NovelToon NovelToon
Papan Takdir

Papan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Penyelamat / Action / Sistem
Popularitas:419
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

Yin Chen menemukan papan catur ajaib di hutan bambu—setiap gerakannya mempengaruhi dunia nyata. Saat kekuatan gelap mengancam keseimbangan alam, dia bertemu Lan Wei dari kelompok Pencari Kebenaran dan mengetahui bahwa pemain lawan adalah saudara kembarnya yang hilang, Yin Yang. Bersama mereka harus menyatukan kekuatan untuk mengakhiri permainan kuno yang bisa menyelamatkan atau menghancurkan dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: JALAN MENJAUHARI KUIL TIANLONG

Perjalanan menuju kuil kuno Tianlong membutuhkan waktu yang lebih lama dari yang diperkirakan Yin Chen dan Lan Wei. Jalur yang harus mereka lalui bukanlah jalan yang biasa digunakan oleh manusia—melainkan jalur sempit yang hanya bisa ditembus oleh mereka yang benar-benar mengenal hutan bambu Mengyou dengan baik. Tanah di bawah kaki mereka licin akibat genangan air hujan yang belum kering, dan batang bambu yang tumbang di berbagai tempat seringkali menghalangi jalan mereka, mengharuskan mereka untuk berpura-pura atau bahkan memotongnya agar bisa melanjutkan perjalanan.

Sejak pagi hari mereka telah memulai perjalanan, dan kini matahari sudah mulai bergeser ke arah barat, memberi warna keemasan pada dedaunan bambu yang rindang. Udara di hutan semakin dingin, dan kabut tipis mulai muncul dari tanah basah, membuat pandangan menjadi semakin terbatas. Yin Chen berjalan di depan sebagai pemimpin, menggunakan tongkat kayu pendeknya untuk menentukan jalan yang aman dan memeriksa setiap area sebelum mereka melangkah maju. Lan Wei mengikuti di belakangnya, tetap waspada terhadap setiap gerakan atau suara yang tidak biasa di sekitar mereka.

“Saya merasa bahwa kita sedang diawasi,” bisik Lan Wei dengan suara yang rendah agar tidak menarik perhatian pihak lain yang mungkin ada di sekitar. Dia menyebarkan tangan kanannya ke arah sekitar, mencoba merasakan keberadaan makhluk lain yang mungkin menyembunyikan diri di balik hamparan bambu. “Ada beberapa energi yang tidak dikenal di sekitar kita—tidak terlalu kuat, tetapi cukup untuk membuat saya merasa tidak nyaman.”

Yin Chen mengangguk dengan perlahan tanpa berhenti berjalan. “Saya juga merasakannya,” jawabnya dengan suara yang sama rendah. “Hutan ini tidak pernah sepi dari makhluk-makhluk yang menganggapnya sebagai rumah mereka. Beberapa di antaranya ramah, namun yang lain mungkin tidak suka dengan keberadaan kita di sini.”

Saat mereka memasuki sebuah lembah kecil yang dikelilingi oleh batu besar yang tertutup lumut hijau, tiba-tiba sekelompok makhluk kecil yang mirip dengan kera namun memiliki bulu berwarna hijau muda muncul dari balik bambu. Mereka berdiri di sekitar lembah dengan mata yang menyala merah menyala, mengeluarkan suara mendesis yang mengganggu kedamaian hutan. Setiap makhluk tersebut membawa tongkat kayu kecil yang dihiasi dengan daun bambu, dan tampak bahwa mereka telah siap untuk menyerang jika diperlukan.

“Jangan bergerak,” kata Yin Chen dengan suara yang tenang kepada Lan Wei. Dia melepaskan kalung dari lehernya dan memegangnya dengan kedua tangan, membiarkan cahaya kebiruan yang lembut menyebar dari biji kayu yang diukir dengan simbol kuno. Makhluk-makhluk kecil tersebut tampak terkejut dan sedikit takut saat melihat cahaya dari kalung tersebut, mundur beberapa langkah dari mereka berdua.

“Ini adalah kalung dari leluhur penduduk desa Wanli,” jelas Yin Chen sambil tetap memegang kalung tersebut. “Kita datang dengan damai dan hanya ingin melewati jalur ini untuk mencapai kuil Tianlong. Kami tidak memiliki niat untuk mengganggu kehidupan di hutan ini.”

Setelah beberapa saat, salah satu makhluk kecil yang lebih besar dari yang lain dan memiliki tanduk kecil di kepalanya melangkah maju. Dia melihat kalung di tangan Yin Chen dengan cermat, kemudian mengeluarkan suara yang lebih lembut dan terdengar seperti ucapan hormat. Makhluk tersebut kemudian membuat gerakan dengan tangannya, menunjukkan bahwa mereka diizinkan untuk melewati lembah tersebut dengan syarat mereka harus mengikuti jalan yang ditunjuk oleh kelompok makhluk tersebut.

“Mereka akan membimbing kita melalui bagian hutan yang paling berbahaya,” kata Lan Wei dengan suara yang penuh kagum. “Saya tidak menyangka bahwa kalung tersebut memiliki kekuatan untuk berkomunikasi dengan makhluk-makhluk di hutan ini.”

Yin Chen mengangguk dengan senyum yang lembut. “Leluhur kita tahu lebih banyak tentang hubungan antara manusia dan alam daripada yang kita pikirkan,” jawabnya. “Mereka membuat kalung ini tidak hanya sebagai perlindungan, tetapi juga sebagai simbol rasa hormat terhadap semua makhluk yang hidup di dunia ini.”

Dengan dipimpin oleh kelompok makhluk kecil tersebut, perjalanan mereka menjadi jauh lebih lancar. Mereka membawa Yin Chen dan Lan Wei melalui jalan-jalan tersembunyi yang tidak akan pernah ditemukan oleh orang asing, melewati sungai kecil dengan batu loncatan yang tersembunyi, dan melewati area di mana tanaman beracun tumbuh lebat dengan aman. Selama perjalanan, makhluk kecil tersebut terkadang berhenti untuk menunjukkan berbagai jenis ramuan obat dan buah-buahan yang bisa dimakan, seolah-olah ingin membantu mereka dalam perjalanan yang panjang.

Saat malam mulai tiba, mereka sampai di sebuah tempat terbuka di tengah hutan yang dikelilingi oleh pohon-pohon besar yang telah berusia ratusan tahun. Di tengah tempat terbuka tersebut terdapat sebuah sumber air panas alami yang mengeluarkan uap hangat yang menyebar ke udara dingin malam hari. Makhluk-makhluk kecil tersebut menunjukkan bahwa ini adalah tempat yang aman untuk bermalam sebelum melanjutkan perjalanan keesokan harinya.

“Terima kasih atas bantuannya,” kata Yin Chen kepada pemimpin kelompok makhluk tersebut dengan mengangkat kalungnya sebagai tanda hormat. Makhluk tersebut mengangguk dengan senyum yang lembut, kemudian mengajak kelompoknya pergi kembali ke dalam hutan, menghilang dengan cepat seperti mereka muncul tadi malam.

Lan Wei duduk di tepi sumber air panas, merendam tangannya ke dalam air yang hangat untuk menghangatkan tubuhnya yang sudah dingin akibat perjalanan panjang. “Ini adalah pengalaman yang luar biasa,” ucapnya dengan suara yang penuh kagum. “Saya telah menghabiskan bertahun-tahun belajar tentang kekuatan alam, namun ini adalah pertama kalinya saya melihat hubungan yang begitu erat antara manusia dan makhluk lain di alam semesta.”

Yin Chen juga duduk di sebelahnya, mengambil beberapa buah-buahan yang diberikan oleh makhluk kecil tersebut dan memberikannya kepada Lan Wei. “Kita telah terlupakan banyak hal tentang dunia yang kita tinggali,” kata dia sambil memakan salah satu buahnya. “Permainan Cermin tidak hanya tentang kekuatan atau kekuasaan—ini tentang memahami bahwa kita semua saling terhubung dan bergantung satu sama lain.”

Saat mereka sedang makan dan beristirahat, Yin Chen mulai menceritakan tentang masa lalunya—bagaimana dia datang ke hutan bambu Mengyou setelah kematian neneknya, satu-satunya keluarga yang dia miliki. Neneknya adalah orang yang pertama kali mengajarkannya tentang simbol-simbol kuno dan legenda tentang Permainan Cermin, bahkan sebelum dia menemukan batu besar yang menjadi pintu masuk ke papan catur ajaib. Lan Wei juga berbagi cerita tentang dirinya—bagaimana dia ditunjuk sebagai anggota kelompok Pencari Kebenaran sejak kecil karena kemampuannya untuk merasakan energi ajaib, dan bagaimana dia telah menghabiskan seluruh hidupnya untuk mencari kebenaran di balik legenda yang telah diturunkan dari generasi ke generasi.

Malam semakin larut, dan mereka membangun sebuah unggun kecil dari kayu kering untuk menghangatkan diri dan menjaga hewan liar jauh dari tempat bermalam mereka. Di atas nyala api yang menyala-nyala, mereka berbicara tentang rencana mereka setelah mencapai kuil Tianlong—mencari catatan tentang cara mengendalikan Permainan Cermin, menemukan identitas pemain lain yang mengendalikan bidak hitam, dan mencari cara untuk mengembalikan keseimbangan yang telah terganggu.

Sebelum mereka tidur, Yin Chen mengeluarkan buku catatannya dan mulai menggambar peta jalan yang telah mereka lewati beserta lokasi tempat terbuka tersebut. Dia juga mencatat tentang pertemuan mereka dengan kelompok makhluk kecil dan kekuatan yang dimiliki oleh kalung dari desa Wanli. Lan Wei melihatnya bekerja dengan penuh fokus, merasa bahwa dia akhirnya menemukan seseorang yang benar-benar memahami pentingnya tugas yang mereka emban.

“Sampai kapan kita akan tetap berada di sini?” tanya Lan Wei dengan suara yang sudah mulai mengantuk.

“Kita akan berangkat saat matahari mulai muncul keesokan pagi,” jawab Yin Chen sambil menutup bukunya. “Kuil Tianlong tidak jauh dari sini, dan saya merasa bahwa kita akan menemukan jawaban yang kita cari di sana. Tetapi kita harus siap—karena apa yang kita temukan mungkin tidak seperti yang kita harapkan.”

Mereka kemudian membangun tempat tidur sederhana dari dedaunan bambu dan mulai beristirahat. Di bawah langit yang penuh dengan bintang-bintang yang bersinar terang dan bulan yang cerah, mereka merasa bahwa mereka tidak sendirian dalam perjalanan ini—bahwa ada kekuatan yang lebih besar yang sedang membimbing mereka menuju tujuan yang telah ditentukan jauh sebelum mereka lahir. Saat suara hutan kembali mengalun dengan iramanya yang tenang, mereka tertidur dengan harapan bahwa keesokan harinya akan membawa mereka lebih dekat ke kebenaran yang mereka cari.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!