NovelToon NovelToon
Doll Controller

Doll Controller

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Summon / Spiritual
Popularitas:531
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

kekuatannya menyebabkan dia bisa mengendalikan boneka tapi semakin sering ia menggunakannya ia pun mulai di Kendalikan oleh kekuatan sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Bayangan di Takhta dan Ramalan yang Terungkap

Malam telah larut, namun lorong-lorong istana Aethelgard terasa lebih hidup dibandingkan sebelumnya, dipenuhi dengan desas-desus ketakutan dan persiapan perang yang hingar-bingar. Setiap bayangan seolah menyembunyikan kecemasan, setiap bisikan membawa beban kabar buruk dari perbatasan. Lyra, dengan gulungan-gulungan perkamen kuno terselip erat di bawah lengannya, bergerak seperti hantu di antara keriuhan itu. Pikirannya berpacu, setiap kata yang ia baca dari "Chronica Animarum" bergema di benaknya, menjelaskan begitu banyak misteri yang selama ini menyelimuti Pangeran Ryo, serta teka-teki "kebetulan" yang ia alami sendiri.

Ia teringat dorongan tak terlihat yang menyelamatkannya dari balok kayu. Ia teringat penjaga perpustakaan yang tiba-tiba tertidur lelap. Itu semua adalah pekerjaan Ryo. Sebuah sentuhan Dalang Jiwa, halus namun tak terbantahkan. Sebuah fakta yang membuat bulu kuduknya merinding, sekaligus memantik rasa hormat yang mendalam. Ryo, pangeran yang terasing, bukanlah boneka yang tak berdaya; ia adalah seorang Dalang, seorang manipulator takdir, yang selama ini mengawasi dan mengintervensi, meskipun dari kejauhan.

Lyra tahu ia harus berbicara dengan Ryo. Bukan lagi sebagai tabib istana yang hormat kepada seorang pangeran, melainkan sebagai seseorang yang kini berbagi sebagian kecil dari rahasia terdalam kerajaan, dan mungkin juga rahasia Ryo sendiri. Namun, bagaimana caranya? Ryo hidup dalam pengasingan di menara tertinggi, jarang sekali menerima tamu, apalagi dari kalangan tabib. Selain itu, bagaimana berbicara dengan seseorang yang dapat membaca benang jiwamu, yang dapat merasakan setiap pikiran dan emosi tanpa perlu sepatah kata pun terucap?

Jawabannya datang tak terduga. Saat ia melintasi aula utama, di mana para penasihat kerajaan berdebat sengit mengenai logistik perang, sebuah suara memanggilnya. "Nona Lyra, Yang Mulia Raja memanggil Anda." Suara itu milik seorang pelayan yang biasanya bertugas di ruang pertemuan Raja, dan ekspresinya menunjukkan urgensi.

Lyra mengangguk, jantungnya berdegup kencang. Apakah Raja tahu tentang penemuannya? Apakah Ryo telah memberitahunya? Atau ini adalah takdir yang lain, benang yang secara halus ditarik oleh sang Dalang untuk mempertemukan mereka?

Ia mengikuti pelayan itu, melewati koridor-koridor yang lebih tenang menuju ruang singgasana. Di sana, Raja Aethelgard duduk di singgasananya yang megah, namun wajahnya lelah dan garis-garis kecemasan terlihat jelas di sekitar matanya. Di sampingnya, beberapa penasihat tua, para jenderal yang gagah, dan bahkan kepala penyihir istana berdiri dengan ekspresi muram. Udara terasa berat, dipenuhi dengan ketegangan yang pekat.

"Lyra," kata Raja, suaranya parau, "Laporan dari perbatasan semakin mengerikan. Kekosongan telah menembus pertahanan kedua kita. Beberapa prajurit yang berhasil melarikan diri mengatakan... mereka melihat bayangan, bentuk-bentuk yang menari-nari dalam kabut, dan mendengar bisikan yang mencabik-cabik pikiran mereka."

"Yang Mulia," Lyra memulai, "Saya telah merawat para penyintas. Ini bukan hanya cedera fisik, melainkan sesuatu yang lebih dalam. Jiwa mereka terkuras, ingatan mereka... hilang."

Kepala penyihir istana, Master Eldrin, seorang pria tua berjenggot putih panjang, mengangguk muram. "Sihir kami tidak dapat mendeteksinya. Ini seperti... antisiwir. Ia bukan melahap materi fisik, tapi energi kehidupan, bahkan esensi dari keberadaan itu sendiri."

"Bagaimana kita bisa melawan sesuatu yang tidak bisa kita lihat, tidak bisa kita sentuh, dan tidak bisa kita pahami?" seru salah satu jenderal, meninju telapak tangannya sendiri.

Tiba-tiba, sebuah suara yang jarang terdengar memecah ketegangan. "Kita tidak perlu melihatnya, Yang Mulia. Cukup merasakannya."

Semua mata menoleh ke arah pintu ruang singgasana. Di sana berdiri Pangeran Ryo. Jubah merah tuanya tampak kontras dengan dekorasi ruangan yang serba keemasan. Boneka kayu kecil masih tergenggam di tangannya, mata kacanya yang kosong seolah menatap setiap orang di ruangan itu. Ryo tidak berjalan masuk, dia hanya berdiri di ambang pintu, aura misteriusnya mengisi seluruh ruangan. Matanya yang merah menyala menembus kerumunan, sejenak bertemu pandang dengan Lyra. Dalam tatapan itu, Lyra bisa merasakan sebuah pengakuan—bahwa ia tahu Lyra telah membaca rahasianya, bahwa ia tahu Lyra kini telah memahami apa itu "Dalang Jiwa".

Raja Aethelgard, yang terkejut melihat putranya keluar dari pengasingan, segera berdiri. "Ryo! Apa yang kau lakukan di sini?"

"Ayahanda," jawab Ryo, suaranya tenang, namun memiliki resonansi yang membuat semua orang terdiam. "Saya di sini karena Aethelgard membutuhkan saya. Dan karena saya merasakan Kekosongan itu. Ini bukan sihir, juga bukan bencana alam. Ia adalah kehendak. Sebuah entitas yang tumbuh dari jiwa-jiwa yang dicabutnya."

Master Eldrin, penyihir tua itu, mengerutkan kening. "Kehendak? Apa maksudmu, Pangeran?"

Ryo akhirnya melangkah maju, perlahan, hingga ia berdiri di tengah ruangan. Ia menatap ke setiap wajah, seolah membaca benang-benang kesadaran mereka. "Ia adalah Dalang yang berbeda. Ia mencabut benang-benang itu, bukan untuk dikendalikan, melainkan untuk diserap, untuk menjadi bagian dari dirinya. Semakin banyak benang yang dicabut, semakin kuat ia."

Lyra maju selangkah, gulungan kuno di tangannya sedikit bergetar. "Yang Mulia," katanya, suaranya kuat dan jelas, menarik perhatian semua orang. "Apa yang dikatakan Pangeran Ryo benar. Saya telah menemukan catatan kuno tentang 'Dalang Jiwa'. Pangeran Ryo... adalah salah satu dari mereka."

Seketika, ruangan itu dipenuhi bisikan-bisikan ketidakpercayaan dan ketakutan. Para penasihat saling berpandangan, para jenderal memegangi gagang pedang mereka. Konsep Dalang Jiwa adalah sesuatu yang hanya ada di dongeng paling gelap, sebuah kekuatan yang ditakuti melebihi semua sihir.

Raja mengangkat tangannya, membungkam mereka. Wajahnya dipenuhi kesedihan saat ia menatap putranya, lalu Lyra. "Ini... ini adalah kebenaran yang tidak seharusnya diungkap."

"Sudah saatnya, Ayahanda," kata Ryo, matanya kini menatap lurus ke arah Raja. "Saya tidak lagi bisa bersembunyi. Kekuatan ini... kekuatan para Dalang... adalah satu-satunya yang mungkin bisa memahami Kekosongan. Karena ia berbicara dalam bahasa benang eterik, sama seperti saya."

Raja menghela napas panjang, kekalahan terpancar dari wajahnya. "Ramalan kuno... ia akan muncul di saat kegelapan terbesar. Untuk menyelamatkan... atau menghancurkan." Ia mengulang kata-kata yang pernah ia bisikkan pada Ryo di Bab 1. "Pernah ada seorang Dalang yang mencoba mengendalikan seluruh kerajaan, menyebabkan kehancuran yang tak terbayangkan. Dalang lain mencoba mengendalikan perang dan justru memperpanjangnya selama berabad-abad. Kekuatan ini... terlalu berbahaya, Ryo."

"Saya tahu bahayanya, Ayahanda," Ryo membalas, suaranya menjadi lebih lembut, namun penuh tekad. "Saya hidup bersamanya setiap hari. Setiap benang yang saya sentuh, setiap jiwa yang saya rasakan, ia menguras sebagian dari saya. Ia adalah kutukan. Tapi sekarang, ia mungkin adalah satu-satunya harapan."

"Mengapa, Pangeran Ryo?" tanya Lyra, memberanikan diri untuk bertanya langsung. "Mengapa Anda melakukan ini? Mengapa Anda bersembunyi, lalu sekarang muncul? Apa yang membuat Anda berubah pikiran?"

Ryo menoleh sepenuhnya ke arah Lyra. Matanya yang merah menatap langsung ke dalam mata Lyra yang biru. Dalam tatapan itu, Lyra merasakan sebuah benang samar yang terhubung dengannya—benang yang sama yang ia rasakan di perpustakaan. Benang itu hangat, penuh dengan kejujuran yang pahit. "Karena saya tidak bisa lagi mengabaikannya, Nona Lyra. Saya merasakan Kekosongan itu tumbuh. Saya merasakan ketakutan rakyat saya. Dan saya tahu... jika saya tidak bertindak, tidak akan ada lagi yang tersisa untuk dikendalikan."

Ada keheningan panjang di ruangan itu. Raja menatap putranya, wajahnya dipenuhi konflik. Ia mencintai Ryo, namun ia juga takut pada kekuatan yang mengalir dalam darah mereka. Ketakutan itu telah membuatnya mengasingkan putranya, berharap Ryo tidak pernah harus menggunakan anugerah sekaligus kutukan ini.

"Dan ramalan itu, Ryo," kata Raja, suaranya bergetar. "Bagaimana jika kau... kau justru yang menghancurkan kita?"

Ryo menghela napas, sebuah kesedihan mendalam terpancar dari dirinya. Ia memegang erat boneka kayunya, mengusapnya dengan ibu jarinya. "Ayahanda, saya telah melihat konsekuensi dari kontrol absolut. Saya telah merasakan bagaimana rasanya kehilangan diri dalam jiwa orang lain. Boneka ini..." Ia mengangkat boneka itu sedikit. "...adalah pengingat konstan akan kegagalan saya di masa lalu. Seorang Dalang yang kehilangan kendali atas dirinya sendiri adalah bencana yang lebih besar dari Kekosongan mana pun."

Lyra merasakan kerentanan yang tiba-tiba terpancar dari Ryo. Di balik aura misterius dan kekuatan dahsyat, ada seorang pria muda yang terluka, yang hidup dengan penyesalan yang mendalam. Kata-kata "kegagalan saya di masa lalu" itu bergema di benaknya, mengingatkannya pada gulungan yang menjelaskan tentang Dalang yang terkoyak akalnya atau kehilangan orang yang dicintai karena kesalahpahaman penggunaan kekuatan.

Master Eldrin, setelah beberapa saat merenung, melangkah maju. "Pangeran Ryo, jika apa yang Anda katakan benar, bahwa Kekosongan adalah Dalang yang berbeda, maka kita perlu memahami cara kerjanya. Kemampuan Anda mungkin satu-satunya kunci. Apakah ada cara untuk... mempelajari lebih lanjut tentang Kekosongan ini melalui benang eterik Anda?"

Ryo mengangguk. "Ya. Saya telah memproyeksikan kesadaran saya melalui benang-benang prajurit kita di garis depan. Saya telah melihat apa yang mereka lihat, merasakan apa yang mereka rasakan. Kekosongan itu tidak hanya melahap jiwa, ia juga menyerap esensi benang eterik itu sendiri. Ia menjadi lebih besar, lebih kuat, dengan setiap jiwa yang dicabutnya." Ia menatap Lyra. "Saya telah melihat bagaimana ia mengeringkan pikiran, mengosongkan ingatan."

Lyra membalas tatapannya. "Itulah yang saya lihat pada para penyintas, Yang Mulia. Mereka seperti... cangkang kosong."

"Maka kita harus menghentikannya sebelum ia melahap segalanya," kata Raja, suaranya kini dipenuhi tekad yang baru. Ia melihat pada Ryo, lalu pada Lyra. "Ryo, kau harus menggunakan kekuatanmu. Tapi kau tidak sendirian. Lyra, kau adalah tabib paling cerdas yang aku kenal. Aku menugaskanmu untuk bekerja bersama Pangeran Ryo. Bantu dia. Lindungi dia dari bahaya kekuatannya sendiri."

Lyra mengangguk, sebuah beban berat terangkat dari pundaknya. Ia telah menemukan jawabannya, dan sekarang ia diberi tugas. "Saya akan melakukan yang terbaik, Yang Mulia."

Ryo menatap Lyra lagi, senyum tipis, nyaris tak terlihat, melintas di bibirnya. Ada rasa lega, sebuah penerimaan yang sudah lama ia rindukan. Benang eterik Lyra, yang semula bergetar karena rasa ingin tahu dan cemas, kini memancarkan tekad dan keberanian. Ia adalah sekutu, bukan musuh. Ini adalah awal yang baru bagi Ryo, awal dari perjalanannya keluar dari bayangan, keluar dari pengasingan. Ia tidak lagi sendirian. Boneka di tangannya terasa sedikit lebih ringan.

Namun, di kedalaman pikirannya, ia tahu perjuangan yang sebenarnya baru saja dimulai. Ia harus berhadapan dengan entitas yang berbicara dalam bahasanya sendiri, namun dengan tujuan yang berlawanan. Dan ia harus melakukannya tanpa kehilangan jiwanya sendiri dalam prosesnya. Ramalan itu masih menggantung: menyelamatkan... atau menghancurkan.

1
anggita
like👍 iklan. moga novelnya lancar.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!