh, tersiksa, dan bergantung pada pelukan dua kakak laki-lakinya yang posesif, Jin dan Suga.
Hingga ia melangkah masuk ke restoran Euphoria.
Jeon Jungkook adalah koki jenius yang selalu memimpikan gadis yang sama selama bertahun-tahun. Saat mereka bersentuhan, Shine menyadari satu hal: Jungkook bukan sekadar manusia, dia adalah 'baterai' abadi yang bisa memulihkan kekuatannya secara instan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 The Addiction
Pagi itu, sinar matahari yang menerobos celah gorden sutra di kamar Shine terasa lebih menyengat dari biasanya. Namun, bukan panas matahari yang membuat Shine gelisah, melainkan debaran di dadanya yang tak kunjung reda. Ia duduk di tepi ranjang, meremas sprei mahalnya dengan jemari yang gemetar.
Biasanya, jam-jam segini adalah waktu yang paling menyiksa. Kepalanya akan terasa seperti dihantam palu godam karena energi yang terkuras habis saat ia tertidur—dampak dari penglihatan-penglihatan masa depan yang masuk tanpa izin ke dalam mimpinya. Tapi pagi ini berbeda. Rasa hangat yang menjalar dari perut hingga ke ujung jari-jarinya masih terasa sangat nyata. Itu adalah sisa energi dari pelukan pria di restoran kemarin.
Jeon Jungkook.
Nama itu terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.
Tok, tok, tok.
Pintu terbuka tanpa menunggu jawaban. Jin melangkah masuk dengan setelan jas abu-abu yang sempurna, namun gurat kelelahan tidak bisa disembunyikan dari wajah tampannya. Di belakangnya, Suga mengekor dengan stetoskop yang menggantung di leher dan wajah yang lebih muram dari biasanya.
"Selamat pagi, Sayang," sapa Jin dengan suara lembut yang dipaksakan. Ia duduk di sisi ranjang Shine, segera merentangkan tangan. "Sini, peluk Kakak. Kau pasti merasa lemas, kan?"
Shine ragu-ragu sejenak. Ia menatap wajah Jin, lalu perlahan menjatuhkan diri ke dalam pelukan kakak tertuanya itu. Biasanya, pelukan Jin adalah rumah baginya. Aroma parfum citrus mahal dan detak jantung Jin selalu menjadi penyelamatnya dari kegelapan.
Namun, kali ini... Shine merasa hambar.
Ia mencoba memejamkan mata, mencari percikan energi yang biasanya ia dapatkan dari Jin. Memang ada energi yang mengalir, tapi rasanya tipis, seperti air yang menetes perlahan dari keran yang tersumbat. Tidak ada ledakan hangat, tidak ada getaran listrik yang membuat bulu kuduknya berdiri. Hanya ada rasa hangat yang biasa saja.
"Shine? Ada yang salah?" Jin melepaskan pelukan, menangkup wajah adiknya dengan cemas. "Kenapa wajahmu masih terlihat... bingung? Apa energinya tidak sampai?"
Suga mendekat, jari-jarinya yang dingin menyentuh pergelangan tangan Shine, memeriksa denyut nadinya. "Nadinya stabil, bahkan terlalu kuat untuk ukuran seseorang yang baru bangun setelah serangan penglihatan. Tapi kenapa wajahnya pucat?"
Suga kemudian menarik Shine ke dalam dekapannya. Sebagai seorang dokter, Suga memiliki suhu tubuh yang cenderung dingin, namun ia memiliki cara khusus untuk menyalurkan energinya secara terarah. Shine mencoba fokus, mencoba menyerap apa yang diberikan Suga. Tapi lagi-lagi, ia kecewa. Rasanya seperti meminum air putih saat ia sedang sangat haus akan sirup yang manis.
Hambar. Kosong. Kurang.
"Lepaskan, Kak," bisik Shine sambil mendorong dada Suga pelan.
"Ada apa?" Suga mengernyitkan alisnya, tampak tersinggung sekaligus khawatir. "Apa Kakak melakukan kesalahan?"
"Bukan... bukan begitu," Shine memalingkan wajah, tidak berani menatap mata kakaknya. "Hanya saja... aku merasa sudah cukup. Aku ingin mandi."
Jin dan Suga saling berpandangan. Ada kilat kecurigaan di mata mereka. Bagi kakak-kakak yang mengidap sister complex tingkat akut ini, penolakan Shine adalah alarm bahaya. Selama bertahun-tahun, mereka adalah matahari bagi Shine. Mereka adalah satu-satunya orang yang bisa membuat Shine tetap berdiri tegak. Dan sekarang, dalam satu malam, semuanya berubah.
"Ini karena pria itu, kan?" suara Suga terdengar tajam, dingin seperti es di kutub.
Shine tersentak. "Apa maksud Kakak?"
"Koki itu. Jeon Jungkook," sela Jin, suaranya naik satu oktav. Ia berdiri, berjalan mondar-mandir di kamar Shine yang luas. "Namjoon bilang dia memelukmu di restoran. Sejak saat itu, kau tidak lagi mencari kami. Kau bahkan tidak meminta pelukan sebelum tidur tadi malam."
"Dia hanya membantuku agar tidak jatuh ke lantai, Kak! Itu saja!" Shine membela diri, meski hatinya berteriak bahwa itu bohong.
"Membantu tidak perlu sampai memeluk seerat itu, Shine!" Jin memukul meja rias dengan pelan namun penuh penekanan. "Dia orang asing. Kita tidak tahu siapa dia. Bagaimana kalau dia punya energi gelap? Bagaimana kalau dia sebenarnya menyedot energinya darimu, bukan memberinya?"
Shine terdiam. Ia ingin berteriak bahwa apa yang dikatakan Jin salah total. Justru Jungkook-lah yang memberinya ledakan energi yang bahkan tidak bisa diberikan oleh sepuluh orang seperti Jin dan Suga digabungkan. Tapi ia tahu, jika ia mengatakan itu, Jungkook akan dalam bahaya besar. Jin bisa saja menghancurkan restoran pria itu dalam semalam.
Setelah kedua kakaknya pergi dengan rasa gusar yang tertinggal di udara, Shine segera mengunci pintu kamarnya. Ia berlari menuju meja rias, mengambil ponsel yang sengaja ia sembunyikan di bawah tumpukan majalah.
Jarinya bergerak lincah di layar. Ia mulai mencari dengan kata kunci: Euphoria Restaurant Chef.
Hanya dalam hitungan detik, ribuan hasil muncul. Ternyata Jungkook bukan sekadar koki biasa. Dia adalah bintang yang sedang naik daun di dunia kuliner Seoul. Banyak artikel yang membahas tentang ketampanannya, tato-tato estetik di lengannya yang sering tertutup celemek, dan masakan-masakannya yang konon bisa membuat orang menangis karena terlalu enak.
Shine menatap satu foto Jungkook yang sedang tersenyum tipis ke arah kamera sambil memegang pisau dapur. Jantungnya berdegup kencang lagi. Ada rasa rindu yang tidak masuk akal menyeruak di dadanya. Ini bukan sekadar rindu biasa; ini adalah kebutuhan fisik. Tubuhnya merindukan energi itu. Sel-sel dalam tubuhnya seolah-olah berteriak, meminta untuk kembali bersentuhan dengan sumber energi bernama Jungkook.
"Aku harus bertemu dengannya," gumam Shine. "Aku harus tahu kenapa hanya dia yang bisa membuatku merasa hidup kembali."
Ia mulai menelusuri lebih dalam. Akun media sosial Jungkook, jadwal operasional restoran, hingga berita-berita lama. Ia menemukan sebuah fakta menarik: Jungkook adalah yatim piatu yang diadopsi oleh keluarga Jung (keluarga J-Hope). Ia tumbuh besar dengan kerja keras hingga bisa membuka restorannya sendiri.
Namun, di tengah pencariannya, sebuah kilasan penglihatan kembali menghantamnya. Kali ini tidak disertai mantra, melainkan sebuah insting Oracle yang kuat.
Ia melihat Jungkook sedang berdiri di depan pintu belakang restorannya. Wajah pria itu tampak muram, tangannya memegang sebuah amplop cokelat yang terlihat kusam. Di seberang jalan, sebuah mobil hitam dengan kaca gelap sedang mengawasinya.
"Pria itu dalam bahaya," bisik Shine.
Rasa ingin tahunya kini bercampur dengan rasa takut. Obsesinya terhadap energi Jungkook kini bertransformasi menjadi dorongan untuk melindungi. Shine tahu, ia tidak bisa hanya duduk diam di kamarnya yang mewah. Ia harus keluar. Ia harus memperingatkan pria itu.
Namun, bagaimana cara melewati RM yang berjaga di depan pintu? Bagaimana cara menghindari pengawasan Jin dan Suga yang kini sedang dalam mode siaga satu?
Shine berjalan menuju balkon kamarnya, menatap ke arah gerbang depan yang dijaga ketat. Pikirannya berputar mencari cara. Ia mulai menyadari sesuatu; kecanduannya pada Jungkook bukan hanya soal energi. Ada sebuah benang merah yang ia lihat di masa lalu pria itu, sesuatu yang sangat mirip dengan apa yang ia alami.
"Jeon Jungkook... siapa kau sebenarnya bagi masa laluku?"
Shine mengambil sebuah jubah hitam panjang untuk menutupi piyamanya. Ia tahu ini berisiko. Ia tahu jika ia tertangkap, Jin mungkin akan mengurungnya di ruang bawah tanah demi keselamatannya sendiri. Tapi rasa lapar akan kehadiran Jungkook—energi yang manis, hangat, dan memabukkan itu—jauh lebih kuat daripada rasa takutnya pada sang kakak.
Ia adalah seorang Oracle. Ia bisa melihat masa depan. Dan di masa depan yang baru saja ia intip, ia melihat dirinya sedang berdiri di dapur Jungkook, di bawah lampu remang-remang, sementara pria itu berbisik di telinganya: "Kau datang juga, pencuriku."
Dengan nekat, Shine mulai menyusun rencana pelariannya. Kecanduan ini baru saja dimulai, dan ia tidak berencana untuk berhenti sampai ia mendapatkan dosis energi yang utuh dari pria koki yang menghantui mimpinya tersebut.