NovelToon NovelToon
SIAN TARUTUNG TU MEDAN : LUKA DIBALIK JABU

SIAN TARUTUNG TU MEDAN : LUKA DIBALIK JABU

Status: tamat
Genre:Keluarga / Tamat
Popularitas:498
Nilai: 5
Nama Author: Raymond Siahaan

"Di bawah getah nangka yang lengket dan semut hitam yang merayap, aku tidak hanya mengikat janji pada Mama, tapi juga pada takdir yang sedang mengujiku."

Bagi Raymond, pindah dari Gang Serayu ke Perumnas Mandala adalah sebuah harapan akan kemerdekaan. Di sana, ia melihat Bapaknya—seorang PNS yang resik—berusaha membangun dunia baru melalui kandang-kandang ayam yang ditandai dengan cat di kakinya. Sebuah simbol kepemilikan dan harga diri yang coba dijaga di tengah tanah perantauan.

Namun, udara Mandala yang asri pelan-pelan berubah menjadi pekat oleh asap rokok dan tumpukan kertas nomor togel. Bapak yang dulu dipuja sebagai pahlawan, kini berubah menjadi "Si Teleng"—seorang penjudi yang mempertaruhkan segalanya: gaji bulanan, perabotan rumah, hingga keselamatan keluarganya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raymond Siahaan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 : KESUNGGUHAN DI SETIAP LANGKAH

Hari-hari setelah percakapan itu terasa berbeda. Bukan karena ada perubahan besar yang tiba-tiba terjadi, melainkan karena ada kesadaran baru dalam diriku: aku tidak lagi berjalan sendirian dalam memikirkan masa depan. Meski belum ada status yang jelas, ada niat yang sama-sama kami jaga—untuk saling mengenal dengan serius dan perlahan.

Aku semakin disiplin dalam menjalani rutinitas. Pagi hari tetap dimulai dengan suara mesin motor bekasku yang setia. Aku membersihkannya lebih teliti dari biasanya. Entah kenapa, setiap kali mengelap bodinya, aku merasa seperti sedang mempersiapkan diri untuk perjalanan hidup yang lebih panjang. Motor itu bukan hanya kendaraan; ia simbol komitmenku pada proses.

Di kantor, proyek yang kupegang mulai menunjukkan hasil. Tim kecil yang kupimpin berhasil menyelesaikan target lebih cepat dari jadwal. Atasanku memanggilku ke ruangannya.

“Kamu bekerja dengan baik,” katanya sambil tersenyum. “Terus pertahankan sikap seperti ini.”

Aku mengangguk dengan rendah hati. Lingkungan kerja yang sehat membuatku ingin terus berkembang. Tidak ada yang saling menjatuhkan. Semua fokus pada kualitas kerja. Aku merasa ditempa menjadi pribadi yang lebih matang.

Sore harinya, seperti biasa, aku membeli cemilan sebelum pulang. Kali ini aku memilih pastel dan risoles favorit mama. Sesampainya di rumah, aroma masakan langsung menyambutku. Kakakku sedang mencoba resep baru—ayam kecap dengan bumbu racikannya sendiri.

Sambil menikmati teh manis, mama bertanya pelan, “Bagaimana kabar teman yang sering kamu ceritakan itu?”

Aku terdiam sejenak, lalu tersenyum. “Baik, Ma. Kami masih saling mengenal.”

Mama hanya mengangguk, tetapi tatapannya penuh arti. Ia tidak banyak bertanya, seolah memberi ruang agar semuanya berjalan alami.

Malam itu, Nisa mengirim pesan lebih awal dari biasanya.

“Aku baru selesai rapat organisasi. Capek, tapi menyenangkan.”

Aku membalas, “Semoga capeknya jadi berkah ya.”

Ia lalu mengirim foto suasana rapat. Wajahnya terlihat lelah, tapi tetap tersenyum. Aku merasa bangga melihat semangatnya. Kami berbincang cukup lama, membahas kegiatan sosial yang akan ia jalankan bulan depan.

“Aku ingin lebih fokus ke pengembangan literasi anak-anak,” tulisnya.

Aku membaca dengan penuh perhatian. “Kalau kamu butuh bantuan, mungkin aku bisa ikut kontribusi. Tidak banyak, tapi semampuku.”

Balasannya membuatku tersenyum lama. “Terima kasih. Niat baikmu saja sudah berarti.”

Beberapa hari kemudian, ia benar-benar mengajakku hadir dalam kegiatan kecil di kampusnya. Sebuah diskusi terbuka tentang peran pemuda dalam dunia pendidikan. Aku datang dengan perasaan campur aduk antara bangga dan gugup.

Melihat Nisa berbicara di depan forum membuatku terdiam kagum. Ia menyampaikan materi dengan percaya diri, bahasa yang runtut, dan ekspresi yang hidup. Sesekali lesung pipitnya muncul ketika ia tersenyum menjawab pertanyaan peserta.

Aku duduk di barisan tengah, memperhatikannya dengan perasaan hangat. Dalam hati, aku berdoa agar jika memang kami berjodoh, aku mampu menjadi pendamping yang sepadan.

Setelah acara selesai, ia menghampiriku.

“Terima kasih sudah datang,” katanya.

“Aku yang berterima kasih sudah diundang,” jawabku.

Kami berjalan keluar kampus bersama. Sore itu langit terlihat jingga. Suasana terasa damai. Tanpa banyak kata, kami menikmati langkah yang seirama.

Beberapa minggu berlalu. Hubungan kami semakin stabil. Tidak ada drama berlebihan. Tidak ada kecemburuan tanpa alasan. Semua dijalani dengan komunikasi yang terbuka.

Namun, suatu malam, Nisa mengirim pesan yang membuatku terdiam cukup lama.

“Aku ingin bertanya sesuatu yang serius.”

Jantungku berdegup pelan. “Tanya saja.”

“Kalau kita melangkah lebih jauh nanti, apa rencanamu?”

Pertanyaan itu sederhana, tapi dalam maknanya. Aku tidak ingin menjawab asal-asalan. Aku memikirkan jawabannya dengan matang.

“Aku ingin membangun hidup yang stabil dulu. Fokus pada karier, memperkuat finansial, dan terus belajar. Kalau memang Allah mengizinkan, aku ingin melangkah dengan cara yang baik dan melibatkan keluarga.”

Beberapa menit kemudian, ia membalas.

“Aku senang kamu berpikir sejauh itu.”

Percakapan malam itu menjadi titik penting. Kami tidak lagi hanya membicarakan hobi atau aktivitas harian, tetapi mulai membahas visi hidup.

Sejak saat itu, aku semakin giat menabung. Aku mulai mencatat pengeluaran dengan lebih disiplin. Bahkan mempertimbangkan investasi kecil-kecilan. Aku ingin mempersiapkan masa depan dengan realistis.

Di kantor, aku mengikuti pelatihan tambahan yang disediakan perusahaan. Aku ingin meningkatkan kompetensi agar peluang promosi lebih besar. Rekan-rekanku mendukung langkahku.

“Semangat terus,” kata salah satu senior. “Kamu punya potensi.”

Dukungan itu membuatku semakin yakin.

Di rumah, aku mulai membantu lebih banyak. Tidak hanya membawa cemilan, tetapi juga membantu membereskan motor kakakku atau menemani mama berbelanja. Aku ingin menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab, bukan hanya dalam kata-kata.

Suatu sore, saat sedang duduk menikmati teh, mama berkata, “Kalau kamu sudah yakin dengan seseorang, jangan setengah-setengah.”

Aku menatapnya. “Maksud mama?”

“Maksudnya, kalau niatmu baik, buktikan dengan kesungguhan.”

Kata-kata itu terus terngiang di kepalaku.

Beberapa hari kemudian, aku mengajak Nisa berbicara lebih serius saat kami bertemu di taman kota. Aku menyampaikan niatku dengan jelas: bahwa aku ingin mengenalnya dalam proses yang terarah menuju komitmen.

Ia terdiam beberapa saat, lalu berkata, “Aku menghargai niatmu. Tapi kita juga harus siap menghadapi prosesnya. Tidak selalu mudah.”

“Aku tahu,” jawabku. “Karena itu aku ingin menjalaninya dengan sabar.”

Sejak percakapan itu, hubungan kami terasa lebih matang. Kami mulai saling mengenalkan pada lingkaran terdekat secara perlahan. Ia bercerita pada orang tuanya tentangku sebagai teman dekat. Aku pun mulai lebih terbuka pada mama tentang Nisa.

Motor bekasku tetap menjadi saksi perjalanan-perjalanan kecil kami. Kadang aku mengantarnya pulang setelah acara kampus. Kadang kami hanya berkeliling sebentar menikmati malam.

Suatu ketika, hujan turun deras saat kami dalam perjalanan. Kami berteduh di bawah kanopi toko. Nisa tertawa kecil melihatku sedikit basah.

“Motor ini kuat ya,” katanya.

“Iya, seperti pemiliknya,” jawabku bercanda.

Ia tersenyum, dan untuk sesaat aku merasa dunia terasa sederhana dan cukup.

Namun hidup tentu tidak selalu mulus. Ada saat di mana kami berbeda pendapat tentang suatu hal kecil. Pernah suatu kali aku terlalu sibuk dengan pekerjaan hingga lambat membalas pesannya. Ia merasa diabaikan.

Aku belajar dari situ. Bahwa komunikasi bukan hanya soal niat baik, tetapi juga soal konsistensi perhatian.

Aku meminta maaf dengan tulus. Ia pun mengerti. Dari situ, kami sama-sama belajar menyeimbangkan prioritas.

Waktu berjalan cepat. Bulan demi bulan berlalu. Hubungan kami tidak lagi sekadar obrolan ringan atau pertemuan santai. Ada rasa saling menjaga yang tumbuh perlahan.

Suatu malam, setelah perjalanan panjang hari itu, aku memarkirkan motor seperti biasa. Aku menatapnya beberapa detik sebelum masuk rumah. Dalam hati aku berkata, “Terima kasih sudah menemaniku sejauh ini.”

Di ruang tengah, mama menyodorkan teh manis seperti biasa. Kakakku membawa sepiring gorengan hangat.

Aku duduk, menikmati suasana rumah yang selalu menjadi tempat kembali paling nyaman.

Ponselku bergetar.

Pesan dari Nisa.

“Hari ini aku bersyukur.”

“Apa yang membuatmu bersyukur?” tanyaku.

“Karena aku merasa berjalan dengan orang yang punya arah.”

Aku membaca kalimat itu berkali-kali. Rasanya seperti jawaban dari semua usaha yang kulakukan selama ini.

Aku tersenyum dan membalas, “Aku juga bersyukur karena dipertemukan dengan seseorang yang mengajarkanku tentang makna kesungguhan.”

Malam itu, aku merebahkan diri dengan perasaan tenang. Perjalanan kami mungkin masih panjang. Banyak hal yang harus dipersiapkan. Banyak ujian yang mungkin datang.

Namun aku tidak lagi takut. Karena aku tahu, semuanya dimulai dari keberanian kecil yang konsisten—merawat hal sederhana, menjaga sikap di kantor, menghargai keluarga, dan berani menyapa seseorang dengan tulus.

Dan kini, keberanian itu telah tumbuh menjadi harapan yang nyata.

1
Aisyah Suyuti
nenarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!