Arka terbangun dari tidur panjang selama tiga tahun tanpa membawa satu pun kepingan memori tentang siapa dirinya. Ia hidup dalam raga yang sehat, namun jiwanya terasa asing, terjebak dalam rasa bersalah yang tak bernama dan duka yang bukan miliknya. Di sisi lain, Arunika baru saja menyerah pada penantiannya. Selama tiga tahun, ia menunggu seorang pria dari aplikasi bernama Senja yang menghilang tepat di hari janji temu mereka di Jalan Braga. Pencarian Arunika berakhir di sebuah nisan yang ia yakini sebagai peristirahat terakhir kekasihnya.
Namun, takdir memiliki cara yang ganjil untuk mempertemukan mereka kembali. Di sebuah halte yang lembap dan kafe tua di sudut Braga, Arka dan Arunika duduk bersisian sebagai dua orang asing yang berbagi rasa sakit yang sama. Arka dihantui oleh bayangan janji yang ia lupakan, sementara Arunika terombang-ambing antara kesetiaan pada masa lalu dan debaran aneh yang ia rasakan pada pria bernama Arka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TERSESAT DIMAKAM YANG SALAH
Arunika menatap pria di sampingnya dengan saksama. Ada sesuatu yang janggal—sebuah perasaan familiar yang tidak sinkron dengan wajah yang ia lihat. Pria ini asing, namun getaran suaranya saat mengucap kata "maaf" tadi seolah beresonansi dengan luka yang selama tiga bulan ini ia bawa sendirian.
"Jadi, Mas lagi buat janji sama orang?" tanya Arunika pelan. Suaranya halus, namun penuh selidik, seolah ia sedang melemparkan umpan ke tengah danau yang tenang.
Arka menoleh. Ia menatap mata Arunika, namun tidak ada kilatan memori yang muncul. Baginya, mata itu indah, namun ia tidak ingat pernah tenggelam di dalamnya selama tiga tahun. Ingatannya benar-benar bersih, menyisakan kekosongan yang dingin.
"Sepertinya saya nggak ingat," jawab Arka jujur. Ia mengusap wajahnya, tampak frustrasi. "Saya baru bangun dari koma tiga bulan lalu. Dokter bilang otak saya sedang berusaha menyusun kembali ingatan yang hilang. Tapi rasanya... ada lubang besar di sini." Arka menunjuk dadanya sendiri.
Arunika tertegun. Baru bangun dari koma tiga bulan lalu? Waktunya tepat. Tepat saat Senja menghilang dari pandangannya di malam itu.
Kedua orang ini seperti tidak sadar bahwa akhirnya mereka kembali dipertemukan.
Mereka duduk bersisian di bawah lampu jalan yang baru saja menyala, di halte yang sama tempat mereka sering menghabiskan waktu dalam dunia "arwah". Namun sekarang, ada dinding realitas yang sangat tebal memisahkan mereka. Arka tidak ingat apa-apa karena memorinya dihapus oleh kenyataan medis, sementara Arunika tidak mengenali Arka karena wajah yang ia cintai adalah wajah "pinjaman" milik pria bernama Senja.
"Kadang," ucap Arunika sambil membuka pelan buku sketsanya, "ada janji yang saking kuatnya, dia tetap tinggal di hati meski kepalanya sudah lupa."
Arka terdiam mendengar kalimat itu. Kalimat itu terasa seperti kunci yang mencoba masuk ke lubang kunci yang salah, tapi hampir pas.
"Mungkin benar," gumam Arka. "Karena meski saya nggak ingat siapa yang saya sakiti, rasa sedih ini nggak mau pergi."
Arka kemudian berdiri, merasa kepalanya semakin berdenyut hebat jika terus dipaksa berada di sana. Ia melambaikan tangan pada Rio yang berada di seberang jalan.
"Saya harus pergi. Teman saya sudah menunggu," ucap Arka sopan.
Arunika hanya mengangguk pelan, menatap punggung Arka yang mulai menjauh. Ia belum berani menarik kesimpulan, namun saat pria itu melangkah, Arunika melihat cara Arka berjalan—sedikit menyeret kaki kanannya, persis seperti kebiasaan Senja saat mereka menyusuri Braga dulu.
Ponsel di saku Arunika bergetar hebat tepat saat ia baru saja hendak beranjak dari bangku Halte Braga. Sebuah nomor tidak dikenal muncul di layar. Dengan napas yang masih tersengal akibat debaran aneh setelah berbincang singkat dengan pria asing tadi, ia mengangkat telepon itu. Suara di ujung sana terdengar tenang namun tegas, seorang suster dari rumah sakit yang ia kunjungi kemarin. Suster itu memberi tahu bahwa setelah melakukan penelusuran lebih mendalam pada arsip kecelakaan tiga tahun lalu, mereka menemukan nama "Senja" beserta alamat rumah keluarganya. Semangat Arunika mendadak membubung tinggi; ia merasa titik terang dari pencariannya selama tiga bulan ini akhirnya muncul di depan mata. Tanpa membuang waktu, ia segera memesan taksi menuju alamat sebuah rumah tua di sudut kota yang tampak tenang dan tertutup.
Setibanya di sana, Arunika disambut oleh seorang ibu yang sudah tampak sangat sepuh. Wajah wanita tua itu guratan kesedihan yang seolah telah membeku menjadi permanen. Dengan suara gemetar, Arunika menanyakan keberadaan seorang pria bernama Senja. Namun, jawaban yang ia terima bagaikan petir di siang bolong. Wanita itu, dengan mata yang mulai berkaca-kaca, menjelaskan bahwa Senja, putra tunggalnya, telah meninggal dunia tepat tiga tahun yang lalu dalam sebuah kecelakaan hebat. Arunika terpaku di ambang pintu, dunianya seolah runtuh seketika. Namun, saat matanya beralih ke dinding ruang tamu, ia melihat sebuah foto berbingkai kayu. Di sana, seorang pemuda tersenyum lebar ke arah kamera—wajah itu, garis rahang itu, dan tatapan mata itu adalah benar milik "Senja" yang selama ini menemaninya di dunia antara.
Arunika jatuh terduduk di kursi kayu ruang tamu itu dengan tubuh yang gemetar hebat. Ia tidak sanggup mencerna kenyataan yang begitu bengis. Bagaimana mungkin pria yang ia ajak bicara, yang ia genggam tangannya di puncak menara, dan yang berjanji tidak akan meninggalkannya adalah seseorang yang sudah terkubur di bawah tanah selama tiga tahun? Ia sama sekali tidak menyadari rahasia medis yang dingin: bahwa sosok yang ia temui di Braga selama masa penantiannya bukanlah Senja yang asli, melainkan jiwa pria lain bernama Arka. Arka, yang saat kecelakaan berada di samping Senja di UGD, secara tidak sadar meminjam identitas dan wajah pemuda malang itu sebagai pelindung mental saat jiwanya terlepas dari kesadaran.
Kesedihan Arunika semakin dalam karena ia menyadari bahwa ia telah jatuh cinta pada sebuah "topeng". Pria yang baru saja ia temui di halte tadi—pria bernama Arka yang tampak rapi dengan kemeja kantor—adalah pemilik jiwa yang sesungguhnya ia cintai, namun ia tidak mengenali wajah aslinya. Sementara itu, wajah yang ia puja-puja selama ini hanyalah milik seorang pemuda yang sudah lama tiada. Arunika pulang dengan hati yang hancur, memeluk buku sketsanya erat-heran, menyadari bahwa takdir telah memainkannya dengan cara yang paling kejam: ia bertemu dengan jiwanya, namun kehilangan wajahnya, dan ia memuja wajahnya, namun itu milik seseorang yang telah menjadi debu.
Arunika melangkah gontai menyusuri jalan setapak di pemakaman itu, mengikuti petunjuk arah yang diberikan oleh ibu tua tadi. Suasana sore yang tenang justru terasa mencekam bagi batinnya. Ketika langkahnya terhenti di depan sebuah nisan yang bertuliskan nama Senja, dunianya seolah berhenti berputar. Ia jatuh bersimpuh, jemarinya menyentuh permukaan batu nisan yang dingin dengan gemetar hebat. Tangisnya pecah seketika—sebuah tangisan pilu dari seseorang yang merasa baru saja kehilangan separuh jiwanya untuk selamanya.
Ia benar-benar hancur. Dalam pikirannya, segala harapan untuk bersatu kembali dengan pria yang menemaninya selama tiga tahun itu telah terkubur bersama tanah di depannya. Ia meratapi nasibnya, merasa bahwa sosok yang ia ajak bicara di bawah langit oranye dulu adalah sebuah keajaiban yang kini telah kembali ke haribaan Tuhan. Ia tidak pernah menyangka bahwa Senja yang asli memang telah tiada sejak malam kecelakaan itu, dan ia sama sekali tidak menyadari rahasia besar di balik takdir ini.
Arunika tidak sadar bahwa jiwa yang selama ini ia sebut "Senja" sebenarnya masih hidup dan bernapas di dunia ini. Ia tidak tahu bahwa saat ia meratapi makam itu, pria pemilik jiwa tersebut—Arka—sedang duduk di suatu tempat, mungkin sedang menyesap kopi atau menatap langit yang sama, dengan raga yang utuh namun memori yang terhapus. Ketidaktahuan ini membuat duka Arunika terasa begitu absolut dan nyata; baginya, "Senja" telah benar-benar pergi dan meninggalkan janji mereka menjadi debu.
Ia memeluk buku sketsanya erat-erat di atas makam itu, tidak menyadari bahwa keajaiban medis telah memisahkan "jiwa" dan "wajah" yang ia kenal. Ia meratapi kematian seorang pria yang namanya ia pinjam, tanpa tahu bahwa pria yang memiliki jiwanya baru saja duduk bersisian dengannya di Halte Braga beberapa jam yang lalu. Di bawah langit yang perlahan menggelap, Arunika merasa menjadi orang paling kesepian di dunia, meratapi sebuah nisan, sementara pemilik janji yang sesungguhnya sedang berjalan di antara kerumunan orang sebagai orang asing.
Gemini said
Arunika melangkah pulang dengan bahu yang merosot, membawa beban duka yang terasa berkali lipat lebih berat dari sebelumnya. Di dalam dekapannya, sebuah buku sketsa tua yang ia temukan dari ibu Senja terasa begitu dingin. Ia baru saja menyadari sebuah kenyataan yang memukul telak logikanya: buku sketsa itu memang milik Senja yang asli. Garis-garis gambar di dalamnya, goresan pensilnya, hingga detail kecil yang pernah ia lihat di dunia antara, semuanya terkonfirmasi milik pria yang kini telah berbaring di bawah nisan. Arunika benar-benar terpukul. Ia merasa bahwa selama tiga tahun ini, ia telah mencintai seorang "penghuni langit" yang belum sempat ia temui di dunia nyata. Baginya, pencarian ini sudah berakhir di pemakaman tadi. Ia yakin bahwa sosok yang menemaninya di bawah langit oranye adalah arwah dari pria yang sudah tiada itu.
Arunika sama sekali belum sadar dengan permainan alam semesta yang jauh lebih rumit ini.
Ia tidak tahu bahwa alam semesta sedang melakukan sebuah "pertukaran" yang sangat halus. Ia tidak menyadari bahwa meski buku dan wajah itu milik Senja yang asli, getaran jiwa, kata-kata, dan janji yang ia rasakan selama ini adalah milik Arka. Semesta seolah sedang meminjamkan "wadah" milik Senja agar Arka bisa tetap terjaga dan menemani Arunika di dunia antara.
Saat Arunika berjalan melewati trotoar Braga menuju rumahnya, ia kembali melewati halte tempat ia bertemu pria asing (Arka) tadi sore. Ia melirik sekilas ke arah bangku kosong itu dengan mata sembab. Dalam pikirannya, pria tadi hanyalah orang asing yang kebetulan lewat. Ia tidak sedikit pun menaruh curiga bahwa pria itulah pemilik janji yang sesungguhnya—jiwa yang kini terperangkap dalam raga yang asing baginya, namun sedang berjuang keras merasakan "utang rasa" yang sama.
Arunika sampai di rumah, meletakkan buku sketsa Senja di atas meja, lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia merasa tersesat dalam duka yang salah alamat. Ia menangisi kematian Senja, sementara pemilik hatinya sedang berada hanya beberapa kilometer darinya, menatap langit malam dengan perasaan hampa yang tidak ia mengerti.
mampir juga yaa Thor di cerita aku "My Dangerous Kenzo"🙏👍