Mirasih gadis yatim piatu yang di tinggal orang tuanya karena kecelakaan, di adopsi Pamannya.Tapi di balik kebaikan semu pamanya,ternyata semua harta ayah ibu nya di ambil semua ,dia dijadikan pembantu,kerap di siksa dan di pukuli hingga di jadikan tumbal pesugihan nya kepada genderuwo.Hanya secercah harapan kepada Aditya yang membuatnya kuat dan sabar menghadapi semuanya.. Apakah Aditya jujur dan setia janjinya kepada Mirasih?Sampai kapanpah Mirasih menjadi pengantin Ki Ageng sang Genderuwo itu ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Selasa
Hujan gerimis yang turun sejak sore tadi belum juga reda. Suaranya yang ritmis, menghantam atap seng tua yang berkarat di bagian belakang rumah besar milik Paman Broto, menciptakan simfoni kesunyian yang mencekam. Di dalam kamar sempit yang lebih mirip gudang penyimpanan alat pertanian itu, Mirasih duduk meringkuk di atas dipan bambu yang berderit setiap kali ia bernapas terlalu dalam.
Mirasih memeluk lututnya sendiri. Tubuhnya yang mungil terbungkus selembar kain kebaya hitam yang sudah pudar warnanya—baju yang dipaksakan oleh Bibi Sumi kepadanya sore tadi. Kulitnya yang kuning langsat tampak pucat di bawah temaram lampu minyak yang sumbunya sudah hampir habis. Ia menggigil, bukan hanya karena angin malam yang menyelinap melalui celah-celah dinding kayu yang lapuk, tetapi karena ia tahu apa yang akan di hadapinya setelah ini.
Selasa Kliwon.
Bagi warga desa, ini mungkin hanya malam keramat biasa yang dilewati dengan doa-doa. Namun bagi Mirasih, malam ini adalah malam penghakiman. Malam di mana ia harus menyerahkan kehormatannya, jiwanya, dan seluruh raganya kepada sesuatu yang tidak pernah ia minta. Sesuatu yang bahkan tidak memiliki darah hangat yang mengalir di nadinya.
"Tolong, Ayah... Ibu..." bisiknya lirih, suaranya pecah dan hilang ditelan suara guntur yang menggelegar di kejauhan.Bawa aku mati bersama kalian "
Pikirannya melayang pada kecelakaan tragis dua tahun lalu yang merenggut segalanya. Seandainya ia ikut tewas dalam mobil yang masuk jurang itu, mungkin ia tidak akan berada di sini. Ia tidak akan menjadi "barang jaminan" bagi Paman Broto yang gila judi. Ia teringat bagaimana sore tadi Paman Broto menatapnya dengan pandangan dingin, seolah Mirasih hanyalah seekor ternak yang siap disembelih.
"Ingat, Mirasih," suara serak Paman Broto terngiang di telinganya. "Kalau kau tidak melayaninya dengan benar, bukan hanya rumah ini yang akan hancur, tapi nyawamu juga. Berterima kasihlah kepada suamimu nanti, karena pengorbananmu, kita semua bisa makan enak."
Makan enak di atas air matanya. Paman dan bibinya kini tidur di kasur empuk dengan perut kenyang, sementara Mirasih ditinggalkan di kamar belakang yang terisolasi, menunggu mahluk yang aromanya mulai tercium di udara.
Bau itu... Mirasih mulai merasakannya. Bau hutan yang lembap, bau tanah basah yang bercampur dengan aroma singkong bakar yang sangat tajam. Bau yang menandakan bahwa dia sudah dekat.
Udara di dalam kamar tiba-tiba terasa berat, seolah oksigen mendadak menipis. Cahaya lampu minyak bergoyang hebat meski tidak ada angin kencang yang masuk. Mirasih memejamkan matanya rapat-rapat, tangannya mencengkeram kain jarik yang menutupi bagian bawah tubuhnya hingga kuku-kukunya memutih.
Lalu, terdengar suara gesekan di lantai tanah. Suara sesuatu yang berat, sesuatu yang besar.
Srak... srak...
Jantung Mirasih berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar dari dadanya. Ia merasakan kehadiran yang masif berdiri tepat di samping dipannya. Suhu ruangan yang tadi dingin seketika berubah menjadi panas yang menyesakkan. Hawa panas itu keluar dari napas mahluk yang kini berada hanya beberapa inci dari wajahnya.
Mirasih memberanikan diri membuka mata sedikit. Di kegelapan yang pekat, ia melihat bayangan hitam yang sangat besar, melampaui tinggi manusia normal. Bulu-bulu hitam lebat menutupi sekujur tubuh mahluk itu. Matanya merah menyala seperti bara api yang ditiup angin, menatap Mirasih dengan lapar—sebuah rasa lapar yang bukan berasal dari perut, melainkan dari hasrat purba yang kelam.
Itu adalah Ki Ageng Gumboro. Sang Genderuwo penguasa hutan di belakang desa mereka. Suami ghaibnya.
"Kau... sudah menungguku, Istriku?" suara itu bukan keluar dari mulut, melainkan sebuah getaran yang bergema langsung di dalam kepala Mirasih. Suaranya berat, parau, dan penuh dengan otoritas yang tak terbantahkan.
Mirasih tidak menjawab. Ia hanya bisa terisak kecil. Tangan besar yang dipenuhi rambut kasar dan kuku panjang itu menyentuh pipi Mirasih. Sentuhan itu terasa panas membakar, membuat Mirasih tersentak.
"Jangan takut..." bisik mahluk itu lagi. Namun, alih-alih menenangkan, sentuhan itu justru mulai menjalar ke leher Mirasih.
Ki Ageng Gumboro mengendus leher Mirasih dengan kasar, mengeluarkan suara mendengus yang mengerikan. Ia memastikan bahwa miliknya tetap murni hanya untuknya.
Mirasih merasa tubuhnya lemas saat mahluk itu mulai menekannya ke atas dipan bambu. Dipan itu berderit protes menahan beban mahluk yang massanya seolah lebih berat dari bongkahan batu besar. Mirasih merasa kecil, rapuh, dan tak berdaya. Sebagai seorang gadis yang masih perawan, setiap sentuhan mahluk ini adalah siksaan baru. Rasa sakit dan rasa asing bercampur menjadi satu.
Mahluk itu tidak mengenal kata pelan. Hasratnya meledak-ledak, didorong oleh pemujaan yang dilakukan Paman Broto yang meminta harta lebih banyak malam ini. Semakin besar permintaan harta sang paman, semakin buas pula sang Genderuwo memperlakukan "mahar"-nya.
Malam itu seolah tidak berujung. Setiap kali Mirasih merasa mahluk itu sudah selesai dan akan melepaskannya, Ki Ageng Gumboro kembali lagi. Hasratnya seolah tak berdasar. Ia mencumbui Mirasih berkali-kali, menghisap energi kehidupan dari gadis malang itu melalui sentuhan-sentuhan ghaib yang meninggalkan bekas lebam keunguan di sekujur tubuhnya.
Mirasih hanya bisa menatap langit-langit kamar yang bocor. Di luar, hujan semakin deras, menenggelamkan suara rintihan dan tangisannya. Ia merasa jiwanya perlahan-lahan meninggalkan tubuhnya, terbang melayang menjauh dari raga yang sedang dinikmati oleh mahluk dari kegelapan itu.
Setiap kali mahluk itu bergerak, Mirasih teringat akan wajah paman dan bibinya yang tersenyum saat menghitung lembaran uang hasil judi. Mereka menjualnya. Mereka menukarkan kesuciannya dengan tumpukan koin emas yang akan habis dalam semalam di meja judi.
"Sakit..." rintih Mirasih saat mahluk itu kembali menguasainya untuk kesekian kalinya di malam itu.
Ki Ageng Gumboro berhenti sejenak, menatap wajah Mirasih yang basah oleh air mata. Ada kilatan aneh di mata merahnya—bukan hanya nafsu, tapi sesuatu yang lebih dalam. Ia mengusap air mata Mirasih dengan ibu jarinya yang kasar, namun hasratnya yang besar tak mampu ia bendung. Mahluk itu kembali mendekapnya erat, seolah takut jika ia melepaskannya sebentar saja, Mirasih akan menghilang.
"Kau milikku, Mirasih. Selamanya kau adalah milikku," bisik getaran itu di dalam batinnya.
Mirasih tidak sanggup lagi berkata-kata. Ia hanya bisa berharap fajar segera tiba. Ia berharap matahari akan menghalau bayangan hitam ini dan memberinya waktu untuk bernapas.
Malam itu, di kamar tua yang dingin, Mirasih mati berulang kali di tangan suami ghaibnya, hanya untuk dipaksa hidup kembali setiap pagi guna melayani paman dan bibi yang tidak punya hati.
" hai guys..ini karya Terbaru ku.
Jangan lupa like follow dan ku tunggu komen kalian ya " love u sekebon...
apa pasrah bgtu saja hidupmu
di permainankan paman bibi mu ??
sia sia pengorbanan orangtua mu selama hidup
bangkit donk
balas perbuatan busuk mereka
manusia busukk