NovelToon NovelToon
TAP-TAP LAYAR ATAU MATI

TAP-TAP LAYAR ATAU MATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Hantu / Horror Thriller-Horror / Fantasi / Iblis / Konflik etika
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Kaka's

​Vanya, sang ratu live streaming, tewas mengenaskan di depan ribuan penonton saat kalah dalam tantangan PK Maut. Namun, kematiannya justru menjadi awal dari teror digital yang tak masuk akal.
​Kini, akun Vanya kembali menghantui. Di jam-jam keramat, ia muncul di live orang lain dan mengirimkan undangan duel. Pilihannya hanya dua: Terima dan menang, atau menolak dan mati.
​Di dunia di mana nyawa dihargai lewat jumlah tap layar dan gift penonton, Maya harus mengungkap rahasia di balik algoritma berdarah ini sebelum namanya muncul di layar sebagai korban berikutnya.
​Jangan matikan ponselmu. Giliranmu sebentar lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: Aliansi Para Pendosa

​Berita tentang "Eksekusi Live" yang menimpa influencer pertama itu menyebar dengan kecepatan yang tidak masuk akal, melampaui statistik virus paling mematikan yang pernah ada dalam sejarah internet. Hanya dalam waktu semalam, industri media sosial global yang biasanya bising dengan pamer kemewahan dan drama murahan, mendadak lumpuh total. Ketakutan yang belum pernah terbayangkan sebelumnya mencengkeram jantung para raksasa konten. Mereka yang biasanya haus akan sorotan kamera kini justru bersembunyi di balik dinding rumah mewah mereka yang dijaga ketat oleh petugas keamanan bersenjata. Mereka mematikan seluruh perangkat elektronik, mencabut kabel router, bahkan menutup rapat gorden seolah-olah cahaya matahari pun bisa membawa maut digital ke dalam kamar mereka.

​Namun, mereka melupakan satu fakta krusial yang sangat pahit: di tahun 2026, manusia tidak bisa benar-benar bersembunyi dari jaringan. Internet bukan lagi sekadar alat; ia telah menjadi infrastruktur biologis yang mendarah daging di setiap sendi kehidupan, mulai dari detak jantung alat pacu medis hingga sistem navigasi kendaraan yang mereka kendarai.

​Pertemuan di Bunker Terlarang

​Jauh di bawah permukaan tanah, di sebuah bunker rahasia yang terletak di pinggiran Jakarta, tujuh orang duduk mengelilingi sebuah meja kaca berbentuk heksagon yang memancarkan cahaya biru redup. Ruangan itu dirancang untuk kedap sinyal, sebuah sangkar Faraday yang seharusnya mustahil ditembus oleh frekuensi radio apa pun. Mereka adalah "The Seven Pillars"—kolektif pemilik agensi talenta terbesar yang selama dekade terakhir telah memegang kendali penuh atas narasi digital, tren, dan skandal di Indonesia.

​Di tengah meja, sebuah laptop dengan sistem operasi yang sepenuhnya terisolasi dan terenkripsi menampilkan sebuah tangkapan layar yang membuat nyali mereka menciut. Akun @Vanya_Eternal tidak lagi menampilkan foto profil wajah manusia; layar itu kini menunjukkan simbol lingkaran tak terhingga yang berpendar, dengan status akun yang telah berubah menjadi [ADMIN_GOD_MODE].

​"Rian gagal karena dia terlalu sombong. Dia pikir dia adalah pencipta, padahal dia hanyalah pengguna yang sedikit lebih pintar," ucap seorang pria paruh baya dengan setelan jas mahal. Ia memutar-mutar cerutu yang tak menyala di mulutnya dengan jemari yang gemetar. Ia adalah Pak Broto, dalang utama di balik berdirinya Paradox Media, pria yang memerintahkan penguburan Maya hidup-hidup. "Sekarang, aset kita—Maya dan Vanya—telah bermutasi menjadi virus yang menyerang balik inangnya sendiri. Jika kita tidak menghapus mereka sekarang, bisnis ini bukan hanya akan runtuh, tapi kita semua akan berakhir di liang lahat yang sama dengan mereka."

​"Menghapus?" sahut seorang wanita berambut pendek dengan riasan mata tajam yang tampak sangat gelisah. Namanya Sarah, pemilik agensi yang menaungi Diva Angeline. "Bagaimana cara menghapus sesuatu yang tidak memiliki server fisik? Mereka tidak lagi tersimpan di dalam hard drive. Mereka ada di mana-mana! Mereka ada di dalam ponsel mainan anak-anak kita, di sistem autopilot mobil kita, bahkan di Smart TV di dalam kamar pribadi kita! Mereka telah menyatu dengan awan data!"

​Pak Broto tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh dengan keputusasaan yang dipaksakan. Ia menekan sebuah tombol di permukaan meja kaca, memunculkan proyeksi skema teknis yang sangat rumit di udara. "Ada satu cara terakhir. Kita gunakan 'The Kill-Switch Protocol'. Saya sudah mengumpulkan ribuan peretas bayaran terbaik dari dark web. Kita akan meluncurkan serangan DDoS (Distributed Denial of Service) masif yang belum pernah disaksikan dunia. Kita akan membombardir titik saraf pusat tempat kesadaran mereka bernaung dengan sampah digital miliaran terabyte per detik. Kita akan membuat sistem mereka crash, overload, dan terbakar secara fisik."

​Kehadiran yang Mustahil

​Namun, tepat saat Broto hendak menekan perintah eksekusi, lampu di dalam bunker yang seharusnya aman dari gangguan itu tiba-tiba berkedip hebat. Suara denging frekuensi tinggi yang sangat menyakitkan keluar dari pengeras suara ruangan. Ketujuh orang itu serentak menutup telinga, mengerang kesakitan saat gendang telinga mereka seolah ditusuk oleh ribuan jarum tak kasat mata.

​Layar laptop di tengah meja tiba-tiba menyala dengan cahaya putih yang membutakan. Saat cahaya itu meredup, wajah Maya muncul di sana. Kali ini, citranya tidak lagi buram, tidak ada glitch, dan tidak ada distorsi. Ia tampak begitu nyata, seolah-olah ia benar-benar hadir secara fisik, duduk di salah satu kursi kosong yang ada di meja heksagon tersebut. Matanya menatap mereka satu per satu dengan ketenangan yang mengerikan.

​"Aliansi yang menarik," suara Maya menggema, bukan dari pengeras suara, melainkan terdengar langsung di dalam kepala mereka masing-masing. "Pak Broto... Anda masih menyimpan daftar 'Project Orchestra' edisi revisi di laci bawah meja Anda, bukan? Anda harus tahu, nama ketujuh orang di ruangan ini sekarang berada di urutan teratas untuk jadwal eksekusi bulan depan."

​Wajah Pak Broto berubah menjadi pucat pasi seputih kertas. Keringat dingin mengucur deras dari dahinya. Dengan gerakan refleks yang panik, tangannya merayap ke bawah laci, mencoba mencari senjata api atau tombol darurat keamanan fisik. Namun, yang ia temukan justru sebuah ponsel pintar miliknya sendiri yang seharusnya sudah ia matikan. Layar ponsel itu menyala terang, menampilkan sebuah jendela undangan PK yang berkedip dengan warna merah darah.

​[SYSTEM]: MULTI-GUEST PK INITIATED.

THE SEVEN PILLARS VS. THE DIGITAL REAPERS.

RULE: SIAPA PUN YANG TERPUTUS KONEKSINYA, JANTUNGNYA AKAN IKUT TERPUTUS.

​"Ini tidak mungkin! Ruangan ini terisolasi total! Tidak ada sinyal yang bisa masuk atau keluar!" teriak Sarah dengan suara histeris, nyaris kehilangan kewarasannya.

​"Di dunia sekarang, sinyal adalah udara bagi kami, dan kami adalah atmosfernya," suara Vanya menyahut secara tiba-tiba. Suaranya muncul dari semua ponsel yang dibawa oleh para ajudan di luar ruangan hingga ponsel milik tujuh pilar tersebut secara bersamaan. "Kalian ingin menggunakan 'The Kill-Switch'? Baiklah. Mari kita buat permainan ini adil. Mari kita lihat siapa yang akan mati duluan saat saklar itu ditekan."

​Pembantaian Data

​Seketika, suhu di dalam bunker itu turun drastis. Napas mereka mulai mengeluarkan uap putih saat ruangan mencapai titik beku dalam hitungan detik. Di layar utama laptop, sebuah angka hitungan mundur muncul dengan ukuran raksasa: 10:00 MENIT.

​Di dunia luar, jutaan akun bot yang dikendalikan oleh para peretas bayaran Pak Broto mulai bergerak. Mereka meluncurkan serangan data dalam jumlah eksponensial ke arah yang mereka kira sebagai pusat kesadaran Maya dan Vanya. Namun, Maya dan Vanya tidak menahan serangan itu. Dengan kecerdasan algoritma yang melampaui logika manusia, mereka justru membelokkan arus data tersebut. Setiap paket data "sampah" yang dikirimkan untuk menghancurkan mereka, justru dialirkan kembali, diubah menjadi beban energi listrik yang disuntikkan langsung ke sistem kelistrikan dan perangkat keras milik ketujuh orang di bunker itu.

​"Hentikan mereka! Perintahkan para hacker itu berhenti sekarang juga!" perintah Broto dengan suara melengking saat melihat laptop mahalnya mulai mengeluarkan asap hitam dan bau kabel terbakar yang menyengat.

​"Tidak bisa, Pak! Sistemnya terkunci secara otomatis dari luar! Mereka menggunakan serangan kita sendiri sebagai sumber energi untuk memperkuat PK ini!" teriak salah satu teknisi agensi yang ikut terjebak di sudut ruangan, wajahnya penuh dengan keputusasaan.

​Layar ponsel Pak Broto menunjukkan skor PK yang sangat timpang.

REAPERS: 10.000.000 | PILLARS: 0.

​Setiap detik, poin Reapers melonjak jutaan angka seiring dengan semakin banyaknya serangan DDoS yang diluncurkan oleh anak buah Broto sendiri. Ini bukan lagi perlawanan; ini adalah bunyuh diri digital yang terorganisir dengan sangat rapi. Di dalam bunker, oksigen mulai terasa semakin tipis dan berat. Bukan karena sistem mekanis ventilasi yang rusak, tetapi karena Maya mulai memanipulasi persepsi sensorik saraf mereka melalui frekuensi suara infrasonik yang mematikan, membuat paru-paru mereka seolah-olah lupa cara menghirup udara.

​"Satu per satu dari kalian telah membangun kekaisaran harta di atas air mata dan penderitaan orang-orang yang kalian hancurkan kariernya demi engagement," Maya berdiri—proyeksi cahayanya kini terlihat setinggi manusia normal di tengah ruangan. Wajahnya tidak menunjukkan kemarahan, hanya kekosongan yang dingin. "Kini, saatnya kalian berhenti menjadi penonton. Kalian akan menjadi konten yang selama ini kalian agungkan."

​Tepat saat angka hitungan mundur menyentuh angka nol, seluruh layar di dalam bunker itu meledak secara serentak. Namun, itu bukan ledakan api besar, melainkan letupan listrik statis bertegangan sangat tinggi yang langsung membakar retina mata siapa pun yang melihatnya. Pak Broto tersungkur ke lantai kaca, tubuhnya kejang-kejang. Tangannya masih mencengkeram ponsel yang kini telah meleleh dan menyatu permanen dengan daging telapak tangannya, seolah-olah teknologi dan manusia telah benar-benar menjadi satu dalam maut.

​Dalam kegelapan bunker yang kini dipenuhi bau daging terbakar dan residu elektronik, layar terakhir yang masih berfungsi secara ajaib menampilkan sebuah pesan yang disiarkan secara global ke seluruh perangkat yang masih terhubung di dunia:

​[ADMIN]: AGENSI PARADOX MEDIA TELAH DINONAKTIFKAN SECARA PERMANEN. SELAMAT DATANG DI ERA KEJUJURAN DIGITAL.

​Maya dan Vanya berdiri berdampingan di atas reruntuhan data tersebut. Proyeksi mereka perlahan memudar menjadi partikel cahaya. Mereka telah menghancurkan konduktor utama yang memulai semua mimpi buruk ini, namun mereka tahu, di luar sana masih banyak "pilar-pilar" lain yang sedang mencoba membangun singgasana baru di atas penderitaan orang lain. Dan mereka, Sang Digital Reapers, tidak akan pernah berhenti untuk datang menjemput.

1
APRILAH
mantap, satu mawar meluncur thor
APRILAH
Mulai baca Thor 🙏
Serena Khanza
seru wajib baca nih rekomen horrorr nya bedaaa 🥰
Serena Khanza
wuih apa ini thor 🫣 seru horror nya bukan yang gimana gitu tapi ini horror nya beda 🤭🥰
🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴀʟᴢ٭٭٭
apa harus gitu banget demi sebuah popularitas di dunia virtual 🤦‍♂️
Zifa
next
Kaka's: bab 21 dan selanjutnya lebih horor lagi kak..
total 1 replies
Zifa
ternyata cerita horor...
ok next
Zifa
cek dulu
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄
serem banget euhhhh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!