Serial ini mengisahkan perjalanan Chen Feng, seorang pemuda yang menjadi satu-satunya keturunan keluarga pemburu naga setelah desa kecilnya di Tanah Seribu Pegunungan dibakar dan orang tuanya terbunuh oleh Sekte Ular Hitam. Dengan bimbingan Ye Linglong, putri dari klan pemburu naga terkemuka, Feng belajar mengendalikan kekuatan naga yang mengalir dalam dirinya—kekuatan yang tidak hanya berasal dari kemarahan akan kehilangan, melainkan dari kedamaian dan pemahaman tentang cinta serta tanggung jawab.
Melalui serangkaian ujian yang menguji keberanian, pengendalian diri, dan pemahaman tentang cinta serta masa lalu, Feng harus menghadapi dendam yang telah berlangsung berabad-abad antara keluarganya dengan Sekte Ular Hitam. Ia menemukan bahwa kekuatan sebenarnya bukanlah dari kemarahan atau kekerasan, melainkan dari kemampuan untuk menerima rasa sakit, menyatukan apa yang terpisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reijii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6: Pertempuran Malam dan Kekuatan yang Terlarang
Cahaya energi keemasan dan hitam saling bertabrakan dengan suara seperti guntur yang mengguncang seluruh ruang bawah tanah. Chen Feng berdiri dengan sikap tegas, kedua tangannya menyala dengan kilatan cahaya emas yang kuat. Di depannya, Hei Yu mengeluarkan senyum sinis sambil memutar pedang hitamnya yang mengeluarkan energi gelap pekat.
“Lihatlah kamu sekarang,” cela Hei Yu sambil mengangkat pedangnya ke atas. “Anak kecil yang berpura-pura kuat dengan kekuatan yang tidak kamu mengerti sama sekali!”
Tanpa berlama-lama, Hei Yu menyerang dengan kecepatan yang luar biasa. Pedangnya melintas di udara seperti kilat hitam, menuju dada Feng dengan tujuan membunuh. Tapi Feng telah belajar dengan baik—dia membungkuk dengan cepat dan menghindari serangan itu, lalu mengeluarkan pukulan dengan tangan yang menyala energi keemasan.
Pukulan itu mengenai sisi tubuh Hei Yu, membuatnya terdorong ke belakang. Namun pria itu hanya tertawa dan segera kembali menyerang. “Itu saja kekuatanmu? Sungguh menyedihkan!”
Sementara itu, Ye Tianhong sedang berjuang melawan dua anggota Sekte Ular Hitam yang kuat. Meski sudah tua, gerakannya tetap lincah dan presisi. Tongkat peraknya bergerak seperti kilat, memblokir setiap serangan dan memberikan kontra yang cepat. Namun jelas bahwa dia mulai tertekan—dua lawan yang muda dan kuat adalah tantangan yang tidak mudah.
“Feng, kamu harus pergi!” teriak Ye Tianhong saat berhasil mengalahkan salah satu penyerang. “Bawa buku itu dan lindungi kalungmu! Itu lebih penting dari hidupmu!”
Tapi Feng tidak bisa pergi meninggalkan mereka. Ia melihat Linglong yang sedang berjuang melawan tiga penyerang sekaligus, tombaknya bergerak dengan anggun namun penuh kekuatan. Luka di lengannya yang belum sembuh mulai mengeluarkan darah lagi, namun dia tidak menunjukkan tanda-tanda menyerah.
“Kamu tidak akan menyentuh mereka!” teriak Feng dengan suara yang lebih keras dari biasanya. Dia merasakan energi dalam dirinya mulai meningkat dengan cepat, terlalu cepat. Kalung di lehernya menyala dengan sangat terang, membuat seluruh ruangan terlihat seperti siang hari.
“Hei Yu! Aku akan membunuhmu untuk apa yang kamu lakukan pada orang tuaku!”
Energi yang luar biasa kuat mulai mengumpul di kedua tangan Feng. Cahaya keemasan semakin terang, dan bayangan besar kepala naga muncul di belakangnya. Hei Yu melihatnya dengan ekspresi yang bercampur antara kagum dan takut.
“Bagaimana mungkin… kamu sudah bisa mengakses kekuatan tingkat tinggi seperti itu?” bisiknya dengan suara tidak percaya.
Feng menyerang dengan kekuatan penuh. Sebuah gelombang energi besar melesat ke arah Hei Yu, menghancurkan segala sesuatu yang ada di jalurnya. Hei Yu terpaksa menggunakan seluruh kekuatannya untuk membendung serangan itu, namun dia masih terdorong ke dinding batu dengan suara ledakan yang mengguncang seluruh kompleks.
Namun kekuatan yang terlalu besar juga memberikan efek samping pada Feng. Tubuhnya mulai menggigil, dan rasa sakit yang luar biasa menyiksa dirinya. Ia merasa seperti tubuhnya akan meledak dari dalam karena energi yang tidak terkendali.
“Feng!” teriak Linglong saat melihatnya mulai tumbang ke tanah. Ia segera mengalahkan penyerangnya yang terakhir dan berlari ke arahnya. “Kamu tidak boleh memaksakan kekuatanmu seperti itu! Itu bisa membunuhmu!”
Di sisi lain ruangan, Hei Yu berhasil berdiri kembali. Tubuhnya terluka parah, dan pakaiannya sudah robek di berbagai tempat. Dia melihat Feng yang sedang kesusahan dengan senyum sinis. “Kamu mungkin kuat, tapi kamu tidak bisa mengontrol kekuatan itu. Sebentar lagi, kamu akan menghancurkan dirimu sendiri!”
Tanpa lagi menyerang, Hei Yu mengeluarkan bola asap hitam besar yang memenuhi seluruh ruangan. Ketika asap itu hilang, dia dan semua anggota Sekte Ular Hitam sudah tidak ada lagi—hanya menyisakan puing-puing dan bau bakar yang menyengat.
Ye Tianhong mendekati Feng dengan wajah yang penuh kekhawatiran. Ia segera mengeluarkan ramuan obat dari saku jubahnya dan memberikannya kepada Feng. “Kamu telah menggunakan teknik yang belum kamu kuasai. Kekuatan itu terlalu besar untuk tubuhmu yang masih muda.”
“Tapi aku harus melakukannya,” ujar Feng dengan suara yang lemah. “Aku tidak bisa membiarkan mereka menyakitimu atau Linglong.”
Linglong menekan tangan Feng dengan lembut, matanya penuh dengan perhatian. “Kamu sudah melakukan yang terbaik. Tapi kamu harus belajar bahwa terkadang kita harus bertahan hidup untuk bisa melanjutkan perjuangan, bukan hanya bertarung sampai mati.”
Keesokan paginya, Feng terbangun di kamarnya dengan tubuh yang terasa sangat sakit. Setiap gerakan membuatnya merasa seperti tubuhnya sedang ditusuk ribuan jarum. Linglong sedang duduk di sisi tempat tidurnya, membersihkan luka-luka di tubuhnya dengan ramuan obat yang dingin dan menyegarkan.
“Bagaimana perasaanmu?” tanyanya dengan suara lembut.
“Seperti telah bertarung dengan seribu naga sekaligus,” jawab Feng dengan sedikit tersenyum. “Terima kasih telah merawatku.”
Linglong tersenyum kembali dan melanjutkan pekerjaannya. “Ayah mengatakan bahwa kamu telah menunjukkan potensi yang luar biasa. Tapi kamu juga harus belajar mengendalikan emosimu. Kemarahan bisa meningkatkan kekuatanmu, tapi juga bisa membuat kamu kehilangan kendali.”
Saat Linglong sedang fokus membersihkan luka di bahu Feng, ia tidak menyadari bahwa wajahnya sudah sangat dekat dengan wajah Feng. Feng merasakan detak jantungnya mulai meningkat, bukan karena rasa sakit tapi karena kehadiran wanita di depannya. Rambutnya yang berbau bunga melambai di wajahnya, dan matanya yang penuh perhatian membuat hatinya merasa hangat.
Linglong tiba-tiba menyadari kedekatan mereka berdua. Wajahnya sedikit memerah, dan dia segera menjauh sedikit. “Maaf… aku tidak sengaja…”
“Itu tidak apa-apa,” ujar Feng dengan suara yang sedikit terengah-engah. “Aku… aku merasa aman ketika kamu berada di dekatku.”
Kata-kata itu membuat Linglong tersenyum lagi, wajahnya masih sedikit merah. Ia mengambil tangan Feng dengan lembut dan memegangnya. “Aku akan selalu ada di sini untukmu, Feng. Kita akan melewati semua ini bersama-sama.”
Di luar kamar, Ye Tianhong sedang berbicara dengan Ye Chen di koridor. Mereka melihat ke arah kamar Feng dengan ekspresi yang serius.
“Kekuatan yang dimiliki Feng adalah anugerah tapi juga kutukan,” ujar Ye Tianhong. “Kita harus mengajarinya dengan benar sebelum terlambat.”
“Dan apa jika Sekte Ular Hitam kembali menyerang?” tanya Ye Chen. “Kita mungkin tidak bisa melindunginya setiap saat.”
Ye Tianhong menghela nafas dan menatap jauh ke arah pegunungan. “Kita tidak punya pilihan lain selain melatihnya secepat mungkin. Karena aku merasa bahwa perang besar yang akan datang tidak lagi bisa dihindari. Dan hanya dengan kekuatan Feng dan Pedang Naga yang sebenarnya, kita bisa memiliki harapan untuk memenangkannya.”