Perasaan Kaylee Lumiere didasari oleh kasih sayang yang begitu besar sehingga ia rela menomorduakan kebahagiaannya sendiri.
Ia lebih memilih mendengarkan cerita cinta Atlas Theodore dengan wanita lain daripada mengambil risiko menyatakan cinta dan kehilangan kehadiran Atlas selamanya. Baginya, "memiliki Atlas sebagai sahabat" jauh lebih baik daripada "kehilangan Atlas karena cinta yang ditolak."
Kaylee Sudah ahli Menekan rasa cemburu, sesak napas, dan teriakan di dalam hati yang ingin mengatakan, "Seharusnya aku yang ada di posisi itu."
Kaylee merasa seperti berdiri di balik kaca bening. Ia bisa melihat Atlas dengan sangat jelas, menyentuhnya, dan mengetahui setiap rahasia terkecilnya, namun ada penghalang tak kasat mata yang mencegahnya untuk melangkah lebih jauh. Ia adalah orang paling dekat, sekaligus orang paling jauh dari hati Atlas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reoni Yang Meledak
Pukul 02.00 dini hari. Lorong hotel Regis terasa begitu sunyi dan mencekam. Kaylee melangkah dengan jantung yang berdegup kencang, menggendong Niel yang sedang tertidur lelap di bahunya.
Begitu sampai di depan pintu kamar 402, pintu itu terbuka bahkan sebelum Kaylee sempat mengetuk.
Atlas berdiri di sana. Wajah dingin yang tadi siang ia tunjukkan telah sirna, digantikan oleh gurat kerinduan yang sangat dalam dan mata yang berkaca-kaca.
Tanpa sepatah kata pun, Atlas menarik Kaylee masuk dan mengunci pintu rapat-rapat. Ia mengambil Niel dari gendongan Kaylee dengan gerakan yang sangat lembut, mencium kening putranya yang terlelap dengan air mata yang akhirnya jatuh. Ia membaringkan Niel di sofa besar yang empuk, memastikan anaknya aman, sebelum akhirnya berbalik menatap wanita yang selama tiga tahun ini menjadi alasan jantungnya tetap berdetak.
"Ay..." bisik Atlas parau.
Kaylee tidak bisa lagi menahan diri. Ia menghambur ke pelukan Atlas, menangis sejadi-jadinya di dada pria itu. Atlas mendekapnya begitu erat, seolah ingin menyatukan kembali kepingan jiwa mereka yang sempat terpisah jarak dan maut.
"Maafkan aku... maafkan aku harus bersikap kasar tadi siang," ucap Atlas di sela ciumannya di puncak kepala Kaylee.
Gairah yang tertahan selama tiga tahun meledak seketika. Di balik pintu yang terkunci itu, mereka saling memiliki kembali dengan intensitas yang lebih hebat dari malam terakhir mereka di Helsinki.
Setiap sentuhan adalah bentuk penebusan, setiap ciuman adalah janji bahwa mereka tidak akan pernah terpisahkan lagi. Atlas mencintai Kaylee dengan seluruh sisa tenaganya, membuktikan bahwa tubuh dan jiwanya tetap murni hanya milik Kaylee, meskipun ia berada di sarang singa selama bertahun-tahun.
Saat fajar mulai menyingsing di London, televisi di kamar hotel yang menyala tanpa suara tiba-tiba menampilkan Breaking News dengan tulisan besar berwarna merah.
PENGGEREBEKAN BESAR-BESARAN DI TUSCANY: KEKUASAAN MAFIA VALERIUS RUNTUH DALAM SEMALAM.
Atlas terbangun, ia duduk di tepi ranjang sambil memeluk Kaylee dari belakang, keduanya menatap layar televisi. Gambar-gambar di berita menunjukkan kastil megah itu kini dikepung oleh ratusan polisi anti-teror dan Interpol.
Ayah Bianca terlihat diborgol dengan wajah yang hancur, sementara Bianca tertangkap kamera sedang dikawal masuk ke mobil polisi dengan wajah pucat pasi. Seluruh data yang dikirimkan Atlas, mulai dari perdagangan ilegal hingga pencucian uang, telah menjadi bom atom yang meluluhlantakkan kekaisaran mereka tanpa sisa.
"Semuanya sudah berakhir, Ay," bisik Atlas pelan, suaranya penuh kelegaan yang luar biasa. "Aku bebas Ay. Kita bebas."
Niel terbangun karena suara berisik dari televisi. Ia duduk di sofa, mengucek matanya, dan melihat seorang pria yang sangat mirip dengan foto di ponsel mamanya sedang duduk di tempat tidur sambil memeluk ibunya.
Atlas menoleh, ia tersenyum dengan tulus, senyum yang selama tiga tahun ini hilang dari wajahnya. Ia merentangkan tangannya ke arah Niel.
"Niel... sini, jagoan Papa."
Niel sempat ragu, namun melihat anggukan mantap dari Kaylee, bocah itu berlari kecil dan menghambur ke pelukan Atlas. Atlas menggendong putranya, menciumi pipi Niel yang gembil, merasakan aroma anaknya untuk pertama kali.
"Papa pulang?" tanya Niel polos.
"Iya, Sayang. Papa pulang dan nggak akan pernah pergi lagi," jawab Atlas, suaranya bergetar.
Di pagi yang cerah di London itu, di dalam kamar 402, tidak ada lagi ketakutan, tidak ada lagi sandiwara, dan tidak ada lagi Bianca.
Yang ada hanyalah sebuah keluarga kecil yang akhirnya utuh kembali. Atlas Theodore telah memenangkan peperangannya, dan hadiah terindahnya adalah pelukan dari istri dan anaknya yang kini berada dalam dekapannya.
Berita di televisi masih terus menayangkan kehancuran keluarga Valerius, namun Atlas sudah tidak peduli. Baginya, dunia yang sebenarnya ada di dalam kamar ini. Ia menatap Niel yang baru saja bangun dengan rambut berantakan, persis seperti dirinya.
"Niel mau mandi sama Papa?" tanya Atlas dengan suara yang jauh lebih lembut dari biasanya.
Niel mengangguk antusias. "Mandi! Main bebek!"
Atlas membawa Niel ke dalam kamar mandi mewah apartemen tersebut. Ia menyalakan air hangat di bathtub, mencoba menjadi ayah yang cekatan meski ini adalah pengalaman pertamanya. Kaylee bersandar di pintu kamar mandi, memperhatikan pemandangan yang selama ini hanya ada dalam mimpinya.
"Sini, jagoan," gumam Atlas sambil melepaskan kaos Niel.
Saat Niel masuk ke dalam air, bocah itu langsung memercikkan air dengan tangannya yang gempal.
Byur!
Air mengenai wajah dan kemeja putih yang dikenakan Atlas hingga tembus pandang.
"Eh, Niel! Papa jadi basah," ucap Kaylee sambil tertawa kecil.
Atlas tertawa lepas, suara tawa yang sudah tiga tahun tidak didengar Kaylee. "Tidak apa-apa, Ay. Sekalian saja." Tanpa ragu, Atlas melepas kemejanya, memperlihatkan tubuh atletisnya yang kini memiliki beberapa bekas luka kecil, bukti perjuangannya di Italia. Ia ikut masuk ke dalam bathtub bersama Niel.
"Kamu mau bergabung, Kay?" tanya Atlas sambil mengerling nakal ke arah istrinya.
Kaylee menggeleng sambil tersenyum, meski wajahnya merona. "Aku siapkan baju ganti untuk kalian saja."
"Jangan lama-lama, aku merindukanmu," gumam Atlas pelan, menatap Kaylee dengan tatapan yang seolah ingin melahapnya.
Setelah drama mandi yang berakhir dengan lantai kamar mandi banjir dan mereka bertiga basah kuyup karena Niel yang terlalu bersemangat, Atlas akhirnya bisa bersantai. Sesuai instruksi pengacaranya, Atlas belum bisa keluar dari apartemen selama 24 jam ke depan untuk memastikan sisa-sisa pengawal Bianca di London sudah benar-benar dibersihkan oleh otoritas setempat.
Mereka menghabiskan waktu di dalam apartemen yang luas itu. Atlas duduk di karpet bulu, memangku Niel sambil mengajarinya menyusun balok kayu.
"Kamu tahu, Kay?" ucap Atlas tiba-tiba sambil menatap Kaylee yang sedang menyeduh teh di bar dapur. "Selama di sana, aku sering membayangkan momen seperti ini. Hanya kita bertiga, tanpa kamera, tanpa senjata, dan tanpa sandiwara."
Kaylee berjalan mendekat, duduk di samping Atlas dan menyandarkan kepalanya di bahu pria itu. "Aku juga, Atlas. Aku hampir menyerah saat melihat foto-fotomu di majalah."
"Maafkan aku untuk itu," gumam Atlas sambil mencium kening Kaylee. Tangannya yang bebas merangkul pinggang Kaylee, menariknya semakin dekat. "Aku harus melakukan itu agar mereka tidak curiga kalau aku sedang meretas sistem mereka. Aku tidak pernah menyentuhnya, Kay. Bahkan untuk bernapas di dekatnya saja aku muak."
"Aku tahu, aku percaya kamu," bisik Kaylee.
Niel mulai terlihat mengantuk setelah puas bermain. Atlas dengan telaten menggendong putranya hingga tertidur di pelukannya, sebuah pemandangan yang membuat hati Kaylee bergetar hebat.
Setelah memindahkan Niel ke kamar, Atlas kembali ke ruang tengah dan langsung menarik Kaylee ke dalam dekapannya.
"Sekarang, tinggal kita berdua," bisik Atlas di telinga Kaylee.
"Kamu tidak lelah?" tanya Kaylee lembut.
"Lelahku hilang hanya dengan melihatmu, Kay," ucap Atlas sungguh-sungguh. Ia menangkup wajah Kaylee, menatap matanya dalam-dalam. "Aku ingin menghabiskan setiap detik di apartemen ini untuk menebus tiga tahun yang hilang. Aku ingin kamu tahu kalau setiap detak jantungku di Italia, itu meneriakkan namamu."
"Aku mencintaimu, Atlas. Sangat mencintaimu," gumam Kaylee sebelum bibir mereka kembali bertemu dalam ciuman yang panjang dan penuh rasa syukur.
Di luar sana, dunia mungkin sedang heboh dengan berita runtuhnya mafia besar, namun di dalam apartemen itu, waktu seolah terhenti. Hanya ada napas yang bersahutan, pelukan yang tak ingin terlepas, dan janji untuk masa depan yang akhirnya bisa mereka genggam tanpa rasa takut lagi.
🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear😍