NovelToon NovelToon
Cinta Yang Lahir Dari Kekeliruan

Cinta Yang Lahir Dari Kekeliruan

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Hamil di luar nikah / Cinta Terlarang
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Pita Cantik

Lima tahun lalu, Olivia Elenora Aurevyn melakukan kesalahan fatal salah kamar dan mengandung anak dari pria asing. Ketakutan, ia kabur dan membesarkan Leon sendirian di luar negeri. Saat kembali ke Monako demi kesehatan psikologis Leon, takdir mempertemukannya dengan Liam Valerius, sang penguasa militer swasta. Ternyata, pria "salah kamar" itu adalah Liam. Kini, Liam tidak hanya menginginkan putranya, tetapi terobsesi memiliki Olive sepenuhnya melalui rencana pengejaran yang intens dan provokatif.

​Dialog Intens Liam kepada Olive
​"Setiap inci tubuhmu adalah milikku, jangan pernah berpikir untuk lari."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pita Cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15 PELUKAN SANG MONARCH DAN DEKAPAN PENYEMBUH

​Selasa, 15 April 2025, Musim Semi

​Aula utama hotel mewah keluarga Aurevyn perlahan mulai lengang seiring dengan berakhirnya acara peresmian yang spektakuler itu. Namun, meskipun tamu-tamu mulai berkurang, atmosfer di dalam ruangan masih terasa sangat berat bagi Olivia Elenora Aurevyn. Pengumuman perjodohannya dengan Liam Maximilian Valerius seolah menjadi bom atom yang meluluhlantakkan ketenangannya malam itu. Di sudut aula, para kepala keluarga masih terjebak dalam pembicaraan serius. Bramasta Yudha Aurevyn dan Hendrik Sebastian Valerius berdiri dengan wibawa mereka, membicarakan fondasi bisnis dan aliansi strategis yang jauh lebih dalam daripada sekadar sebuah hotel.

​Sementara itu, di sofa beludru yang nyaman, Karin Felicya (Feli) dan Zevanya Amelia (Vanya) tampak sangat kontras dengan suami mereka. Kedua wanita paruh baya itu sibuk menikmati teh cantik sambil sesekali tertawa kecil. Mereka adalah sahabat karib sejak masa muda, dan perjodohan anak-anak mereka adalah mimpi yang akhirnya menjadi nyata. Hubungan mereka begitu hangat, seolah waktu tidak pernah memudarkan kekompakan mereka meskipun sudah menjadi nenek dan ibu dari penguasa bisnis dunia.

​Di sisi lain, kehidupan pribadi para anggota The Royal Lustre juga bergerak maju. Kenzo Alistair dan Zaylee (Zee) sudah berpamitan pulang lebih awal; Kenzo harus memastikan tunangannya itu beristirahat setelah seharian penuh drama. Sedangkan Brian Sterling dan Vera Odile terlihat sedang berpamitan kepada Feli dan Vanya. Brian merangkul Vera dengan protektif, memberikan kecupan singkat di pelipis kekasihnya sebelum mereka melangkah keluar menuju parkiran VIP.

​Hanya tersisa Olive yang kini sedang berjuang sendirian di tengah aula. Leon Alexander, putra kecilnya, mulai merengek hebat. Kelelahan dan kebisingan acara membuat emosi anak berusia empat tahun itu menjadi tidak stabil.

​"Mama... pulang... mau tidur di rumah..." tangis Alex sambil menarik-narik gaun emerald green Olive yang indah.

​Olive mencoba menenangkan Alex, menggendongnya meski tubuhnya sendiri terasa sangat remuk setelah kejadian panas di kamar mandi tadi. "Iya, Sayang, sebentar ya. Mama cari Kakek dulu," bujuk Olive. Namun, Alex justru semakin rewel. Wajahnya memerah dan air matanya membasahi pundak Olive.

​Olive menatap orang tuanya yang masih sangat sibuk. Ia tidak tega mengganggu pembicaraan penting ayahnya dengan Hendrik Valerius. Di saat Olive merasa hampir putus asa, sebuah bayangan tinggi besar menaunginya.

​Tanpa suara, Liam Maximilian Valerius sudah berdiri di hadapannya. Tanpa meminta izin, lengan kekar Liam langsung merebut Alex dari gendongan Olive.

​"Biar aku," ucap Liam singkat dengan suara baritonnya yang menenangkan.

​Olive terkejut. Ia mengira Alex akan berontak karena Liam adalah orang yang baru beberapa kali ditemuinya. Namun, yang terjadi justru di luar nalar. Saat kepala Alex bersandar di dada bidang Liam yang keras namun hangat, isakan anak itu perlahan mereda. Liam menepuk-nepuk punggung Alex dengan gerakan yang sangat perkasa namun penuh kelembutan. Hanya butuh waktu kurang dari lima menit sampai napas Alex menjadi teratur anak itu terlelap dengan sangat lelap dalam dekapan sang Monarch.

​"Dia luluh denganmu?" bisik Olive tak percaya, menatap wajah damai Alex.

​Liam menatap Olive dengan mata elangnya, namun kali ini tatapannya jauh lebih hangat. "Dia tahu siapa yang bisa melindunginya. Ayo, aku antar kalian pulang."

​Olive melihat betapa nyamannya Alex di pelukan Liam. Ia tahu Alex adalah anak yang sangat pemilih terhadap orang baru, namun dengan Liam, Alex seolah menemukan rumah. Akhirnya, Olive mengangguk pelan. "Terima kasih, Liam."

​BAB 15: RAHASIA DI BALIK PINTU PAVILLIUN

​Mobil Rolls-Royce hitam milik Liam melaju membelah jalanan Monte Carlo yang diterangi lampu-lampu kota. Di kursi kemudi, Marcus menyetir dengan sangat hati-hati, hampir tidak ada guncangan sama sekali. Liam telah memberikan instruksi tegas : jika mobil bergoyang sedikit saja dan membangunkan penumpang di belakang, Marcus bisa menganggap hari itu sebagai hari terakhirnya bekerja.

​Di kursi belakang, Alex masih tidur pulas di pangkuan Liam. Liam membiarkan tangan kecil Alex mencengkeram kemeja mahalnya. Sementara itu, Olive yang duduk di samping mereka perlahan-lahan mulai kehilangan kesadaran karena kelelahan yang luar biasa. Kepala Olive terkulai ke arah jendela, hampir membentur kaca pintu mobil.

​Dengan gerakan yang sangat halus agar tidak membangunkan Alex, Liam mengulurkan tangan bebasnya dan menarik kepala Olive agar bersandar di pundaknya.

​"Tidurlah, Kupu-Kupu Kecilku," gumam Liam sangat pelan.

​Marcus melirik melalui spion tengah dan hampir saja menginjak rem mendadak karena terkejut melihat sisi "hangat" tuannya. Liam yang menyadari itu langsung memberikan tatapan mematikan melalui spion. "Marcus, fokus ke jalan atau kau akan mati sebelum sampai di gerbang Aurevyn," bisik Liam penuh ancaman. Marcus segera membuang muka dan berkonsentrasi penuh pada kemudi.

​Sesampainya di paviliun, Liam membangunkan Olive dengan bisikan lembut di telinganya. Olive tersentak, merasa malu karena tidak sadar telah menjadikan pundak calon suaminya sebagai bantal. Mereka turun dari mobil, dan Liam tetap menggendong Alex menuju pintu masuk paviliun.

​Saat pintu terbuka, Olive mencoba mengambil Alex. "Liam, biar aku bawa dia ke kamar. Kau pasti lelah."

​Namun, Alex justru merengek dalam tidurnya. Tangan kecilnya semakin erat memeluk leher Liam, seolah takut pria itu akan menghilang. Olive merasa tidak enak hati, namun ia juga tidak punya pilihan lain. "Maaf, sepertinya dia benar-benar tidak mau lepas. Bisakah kau membawanya ke kamarnya?"

​Liam hanya mengangguk pelan, menyembunyikan senyum kemenangannya. Ia melangkah masuk ke dalam paviliun yang bernuansa modern-minimalis itu, menuju kamar Alex yang dipenuhi mainan mewah. Dengan sangat hati-hati, Liam meletakkan tubuh kecil Alex di ranjang empuknya, menyelimutinya hingga sebatas dada.

​Olive berdiri di ambang pintu, menatap pemandangan itu dengan perasaan haru. "Terima kasih banyak, Liam. Kau sangat membantu malam ini."

​Liam menegakkan tubuhnya, berbalik menatap Olive dengan tatapan menggoda. "Terima kasih saja tidak cukup, Olive."

​"Lalu, bagaimana aku harus berterima kasih?" tanya Olive dengan polos, matanya yang hazel menatap Liam tanpa curiga.

​Liam melangkah mendekat, memperkecil jarak di antara mereka hingga Olive bisa mencium aroma wood and spice dari tubuh Liam. Liam menunjuk pipinya sendiri. "Cium aku di sini."

​Wajah Olive memerah padam. "L-Liam! Tidak mau!"

​Namun, Liam jauh lebih cepat. Bukannya pipi, bibir Liam justru menyambar bibir hati Olive dalam sebuah kecupan singkat namun sangat manis dan lembut berbeda jauh dengan ciuman ganas mereka di kamar mandi tadi. "Simpan sisanya untuk malam pernikahan kita," bisik Liam dengan smirk yang membuat lutut Olive lemas.

​Baru saja Liam berbalik ingin pamit pulang, sebuah suara jeritan pecah dari arah ranjang.

​"TIDAAAK! JANGAN PERGI! JANGAN TINGGALKAN ALEX!"

​Alex terbangun dengan tubuh bergemetar hebat. Keringat dingin mengucur di dahinya, dan matanya membelalak ketakutan. Mimpi buruk itu kembali lagi trauma masa lalu yang selalu menghantuinya sejak di London. Alex menangis histeris, napasnya memburu tidak teratur.

​Olive dan Liam panik secara bersamaan. Mereka berdua berlari ke arah ranjang dan memeluk Alex dari kedua sisi.

​"Mama di sini, Sayang! Mama di sini!" seru Olive sambil menangis, mencoba memeluk putranya.

​Namun kali ini, Alex tidak hanya mencari Olive. Tangan kecilnya meraih jas Liam, menariknya kuat-kuat. "Papa... Papa jangan pergi... Alex takut... orang jahat itu mau ambil Mama dan Alex..."

​Hati Liam seolah diremas melihat kehancuran di mata anak yang sebenarnya adalah darah dagingnya sendiri itu. Tanpa pikir panjang, Liam memeluk Alex dan Olive sekaligus dalam satu lingkaran lengannya yang kuat. "Sshhh... Papa di sini, Alex. Tidak ada yang akan menyakitimu. Aku berjanji."

​Tangisan Alex mereda perlahan, namun ia tetap sesenggukan. "Papa... menginap? Jangan pulang?" pinta Alex dengan mata yang sangat imut dan memohon.

​Olive menatap Liam dengan bingung. Ia belum siap membiarkan seorang pria menginap di paviliun pribadinya. Namun, melihat kondisi Alex yang masih gemetar, ia tidak punya pilihan. Liam segera merogoh ponselnya, menghubungi Marcus yang masih menunggu di luar.

​"Marcus, pulanglah. Aku menginap di paviliun Nona Olive. Bawakan pakaian ganti besok pagi," perintah Liam mutlak.

​Olive hanya bisa mengangguk pasrah. Namun, permintaan Alex belum berakhir. "Mama... Papa... tidur di sini? Sama Alex?"

​"Tapi ranjang ini kecil untuk Papa Liam, Sayang," bujuk Olive.

​"Bisa! Alex di tengah!" Alex memohon dengan wajah yang tidak mungkin bisa ditolak oleh siapa pun di dunia ini.

​Akhirnya, malam itu suasana paviliun menjadi sangat berbeda. Setelah ketiganya melakukan rutinitas cuci muka dan sikat gigi bersama yang terasa sangat seperti sebuah keluarga kecil yang bahagia mereka naik ke ranjang Alex. Liam mengenakan pakaian tidur milik Brian yang memang sengaja ditinggalkan di paviliun untuk keadaan darurat; meskipun agak sedikit ketat di bagian bahu Liam yang lebar, ia tidak mengeluh.

​Alex tertidur di tengah, satu tangannya memegang tangan Olive dan tangan lainnya menggenggam jempol Liam. Saat napas Alex dan Olive mulai teratur menandakan mereka telah terlelap, Liam perlahan membuka matanya.

​Dalam keremangan cahaya lampu tidur, Liam mencium pucuk kepala Alex dengan penuh kasih sayang, lalu beralih memberikan ciuman lembut di kening Olive. Ia menatap wajah tidur Olive dengan tatapan yang sangat posesif dan penuh tekad.

​"Kalian adalah milikku," bisik Liam dalam hati. "Larilah sejauh yang kau mau, Olivia. Tapi aku bersumpah, jika kau mencoba pergi lagi, aku akan menanamkan benihku sedalam mungkin hingga kau tidak akan punya pilihan selain tetap berada di sisiku selamanya."

​Malam itu, di bawah langit Monte Carlo yang tenang, sang Monarch Besi akhirnya menemukan kedamaian yang belum pernah ia rasakan selama lima tahun terakhir. Ia tidak akan membiarkan Kupu-Kupu Emasnya terbang menjauh lagi, tidak untuk kedua kalinya.

1
Gibran AnamTriyono
bagus kak ceritanya
Butterfly🦋: makasih sudah membaca semoga suka ceritanya ya🤭😍
total 1 replies
Gibran AnamTriyono
mampir kak , semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!