Pengusaha sukses, Harta berlimpah, Istri Cantik. Tapi sayang di usianya yang sudah kepala empat, keluarga kecilnya belum dikaruniai keturunan.
Lalu kepada siapa kelak, harta kekayaannya akan diwariskan?
Bukan karena Ammar dan Istrinya tidak sehat, ada penyebab yang membuat mereka belum juga dikaruniai keturunan.
Sementara di sisi lain.
Seorang Janda anak dua, mati-matian bekerja untuk menghidupi anak-anaknya.
Bagaimana kesepakatan bisa terjalin antara si Janda dan Pengusaha kaya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hermawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Isi Pikiran
Ammar menggertakkan giginya, rahangnya mengeras dan tangannya mengepal kuat. Hingga buku jarinya memutih. Dia sama sekali tidak bisa fokus pada pekerjaannya. Sialan!!!
Ingin rasanya Ammar melontarkan sumpah serapah, tapi pada siapa?
Ini murni salahnya, tapi entah mengapa dia sama sekali tak terima karena kejadian tadi pagi.
Kenapa bisa begini?
Ammar merasa bersalah pada Leticia, istrinya. Padahal sudah dua belas tahun menikah, dia selalu setia. Walau terkadang kolega bisnisnya, mengajaknya untuk sesekali jajan di luar. Tapi karena rasa cinta dan janji yang pernah terucap di hadapan Tuhan. Ammar memegang teguh janji setia sampai waktu pagi tadi.
Sialnya, bayangan rasa lembut dan nikmatnya bibir berwarna merah muda alami itu. Menghantui pikirannya. Sisi liar pada jiwanya, mulai merasakan haus luar biasa.
Guna mengenyahkan pikiran kotor itu, Ammar bangkit dari kursi kebesarannya. Dia abai dengan dokumen yang menumpuk di meja kerjanya. Persetan dengan semua itu, yang penting saat ini. Pikirannya kembali jernih dan bisa segera menyelesaikan pekerjaannya.
Namun baru saja membuka pintu, Ammar mendapati Damian bersama perempuan yang membuat pikirannya kacau. Secara otomatis, mata hitamnya justru tertuju pada bibir berwarna merah jambu alami itu. Sial!!!
"Kenapa kau bawa dia, Dami?" Hanya hitungan detik, Ammar langsung mengalihkan pandangannya. Dia tak mau terkena lagi tipu daya wanita penggoda itu.
Damian menaikan sebelah alisnya, dia menatap gelagat aneh bos-nya. "Tentu saja, saya harus membawa Nyonya Nina untuk menghadap tuan."
Napas Ammar mulai memburu, bayangan kejadian tadi pagi kembali muncul. Dia berusaha mati-matian menahan diri supaya tak menyeret wanita penggoda itu dan melum** bibir sialan yang sayangnya ... Astaga!!!
"Bawa dia pergi dari hadapanku dan jangan pernah biarkan dia muncul lagi." Ammar meninggikan suaranya. Dan tanpa menunggu tanggapan asistennya, dia beranjak pergi dari sana. Namun saat melewati wanita penggoda, Ammar hanya bisa mengepalkan tangannya kuat-kuat.
***
Demi mengenyahkan pikiran kotor, Ammar mendatangi kantor milik salah satu koleganya yang berprofesi sebagai pengacara.
Selain membuka jasa Pengacara dan Notaris, lelaki bernama Alex itu juga menyewakan jasa keamanan.
Di belakang gedung bertingkat delapan itu, terdapat sebuah gedung berlantai tiga yang berisi mess petugas keamanan dan tempat latihan. Termasuk area tinju. Sebenarnya ada tempat satu lagi yang Ammar ketahui menyediakan tempat untuk adu kekuatan. Tapi Ammar lebih nyaman di kantor yang dikelola oleh Alex.
Biasanya Ammar akan berbasa-basi sejenak dengan Alex, tapi berhubung saat ini dirinya sedang butuh melampiaskan amarah. Dia langsung menunju tempat lokasi arena tinju.
Para pekerja di sana tentu sudah tau tentang keberadaan tamu bos besarnya. Sehingga mereka mempersilahkan saja Ammar memakai tempat tersebut, serta mempersiapkan siapa lawan tandingnya kali ini.
Tenang saja, andai lawannya terluka atau babak belur. Ammar akan memberikan biaya pengobatan dan ganti rugi fantastis. Jadi mereka tidak keberatan karenanya.
Ammar hanya melepaskan jam tangan dan ikat pinggang, serta menggulung lengan kemeja hitamnya. Dia mulai memakai sarung tangan tinju, agar tangannya tak memar.
Lawannya kali ini, terlihat cukup kuat. Dengan postur tubuh sama dengannya, diharapkan bisa menjadi lawan sepadan.
***
Peluh membanjiri seluruh tubuhnya, bahkan sesekali menetes. Ammar berhasil membuat tumbang dua lawannya. Andai Alex tidak menghentikannya.
"Ada apa gerangan Tuan Ammar yang terhormat, datang ke tempat saya yang kumuh ini?" Alex memberikan handuk berwarna biru tua. Benda yang selalu disediakan di tempat itu. Tentunya masih selalu baru untuk tamu VVIP.
Ammar segera mengambil alih handuk itu, dia menyeka keringat yang masih mengucur di wajah dan tubuhnya. "Ingin bakar lemak saja, Apa aku mengganggu waktu sibuk mu? Atau anak buah mu takut menghadapi aku?"
Alex menggeleng, "Tentu tidak, Tuan! Kami senang anda datang kesini." Dia menerima botol air mineral yang masih tersegel dari salah satu anak buahnya dan memberikannya pada lelaki asal timur tengah itu. "Apa anda ingin saya panggilkan Ben atau Nando?" Tanyanya.
Ammar meminum air yang diberikan untuknya, hingga nyaris habis satu botol ukuran enam ratus mili. "Aku hanya mampir sebentar, Alex! Jadi santai saja dan tak usah memberitahu mereka."
Alex mengangguk-angguk tanda mengerti. "Tapi sayangnya, Nando sedang dalam perjalanan kesini langsung dari bandara." Sebagai orang yang disegani bos besarnya. Tentu Alex akan mengabari teman-temannya tentang kedatangan tamu VVIP mereka.
"Yah tidak apa-apa kalau Nando ingin datang, aku bisa mengajaknya sparing."
Alex mengangkat tangannya tanda menyerah. "Saya tidak akan ikut campur, Tuan!" dia tau betul bagaimana kekuatan tamu VVIP dengan sahabat dekatnya.
Ammar meledakkan tawanya. Kelakuan lelaki yang berprofesi sebagai lawyer itu cukup menghiburnya.
Keduanya berbincang soal proyek yang selanjutnya akan dilakukan kedepannya, juga tentang urusan bisnis pertambangan yang memang menjadi bisnis utama Ammar. Bukan di negara ini, tapi di benua hitam.
Kedatangan Lelaki blasteran bermata hijau, membuat Ammar tertahan lebih lama. Mereka sempat berpindah tempat ke rumah Alex yang ada di lantai teratas gedung. Setidaknya hal itu membuat Ammar melupakan kejadian tadi pagi.
Tapi nyatanya semua itu tidak menghapus rasa manis dari bibir milik janda beranak dua yang rencananya akan mengandung pewaris-nya. Karena begitu Ammar kembali ke penthouse, ingatan itu muncul. Apalagi ketika melintas tempat dimana dirinya tubuh besarnya menghimpit tubuh mungil perempuan penggoda itu.
Sia-sia rasanya, Ammar membuang waktu dan tenaga guna melampiaskan kekesalannya. Kesal karena dirinya seperti pengkhianat dan mencoreng ikatan suci selama dua belas tahun. Tapi memang dirinya sudah mengkhianati istrinya.
Ammar benar-benar menikmati ciuman panas tadi pagi. Liar dan ... Ah ... Rasanya ada sesuatu yang membuat adrenalinnya lebih terpacu. Rasa baru yang entah mengapa baru dia rasakan pertama kali.
Apa mungkin Ammar mulai jenuh dengan pernikahannya?
Apa mungkin karena Dia dan Leticia jarang bertemu?
Keduanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing dan tentunya komunikasi yang jarang dilakukan.
Dia dan Leti biasa disapa, berbeda negara dan benua. Mungkin dalam setahun, mereka hanya bertemu beberapa kali saja.
Apa mungkin dirinya mulai merasa kesepian?
Usai menyelesaikan ritual mandi sebelum tidur, Ammar memilih duduk di ranjangnya sambil melihat city light dari ketinggian. Walau tidak seindah asal negaranya, tapi entah mengapa tempat ini memberikannya kehangatan dan rasa nyaman.
Ingin rasanya Ammar menghubungi istrinya sekarang ini, tapi Leti mengatakan tidak akan memegang ponsel selama beberapa jam. Dia sedang sibuk mempersiapkan diri sebagai salah satu model fashion week di pusat mode dunia.
Ketukan di pintu kamarnya, membuyarkan lamunannya. Dahi Ammar mengernyit, seingatnya hanya ada dirinya di Penthouse. Tadi dia sempat meminta Dami untuk tak mengganggunya. Namun biasanya, asisten kurang ajarnya yang sayangnya paling kompeten. Terkadang bersikap menyebalkan.
Tapi ketukan yang kedua membuat Ammar mau tidak mau, datang dan membukakan pintu.
Dan setelahnya, Ammar benar-benar menyesal telah membukakan pintu. Seharusnya dia berpura-pura tidur saja.
Sialan!!!