Nala Aristha hanyalah "putri yang tidak diinginkan" di keluarga Aristha. Selama bertahun-tahun, ia hidup di bawah bayang-bayang kakaknya yang sempurna, Bella.
Ketika keluarga Aristha terancam bangkrut, satu-satunya jalan keluar adalah memenuhi janji pernikahan tua dengan keluarga Adhitama. Namun, calon mempelai prianya, Raga Adhitama, dirumorkan sebagai pria cacat yang kejam, memiliki wajah hancur akibat kecelakaan, dan temperamen yang mengerikan.
Bella menolak keras dan mengancam bunuh diri. Demi menyelamatkan nama baik keluarga, Nala dipaksa menjadi "mempelai pengganti". Ia melangkah ke altar dengan hati mati, bersiap menghadapi neraka.
Namun, di balik pintu kamar pengantin yang tertutup rapat, Nala menemukan kebenaran yang mengejutkan. Raga Adhitama bukanlah monster seperti rumor yang beredar. Dia adalah pria dengan sejuta rahasia gelap, yang membutuhkan seorang istri hanya sebagai tameng.
"Jadilah istriku yang patuh di depan dunia, Nala. Dan aku akan memberikan seluruh dunia in
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hazard111, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Hari Pertama
Malam merambat semakin larut di kota Jakarta, namun udara di dalam mobil limousine yang membawa Raga dan Nala terasa jauh lebih dingin daripada embusan pendingin udara di dalamnya. Nala duduk tegak, kedua tangannya saling bertautan di atas tas kecil yang di dalamnya tersimpan foto Dyah Rahayu. Matanya menatap lurus ke depan, memperhatikan lampu-lampu jalan yang berkelebat cepat bagaikan kilasan memori masa kecilnya yang selama ini terasa buram, namun kini telah menemukan titik terangnya yang paling menyakitkan.
Di sampingnya, Raga duduk dengan wibawa yang tidak tergoyahkan. Tangan kanannya bertumpu pada tongkat kayu hitam dengan hulu perak yang berkilau setiap kali terkena cahaya lampu jalan. Meski kakinya masih sesekali berdenyut nyeri akibat saraf yang belum pulih sepenuhnya, fokus Raga hanya tertuju pada wanita di sampingnya. Ia bisa merasakan kemarahan yang tenang dari Nala, sebuah transformasi yang ia nantikan sejak lama. Istrinya bukan lagi kelinci kecil yang ketakutan, melainkan seorang wanita yang siap mengklaim kembali martabat ibunya yang telah diinjak-injak selama puluhan tahun.
"Kita hampir sampai, Nala," ucap Raga dengan suara bariton yang stabil. Pria itu mengulurkan tangan kirinya, menyentuh pundak Nala seolah ingin memberikan tambahan energi. "Ingat, kau tidak perlu ragu. Mereka hanyalah pencuri yang sedang menempati sisa-sisa belas kasihanmu. Kebenaran ada di tanganmu sekarang."
Nala menoleh, menatap wajah Raga yang kini tampak sangat bersih dan tampan. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang terasa seperti tabuhan genderang. "Aku tidak ragu, Mas. Aku hanya merasa aneh. Selama dua puluh satu tahun aku menganggap pria itu sebagai tuhan dalam hidupku yang harus aku patuhi. Sekarang, aku hanya melihat seorang pengecut yang membangun istananya di atas nyawa Ibuku."
Mobil perlahan memasuki kawasan apartemen kelas menengah di pinggiran Jakarta Selatan. Gedung ini cukup layak, namun bagi keluarga Aristha yang terbiasa hidup di dalam mansion luas dengan belasan pelayan, tempat ini pastilah terasa seperti penjara yang sempit. Mobil berhenti tepat di depan lobi. Pak Hadi turun lebih dulu, membukakan pintu untuk Raga dan Nala. Langkah kaki Raga yang dibantu tongkat berbunyi mantap di atas lantai lobi, diikuti oleh Nala yang berjalan dengan kepala tegak.
Mereka menaiki lift menuju lantai tujuh. Koridor apartemen itu terasa sunyi, hanya ada suara dengungan mesin pendingin ruangan dari balik pintu-pintu kayu yang berderet. Saat mereka sampai di depan unit nomor 702, Raga berhenti. Ia memberikan ruang bagi Nala untuk menjadi orang pertama yang mengetuk pintu itu.
Nala menarik napas, lalu mengetuk pintu dengan tegas. Tiga kali ketukan yang nyaring.
Dari dalam, terdengar suara langkah kaki yang diseret, diikuti oleh suara melengking yang sangat Nala kenali. Suara Siska.
"Siapa lagi yang datang jam begini? Kalau itu penagih hutang bank, katakan pada mereka kami sudah tidak punya apa-apa lagi!" teriak Siska dari dalam sebelum pintu terbuka dengan kasar.
Siska berdiri di ambang pintu dengan penampilan yang sangat kontras dari biasanya. Tidak ada lagi gaun bermerek atau riasan wajah yang tebal. Rambutnya tampak acak-acakan, dan ia hanya mengenakan daster rumahan yang sudah agak pudar warnanya. Saat matanya melihat Nala, ia baru saja hendak melontarkan makian, namun kalimatnya langsung tersangkut di tenggorokan saat melihat pria yang berdiri di belakang Nala.
Siska tersentak mundur, matanya membelalak lebar. Ia hampir tidak mengenali Raga Adhitama tanpa topeng peraknya. Wajah pria itu begitu sempurna, namun tatapannya jauh lebih mematikan daripada saat ia masih memakai logam dingin itu.
"Nala? Dan... Tuan Muda?" suara Siska bergetar hebat. "Apa yang kalian lakukan di sini? Kami sudah pindah sesuai keinginanmu, bukan? Kami sudah tidak punya apa-apa lagi!"
Nala melangkah maju tanpa menunggu izin. Raga mengikuti di belakang, membiarkan tongkatnya memberikan irama intimidasi yang konstan. Ruang tamu apartemen itu tampak berantakan dengan beberapa koper yang belum dibongkar. Di sana, Bramantyo duduk di kursi kayu dengan sebotol minuman keras murah di atas meja. Di sudut lain, Bella tampak sedang sibuk dengan ponselnya, namun langsung berdiri tegak dengan wajah pucat saat melihat siapa yang datang.
"Nala? Kenapa kau membawa suamimu ke sini?" tanya Bramantyo dengan suara yang serak. Pria itu tampak menua sepuluh tahun dalam beberapa minggu terakhir.
Raga duduk di satu-satunya sofa tunggal yang ada di sana, meletakkan tongkatnya di samping kursi dengan gerakan yang sangat tenang namun penuh kuasa. Nala tetap berdiri, ia mengeluarkan map cokelat yang diberikan Raga tadi sore dan meletakkannya di atas meja kopi yang sudah kusam itu.
"Aku datang bukan sebagai anak yang ingin menjenguk ayahnya," buka Nala. Suaranya terdengar sangat stabil, dingin, dan tajam. "Aku datang sebagai pemilik sah dari setiap rupiah yang pernah kalian makan selama dua puluh satu tahun ini."
Bramantyo mengerutkan kening, mencoba meraih map itu namun tangannya gemetar. Siska mendekat dengan wajah yang mulai merah karena amarah yang dipaksakan. "Apa maksudmu, Nala? Kau sudah mengambil rumah kami, kau sudah membuat kami tinggal di tempat sempit ini. Apa lagi yang kau inginkan?"
"Aku ingin kebenaran tentang Dyah Rahayu," ucap Nala, menekankan setiap suku kata nama ibunya.
Seketika, suasana di ruangan itu menjadi sangat kaku. Bramantyo menjatuhkan botol minumannya hingga isinya tumpah ke lantai, sementara Siska tampak seperti baru saja melihat hantu di tengah hari bolong. Wajah mereka memucat secara drastis.
"Siapa... siapa yang memberitahumu nama itu?" bisik Bramantyo dengan suara yang hampir menghilang.
Nala membuka map itu, memperlihatkan foto ibunya yang sedang duduk di taman melati. "Ibu tidak pernah melarikan diri, bukan? Dia tidak pernah meninggalkan aku karena miskin. Kalian yang mengurungnya! Kalian membiarkannya mati di paviliun belakang rumah itu hanya agar kalian bisa menguasai tanah warisan keluarga Rahayu!"
"Itu fitnah! Siapa yang mengarang cerita sampah ini padamu?!" jerit Siska, meskipun suaranya kini terdengar sangat tidak meyakinkan. Ia mencoba meraih foto itu untuk merobeknya, namun Raga dengan cepat mengayunkan tongkatnya, menghalangi tangan Siska dengan tekanan yang cukup kuat hingga wanita itu memekik kesakitan.
"Jangan pernah mencoba menyentuh apa pun yang ada di meja ini, Siska. Kecuali kau ingin aku menyeretmu ke kantor polisi malam ini juga dengan tuduhan pembunuhan berencana," ancam Raga dengan nada yang sangat rendah namun sangat berbahaya.
Bramantyo menutupi wajahnya dengan kedua tangan, bahunya terguncang hebat. "Nala... maafkan Ayah... Ayah terdesak... saat itu bisnis sedang jatuh, dan Dyah... ibumu memiliki aset yang sangat besar..."
"Terdesak?" Nala tertawa pendek, sebuah tawa pahit yang membuat Bella yang sejak tadi diam mulai menangis ketakutan. "Ayah terdesak hingga tega mengurung wanita yang mencintai Ayah di paviliun lembap? Ayah membiarkannya meninggal karena pendarahan tanpa memanggil dokter hanya karena takut rahasia pemalsuan dokumen waris itu terbongkar? Di mana hati nuranimu, Ayah?"
Nala melangkah mendekati Bramantyo, menatap pria itu tepat di matanya. "Selama dua puluh satu tahun, aku hidup dengan rasa bersalah. Aku mengira aku adalah noda dalam keluarga ini. Setiap kali Siska memukulku atau Bella menghinaku, aku pikir itu pantas karena Ibuku membuangku. Tapi ternyata, kalianlah nodanya! Kalian pemakan bangkai yang hidup mewah di atas penderitaan wanita suci itu!"
Siska jatuh terduduk di lantai, ia mulai merengek. "Nala, tolonglah... kami sudah kehilangan segalanya. Jangan bawa masalah ini ke jalur hukum. Kami akan melakukan apa pun..."
"Kalian memang sudah kehilangan harta," ucap Nala sambil mengambil kembali mapnya. "Tapi kalian belum kehilangan kebebasan. Dan hari ini, aku memutuskan untuk tidak membiarkan kalian memiliki itu juga."
Raga berdiri, ia menatap Bramantyo dengan jijik. "Tim hukum Adhitama sudah memiliki semua bukti. Kesaksian bidan yang membantu kelahiran Nala secara rahasia, catatan medis paviliun yang kalian coba hapus, hingga aliran dana pemalsuan aset. Semuanya sudah lengkap."
Bramantyo mendongak, matanya penuh dengan air mata ketakutan. "Nala... aku ini ayahmu..."
"Ayahku sudah mati di hari Ibu menghembuskan napas terakhirnya di paviliun itu," jawab Nala tanpa emosi. "Aku memberikan kalian kesempatan tinggal di sini hanya agar kalian bisa merasakan bagaimana rasanya hidup dalam ketakutan setiap hari, menunggu jemputan petugas hukum yang akan segera datang. Aku ingin kalian merasakan apa yang Ibu rasakan. Terkurung, terisolasi, dan tidak punya siapa-siapa."
Nala berbalik, ia tidak ingin lagi melihat wajah-wajah yang selama ini menghantui hidupnya. Saat ia berjalan menuju pintu, Raga berhenti sejenak di depan Bramantyo.
"Kau beruntung aku tidak langsung membunuhmu di tempat saat aku tahu apa yang kau lakukan pada ibu Nala," bisik Raga, cukup keras untuk didengar oleh semua orang di ruangan itu. "Tapi kematian terlalu cepat bagimu. Kau harus melihat bagaimana putri yang kau sia-siakan ini bersinar di atas reruntuhan yang kau tinggalkan."
Mereka berdua melangkah keluar dari apartemen itu, meninggalkan suara teriakan histeris Siska dan isak tangis Bella yang memohon ampun. Di dalam lift, suasana kembali hening. Nala bersandar di dinding lift, ia memejamkan matanya rapat-rapat. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga, namun kali ini bukan air mata kesedihan, melainkan air mata pelepasan.
Begitu sampai di dalam mobil, Raga menarik Nala ke dalam pelukannya. Ia tidak bicara, ia hanya membiarkan Nala menumpahkan segala bebannya di bahunya. Nala menangis sesenggukan, melepaskan luka dua puluh satu tahun yang baru saja ia sembuhkan dengan kebenaran yang pahit.
"Semuanya sudah selesai, Jantung Hatiku," bisik Raga sambil mengusap rambut Nala. "Kau sudah memberikan keadilan bagi ibumu. Kau sudah melakukan hal yang benar."
Setelah beberapa menit, Nala mengangkat wajahnya. Ia menyeka air matanya dan menatap Raga dengan senyum yang sangat tulus. "Terima kasih, Mas Raga. Terima kasih karena sudah membantuku berdiri tegak di hadapan mereka. Jika bukan karena Mas, aku mungkin masih akan menjadi Nala yang pengecut."
Raga mencium kening Nala dengan penuh kasih. "Kau tidak pernah pengecut, Nala. Kau hanya terlalu baik untuk dunia yang jahat ini. Dan tugasku adalah memastikan tidak ada lagi yang bisa menyakitimu."
Mobil limousine itu perlahan meninggalkan kawasan apartemen, kembali menuju Adhitama Estate. Di sepanjang jalan, Nala menatap ke luar jendela. Langit Jakarta malam itu tampak lebih bersih di matanya. Ia membayangkan Dyah Rahayu di suatu tempat sedang tersenyum padanya.
Sesampainya di mansion, Pak Hadi menyambut mereka dengan wajah lega. "Tuan Muda, Nyonya Muda, semuanya sudah siap di ruang makan."
"Terima kasih, Pak Hadi. Tapi kurasa Nyonya butuh istirahat lebih dulu," ucap Raga sambil menatap Nala.
Nala mengangguk kecil. "Aku ingin ke studio sebentar, Mas. Aku ingin melihat lukisan Ibuku sekali lagi sebelum aku beristirahat."
Raga membiarkan Nala pergi menuju studionya. Ia sendiri duduk di lobi utama, menatap tongkatnya. Ia tahu perjuangan fisik dan mental mereka belum sepenuhnya usai. Burhan Prasetya masih di luar sana, dan pemulihan kakinya masih membutuhkan waktu berbulan-bulan. Namun, malam ini, ia telah memenangkan pertempuran yang paling penting. Ia telah memenangkan kedamaian bagi istrinya.
Di dalam studio yang diterangi lampu temaram, Nala berdiri di depan foto Dyah Rahayu. Ia menyentuh permukaan foto itu dengan ujung jarinya. "Ibu... aku sudah melakukannya. Mereka tidak akan pernah bisa menyakitimu lagi dalam ingatanku. Sekarang, rumahmu adalah rumahku juga. Dan aku akan menjaga nama Rahayu dengan caraku sendiri."
Nala kemudian mengambil kuasnya. Ia tidak melukis badai kali ini. Ia mulai menggoreskan warna biru langit yang jernih dan gradasi warna bunga melati yang putih bersih di atas kanvas baru. Ia ingin melukis masa depan, bukan lagi masa lalu yang kelam.
Raga menyusul Nala ke studio beberapa saat kemudian. Ia berdiri di ambang pintu, memperhatikan istrinya yang mulai melukis dengan penuh perasaan. Pemandangan itu adalah pemandangan terindah yang pernah Raga lihat. Ia menyadari bahwa cinta yang bermula dari sebuah sumpah kaku dan kontrak dingin, kini telah bertransformasi menjadi sesuatu yang begitu murni dan tak terkalahkan.
"Nala," panggil Raga pelan.
Nala menoleh dan tersenyum. "Iya, Mas?"
"Besok kita akan ke Bogor. Kita akan mengunjungi makam ibumu dengan cara yang semestinya. Kita akan membawa bunga melati yang paling segar, dan kita akan memberitahunya bahwa putrinya adalah wanita paling hebat yang pernah aku temui."
Nala berjalan mendekati Raga, ia memeluk pinggang suaminya dan menyandarkan kepalanya di dada pria itu. "Aku mencintaimu, Mas Raga. Sangat mencintaimu."
Raga mencium puncak kepala Nala, menghirup aroma rambut istrinya yang selalu memberinya ketenangan. "Aku jauh lebih mencintaimu, Nala Adhitama. Selamanya."
Malam itu ditutup dengan kedamaian yang sesungguhnya di Adhitama Estate. Tidak ada lagi rahasia yang menghantui, tidak ada lagi rasa bersalah yang membelenggu. Hanya ada dua jiwa yang telah saling menyembuhkan, siap menghadapi fajar baru dengan tangan yang saling menggenggam erat. Perang memang belum berakhir, tapi malam ini, cinta telah memenangkan pertempurannya yang paling krusial.
sangat bagus
Mampir dan dukung karyaku, yuk!
- TRUST ME
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Jangan lupa juga untuk Like, Komen, Share, dan Subscribe, ya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰
sangat bagus thor ,sangat bagus,,
qu dulu ,fans garis besar ,fredy S, penulis novel di aera 80 an, karyanya" sangat bagus ,dn novel mu sangat bagus
novel yg sangat bagus