Lima tahun lalu, Olivia Elenora Aurevyn melakukan kesalahan fatal salah kamar dan mengandung anak dari pria asing. Ketakutan, ia kabur dan membesarkan Leon sendirian di luar negeri. Saat kembali ke Monako demi kesehatan psikologis Leon, takdir mempertemukannya dengan Liam Valerius, sang penguasa militer swasta. Ternyata, pria "salah kamar" itu adalah Liam. Kini, Liam tidak hanya menginginkan putranya, tetapi terobsesi memiliki Olive sepenuhnya melalui rencana pengejaran yang intens dan provokatif.
Dialog Intens Liam kepada Olive
"Setiap inci tubuhmu adalah milikku, jangan pernah berpikir untuk lari."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pita Cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 ALUNAN MELODI DAN KETULUSAN SANG MONARCH
Sabtu, 10 Mei 2025, Musim Semi
Aula besar hotel mewah di Monte Carlo itu masih berpijar dengan kemegahan yang tak tertandingi. Setelah pengumuman besar yang mengguncang pilar-pilar sosial Monako, suasana sedikit mencair saat pelayan mulai membagikan sampanye terbaik dan hidangan penutup yang artistik. Namun, di salah satu sudut sofa beludru yang agak jauh dari keramaian, Olivia Elenora Aurevyn tampak sedang terduduk diam.
Di pangkuannya, Leon Alexander sang pewaris kecil yang baru saja dinobatkan telah menyerah pada rasa kantuknya. Kelelahan setelah menjadi pusat perhatian, Alex tertidur lelap dengan kepala bersandar di dada ibunya. Olive mengusap rambut putranya dengan lembut, tatapannya penuh kasih, mengabaikan kebisingan di sekitarnya.
Liam Maximilian Valerius, yang sejak tadi dikelilingi oleh para konglomerat dan pengusaha pertahanan besar dunia, akhirnya berhasil membebaskan diri. Dengan langkah tegap namun tenang, ia menghampiri Olive. Bayangan tubuhnya yang tinggi besar menaungi Olive, membuat wanita itu mendongak dan mendapati wajah tampan Liam yang menatapnya dengan intensitas yang tak berkurang sedikit pun.
"Boleh aku duduk di sampingmu, Olive?" tanya Liam, suaranya merendah agar tidak mengejutkan bocah yang terlelap itu.
Olive tersenyum tipis, namun raut wajahnya menunjukkan sedikit rasa tidak enak. "Tentu, Liam. Tapi sepertinya aku harus meminta izinmu. Aku tidak bisa menemanimu berdansa malam ini. Alex sekarang sudah terlelap, dan aku tidak mungkin meninggalkannya sendirian di sini."
Liam tidak menjawab dengan kata-kata. Sebaliknya, ia membungkuk perlahan, lengannya yang kuat namun terlatih dengan lembut menyelinap di bawah tubuh kecil Alex. Olive sempat terkejut, tangannya secara insting menahan lengan Liam karena takut Alex akan terbangun dan rewel jika dipindahkan secara mendadak. Namun, keajaiban terjadi. Alex justru meringkuk lebih dalam ke pelukan Liam, seolah mengenali aroma maskulin yang memberikan rasa aman itu. Alex tetap tenang, bahkan setitik pun tidak menunjukkan tanda-tanda akan terbangun.
"Ayo, ikut aku ke lantai atas," ajak Liam singkat.
Liam membawa Alex ke area VIP di lantai atas, diikuti oleh Olive yang berjalan di sampingnya dengan perasaan yang campur aduk. Di sana, ternyata seluruh keluarga besar sudah berkumpul. Ada keluarga Aurevyn, keluarga Valerius, hingga keluarga sahabat-sahabat mereka. Suasana di lantai atas jauh lebih privat dan intim.
Vanya Amelia Valerius langsung berdiri begitu melihat putranya menggendong Alex. Dengan gerakan cekatan seorang nenek yang penuh kasih, ia mengambil alih Alex dari tangan Liam.
"Biarkan dia bersama kami, Olive," ujar Vanya dengan senyum yang menenangkan. "Pesta dansa di bawah adalah hak kalian para pemuda. Kemegahan acara ini harus kalian nikmati. Jangan khawatirkan Alex, dia akan aman dalam penjagaan kami."
Bramasta dan Feli juga mengangguk setuju. Mereka tahu betul bahwa Olive butuh waktu sejenak untuk melepaskan penatnya sebagai seorang ibu dan kembali menjadi dirinya sendiri, sang primadona yang berhak berdansa dengan pasangannya.
Olive menatap Liam, lalu terkekeh pelan melihat betapa mudahnya Liam mengatur segala sesuatunya. "Kau benar-benar tidak memberikan celah bagiku untuk menolak, ya?"
Liam hanya mengangkat bahu dengan ekspresi datar yang justru terlihat menggemaskan bagi Olive. "Aku hanya memastikan calon istriku mendapatkan haknya untuk menikmati malam ini."
Saat mereka kembali ke lantai bawah, musik orkestra mulai memainkan melodi yang lebih tenang dan romantis. Lampu-lampu utama meredup, menyisakan lampu sorot yang secara otomatis mengikuti pergerakan pasangan utama di tengah lantai dansa. Liam meletakkan satu tangannya di pinggang Olive, sementara tangan lainnya menggenggam jemari Olive yang mungil.
Mereka mulai bergerak mengikuti irama. Liam menatap Olive dengan pandangan yang sangat intens, seolah-olah seluruh dunia hanya berisi wanita di hadapannya.
"Kau terlihat sangat cantik, Olive. Lebih cantik dari semua perhiasan yang ada di ruangan ini," bisik Liam.
Olive mencoba menyeimbangkan langkahnya. "Kau terlalu banyak memuji, Liam. Apa itu bagian dari strategimu untuk menaklukkan para pemegang saham?"
Liam terkekeh rendah, suara yang jarang didengar oleh orang luar. "Tidak. Aku tidak butuh strategi untuk mereka. Tapi untukmu... mungkin aku butuh ribuan strategi."
Percakapan mengalir santai, diselingi candaan kecil dari Olive yang mencoba mencairkan ketegangan. Namun, tiba-tiba Liam menghentikan langkahnya sejenak, menatap mata hazel Olive dengan sangat serius. "Olive, katakan jujur padaku. Apa kau merasa terpaksa menjalin hubungan ini? Apa kau merasa terbebani dengan semua pengumuman yang aku buat tadi?"
Pertanyaan itu membuat Olive terpatung. Detak jantungnya berpacu. Ia takut salah menjawab, takut menyakiti harga diri pria di depannya ini. Namun, sebelum Olive sempat berbicara, Liam melanjutkan bicaranya dengan nada yang sangat lembut dan tulus, sisi yang tidak pernah ditunjukkan kepada siapa pun kecuali kepada Olive.
"Dengarkan aku. Aku tahu aku pria yang kasar di mata dunia. Aku dingin, aku kejam, dan aku penuh perhitungan. Tapi bagimu... aku akan menjadi apa pun yang kau butuhkan. Jika saat ini kau belum sepenuhnya bisa menerimaku, tidak apa-apa. Aku tidak akan memaksamu. Aku akan berusaha, bagaimanapun caranya, sampai kau benar-benar memilihku karena keinginanmu sendiri, bukan karena perjodohan atau karena Alex."
Liam mengelus pipi Olive dengan ibu jarinya, menghapus setitik air mata yang mulai menggenang di sudut mata hazel wanita itu. "Kau adalah tujuanku, Olive. Hanya kau."
Olive terharu. Ia tidak pernah menyangka bahwa di balik lapisan es yang tebal itu, Liam menyimpan kehangatan yang begitu murni. Air matanya menetes bukan karena sedih, melainkan karena merasa sangat dihargai sebagai seorang wanita. Liam tidak hanya mencintai statusnya, ia mencintai jiwanya.
Mereka melanjutkan dansa dengan perasaan yang jauh lebih lega. Di sisi lain lantai dansa, Brian dan Vera bergerak dengan anggun. Brian menatap adiknya dari kejauhan, lalu berbisik pada Vera, "Sepertinya Liam benar-benar sudah bertekuk lutut. Aku tidak pernah melihatnya selembut itu."
Vera tersenyum tipis, menyandarkan kepalanya di bahu tegap Brian. "Cinta memang bisa meruntuhkan tembok yang paling keras sekalipun, Brian. Mereka akan baik-baik saja."
Tak jauh dari mereka, Zee dan Kenzo tampak lebih ceria. Zee sesekali tertawa melihat ekspresi Liam yang begitu "bucin" pada sahabatnya. "Lihat itu, Kenzo! Si Monarch yang menakutkan itu sekarang terlihat seperti anak kucing yang patuh."
Kenzo terkekeh, mengeratkan pelukannya pada tunangannya. "Itu kekuatan cinta Aurevyn, Zee. Kita harus bersiap untuk pesta pernikahan terbesar abad ini."
Namun, pemandangan yang paling unik ada pada pasangan Marcus dan Luna. Meski mereka berdansa dengan gerakan yang sangat indah, ketegangan terpancar jelas dari wajah keduanya. Marcus tampak sangat kaku, tangannya di pinggang Luna seolah-olah sedang memegang porselen yang sangat rapuh. Sementara Luna, wajahnya terus merona merah, teringat akan ucapan Alex yang menyebutnya sebagai "milik Marcus".
Kegugupan itu menciptakan aura yang manis dan polos di antara mereka, sangat kontras dengan kedewasaan pasangan Liam dan Olive. Malam itu, di bawah langit musim semi Monako, melodi orkestra menjadi saksi bahwa cinta telah tumbuh di hati-hati yang selama ini terkunci rapat.
Kita pada pngen type cwo gini, Ade ❤️🤗😘
Mg Liam selamat & segera sehat kembali y ❤️🤗😘