Cerita mengikuti Chen Wei, seorang pemuda dari keluarga Cina yang menjadi penerus kekuatan Mata Naga Biru – salah satu dari tiga artefak kuno yang mampu membangkitkan atau mengalahkan Kaisar Naga, makhluk yang pernah hampir menghancurkan dunia. Setelah kampung halamannya dihancurkan oleh Sekte Darah Naga yang mencari ketiga mata naga untuk menguasai dunia, Chen Wei memulai perjalanan panjang untuk melindungi artefak tersisa, belajar mengendalikan kekuatan naga dalam dirinya, dan mengumpulkan sekelompok sahabat yang setia.
Melalui ujian yang penuh bahaya, pertempuran dengan musuh yang kuat, dan pengungkapan rahasia sejarah keluarga serta hubungan dengan musuhnya, Chen Wei harus memilih antara menggunakan kekuatan untuk membalas dendam atau untuk melindungi keseimbangan alam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reijii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 5: Kuil Naga Kuning dan Penjaga Yang Tersembunyi
Awan putih melayang seperti kapas di sekitar puncak gunung saat Chen Wei dan Li Hao mendekati Kuil Naga Kuning. Kubah putih kuil itu bersinar di bawah sinar matahari, dan suara lonceng kecil yang merdu terdengar dari dalam kompleks bangunan kayu dan batu yang indah. Di sekitar kuil tumbuh berbagai jenis bunga langka dengan warna kuning keemasan, yang mengeluarkan aroma harum yang menenangkan.
Saat mereka ingin memasuki gerbang utama kuil, seorang wanita muda berpakaian baju kuning muda muncul menghadang jalannya. Dia memiliki rambut hitam yang diikat dengan jepit rambut berbentuk bunga, dan mata yang jernih seperti air sungai. Di tangannya memegang sebuah tanduk kayu yang diukir dengan pola naga kuning.
“Siapa kalian dan apa maksud kalian datang ke Kuil Naga Kuning?” tanyanya dengan suara lembut tapi penuh kekuatan. Wajahnya menunjukkan rasa waspada yang jelas.
Chen Wei mengeluarkan surat dari kantong kulit yang diberikan Mei Hua. “Nama saya Chen Wei, ahli waris keluarga Chen dan penerus Mata Naga Biru. Saya datang dengan surat dari Mei Hua untuk menemui Lin Xue, penjaga Mata Naga Kuning.”
Wanita itu menerima surat dan membacanya dengan cermat. Ekspresi wajahnya berubah dari waspada menjadi terkejut. “Saya tidak menyangka akan melihat penerus Mata Naga Biru di sini. Nama saya Liu Qing – murid dari Lin Xue. Ibu Lin sedang menunggu kedatanganmu. Mari saya bawa kamu masuk.”
Di dalam kuil, mereka menemukan sebuah halaman besar dengan kolam kecil yang di tengahnya ada patung naga kuning yang memuntahkan air. Di bagian dalam utama kuil, seorang wanita berusia sekitar lima puluhan dengan rambut beruban yang diikat rapi sedang duduk di depan altar kayu yang megah. Di atas altar itu ada sebuah kristal kuning besar yang mengeluarkan cahaya hangat – Mata Naga Kuning.
“Situlah Lin Xue,” bisik Liu Qing dengan penuh hormat.
Chen Wei dan Li Hao berjalan mendekat dan melakukan salam hormat. “Ibu Lin Xue,” ucap Chen Wei dengan sopan. “Saya Chen Wei. Mei Hua mengirim saya untuk memberitahu Anda bahwa Sekte Darah Naga akan menyerang kuil ini dalam waktu beberapa hari untuk mengambil Mata Naga Kuning.”
Lin Xue berdiri perlahan dan melihat Chen Wei dengan cermat. Matanya yang tajam seolah bisa melihat jauh ke dalam dirinya. “Aku sudah merasakan kehadiranmu, ahli waris Chen. Getaran kekuatan Naga Biru yang kamu bawa sudah lama tidak terasa di pegunungan ini. Kamu datang tepat waktu.”
Dia mengundang mereka untuk duduk di sekitar meja kayu di bagian belakang kuil, di mana teh panas sudah siap disajikan. “Sekte Darah Naga telah mengirim mata-mata mereka ke sini selama beberapa minggu. Aku tahu bahwa mereka akan datang – mereka tidak bisa menyembunyikan niat jahat mereka dari alam yang mengelilingi kuil ini.”
“Apakah kita sudah siap menghadapi mereka, Ibu Lin?” tanya Li Hao dengan suara penuh semangat. “Kami akan membantu melindungi kuil dan Mata Naga Kuning dengan segenap kekuatan kami.”
Lin Xue tersenyum lembut. “Kebaikan hati kamu sangat dihargai, anak muda. Tapi Sekte Darah Naga tidak datang dengan sedikit orang. Mereka akan membawa pasukan yang kuat, termasuk beberapa pendekar tingkat tinggi yang telah mendapatkan kekuatan dari sebagian energi Mata Naga Merah yang mereka curi.”
Dia kemudian melihat ke arah Chen Wei. “Sebelum mereka datang, aku akan mengajarmu sesuatu yang penting tentang kekuatan naga. Ketiga mata naga tidak hanya sumber kekuatan fisik – mereka juga mewakili prinsip-prinsip hidup yang berbeda. Mata Naga Biru mewakili kelincahan dan kebijaksanaan, Mata Naga Kuning mewakili penyembuhan dan keseimbangan, dan Mata Naga Merah mewakili kekuatan dan keberanian.”
“Kamu telah memiliki dasar yang baik dalam mengendalikan kekuatan Naga Biru,” lanjutnya sambil berdiri dan mengangkat tangannya ke arah Mata Naga Kuning. Cahaya kuning dari kristal itu menyebar ke seluruh ruangan. “Tetapi untuk menghadapi Sekte Darah Naga, kamu perlu memahami bagaimana kekuatan ketiga naga bisa bekerja bersama-sama. Aku akan mengajarmu teknik penyembuhan dasar dari Naga Kuning – ini akan sangat berguna untukmu dan teman-temannya dalam pertempuran yang akan datang.”
Selama tiga hari berikutnya, Chen Wei belajar dengan giat di bawah bimbingan Lin Xue. Dia belajar bagaimana menggunakan energi alam untuk menyembuhkan luka, bagaimana menjaga keseimbangan dalam tubuhnya agar kekuatan Naga Biru tidak keluar kendali, dan bagaimana berkomunikasi dengan alam sekitar untuk merasakan bahaya yang akan datang. Liu Qing juga bergabung dalam pelajaran mereka, dan dia mengajarkan Chen Wei dan Li Hao tentang medan perang di sekitar pegunungan yang bisa dimanfaatkan saat pertempuran terjadi.
Pada malam hari keempat, angin mulai bertiup kencang, membawa dengannya rasa bahaya yang menyelimuti kuil. Lin Xue keluar ke halaman dan melihat ke arah langit yang mendung. “Mereka datang,” katanya dengan suara tenang tapi tegas. “Mereka tidak bisa menunggu lagi – mereka merasa bahwa kekuatan mereka sudah cukup untuk mengambil Mata Naga Kuning.”
Chen Wei merasakan Mata Naga Biru di dadanya mulai bersinar lebih terang. Dia mengeluarkan pedang Bintang Biru dan mempersiapkan diri. Li Hao juga mengambil tongkat kayu yang selalu dia bawa, dengan wajah penuh tekad. Liu Qing berdiri di sisi Lin Xue, dengan tanduk penyembuhnya siap digunakan.
Dari arah bawah pegunungan, muncul segerombolan orang berpakaian hitam dengan lambang naga merah di dada mereka. Di depan mereka berjalan Zhang Hu bersama dengan seorang pria tua dengan wajah yang penuh bekas luka dan mata yang menyala dengan cahaya merah samar – Zhang Tian, kepala Sekte Darah Naga dan ayah kandung Zhang Hu.
“Lin Xue!” teriak Zhang Tian dengan suara yang menggema di antara pegunungan. “Serahkan Mata Naga Kuning kepada kami sekarang juga! Dengan menggabungkannya dengan Mata Naga Merah yang kami miliki, kami akan membangkitkan Kaisar Naga dan membawa kedatangan zaman baru!”
Lin Xue berdiri tegak dengan sikap yang gagah. “Kamu tidak akan mendapatkan apa-apa dari sini, Zhang Tian. Kita telah menjaga keseimbangan dunia selama berabad-abad, dan kita tidak akan membiarkanmu menghancurkannya demi keserakahanmu!”
Chen Wei melangkah ke depan, mata kanannya mulai berubah warna menjadi biru kebiruan. “Zhang Hu! Kamu yang menghancurkan kampung halamanku dan membunuh keluargaku. Hari ini aku akan menghentikanmu!”
Zhang Hu melihatnya dengan tatapan yang bercampur antara kebencian dan kebingungan. “Bocah kecil itu? Aku tidak bisa percaya kamu masih hidup. Tapi kali ini, kamu tidak akan bisa melarikan diri lagi!”
Angin bertiup semakin kencang, dan awan gelap mulai menutupi langit. Pertempuran yang akan menentukan nasib Mata Naga Kuning telah dimulai – sebuah pertempuran yang akan mengajarkan Chen Wei tentang arti sebenarnya dari kekuatan dan pengorbanan.