Pernikahan kontrak atau karena tekanan keluarga. Mereka tinggal serumah tapi seperti orang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Racun dalam Secangkir Harapan
Suara di seberang telepon itu terasa seperti siraman air es yang membekukan aliran darah Arini, tepat di saat hatinya baru saja mulai mencair dan menghangat. Arini menjauhkan ponsel dari telinganya dengan gerakan patah-patah, jemarinya bergetar begitu hebat hingga perangkat tipis itu nyaris tergelincir jatuh ke aspal yang basah. Aris, yang sejak tadi memperhatikan setiap gerak-gerik istrinya, segera menghentikan langkah. Ia menangkap kedua lengan Arini, mencoba menstabilkan tubuh wanita itu yang tampak goyah.
"Ada apa, Arini? Siapa yang menelepon?" tanya Aris. Suaranya penuh dengan nada kecemasan yang tidak dibuat-buat, matanya menatap lekat, mencoba mencari jawaban di balik wajah pucat istrinya.
Arini tidak segera menjawab. Ia menatap Aris dengan tatapan yang sulit diartikan—sebuah campuran yang menyakitkan antara ketakutan, kekecewaan, dan luka lama yang mendadak terbuka kembali. Dengan gerakan gemetar, ia mematikan ponselnya dan menarik napas panjang, mencoba menguasai gemuruh yang menghantam dadanya. "Bukan siapa-siapa, Mas. Hanya... hanya salah sambung yang mengganggu," dustanya dengan suara serak.
Aris tentu tidak percaya. Ia mengenal sorot mata itu; sorot mata yang muncul setiap kali nama Clara membayangi mereka. Namun, melihat keramaian di sekitar kedai martabak itu, Aris memilih untuk menahan diri. Ia menuntun Arini kembali ke mobil dalam keheningan yang sangat kontras dengan kemesraan yang baru saja mereka rajut beberapa menit lalu. Di sepanjang perjalanan pulang, Arini hanya mematung menatap keluar jendela, melihat lampu-lampu kota Jakarta yang kini tampak seperti hantu-hantu masa lalu yang mengejarnya tanpa ampun. Kalimat Clara terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak yang menyiksa: "...sesuatu yang tidak akan pernah Aris ceritakan padamu tentang malam kami dulu."
Sesampainya di rumah besar yang kini terasa mencekam, Arini langsung melangkah menuju kamar utama tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Aris mengikutinya dari belakang, menutup pintu kamar dengan suara pelan namun pasti, seolah mengunci dunia luar agar mereka bisa menyelesaikan ini.
"Arini, bicaralah padaku. Jangan biarkan dinding itu naik lagi setelah kita susah payah meruntuhkannya," Aris bertanya sambil berdiri di depan pintu, menghalangi jalan jika Arini berniat kabur ke kamar tamu lagi. "Siapa yang menelepon di tempat martabak tadi? Aku tahu itu bukan sekadar salah sambung."
Arini berbalik, matanya kini benar-benar berkaca-kaca, memantulkan cahaya lampu kamar yang temaram. "Clara. Itu Clara, Mas. Dia menelepon untuk memastikan bahwa aku tidak akan pernah merasa tenang." Arini tertawa getir, air matanya mulai luruh. "Dia bilang dia punya rahasia tentang malam kalian dulu. Sesuatu yang katanya tidak akan pernah kamu ceritakan padaku karena itu terlalu menjijikkan untuk didengar. Apa itu, Mas? Apakah di balik semua perubahan sikap manismu beberapa hari ini, masih ada kebohongan besar yang kamu simpan?"
Aris tertegun. Nama itu kembali muncul seperti parasit yang menolak lepas dari hidupnya. Ia mencoba mendekati Arini, tangannya terulur ingin menyentuh, namun Arini mundur selangkah, menciptakan jarak yang menyakitkan.
"Jangan sentuh aku sebelum kamu jujur, Mas!" suara Arini naik satu nada. "Apakah benar... malam sebelum kita mengucap akad, kamu masih bersamanya? Apakah benar bahwa pernikahan ini bukan hanya paksaan dari Ibu Sofia, tapi juga caramu untuk menutupi kesalahan fatal yang kamu lakukan dengannya?"
Aris menghela napas panjang, wajahnya mendadak tampak sangat lelah, seolah beban seluruh dunia tumpah ke pundaknya. Ia duduk di tepi tempat tidur, menumpukan sikunya di lutut dan menunduk dalam. Keheningan di kamar itu terasa begitu berat, seolah udara telah berubah menjadi timah yang menghimpit paru-paru.
"Malam itu..." Aris mulai bicara, suaranya sangat rendah dan parau. "Malam sebelum akad nikah kita, aku memang menemuinya. Aku merasa sangat putus asa, terjepit, dan marah pada dunia. Aku ingin melarikan diri darimu, dari pernikahan kontrak ini, dan dari semua tanggung jawab keluarga yang memuakkan. Tapi, Arini, demi apa pun yang suci di dunia ini, tidak terjadi apa-apa yang melanggar janji atau moral."
"Lalu kenapa dia begitu percaya diri mengatakannya? Kenapa dia terdengar seperti memegang kendali atas dirimu?" desak Arini dengan suara serak.
"Karena dia tahu kelemahanku adalah rasa bersalahku," jawab Aris sambil mengangkat wajah, menatap Arini dengan mata yang memerah. "Clara tahu aku tidak ingat detail akhir malam itu karena aku tidak sadarkan diri akibat alkohol. Dia memanfaatkan celah itu untuk membuatku merasa kotor, membuatku merasa tidak layak memimpin keluarga ini, dan sekarang dia menggunakannya untuk membuatmu ragu padaku. Dia ingin kamu pergi, Arini, agar dia bisa membuktikan pada Ibuku bahwa dia yang menang."
Arini masih berdiri terpaku, membiarkan keheningan malam menyelimuti mereka. Penjelasan Aris terasa seperti embusan angin yang mencoba memadamkan api, namun bara kecurigaan di hatinya masih terasa panas.
"Kamu bilang kamu tidak sadarkan diri, Mas," suara Arini terdengar hampa. "Bagaimana kamu bisa begitu yakin tidak terjadi apa-apa jika kamu sendiri tidak ingat? Bagaimana jika Clara benar? Bagaimana jika alasanmu menikahiku bukan hanya karena patuh pada Ibu, tapi karena kamu ingin melarikan diri dari apa yang sudah kamu lakukan dengannya?"
Aris memejamkan matanya rapat-rapat, seolah pertanyaan Arini adalah jarum yang menusuk langsung ke pusat sarafnya. "Karena aku tahu siapa diriku, Arini. Bahkan dalam kondisi paling mabuk sekalipun, nuraniku tidak akan membiarkan aku melakukan hal sejauh itu dengan seseorang yang malam itu sedang mencemooh keluargaku. Clara menghinaku malam itu. Dia bilang aku pria lemah yang tidak berani melawan Ibu Sofia. Rasa sakit karena dihina itulah yang membuatku meminum alkohol berlebihan sampai tidak sadarkan diri, bukan nafsu. Aku terbangun di sofa dengan pakaian yang masih lengkap, dan dia hanya tertawa melihatku seolah aku adalah lelucon terbesar dalam hidupnya."
Aris melangkah mendekat, kali ini Arini tidak mundur. Aris menggenggam kedua tangan Arini dan meletakkannya di dadanya, tepat di atas jantungnya yang berdegup kencang dan tidak beraturan. "Aku malu mengakui ini. Aku malu mengakui bahwa aku pernah menjadi pria selemah itu di hadapan wanita yang sebenarnya hanya menginginkan harta keluargaku. Aku tidak ingin kamu melihat sisi pecundangku, Arini. Aku ingin menjadi pria yang layak untukmu."
Arini merasakan detak jantung Aris yang liar—sebuah tanda kejujuran yang tidak bisa dimanipulasi oleh diksi apa pun. Air mata Arini akhirnya jatuh membasahi punggung tangan Aris. "Jangan pernah berbohong lagi padaku, Mas. Sekecil apa pun itu. Aku lebih bisa menerima pahitnya kejujuran daripada manisnya kebohongan."
"Aku janji. Tidak akan ada lagi rahasia," jawab Aris sambil menarik Arini ke dalam pelukannya, mencium puncak kepala istrinya dengan penuh rasa syukur yang meluap.
Namun, di tengah momen rekonsiliasi yang rapuh dan emosional itu, mereka tidak menyadari bahwa di ruang kerja di lantai bawah, Ibu Sofia sedang terjaga. Lampu meja kerjanya yang tajam menyinari sebuah dokumen yang ia temukan di brankas tersembunyi milik Aris. Itu adalah dokumen kontrak pernikahan yang selama ini dirahasiakan.
Ibu Sofia membaca setiap barisnya dengan tatapan yang mampu membekukan udara di sekitarnya. Tanda tangan Aris dan Arini di sana seolah menjadi bukti pengkhianatan terbesar bagi dirinya.
"Jadi ini alasan kalian begitu patuh selama ini?" gumam Ibu Sofia dengan suara yang sangat dingin. "Kalian menganggap pernikahan ini hanyalah transaksi bisnis untuk melunasi hutang dan menyelamatkan perusahaan? Kalian telah mempermainkan aku, wanita yang memberikan segalanya untuk martabat keluarga ini."
Ibu Sofia meremas kertas itu hingga lecek di dalam genggamannya. Kemarahannya bukan hanya karena ia merasa ditipu, tetapi karena ia merasa kasih sayang dan kepercayaan yang mulai ia tumbuhkan untuk Arini adalah sebuah kesia-siaan yang dirancang oleh anaknya sendiri. Ia berdiri, berjalan menuju jendela yang menatap langsung ke arah taman yang gelap.
"Besok," ucap Ibu Sofia pada kegelapan malam dengan nada bicara yang terdengar seperti vonis mati. "Besok, sandiwara ini akan benar-benar berakhir dengan cara yang tidak akan pernah kalian lupakan. Jika kalian ingin bermain-main dengan komitmen, maka aku akan menunjukkan pada kalian apa artinya kehilangan yang sesungguhnya."
Ia mengambil ponselnya, menekan sebuah nomor yang sudah lama tersimpan di daftar kontak daruratnya. "Halo, pengacara? Siapkan draf perubahan seluruh warisan dan dokumen pembatalan pernikahan atas dasar penipuan kontrak. Aku ingin semuanya siap di atas mejaku sebelum matahari terbit."
Di kamar utama, Aris dan Arini akhirnya tertidur dalam pelukan yang sangat erat, tidak menyadari bahwa esok pagi, dunia yang baru saja mereka perbaiki dengan air mata kejujuran akan ditarik paksa dari bawah kaki mereka oleh tangan yang paling mereka hormati. Badai yang dibawa Clara mungkin telah mereda, namun tsunami yang diciptakan oleh Ibu Sofia baru saja bersiap menghantam fondasi hidup mereka hingga hancur berkeping-keping.
ku doain semoga arini ketemu laki laki lain yang memperlakukan dia dgn baik, biar aris ini menyesal seumur hidup
Sedih
Tapi maaf sebelum nya, apa narasi nya ke copy dua kali🙏🙏 Soal nya ada bagian yg sama pas ngebahas perjanjian pernikahan mereka.