EDISI SPESIAL RAMADHAN
Zunaira Prameswari hanyalah seorang ustadzah yatim piatu yang merasa dunianya sudah cukup dengan mengabdi di Pesantren Al-Anwar.
Baginya, mencintai Gus Azlan, putra kedua sang kiai yang baru kembali dari Al-Azhar, Kairo adalah sebuah kemustahilan yang hanya berani ia langitkan dalam doa-doa di sujud terakhir.
Namun takdir berkata lain, penolakan Azlan terhadap lamaran Ning Syifa, seorang putri kiai besar yang membawa kepentingan politik pesantren, justru menyeret Zunaira ke pusaran konflik keluarga yang rumit.
Bagaimana kelanjutannya???
Yukk kepoin!!!
Follow IG @Lala_Syalala13
Subscribe YT @NovelLalaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanda Wanita Shalihah
Zunaira memang sudah membulatkan tekad, cara terbaik untuk memadamkan api adalah dengan menjauhkan bahan bakarnya.
Jika Azlan adalah api yang menghangatkan sekaligus membahayakan maka ia harus menjadi dinding es yang membentang luas.
Siang itu jadwal diskusi kurikulum kembali tiba, biasanya Zunaira akan datang lima menit lebih awal dengan perasaan berdebar namun antusias.
Namun kali ini ia datang tepat waktu bahkan sengaja mengajak salah satu santriwati senior bernama Fatimah untuk menemaninya dengan alasan membantu membawakan berkas.
Saat tiba di serambi masjid Azlan sudah ada di sana, wajah pria itu nampak cerah mungkin hendak menanyakan apakah Zunaira menyukai cokelat yang ia kirim secara anonim semalam.
Namun begitu melihat Zunaira datang bersama seorang santriwati dan wajahnya tertutup rapat oleh ekspresi dingin, senyum di wajah Azlan perlahan memudar.
"Assalamu’alaikum Gus, ini berkas evaluasi dari kelas kemarin." ujar Zunaira dengan suara yang sangat formal, bahkan tanpa basa-basi "apa kabar" atau sekadar menatap mata Azlan.
Ia meletakkan berkas itu di meja kayu dan segera duduk dengan jarak yang lebih jauh dari biasanya.
"Wa’alaikumussalam." jawab Azlan pelan.
Ia menatap Fatimah yang duduk agak di belakang Zunaira, lalu kembali menatap Zunaira.
"Kamu membawa asisten hari ini?" tanya Gus Azlan.
"Nggih Gus, Fatimah adalah ketua bagian kurikulum santriwati dan saya rasa dia perlu mendengar langsung arahan Gus agar tidak terjadi salah komunikasi di kemudian hari." jawab Zunaira tanpa ekspresi.
Azlan terdiam sejenak, ia adalah pria yang cerdas dan ia menangkap sinyal perubahan itu dengan sangat cepat.
Ada dinding yang tiba-tiba dibangun oleh Zunaira semalam, dinding yang sangat tinggi dan kokoh.
"Baiklah kalau begitu." ujar Azlan, suaranya kini juga berubah menjadi lebih profesional, meski ada nada kekecewaan yang terselip.
"Mari kita bahas poin ketiga tentang integrasi literatur klasik Mesir." lanjutnya.
Diskusi berlangsung selama dua jam, namun rasanya seperti sepuluh jam bagi Azlan.
Setiap kali ia mencoba menyelipkan topik di luar pelajaran seperti menanyakan kesehatan Zunaira atau pendapatnya tentang buku yang ia pinjamkan dan Zunaira selalu memotongnya dengan jawaban singkat seperti "Nggih Gus." "Mboten Gus." atau "Sesuai instruksi Gus saja."
Zunaira bersikap seolah-olah Azlan hanyalah seorang atasan yang harus dipatuhi, bukan lagi seseorang yang pernah berbagi tawa tipis di perpustakaan.
Ia bahkan tidak memberikan celah sedikit pun bagi Azlan untuk berbicara berdua saja.
Saat diskusi berakhir, Azlan menutup laptopnya dengan sedikit lebih keras dari biasanya.
"Zunaira bisa Fatimah diminta kembali ke asrama dulu? Ada hal penting yang ingin saya bicarakan secara pribadi mengenai kebijakan internal ustadzah." ucap Gus Azlan.
Zunaira menegang, ia tahu ini akan terjadi.
"Mohon maaf Gus, saya rasa kebijakan apapun bisa disampaikan lewat surat resmi ke kantor ustadzah agar bisa dibahas bersama Mbak Halimah juga dan sebentar lagi waktu Ashar jadi saya harus mendampingi anak-anak setoran hafalan." tolak Zunaira dengan lembut karena bagaimana pun pria di depannya adalah anak pemilik pesantren.
Zunaira segera berdiri dan memberi isyarat pada Fatimah untuk ikut bangkit.
"Kami pamit dulu, Assalamu’alaikum." pamit Zunaira.
Ia melangkah pergi tanpa menoleh lagi, ia bisa merasakan tatapan Azlan yang tajam menghujam punggungnya.
Ada rasa sakit yang luar biasa saat ia melangkah menjauh, tapi ia terus meyakinkan dirinya bahwa ini adalah hal yang benar.
Ia tidak ingin menjadi "fitnah" bagi Azlan, pria seperti Azlan pantas mendapatkan pendamping yang kehadirannya disambut oleh seluruh dunia dengan tepuk tangan, bukan wanita yang identitasnya saja hanya sebaris nama tanpa bin atau binti yang jelas.
Di serambi masjid Azlan masih terpaku, ia memijat pangkal hidungnya.
Kekakuan Zunaira tadi benar-benar di luar dugaannya, ia tahu Zunaira adalah wanita yang menjaga iffah (kesucian diri), tapi sikap dingin tadi lebih terasa seperti penolakan mentah-mentah.
"Apakah aku terlalu cepat?" gumam Azlan pada dirinya sendiri.
Selama tujuh tahun di Kairo, Azlan menjaga hatinya dengan sangat ketat.
Ia menolak banyak tawaran ta'aruf dari putri-putri ulama di sana karena satu bayangan yaitu seorang gadis yang tertidur di atas kitabnya di pojok perpustakaan Al-Anwar bertahun-tahun lalu.
Ia pulang dengan harapan bisa memuliakan gadis itu, namun ia lupa bahwa statusnya saat ini justru menjadi beban bagi Zunaira.
Malam harinya pesantren diguyur hujan lebat, suara air yang jatuh di atas atap seng asrama menciptakan irama yang menyayat hati.
Zunaira duduk di depan jendela kamarnya, menatap rintik hujan, ia memegang kertas catatan dari Azlan yang ia temukan kemarin dan dengan tangan bergetar, ia merobek kertas itu menjadi serpihan kecil.
"Maafkan saya Gus." isaknya lirih, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah juga.
"Saya tidak punya apa-apa untuk ditawarkan pada Anda selain pengabdian saya pada pesantren ini, jangan hancurkan satu-satunya hal yang saya miliki dengan perasaan yang tak mungkin ini." gumamnya pelan.
Zunaira tidak tahu bahwa di saat yang sama Azlan sedang berada di ruang kerja ayahnya, Kyai Hamid.
"Azlan kenapa wajahmu tampak kusut?" tanya Kyai Hamid sambil meletakkan kitabnya.
Azlan menarik napas panjang.
"Abah... Azlan ingin bertanya, selama ini bagaimana penilaian Abah terhadap Ustadzah Zunaira?" tanya Gus Azlan.
Kyai Hamid tersenyum tipis seolah sudah menebak arah pembicaraan ini.
"Zunaira adalah perhiasan pesantren ini Lan, dia yatim piatu, tapi akhlaknya lebih mulia dari mereka yang memiliki silsilah panjang namun tak berilmu. Mengapa kamu bertanya?"
"Apakah Abah akan keberatan jika... jika putra Abah ini menaruh hormat yang lebih dari sekadar rekan kerja padanya?" tanya Gus Azlan lagi.
Kyai Hamid menatap putranya dengan dalam.
"Abah tidak pernah melihat status sosial sebagai ukuran Azlan, tapi kamu harus tahu kalau Zunaira itu seperti pualam, ia nampak kuat, tapi hatinya sangat peka. Jika kamu tidak benar-benar serius jangan pernah mencoba mendekatinya, dia sudah cukup banyak menderita karena kehilangan orang tuanya, jangan sampai dia kehilangan harga dirinya karena kamu." tutur sang Abah yaitu Kyai Hamid.
Azlan mengangguk mantap.
"Azlan serius Bah, tapi sepertinya dia justru sedang mencoba membangun benteng yang sangat tinggi untuk menjauh dari Azlan." sahutnya.
"Itu karena dia tahu diri Azlan dan itu adalah tanda bahwa dia wanita yang shalihah yaitu wanita yang tahu diri adalah wanita yang paling sulit didapatkan, tapi paling berharga untuk diperjuangkan." tutur Kyai Hamid.
Nasihat sang ayah menjadi bensin baru bagi semangat Azlan.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
...ULASAN DAN BINTANG LIMA NYA🌟...
...FAVORITKAN CERITA INI ❤️...
...VOTE 💌...
...LIKE 👍🏻...
...KOMENTAR 🗣️...
...HADIAHNYA 🎁🌹☕...
...FOLLOW IG @LALA_SYALALA13...
...SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA...