Satu malam.
Tanpa rencana.
Tanpa nama.
Tanpa masa depan.
Aluna tidak pernah berniat masuk ke dalam hidup pria itu. Ia hanya menggantikan sahabatnya yang sakit, mengenakan seragam hotel, dan berharap bisa pulang dengan selamat. Namun di balik pintu kamar hotel mewah, ia terjebak dalam situasi berbahaya—tarikan paksa, ketakutan, dan batas yang nyaris hancur.
Malam itu bukan tentang cinta.
Bukan tentang rayuan.
Melainkan tentang dua orang asing yang sama-sama terperangkap dalam keadaan salah.
Aluna melawan. Menolak. Tak pasrah.
Namun ketika segalanya berhenti di titik abu-abu, sebuah keputusan keliru tetap tercipta—dan meninggalkan luka yang tak langsung terlihat.
Ia pergi tanpa menoleh.
Tanpa tahu nama pria itu.
Tanpa ingin mengingat malam yang hampir menghancurkan dirinya.
Lima tahun kemudian, Aluna telah menjadi wanita tangguh—cantik, elegan, dan berdiri di atas kakinya sendiri. Ia membesarkan tiga anak kembar dengan kelebihan luar biasa, tanpa sosok ayah, tanpa cerita masa lalu. Bersa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 : Kami Lahir Tanpa Namamu
Aruna berdiri di ambang pintu café.
Tangannya masih penuh tepung.
Dadanya rasanya kayak ditarik paksa.
Tiga anaknya berdiri di depan Arka.
Dekat.
Terlalu dekat.
Arka jongkok, biar sejajar sama mereka.
Nggak ada jas. Nggak ada aura direktur.
Cuma lelaki yang kelihatan… bingung.
Arsha yang duluan ngomong.
“Om nggak capek ya parkir terus?”
Nada suaranya santai. Tapi matanya waspada.
Arka senyum kecil.
“Lumayan.”
Arven nyelip, lebih datar.
“Om lagi nunggu siapa?”
“Kayaknya… kalian.”
Sunyi.
Arkana nggak ngomong. Dia cuma ngeliatin Arka lama banget. Kayak lagi ngukur sesuatu.
“Kenapa?” tanya Arven akhirnya.
Arka narik napas.
“Aku pengen kenal.”
Arsha langsung ketawa kecil, tapi bukan ketawa lucu.
“Kenal sekarang?”
Aruna bisa lihat rahang Arka mengeras sedikit.
“Iya. Sekarang.”
Arven nyengir tipis.
“Kita udah lima tahun, Om.”
Kata-kata itu nggak teriak. Tapi nusuk.
Arka ngangguk pelan.
“Aku tahu. Aku telat.”
Arkana akhirnya buka suara. Pelan banget.
“Om telat atau nggak tahu?”
Pertanyaan itu bikin Arka diam cukup lama.
“Nggak tahu,” jawabnya jujur.
Arven langsung angkat bahu.
“Ya berarti bukan salah kita.”
Arsha nambahin,
“Kita lahir tanpa nama Om. Di akta kosong.”
Arka seperti dipukul.
Aruna menahan napas.
Arka berdiri pelan. Nggak defensif. Nggak marah.
“Aku nggak pernah minta nama itu dikosongin.”
Arven balas cepat,
“Tapi Om juga nggak ada buat isi.”
Hening.
Angin sore lewat pelan.
Beberapa pelanggan nengok, tapi nggak ada yang berani ikut campur.
Arka jongkok lagi.
“Aku nggak datang buat maksa apa-apa.”
Arsha lipat tangan.
“Terus buat apa?”
“Buat bilang… aku nggak mau telat lagi.”
Arkana menatapnya tajam.
“Kenapa?”
Arka kelihatan kehabisan jawaban pintar.
“Karena waktu aku lihat kalian… rasanya kayak ada yang hilang lima tahun.”
Arven ketawa kecil.
“Lima tahun bukan ‘kayak’. Emang hilang.”
Kalimat itu bikin Aruna harus pegang pintu biar nggak goyah.
Arsha mendekat sedikit, tapi masih jaga jarak.
“Om mau apa sih? Kita panggil Om Papa? Gitu?”
Nada suaranya polos. Tapi jelas itu sindiran.
Arka nggak tersinggung.
“Nggak.”
“Terus?”
“Aku cuma pengen ada.”
Arkana miringkan kepala.
“Ada itu apa?”
Pertanyaan paling sederhana. Tapi paling susah dijawab.
Arka mikir. Lalu jawab pelan.
“Datang kalau kalian butuh. Dengerin kalau kalian cerita. Bantu kalau kalian jatuh.”
Arven langsung jawab,
“Kita nggak pernah jatuh.”
Arsha nimpalin,
“Mama selalu ada.”
Dan di situ… Arka benar-benar kelihatan kecil.
Aruna nggak kuat lagi. Dia melangkah mendekat.
“Masuk,” katanya pelan ke anak-anak.
Tapi Arven geleng.
“Nggak, Ma. Kita udah gede. Kita bisa ngomong.”
Aruna berhenti.
Arka menatap Aruna. Ada ribuan hal di matanya. Tapi nggak ada yang keluar.
Arkana maju setengah langkah.
“Om tau nggak kenapa kita cari tau Om?”
Arka menggeleng.
“Bukan buat minta uang.”
“Aku tahu.”
“Bukan buat warisan.”
“Aku tahu.”
“Kita cuma mau tahu… kenapa orang yang harusnya ada malah nggak pernah nyari.”
Arka memejam sebentar.
“Aku nyari.”
Arven langsung potong,
“Lima tahun kemudian?”
Arka nggak punya pembelaan.
Arsha ngelirik saudara-saudaranya. Lalu ngomong pelan,
“Kita nggak benci, Om.”
Arka mengangkat wajahnya.
“Tapi?”
“Tapi kita juga nggak butuh.”
Sunyi.
Kalimat itu lebih berat dari makian.
Arkana nambahin pelan,
“Kami lahir tanpa namamu. Dan kami baik-baik aja.”
Angin berhenti terasa.
Arka menelan ludah.
“Boleh aku coba?”
Arven menatapnya lama.
“Coba apa?”
“Pelan-pelan. Tanpa maksa.”
Arsha mengangkat alis.
“Kalau kita nolak?”
“Aku tetap di sini.”
Arkana menyipitkan mata.
“Berapa lama?”
“Selama yang dibutuhin.”
Arven melirik Aruna sebentar. Lalu balik lagi ke Arka.
“Kita nggak janji apa-apa.”
Arsha angkat bahu.
“Dan jangan parkir kayak stalker. Itu creepy.”
Arka hampir ketawa. Hampir.
“Oke.”
Arkana menatapnya satu detik lebih lama.
“Kalau Om bohong, kita yang hilang.”
Itu ancaman yang nyata.
Arka mengangguk.
“Aku nggak akan bohong.”
Arven akhirnya mundur.
“Kita lihat aja.”
Arsha narik tangan Arkana.
“Ayo masuk. Mama belum makan.”
Tiga anak itu masuk ke café.
Tanpa pelukan.
Tanpa panggilan “Papa”.
Tapi juga tanpa menutup pintu sepenuhnya.
Arka tetap berdiri di luar.
Aruna berhenti sebentar di depannya.
Tatapan mereka ketemu.
“Aku nggak ngajarin mereka buat benci kamu,” suara Aruna pelan tapi tegas.
“Aku tahu.”
“Mereka cuma… realistis.”
Arka mengangguk.
“Aku yang harus belajar ngejar.”
Aruna nggak jawab.
Dia masuk.
Pintu kaca tertutup pelan.
Arka berdiri sendirian di luar café kecil itu.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya—
Uang nggak bisa buka pintu.
Nama besar nggak bikin otomatis diterima.
Kalau dia mau masuk ke hidup mereka—
Dia harus mulai dari nol.
Tanpa titel.
Tanpa kuasa.
Cuma sebagai laki-laki yang telat lima tahun.
Dan tiga anak yang lahir tanpa namanya…
tidak akan mudah diluluhkan.