Pernikahan kontrak atau karena tekanan keluarga. Mereka tinggal serumah tapi seperti orang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Napas Terakhir yang Tertunda
Malam di rumah sakit selalu punya cara untuk terasa lebih panjang dari waktu normal. Bunyi pip dari monitor jantung Mas Fikar kini menjadi satu satunya melodi yang menemani kesunyianku di dalam ruang ICU yang dingin ini. Setelah memohon dengan sangat pada perawat, aku akhirnya diizinkan masuk. Aku hanya ingin duduk di samping tempat tidurnya, menggenggam tangannya yang kini terasa sangat kurus dan dipenuhi bekas luka memar. Tubuhnya yang dulu terlihat begitu gagah kini tampak sangat rapuh di bawah selimut putih rumah sakit yang kaku.
Mas... sudah pagi, bisikku parau. Suaraku hampir hilang, habis karena terlalu banyak menangis. Katanya kamu mau membuat lembaran baru denganku? Kenapa kamu justru tidur sepanjang ini?
Aku mengusap punggung tangannya perlahan dengan ibu jariku, berharap ada sedikit saja gerakan atau respons sekecil apa pun. Namun, Mas Fikar tetap bergeming. Wajahnya yang damai tertutup masker oksigen yang berembun setiap kali ia mengembuskan napas pendek. Di luar sana, aku tahu Ibu Sofia sedang duduk bersimpuh di lantai musala, menangisi segala dosa dan keangkuhannya. Tapi bagiku, permintaan maaf tidak akan berarti apa apa jika Mas Fikar tidak membuka matanya kembali.
Tiba tiba, monitor jantung di samping tempat tidur mengeluarkan bunyi yang berbeda. Garis yang tadinya naik turun secara teratur mendadak menjadi kacau balau. Bunyi peringatan yang melengking tajam seketika memenuhi ruangan kecil itu, memicu kepanikan di dadaku.
Mas? Mas Fikar! teriakku histeris.
Aku melihat tubuh Mas Fikar sedikit kejang. Matanya tetap tertutup rapat, namun napasnya terlihat sangat sesak seolah olah ada sesuatu yang menyumbat jalannya udara. Dokter dan beberapa perawat segera menghambur masuk ke dalam ruangan, bergerak cepat mendorongku menjauh dari tempat tidur.
Tekanan darahnya menurun drastis! Siapkan defibrilator! perintah dokter dengan suara tegas yang tidak bisa dibantah.
Aku dipaksa keluar dari ruangan. Di balik kaca ICU yang dingin, aku menyaksikan pemandangan paling mengerikan dalam hidupku. Mereka menggunting kemeja rumah sakit Mas Fikar, lalu menempelkan alat pacu jantung ke dadanya. Tubuh suamiku terhentak ke atas setiap kali sengatan listrik diberikan. Satu kali... dua kali... tidak ada perubahan yang berarti.
Ayo, Fikar! Jangan menyerah sekarang! teriak dokter itu lagi, mencoba memanggil kembali nyawa yang nyaris melayang.
Aku jatuh terduduk di depan pintu, menutup telingaku rapat rapat agar tidak mendengar bunyi mesin yang menandakan jantungnya berhenti berdetak. Ibu Sofia datang berlari dan langsung memelukku. Kami berdua menangis dalam ketakutan yang sama. Di saat itu, segala kasta, harta, dan kebencian antara aku dan ibu mertuaku lenyap tak berbekas. Kami hanyalah dua wanita yang sedang memohon dengan sangat agar pria yang kami cintai tidak diambil oleh maut.
Setelah beberapa menit yang terasa seperti ribuan tahun, bunyi mesin itu perlahan kembali ke ritme semula. Dokter keluar dengan keringat yang membasahi keningnya.
Kami berhasil mengembalikan detak jantungnya, ucap dokter dengan napas yang masih terengah. Tapi kondisinya semakin kritis. Beliau baru saja melewati fase henti jantung. Jika dalam beberapa jam ke depan tidak ada tanda tanda kesadaran, kami khawatir otaknya akan mengalami kerusakan permanen karena kekurangan oksigen.
Lututku benar benar mati rasa mendengar penjelasan itu. Aku meminta izin untuk kembali masuk. Kali ini, aku mendekatkan bibirku ke telinganya, seolah ingin membisikkan jiwaku ke dalam jiwanya. Aku tidak lagi memohon padanya untuk bangun demi cinta kami yang rumit. Aku berbicara tentang hal lain yang lebih nyata.
Mas... dengarkan aku, bisikku dengan getaran yang sangat dalam. Clara sudah ditangkap. Ibu sudah tahu semuanya. Kebenaran sudah menang, Mas. Kamu tidak punya beban lagi. Kamu tidak perlu merasa bersalah pada siapa pun. Tapi tolong, jangan tinggalkan aku di saat aku baru saja mulai memaafkanmu. Aku tidak ingin kemenangan ini terasa hambar hanya karena kamu tidak ada di sampingku.
Aku mencium keningnya yang dingin cukup lama, membiarkan rasa pahit ini terserap di sana. Air mataku jatuh tepat di pelupuk matanya. Dan saat itulah, sebuah keajaiban kecil terjadi. Aku merasakan jari manisnya, jari tempat aku dulu menyematkan kembali cincin pernikahan kami, bergerak sedikit. Sangat lemah, namun nyata. Kemudian, setetes air mata mengalir dari sudut matanya yang masih terpejam.
Dia mendengarku. Di balik kegelapan komanya, jiwanya sedang berjuang keras kembali menuju cahaya. Harapan yang tadi hampir padam kini menyala kembali, meski kecil namun cukup untuk membuatku tetap bertahan. Aku menyadari bahwa perjuangan kami belum benar benar usai, namun setidaknya, ia memilih untuk tetap bernapas meski dunia seolah memaksanya untuk berhenti.
aku kok bingung bacanya...
ntar giliran kewajiban nuntut, tp hak sbagai suami ga d jalankan.
ku doain semoga arini ketemu laki laki lain yang memperlakukan dia dgn baik, biar aris ini menyesal seumur hidup
Sedih
Tapi maaf sebelum nya, apa narasi nya ke copy dua kali🙏🙏 Soal nya ada bagian yg sama pas ngebahas perjanjian pernikahan mereka.