NovelToon NovelToon
Suamiku Kuli Bangunan ~ Penyesalan Setelah Bercerai

Suamiku Kuli Bangunan ~ Penyesalan Setelah Bercerai

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Duda
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nelramstrong

Malu memiliki suami seorang kuli bangunan, Nadira Maheswari terus mendesak Arga untuk menceraikannya.

Semula permintaan itu ditolak oleh Arga. Ia tidak ingin putri semata wayang mereka tumbuh tanpa orangtua yang lengkap.

Namun, setelah mengetahui istrinya ternyata telah memiliki pria lain, akhirnya Arga menyerah. Ia merasa egois karena menahan wanita yang tidak bisa dia bahagiakan, bahagia bersama pria lain.

"Kalau kamu merasa sanggup bertanggung jawab atas dia, datanglah kemari. Temui aku secara jantan!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nelramstrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tuntutan Nadira

Nadira berdiri di depan pintu sambil memegang sebuah palu yang dia temukan di sebuah kotak perkakas kerja. Ia sudah tak peduli pada kemarahan keluarga Bima, yang terpenting saat ini ia harus mendapatkan makanan.

Tang! Ting! Tung!

Suara besi yang beradu menimbulkan bunyi yang nyaring. Ia menghantamkan palunya dengan sekuat tenaga.

Setelah berhasil merusak gagang pintu, dia mengayunkan palunya ke lubang kunci. "Kalian akan menyesal sudah mengurungku di sini!" bisik Nadira.

Ia begitu percaya diri bisa selamat dari amukan calon suaminya. Senyuman lebar tersungging saat berhasil merusak lubang kunci, dan dalam satu tarikan, pintu berhasil terbuka.

"Mau ke mana kamu, Nadira?!"

Nadira membeku saat mendapati sosok Bima yang berdiri di hadapannya dengan tatapan yang dingin, membuat nyalinya menciut.

"Aku lapar, Mas. Kamu nggak bakal biarin aku mati kelaparan, kan?"

Bima membuang napas kasar. Dia memasukkan tangan ke dalam saku celana. "Kamu lagi dihukum, Nadira. Nggak ada makanan!"

"Tapi aku lapar. Kenapa kalian kejam sekali! Padahal aku sudah berusaha jadi menantu yang baik di rumah ini," ucap Nadira membela diri.

"Ayolah, Mas. Aku lapar. Kamu membawaku datang ke rumah ini bukan untuk membiarkan aku kelaparan, kan? Kalo kamu biarin aku kayak gini, apa bedanya kamu sama Mas Arga!"

"Tutup mulutmu!"

Bima langsung bereaksi. Ia melihat sekeliling, memastikan tak ada yang mendengar Nadira menyebut nama pria lain.

"Baik. Aku akan tutup mulut. Tapi, berikan makanan," ujar Nadira sinis.

"Aku nggak bisa bantu kamu soal ini, Nadira. Ini keputusan Nenek. Tapi, mungkin aku bisa bantu kamu dapat makan, setelah itu kamu harus kembali ke gudang ini," kata Bima memberikan tawaran.

"Kamu harus tidur di sini malam ini!"

Nadira terdiam sejenak. Otaknya yang licik berputar cepat. "Baik. Tapi kamu harus kasih aku makanan yang cukup supaya aku nggak kelaparan."

Bima tersenyum miring. "Aku belum mengatakan syaratnya, Nadira," kata Bima.

"Mas, aku ini calon istrimu!"

"Tapi, menentang keputusan Nenek itu beresiko, Dira."

"Terus apa syaratnya?!" tanya Nadira ketus, sembari melipat kedua tangan.

Bima menunjuk dada Nadira. "Kamu... sana bersihkan tubuh Mama. Dia baru buang kotoran," titah Bima.

"Mas!" Nadira memekik kencang.

"Kenapa? Nggak mau? Kalo gitu, nggak ada makanan buat kamu!" tegas Bima sambil tersenyum penuh arti.

"Dasar licik," hardiknya dalam hati.

"Ya udah. Aku akan bantu bersihkan. Tapi, kamu ambilkan makanan yang banyak sekalian untuk stok nanti malam," jawab Nadira ketus.

Ia melangkah sambil menghentak-hentakan kaki menuju kamar calon mertuanya. Nadira kembali harus melakukan ritual setiap hari, sejak datang ke rumah itu.

"Sampai kapan aku akan mengurusi orang lumpuh seperti dia. Kalo dia nggak bakal sembuh, kenapa nggak mati aja," batin Nadira, sambil menahan keinginannya untuk muntah.

Meskipun sudah memakai masker berlapis-lapis, tetap saja aromanya tercium. Begitu juga tangan yang dilapisi sarung tangan, tekstur dari kotoran itu membuat dia merasa jijik.

Setelah selesai mengurus Gina. Ia keluar dan bertemu Bima. Pria itu memberikan tas kecil berisi makanan dan minuman.

Tanpa mengatakan apapun, Nadira kembali ke gudang. Ia duduk bersandar di tembok dan menatap makanan di tangannya.

Pemandangan kotoran Gina melintas, membuat rasa jijik menyeruak. Rasa lapar pun akhirnya menguap.

"Makanan enak pun rasanya lebih buruk dari sayur dan ikan asin karena wanita lumpuh itu. Setiap hari, aku harus terus mengurus kotorannya. Kenapa nggak mati aja sih?!" gerutu Nadira.

Akhirnya, ia hanya bisa memandangi makanan yang diberikan Bima dengan ulu hati yang terasa mual.

Nadira memilih meringkuk di atas kardus. Hatinya tiba-tiba dihantam rasa ngilu. Air mata menetes tak terduga.

"Aku yang menginginkan kehidupan ini. Aku harus sanggup," gumamnya terisak.

Bayangan bagaimana dirinya dulu memperlakukan Arga dengan semena-mena melintas. Ia memberikan sayuran liar pada suami dan anaknya, hanya supaya ia bisa membeli apa yang dia inginkan.

"Sayurnya enak kok, Bu. Dini suka."

Suara putri kecilnya terngiang. Senyuman Andini yang tulus, tak pernah protes sekalipun dia berikan makan hanya dengan minyak bekas goreng ikan asin. Tapi, gadis itu makan dengan sangat lahap bahkan sambil tersenyum.

"Aku bosen makan sama sayur liar terus, Mas. Apa kamu nggak niat belikan aku ikan atau ayam?!"

"Dira, aku bawa ikan hasil mancing di sungai. Ini, cepat kamu masak. Kita sudah lama nggak makan ikan, kan?"

"Goreng ikannya, Bu. Andini mau makan sama ikan goreng."

Tubuh Nadira bergetar hebat, karena tangis. Kilasan masa lalu, kini menjadi hal yang dia rindukan.

"Dini, Ayah kamu kasih kamu makan sama apa di sana? Ibu di sini punya banyak daging. Tapi, rasanya sangat nggak enak," bisiknya lirih.

"Apa karena di sini nggak ada kamu?"

---

Di tempat lain, Arga justru tengah berada di sebuah rumah. Ia berbincang ringan dengan bapak-bapak yang menghadiri acara tersebut.

"Kapan mulai kerjanya, Mas? Saya mau ikut juga."

Arga sudah memberikan informasi tentang proyek pemerintah yang akan dilaksanakan di desa mereka, pengaspalan jalan juga pembangunan jembatan.

"Katanya mulai bulan depan. Tinggal sepuluh hari lagi."

"Saya juga masih harus selesaikan rumah Bidan Rini."

"Masih banyak lowongan nggak? Di kampung kita, banyak pemuda yang pengangguran. Biar mereka bisa ikut kerja juga," ujar salah seorang warga.

"Pak Kades sih bilang dia masih butuh banyak orang. Saya nggak tanya tadi, butuh berapa. Tapi, kalo mau ikut kerja, nanti biar saya coba bicarakan lagi dengan Pak Kades," tutur Arga.

"Ya sudah, kalo gitu saya duluan ya, Mas. Kasihan Andini. Dia udah ngantuk banget kayaknya," pamit Arga sambil menggendong tubuh Andini yang terkulai lemas karena kantuk yang tak bisa ditahan.

"Kabarin aja nanti kalo udah mulai, Mas," kata salah seorang warga sambil menepuk pundak Arga.

Arga mengangguk dan segera pergi meninggalkan kerumunan warga itu.

Andini, meskipun matanya terpejam. Tangannya dengan erat menggenggam plastik berisi nasi yang diberikan pemilik rumah.

"Ayah, nasi punya Andini buat besok aja, ya. Andini masih kenyang tadi sore makan," gumam gadis itu, kepalanya berada di bahu sang ayah.

"Iya. Nanti ayah simpan. Kamu tidur aja kalo udah ngantuk. Besok kan sekolah," kata Arga mengusap punggung putrinya.

Setibanya di rumah, Arga langsung membaringkan tubuh putrinya di atas kasur, di depan televisi, ia kemudian pergi ke dapur untuk meletakkan nasi dan lauk di piring.

"Alhamdulillah, terima kasih untuk rezeki hari ini, Ya Allah."

"Padahal aku udah cemas karena uang sisa beli tas Andini tinggal sedikit, tapi ternyata Engkau cukupkan dengan rezeki yang tak terduga ini."

"Hari ini, aku jadi nggak keluar uang sama sekali buat makan," gumam Arga penuh syukur.

Keesokan harinya...

Aktivitas Arga masih seperti biasa; mengantar Andini sekolah, kerja, lalu pulang. Begitu juga rutinitas Nadira yang masih gitu-gitu aja. Bergelut dengan kotoran, dan masih harus mengurus rumah.

Kini, setelah beberapa hari, Arga akhirnya mulai bekerja, ikut proses pengaspalan jalan. Ia bersama rekan kerjanya membetulkan saluran irigasi terlebih dahulu, sebelum mulai mengaspal jalan di desanya.

Sedangkan Nadira, dia tengah memijat kaki Marsinah. Namun, wanita itu kini menerapkan sebuah aturan baru, hasil kesepakatannya dengan Bima.

Beberapa hari lalu, setelah Nadira keluar dari gudang.

"Aku akan mengurus rumah dan keluargamu. Tapi, kamu harus membayarnya, Mas," pinta Nadira tegas. Ia harus mempertahankan harga dirinya, setidaknya dia tidak kerja rodi di keluarga tersebut.

"Hitung saja berapa gaji yang harus aku dapatkan setelah mengurus semua orang, rumah, memasak, sampai mencuci baju kalian. Pastikan nggak kurang sedikit pun!"

"Jadi kamu lebih milih jadi pembantu daripada istriku, Nadira?!" Bima menatap Nadira dengan dingin.

"Aku nggak peduli lagi dengan pernikahan kita. Dengan uang itu, aku bisa membeli apapun yang aku mau!" jawab Nadira, tekadnya sudah bulat.

Bima tertawa kecil. "Kamu yakin dengan keputusan kamu?" tanya Bima dengan sorot mata licik.

"Ya!" jawab Nadira tegas.

Keinginannya kini, hanya memiliki banyak uang, setelah itu dia akan kembali ke kampung. Dia menunjukkan pada Arga jika dia berhasil jadi orang kaya.

Bima manggut-manggut sambil tersenyum miring.

"Baiklah. Mulai hari ini, kamu bukan lagi calon istriku. Kamu adalah pelayan di rumah ini. Kamu akan menuruti setiap perintah dariku tanpa bantahan, dan mendapatkan gaji selayaknya seorang pembantu.

"Tapi, ingat satu hal, Nadira..."

"Aku berhak memotong gajimu, jika kamu nggak becus kerja. Kamu malas-malasan. Keluargaku nggak puas dengan hasil kerjamu, dan kamu... hanya akan mendapat sisanya."

Bersambung...

1
Wanita Aries
cuit cuit bu bidan di lamar 🤭
Wanita Aries
ya kerja lah nadira jgn berpangku tangan
Nelramstrong: keenakan dikasih 😆
total 1 replies
Wanita Aries
deritamu nadira mau aja di bodohi
Nelramstrong: 🫢🫢🫢 jangan diketawain, kak. kasihan
total 1 replies
Wanita Aries
haduhh nadira nasibmu makin ngenes
Nelramstrong: nasibbbbb, kak 🤭🤭
total 1 replies
Wanita Aries
nah nah makin seru
Wanita Aries
arga makin sukses, nadhira makin nelangsa
Nelramstrong: itu karma baik dan buruk buat mereka, kak 😄
total 1 replies
Wanita Aries
suka thor gk bosen bacanya
Nelramstrong: aaaa... Makasih, kak
total 1 replies
Wanita Aries
kyknya nadira korban selanjutnya
Wanita Aries
nah lhoo siap2 aj nadira menyesal nntinya
Nelramstrong: harus sih 😄
total 1 replies
Wanita Aries
bagus thorr
Nelramstrong: terima kasih 🙏
total 1 replies
Wanita Aries
mampir thor
Nelramstrong: hai, kak. terimakasih sudah mampir, ya 🙏
total 1 replies
Arema Nia
semoga sukses untuk penulisnya
Arema Nia
ceritanya bagus dan lancar
Ani
nahkan pasti Mamanya Bima juga dijadikan pembokat sampe stroke.
Ani
bau baunya Si Nandira mau dijadikan pembokat sekalian pengasuh mamanya Bima nih...
Nelramstrong: lanjut baca yuk, kak. terima kasih sudah mampir 🙏
total 1 replies
Arema Nia
bagus danenarik
Nelramstrong: Terima kasih ulasannya, Kak. Ditunggu bab selanjutnya, ya 😁
total 1 replies
Arema Nia
pertama baca bagus ceritanya ...sukses selalu
Nelramstrong: Terima kasih, kak 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!