NovelToon NovelToon
Abiyan; TUAN MUDA Terbuang

Abiyan; TUAN MUDA Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Kebangkitan pecundang / Persahabatan / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:15.1k
Nilai: 5
Nama Author: Moms TZ

Hidup bergelimang harta, tetapi tanpa kasih sayang seorang ibu, membuat Abiyan tumbuh menjadi sosok pemuda yang keras kepala dan pembangkang. Suatu hari dia melakukan kesalahan fatal dengan terlibat balapan liar yang mengakibatkan dirinya tertangkap polisi.

Akibat perbuatannya, Bastian sang ayah murka dan Abiyan harus menerima hukuman terberat: dia terbuang dari rumah yang selama ini menjadi istananya. Tanpa kemewahan, tanpa perlindungan, Abiyan terpaksa harus menghadapi dunia yang keras dan penuh tantangan seorang diri.

Mampukah Abiyan sang tuan muda yang terbuang, bertahan hidup dan belajar menjadi pribadi yang bertanggungjawab? Atau justru dia akan semakin terpuruk dalam kesengsaraan?

Ikuti kisahnya hanya di sini:

"Abiyan, Tuan Muda Terbuang" karya Moms TZ, bukan yang lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7. Hari yang berat

Sore itu, Martin mengajak teman-temannya nongkrong di Kafe Impian. Dia berjalan santai memasuki kafe. Matanya menyapu sekeliling mencari tempat strategis. Saat itulah perhatiannya berhenti pada Abiyan. Senyum licik langsung terbit di bibirnya; dendamnya seolah kembali membara. Sebuah ide jahil, tiba-tiba muncul di benaknya.

Dengan gerakan kasar, Martin mendekati Abiyan yang sedang memunguti piring dan gelas kotor bekas pelanggan.

Abiyan terlalu fokus pada pekerjaannya, tidak menyadari keberadaan Martin. Hingga ketika dia berbalik dan melangkah, Martin dengan sengaja menjulurkan kakinya membuat Abiyan oleng dan hilang keseimbangan. Piring dan gelas kotor di tangannya sontak terjatuh dan pecah berantakan di lantai menimbulkan bunyi yang nyaring membuat para pelanggan langsung menoleh ke arah suara.

Pak Joni yang berada di ruangannya lantai atas, bergegas keluar dan melihat apa yang terjadi.

"Ups.... Maaf, nggak sengaja," celetuk Martin tanpa rasa bersalah.

Abiyan terpaku beberapa detik mendengar suara yang sangat familiar. Jantungnya berdegup kencang, dia segera menoleh dan terkejut mendapati Martin menatapnya remeh sambil tersenyum tengil yang menyebalkan.

"Eh...nggak nyangka banget ya, bisa ketemu loe di sini. Dan ternyata loe itu cuma pelayan? Sudah turun ya, pamor loe sekarang?" Martin tertawa terbahak-bahak seolah mengejek diikuti oleh teman-temannya.

Abiyan mengepalkan tangannya erat-erat hingga buku-bukunya jarinya memutih, berusaha meredam gejolak amarah yang memuncak. Rasa marah, malu, dan bersalah memenuhi dadanya.

"Si*l...apa dia sengaja datang ingin mempermalukan gue di depan umum?" pikirnya.

"Atau dia ingin membalas dendam karena gue selalu menuduhnya berbuat curang saat tertangkap beberapa hari lalu? Cihhh... nggak gentlemen banget!"

"Coba saja bukan di kafe, gue pasti akan lawan dia," gumamnya dalam hati.

Namun, Abiyan hanya bisa diam tak melawan. Dia menelan harga dirinya. Sadar betul di mana saat ini berada. Melawan hanya akan memperburuk keadaan dan berpotensi kehilangan pekerjaan yang didapatnya dengan susah payah.

"Mana suara, loe? Lagi sariawan ya? Tiba-tiba melempeng kayak kerupuk kesiram air. Hahaha...!" Martin terus berusaha memprovokasi Abiyan.

Dari lantai atas, Pak Joni terus mengawasi mereka. Dia ingin tahu bagaimana Abiyan bisa mengatasi masalah.

Abiyan berusaha mengabaikan Martin dan kawan-kawannya yang terus mengintimidasi. Dia

berjongkok, berniat memunguti serpihan beling yang berserakan di lantai agar tak membahayakan pelanggan.

Namun, ketika tangannya baru menyentuh pecahan beling, Martin dengan sengaja menginjak tangannya hingga beling itu menancap di telapak tangannya dan berdarah.

Abiyan meringis berusaha menahan rasa sakit yang teramat sangat. Dia mendongak, menatap Martin penuh amarah dan terluka.

"Ups, maaf lagi, Bi." Martin tersenyum mengejek semakin lebar.

"Kaki gue emang suka iseng," katanya sambil menekan kakinya lebih keras, membuat Abiyan semakin kesakitan. Darah mengucur deras di bawahnya.

"Gimana rasanya, hmm?" Martin menyeringai puas. "Ini belum seberapa dibanding sakitnya hati gue yang loe tuduh curang waktu itu."

Airmata mulai menggenang di pelupuk mata Abiyan. Dia merasa sangat terhina dan tak berdaya. Tidak bisa melawan ataupun membela diri. Dia hanya bisa pasrah menerima perlakuan buruk Martin.

Beberapa pengunjung kafe yang melihat kejadian itu mulai berbisik-bisik dan menatap kasihan pada Abiyan, tetapi mereka memilih untuk tidak ikut campur.

Geram dengan kelakuan Martin yang sudah keterlaluan, Pak Joni bergegas turun ke bawah, menghampiri mereka.

"Ada apa, ini?" tanyanya tegas, seraya menatap Abiyan dan Martin dengan pandangan menyelidik seolah tak tahu apa yang terjadi.

Martin langsung mengubah ekspresi wajahnya dan segera mengangkat kakinya dari atas punggung tangan Abiyan, berpura-pura terkejut.

"Ini, nih!" tunjuknya pada Abiyan. "Pelayan kerjanya gak becus. Dia ceroboh menumpahkan minuman di celana gue."

Martin mendorong bahu Abiyan, hingga terjengkang. Darah semakin deras mengucur dari telapak tangannya yang akibat pecahan beling.

"Ck...lemah!" cibirnya.

"Mas...Tolong jaga sikap dan bicaranya. Ini tempat umum, jangan membuat keributan di sini." Pak Joni memperingatkan.

Pria itu menghampiri Abiyan, membantunya berdiri. "Pergilah ke belakang dan obati lukamu," perintahnya.

Abiyan mengangguk, dia segera pergi dari sana dengan langkah terhuyung menahan perih. Bukan hanya telapak tangannya yang sakit tetapi harga dirinya juga tercabik-cabik.

Martin berdecih singkat, menatap sinis ke arah Pak Joni. "Emang kenapa? Saya bayar di sini. Saya berhak komplain kalau pelayanannya nggak becus."

Pak Joni mengerutkan keningnya mendengar jawaban Martin. Dia tak suka dengan sikapnya yang arogan dan merendahkan orang lain, tetapi berusaha tetap tenang dan profesional.

"Kalau mas-nya nggak suka pelayanan kami, silakan pergi dari sini dan datang saja ke tempat lain," kata Pak Joni tegas.

Martin tertawa sinis. "Wow...! Loe ngusir gue?"

Pak Joni mengikis jarak dan berkata lirih. "Memilih pergi dengan tenang atau saya akan melaporkan perbuatanmu pada pihak berwajib. Di sini ada rekaman CCTV. Jangan sampai kamu menyesal karena salah memilih lawan!"

Martin tersentak pelan berusaha menyembunyikan rasa terkejutnya. Dia tidak tahu apa maksud dari ucapan itu. Namun, dia bersama teman-temannya akhirnya melenggang pergi dari Kafe Impian.

Pak Joni menggelengkan kepala pelan menatap kepergian Martin end the geng. Dia memerintahkan salah seorang karyawan untuk membersihkan kekacauan yang baru saja terjadi. Kemudian pergi ke belakang menghampiri Abiyan yang sedang mengobati lukanya dibantu oleh karyawan yang lain.

"Kamu tidak apa-apa, Abiyan?" tanyanya dengan tatapan prihatin, namun tetap profesional.

"Alhamdulillah sudah lebih baik, Pak," kata Abiyan meski sebenarnya tidak baik-baik saja.

"Kamu mengenal pemuda tadi?" tanya Pak Joni lagi.

"Dia...dia anggota geng motor, Pak. Beberapa hari lalu kami tertangkap dan kami bersitegang." Abiyan akhirnya memilih untuk jujur.

"Jika Bapak tidak jadi mempekerjakan saya karena insiden ini, saya akan menerimanya," lanjutnya pasrah.

"Saya juga akan mengganti kerugian piring dan gelas yang pecah." Abiyan menambahkan.

Pak Joni terdiam menatap Abiyan dengan pandangan iba. "Ya sudah, lebih baik kamu pulang dan istirahat." Pak Joni menepuk pundak Abiyan, lalu segera pergi meninggalkan tempat itu.

.

.

.

Abiyan membuka pintu kontrakannya dengan lesu. Dia langsung merebahkan tubuhnya di lantai keramik yang dingin. Dia memejamkan matanya rapat-rapat, berharap rasa dingin keramik bisa meredam hawa panas yang bergejolak dari dalam tubuhnya. Bukan hanya karena amarah dan harga dirinya yang terluka, tetapi juga rasa lelah yang luar bisa setelah menghadapi hari yang berat.

Dia menatap telapak tangannya yang berbalut perban. Pikirannya kembali berputar pada kejadian di kafe tadi sore.

Andai saja bukan di kafe, tentu dia tak akan membiarkan Martin berlaku semena-mena padanya.

Abiyan membalik tubuhnya menatap langi-langit kamar. "Si*al kenapa gue harus ketemu dia, sih!" Dia merutuki nasibnya yang sial. "Kenapa gue harus mengalami semua ini?"

Tanpa sadar airmatanya menetes, tak bisa lagi menahan kepedihan hatinya. Dia merasa begitu hancur, hingga akhirnya terlelap membiarkan rasa lekah menguasai dirinya.

.

Hari hampir gelap ketika Aldo dan Benny datang dengan wajah ceria, membawa bungkusan makanan. Namun keceriaan mereka langsung sirna begitu melihat Abiyan tergolek di lantai dengan tangan terbungkus perban.

"Bi, bangun, Bi! Loe kenapa?" seru Benny panik.

Abiyan terbangun mendengar suara berisik Aldo dan Benny. Dia menguap lebar sambil mengucek matanya, menghapus sisa airmata yang mengering di sudut matanya. Kepalanya masih terasa berat dan tubuhnya lemas.

"Loe...loe, habis nangis, Bi? Apa loe nggak diterima kerja di kafe?" tanya Benny panik, melihat mata Abiyan yang sembab.

"Iya, Bi. Ada apa? Apa loe nggak diterima kerja di kafe?"Aldo menimpali, menatap tangan Abiyan yang dibalut perban dengan cemas.

"Loe nggak perlu khawatir belum dapat pekerjaan. Masih ada gue sama Benny," lanjut Aldo mencoba menghibur.

"Bukan." Abiyan menggelengkan kepala lemah. "Gue ketemu Martin dan kawan-kawan."

"Apa...! Di mana?" seru Aldo dan Benny bersamaan dengan ekspresi terkejut.

Abiyan duduk perlahan, bersandar pada dinding. Dia menarik napas dalam-dalam sebelum bercerita.

"Gue...ketemu mereka di kafe tempat kerja gue," kata Abiyan, suaranya pelan.

"Mungkin masih dendam sama gue. Dia sengaja bikin gue jatuh, dan menginjak tangan gue..." Abiyan menundukkan kepala, tak sanggup melanjutkan ceritanya.

"B*****t emang tuh, orang!" umpat Aldo geram.

"Kenapa loe nggak ngelawan, Bi?" Benny tampak khawatir sekaligus marah.

"Ini nggak bisa dibiarkan," geram Aldo. "Kita harus kasih pelajaran pada mereka!"

.

.

1
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
itu karena Lo aslinya bego🤣
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
ngarang aja lo
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
keok dia. makanya jgn curang
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
tuh yg ditunggu² udah datang😄
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
ortu egois. kalau mau nikah lagi seharusnya cari laki² yg juga mau menerima putrimu
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
nungguin Abiyan ya🤭
Aditya hp/ bunda Lia
anak tiri emak durjana nya Naraya ....
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: mungkin🤭
total 1 replies
Cindy
lanjut
vj'z tri
waduh kalau Abi d tolak cewek terus apa kabar kalian 🤣🤣🤣🤣🤣
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: ya udah terima nasib🤭
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
emang kemjamu semula bagaimana? bentuk kodok atau kadal? di cci kan biar bersih, 🤧
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 3 replies
Esther
siapa dia
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: entahlah🤭
total 1 replies
ora
Mamanya, kah/CoolGuy/
Terus pemuda itu anak tirinya. Nggak punya sopan santun banget ....
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: mungkin🤭
total 1 replies
ora
Haduhhh. Perkara kemeja aja jadi ngehina orang😒😒
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: lha iyo
total 1 replies
Patrick Khan
wahhh anak manja kyk nya itu😒
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: masa????
total 1 replies
Tiara Bella
siapa lg nh perempuan ibunya kah.....
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: mungkin🤭
total 1 replies
Esther
Aku juga cinta kamu Abiyan.....kata Naraya🤭
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 🤭😍🫶🫰😂
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
pertanyaanmu terjawab setelah membuka tas bekalnya.
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Nar Sih
ungkapan cinta keluar juga ,pasti nara menerima cinta mu abyan ,tpi kmu mesti sabar nunggu hinga nara sdh lahiran
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: huumm
total 1 replies
Aditya hp/ bunda Lia
Waaw, ... Biyan 👍
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 😍😍😍😍😍
total 1 replies
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
sudah kuduga. ayo Biyan, tunjukkan kalau kamu tdk bisa dipandang remeh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!