Pernah sesekali terlintas untuk pergi dari dunia ini selamanya. Mengakhiri takdir yang telah digariskan, yang terkesan tak adil. Karena sudah terlalu lelah dengan semuanya. Akan tetapi hati kecilnya kerap berkata, 'Jangan...!!'
Hingga suatu ketika dia benar-benar tak ingin melawan lagi. Bahkan untuk protes saja tak bisa dia lakukan lagi. Karena menurutnya itu tidak akan mengubah apapun pada kehidupannya...
Karena ketidakadilan sudah terlanjur mendarahdaging dalam dirinya...
Menjalani semuanya, apapun itu. Hingga tiba waktunya. Itulah keputusan terakhirnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itsaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Makan Malam
Hari itu setiap penghuni rumah yang mendengar tawa Aluna, menitihkan air mata mereka. Bukan karena sesuatu yang menyedihkan. Tapi karena mereka sangat bahagia. Pada akhirnya gadis kecil mereka bisa tertawa seriang itu. Berlarian sambil membawa kincir angin dari kertas. Dan berceloteh dengan penuh semangat.
"Nona Yumna benar-benar membuat nona Aluna berubah. Lihatlah, nona kecil kita sekarang sangat aktif dan ceria. Rumah ini seperti hidup kembali..." ujar seorang asisten rumah tangga.
"Iya. Pertemuan mereka memang sudah takdir. Aku dengar, nona Yumna adalah orang yang menolong nona Aluna waktu kecelakaan. Dan siapa sangka, sekarang menjadi guru pembimbing nona Aluna. Ini benar-benar luar biasa..." sahut yang lain.
Rupanya obrolan mereka didengar oleh Vivi. Vivi pun tersenyum, entah apa yang sedang dia pikirkan.
"Bu Binar..." panggil Vivi.
"Eh, Vivi. Butuh apa?" tanya Bu Binar, selaku ART senior di rumah itu.
"Nona kecil minta makan malam bersama nona Yumna. Nyonya minta tolong agar Bu Binar menyiapkan makanan yang spesial." ujar Vivi menyampaikan pesan Bu Kartika.
"Siap!!" jawab Bu Binar.
"Vi..., makanan kesukaan nona Yumna apa ya? Tidak ada alergi kan? Atau makanan pantangan begitu?" sahut Bibi Yulis.
"Ya ampun..., aku tanyakan dulu ya." balas Vivi.
"Ya sudah, cepat sana...!!" bibi Yulis melambaikan tangannya agar Vivi segera menemui Yumna.
___
Di kantor Elbara...
"Sore ini tidak ada acara lagi kan?" tanya Elbara pada Niko.
"Tidak ada, tuan. Tapi..." Niko menggantungkan jawabnya.
"Kenapa?" tanya Elbara.
"Baru saja nona Felly telepon, katanya ingin bertemu sama tuan." jawabnya.
"Harusnya kamu sudah tahu, harus menjawab apa." balas Elbara.
"Sudah tuan. Tapi nona Felly terus memaksa." kata Niko.
Elbara menarik nafas panjang sambil memejamkan air matanya.
"Katakan pada semua orang. Dia sudah masuk blacklist. Tidak boleh menginjakkan kakinya di kantor ini, maupun di rumah!" titahnya.
"Siapapun yang membiarkan dia masuk, akan terima hukuman dari saya!!" imbuhnya menegaskan.
"Siap, tuan!!"
Niko kemudian mengirimkan pesan pada grup, sesuai perintah Elbara.
"Dasar perempuan gila popularitas!!" umpat Elbara dalam diamnya.
Dia kembali teringat semua ucapan menyakitkan dari mantan kekasihnya itu.
"EL..., aku nggak mau orang mengira kalau aku bisa sampai di titik ini karena campur tangan kamu. Jadi jangan sampai semua orang tahu soal hubungan kita. Sampai aku bisa setara dengan kamu."
"EL..., bagaimana kalau kita publikasikan hubungan kita?"
"EL..., aku boleh ya membawa teman-teman wartawan pas kamu terapi nanti. Mereka mau liput keseharian aku buat sebuah acara."
Elbara meremas bolpoin di tangannya saat mengingat semua itu. Dia benar-benar salah menilai Felly.
"Tuan..., kita kembali sekarang?" tanya Niko setelah mengirim pesan pada grup.
"Kita beli hadiah dulu buat Aluna." jawab Elbara.
"Baik, tuan." balas Niko patuh.
Elbara pergi bersama Niko ke sebuah pusat perbelanjaan. Mobil mereka sudah tiba di basement, namun mereka tak kunjung turun. Karena mereka bingung harus membeli apa untuk Aluna.
"Nona kecil hampir memiliki semua jenis mainan, tuan. Ruang tempat mainan bahkan sudah hampir penuh." ujar Niko.
"Lalu..., sebaiknya kita membeli apa?" tanya Elbara.
"Bagaimana kalau saya telepon Vivi?" sahut Niko.
"Lakukan!" balas Elbara.
Beberapa saat setelah telepon tersambung, Niko memberikan handphonenya pada Elbara karena Aluna ingin bicara sendiri pada bosnya itu.
"Papa Bara tidak usah beli apapun. Aku sudah memiliki semuanya."
"Kamu yakin, sayang? Papa sudah di mall ini." jawab Elbara.
Elbara tak habis pikir, bagaimana mungkin seorang anak kecil bisa menolak hadiah?...
"Papa Bara cepetan pulang saja. Malam ini kita makan malam bersama. Bu Yumna juga akan makan malam sama kita..."
Elbara terdiam sejenak, kemudian mengiyakan permintaan Aluna.
"Bagaimana tuan?" tanya Niko setelah menerima kembali handphone miliknya.
"Langsung pulang saja." jawab Elbara.
"Baik!!"
___
Sementara itu di kediaman pak Jodi. Yumna sudah bersiap pergi, ketika Nasya mendatangi kamarnya.
"Begini rupanya, cara anak baik-baik masuk kamar orang." cibir Yumna setelah melihat Nasya masuk kamarnya tanpa permisi.
"Memangnya aku peduli, gitu...!!!" balas Nasya.
Yumna menaikkan sudut bibirnya. Dia tak menghiraukan Nasya, tapi sibuk memeriksa isi tasnya.
"Malam ini keluarga kak Damar akan datang untuk makan malam bersama. Jadi..., kamu jangan sedih ya..." ejek Nasya.
"Sedih...?!!" sahut Yumna. "Memangnya ada alasan apa aku harus sedih?" ujar Yumna.
"Sudahlah..., kamu tidak perlu berbohong. Kamu kan kecintaan banget sama kak Damar. Pasti sakiiiit..., banget. Karena dia mutusin kamu, demi aku. Na-sya...!!" cibir Nasya.
"Sorry ya. Kalau aku memang kecintaan. Aku pasti akan mati-matian pertahanin dia. Tapi nyatanya, aku rela tuh ngasih ke kamu. Karena aku tahu kamu menyukai semua barang bekasku. Bukankah aku sangat baik. Na-sya...?!!" balas Yumna tak mau kalah.
"Kamu...!!" Nasya menggeram kesal.
Nasya tidak menyangka, sekarang Yumna bisa membalas semua cibiran dan hinaannya. Padahal sebelumnya Yumna selalu diam, dan memilih mengalah karena takut akan hukuman dari orang tua mereka.
"Sebaiknya kembali ke kamarmu sekarang. Mandi kembang, luluran, dandan yang cantik. Jangan sampai BE-KAS pacarku itu, melirik cewek lain yang lebih jago akting daripada kamu!" ledek Yumna dengan menekankan kata bekas, agar Nasya semakin tantrum.
Yumna kemudian melenggang pergi dari kamarnya. Meninggalkan Nasya dengan wajah merah padam dan dada yang kembang kempis karena menahan amarah.
"Mau kemana kamu?!" tanya Bu Indri yang sedang menyirami bunga-bunga kesayangannya.
"Pergi makan malam." jawabnya singkat.
"Baguslah. Jadi kamu tidak akan merusak makan malam istimewa Nasya nanti." sahut Bu Indri.
Yumna tidak membalas lagi. Dia memilih langsung pergi tanpa pamit. Hal itu sudah biasa dilakukan oleh Yumna, sejak kedua orang tuanya menepis tangannya dengan kasar saat hendak menyalami mereka. Sejak saat itu Yumna tidak pernah lagi mengulangi hal yang sama.
Di dalam sebuah taksi, Yumna menghapus air matanya. Sekuat apapun dia berusaha untuk tegar, nyatanya air matanya tetap saja luruh tanpa disuruh.
"Mereka tahu aku dan Damar menjalin hubungan. Tapi sekarang, mereka terang-terangan merestui hubungan Damar dengan Nasya. Tanpa peduli perasaanku. Sungguh..., mereka adalah keluarga yang hebat."
___
Tidak diharapkan kehadirannya dalam acara keluarganya sendiri. Tapi keluarga orang lain justru memohon kehadirannya untuk dinner bersama mereka. Saat keluarganya makan malam bersama keluarga Damar. Yumna pun sedang menikmati makan malamnya bersama keluarga Bu Kartika. Menikmati menu yang lebih istimewa dari yang biasa dia santap di rumah. Makanan yang tersaji di rumah itu bak menu restoran berbintang.
"Semoga suka ya..." ujar Bu Kartika. "Kami tidak tahu kamu sukanya apa. Jadi ya..., beginilah..." Bu Kartika agak sungkan.
"Saya tidak pilih-pilih makanan, Bu. Ini semua sangat istimewa." balas Yumna.
"Syukurlah kalau begitu." Bu Kartika merasa lega.
Yumna teringat akan Vivi yang tiba-tiba menelponnya, dan menanyakan perihal makan kesukaannya. Dan juga, apakah dia ada alergi terhadap bahan makan tertentu. Saat itu Yumna sudah dibuat terharu.
"Bahkan di rumahku sendiri, tak ada yang menyiapkan makanan khusus buat aku. Hanya bi Nuri yang peduli padaku, yang masih menanyakan makanan yang mau aku makan. Itupun harus menunggu waktu yang tepat."
Yumna sangat menikmati makan malamnya. Dia makan dengan sopan dan rapi. Sesekali dia membantu Aluna mengambil lauk yang diinginkan anak itu.
"Aluna suka sayur?" tanya Yumna saat Aluna minta ditambahkan sayur ke piring.
"Suka sekali, Bu." jawab Aluna.
"Kalau begitu makan yang banyak." kata Yumna lagi.
"Iya..." sahut Aluna.
Yumna hanya bisa tersenyum melihat Aluna yang menyantap makanannya dengan lahap. Gadis kecil di sampingnya itu sangat cantik dan menggemaskan.
"Saya permisi ke belakang." Yumna beranjak dari kursinya.
"Ayo Aluna makan lagi, ya..." ujar Bu Kartika.
"Em." Aluna menganggukkan kepalanya.
"Oma, papa..." panggilnya setelah selesai mengunyah. "Kenapa Bu Yumna tidak tinggal di sini saja...?" tanya Aluna.
Bu Kartika tersenyum mendengar pertanyaan itu. Bagi Aluna, Yumna adalah pekerja di rumahnya. Dia belum bisa membedakan status Yumna dengan para pekerja itu. Yang dia tahu Yumna dan mereka sama-sama bekerja di rumahnya. Yang membedakan hanya tugas mereka.
"Apa tidak ada kamar lagi? Kalau memang tidak ada, Bu Yumna bisa tidur sama aku. Kasurku besar. Muat kok..." celotehnya.
"Sayang..., Bu Yumna itu Bu gurunya Aluna. Tidak seperti suster dan para bibi." sahut Bu Kartika.
"Bu Yumna juga bekerja di tempat lain. Jadi tidak mungkin tinggal di sini." katanya kemudian.
"Kenapa tidak di sini saja? Kenapa harus ada tempat lain?" tanya Aluna.
Bu Kartika mulai bingung harus menjawab apa.
"Aluna memangnya mau Bu Yumna tinggal di sini?" sahut Elbara.
"Bara..." bisik Bu Kartika sambil geleng kepala.
"Iya, papa. Aku mau..." balas Aluna.
"Nanti papa akan coba bicara sama Bu Yumna ya." bujuk Elbara.
"Oke. Terimakasih, papa..." Aluna sangat senang mendengarnya.
Acara makan malam pun selesai. Setelah ngobrol-ngobrol sebentar dan Aluna mulai tertidur pulas. Yumna pun pamit pulang.
"Biar saya antar." ujar Elbara.
"Tidak perlu, pak Bara. Saya bisa pesan taksi." balas Yumna. Tentu saja dia menolaknya.
"Yumna, ini sudah malam. Bahaya naik taksi sendirian." sahut Bu Kartika.
"Tidak, Bu. Saya sudah sering naik taksi sendiri." balas Yumna.
"Kamu anak gadis, jangan buat saya khawatir. Pergilah bersama Bara dan Niko." ujar Bu Kartika.
Melihat kekhawatiran di wajah Bu Kartika, Yumna pun tak lagi menolak. Dia akan di antar pulang oleh Niko dan Elbara.
"Kenapa harus sama pak Bara...? Pak Niko sudah cukup kan. Kan canggung jadinya..." batin Yumna.
......................