Perasaan Kaylee Lumiere didasari oleh kasih sayang yang begitu besar sehingga ia rela menomorduakan kebahagiaannya sendiri.
Ia lebih memilih mendengarkan cerita cinta Atlas Theodore dengan wanita lain daripada mengambil risiko menyatakan cinta dan kehilangan kehadiran Atlas selamanya. Baginya, "memiliki Atlas sebagai sahabat" jauh lebih baik daripada "kehilangan Atlas karena cinta yang ditolak."
Kaylee Sudah ahli Menekan rasa cemburu, sesak napas, dan teriakan di dalam hati yang ingin mengatakan, "Seharusnya aku yang ada di posisi itu."
Kaylee merasa seperti berdiri di balik kaca bening. Ia bisa melihat Atlas dengan sangat jelas, menyentuhnya, dan mengetahui setiap rahasia terkecilnya, namun ada penghalang tak kasat mata yang mencegahnya untuk melangkah lebih jauh. Ia adalah orang paling dekat, sekaligus orang paling jauh dari hati Atlas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan-Pertemuan di Balik Punggung Atlas
Selama sebulan terakhir, takdir seolah sedang mempermainkan Atlas. Meski Atlas sudah berusaha menjadi bayangan Kaylee, jadwal kuliah tingkat akhir yang padat memaksanya sesekali membiarkan Kaylee sendirian di area kampus. Dan entah mengapa, di celah-celah waktu itulah Aadzey selalu muncul.
Aadzey ternyata bukan hanya pria biasa, dia adalah mahasiswa pindahan di fakultas hukum yang lokasinya tepat di sebelah gedung DKV tempat Kaylee belajar. Pertemuan mereka menjadi terlalu sering untuk disebut sebagai kebetulan.
Waktu Itu Di Perpustakaan Pusat, Saat Kaylee sedang kesulitan membawa tumpukan buku referensi desain yang berat, Aadzey muncul dan langsung mengambil alih tanpa diminta.
"Atlas sedang sibuk di studio maket, kan? Biar aku bantu, Kaylee. Jangan dipaksa, tanganmu terlalu berharga untuk memar," ucap Aadzey dengan nada yang jauh lebih lembut dan tenang daripada Atlas yang meledak-ledak.
Dan Di siang Harinya. Di Kafe Dekat Kampus, Saat hujan deras mengguyur Helsinki, Kaylee terjebak tanpa payung. Aadzey duduk di meja sebelah, menyodorkan segelas cokelat panas dengan kayu manis. "Aku ingat kamu suka vanila, tapi kayu manis bagus untuk menghangatkan tubuh di cuaca seperti ini," ujarnya. Mereka mengobrol selama tiga puluh menit, dan Kaylee mendapati bahwa Aadzey adalah pendengar yang luar biasa, sangat berbeda dengan Atlas yang selalu mendominasi pembicaraan.
Keesokan Harinya. Di Taman Kampus, Aadzey sering ditemukan sedang membaca buku di bawah pohon tempat Kaylee biasa menunggu jemputan Atlas. "Kucingku, Milo, sepertinya merindukanmu, Kay. Dia tidak mau makan kalau tidak mencium aroma parfummu yang tertinggal di jaketku waktu itu," candanya yang membuat Kaylee tertawa lepas.
Kaylee tidak berniat selingkuh. Dia mencintai Atlas, sangat mencintainya. Namun, kehadiran Aadzey memberikan sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan dari Atlas, ketenangan. Bersama Atlas, hidupnya penuh gairah, adrenalin, dan posesif yang kadang mencekik. Bersama Aadzey, Kaylee merasa seperti manusia biasa, bukan sekadar milik seseorang.
Suatu sore, Atlas mendapati Kaylee sedang tersenyum menatap layar ponselnya.
"Siapa, Ay?" tanya Atlas sambil merangkul pundak Kaylee dari belakang, matanya mencoba mengintip.
Kaylee dengan cepat mematikan layar ponselnya. "Bukan siapa-siapa, At. Cuma grup kelas."
Atlas terdiam. Instingnya mengatakan ada yang salah. Aroma parfum Kaylee hari itu sedikit berbeda, dan ada binar di mata gadis itu yang bukan berasal dari dirinya.
"Jangan bohong sama gue, Kay," bisik Atlas di telinganya, suaranya rendah namun penuh ancaman. "Gue tahu Aadzey sering ada di sekitar lo sebulan ini. Gue diam bukan berarti gue buta."
Atlas memutar tubuh Kaylee, menatapnya dengan tatapan terluka sekaligus marah. "Lo mulai suka sama dia karena dia baik dan nggak jelek kayak gue? Lo mulai bandingin gue sama dia?"
Kaylee terpaku. "At, dia cuma teman..."
"Nggak ada laki-laki yang cuma mau jadi teman lo, Kay! Gue contohnya!" Atlas berteriak frustrasi, lalu tiba-tiba ia menarik Kaylee ke dalam pelukan yang sangat sesak.
"Gue udah bilang kan, lo itu punya gue. Surat perjodohan itu, ciuman kita... itu semua nyata. Jangan buat gue harus ngelakuin hal yang nekat buat nyingkirin dia dari hidup lo."
Kaylee menatap mata Atlas yang berkilat penuh amarah dan ketakutan itu. Di balik tatapan tajam pria itu, Kaylee melihat sesuatu yang ironis, Atlas Theodore, pria yang begitu percaya diri dan dominan, ternyata bisa begitu rapuh hanya karena kehadiran pria asing seperti Aadzey.
Dalam hati, Kaylee tertawa. Tawa yang getir sekaligus geli.
Bagaimana mungkin pria jenius ini bisa sebodoh itu? Bagaimana mungkin dia mengira cinta yang sudah mengakar selama puluhan tahun, yang sudah melewati ribuan malam di mansion yang sama, bisa goyah hanya karena segelas cokelat hangat atau bantuan membawa buku dari Aadzey?
"Lo beneran mikir gitu, At?" tanya Kaylee pelan, suaranya sangat tenang, kontras dengan napas Atlas yang memburu.
"Kenapa nggak? Lo senyum pas chatting sama dia, lo biarin dia ada di sekitar lo!" Atlas mendengus, tangannya masih mencengkeram bahu Kaylee posesif.
Kaylee melepaskan tangan Atlas dari bahunya, lalu melangkah satu langkah lebih dekat hingga dada mereka bersentuhan. Ia menatap langsung ke dalam manik mata Atlas.
"Gue emang sengaja, At. Sebulan ini, gue biarin dia mendekat supaya gue tahu... kapan lo bakal berhenti pake kata saudara, berhenti pake kata jagain, dan mulai pake kata yang seharusnya," bisik Kaylee dengan nada menantang.
Kaylee menyentuh rahang tegas Atlas dengan jemarinya yang dingin. "Gue butuh dengar itu, Atlas. Bukan surat perjodohan dari Mommy, bukan ciuman posesif karena lo cemburu, tapi kata-kata dari mulut lo sendiri. Kenapa susah banget buat lo bilang kalau lo cinta sama gue?"
Atlas tertegun. Lidahnya kelu. Selama ini ia merasa tindakannya, posesif, ciumannya, cara ia menyingkirkan pria lain. sudah lebih dari cukup sebagai bukti. Namun ia lupa, bagi seorang wanita, kata-kata adalah jangkar.
Melihat Atlas yang terdiam, Kaylee tersenyum tipis. "Gue nggak butuh Aadzey, At. Gue cuma butuh kepastian kalau gue bukan cuma tanggung jawab lo karena surat itu. Di hati gue nggak pernah ada ruang buat orang lain, bahkan sejak kita masih kecil. Lo yang paling tahu itu."
Mendengar kejujuran Kaylee yang telanjang, pertahanan Atlas runtuh. Rasa cemburu buta yang tadi membakarnya kini berubah menjadi rasa bersalah yang dalam. Ia menarik Kaylee ke dalam pelukan yang lebih lembut, membenamkan wajahnya di rambut Kaylee.
"Gue takut, Kay... Gue takut kalau gue bilang itu, semuanya jadi terlalu nyata dan gue bakal makin takut kehilangan lo," gumam Atlas jujur, suaranya bergetar.
Ia menjauhkan sedikit wajahnya, menatap Kaylee dengan tatapan yang paling tulus yang pernah ada. "Gue cinta sama lo, Kaylee Lumiere. Gue cinta sama lo jauh sebelum gue tahu soal surat perjodohan itu. Gue cinta sama lo sampai rasanya mau gila setiap kali ada cowok lain yang liat kecantikan lo."
Kaylee akhirnya mendengar itu. Kata-kata yang selama bertahun-tahun ia simpan sendiri di dalam hatinya kini bergema di udara Helsinki yang dingin.
"Nah, gitu dong. Kan nggak jelek-jelek amat kalau lo jujur," goda Kaylee sambil mencubit pinggang Atlas, mencoba mencairkan suasana.
Atlas tertawa, kali ini tawa yang benar-benar lega. Ia mengecup bibir Kaylee dengan lembut, bukan lagi karena posesif, tapi karena kasih sayang yang meluap. "Awas ya, mulai besok jangan berani-berani lo manfaatin cowok lain cuma buat manasin gue. Gue bisa beneran pindahin kampus lo ke dalem mansion biar nggak ada yang liat."
🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 😍