Nala Aristha hanyalah "putri yang tidak diinginkan" di keluarga Aristha. Selama bertahun-tahun, ia hidup di bawah bayang-bayang kakaknya yang sempurna, Bella.
Ketika keluarga Aristha terancam bangkrut, satu-satunya jalan keluar adalah memenuhi janji pernikahan tua dengan keluarga Adhitama. Namun, calon mempelai prianya, Raga Adhitama, dirumorkan sebagai pria cacat yang kejam, memiliki wajah hancur akibat kecelakaan, dan temperamen yang mengerikan.
Bella menolak keras dan mengancam bunuh diri. Demi menyelamatkan nama baik keluarga, Nala dipaksa menjadi "mempelai pengganti". Ia melangkah ke altar dengan hati mati, bersiap menghadapi neraka.
Namun, di balik pintu kamar pengantin yang tertutup rapat, Nala menemukan kebenaran yang mengejutkan. Raga Adhitama bukanlah monster seperti rumor yang beredar. Dia adalah pria dengan sejuta rahasia gelap, yang membutuhkan seorang istri hanya sebagai tameng.
"Jadilah istriku yang patuh di depan dunia, Nala. Dan aku akan memberikan seluruh dunia in
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hazard111, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Ambisi dalam Diam dan Panggung Sandiwara
Waktu seolah memiliki sayap di dalam Adhitama Estate.
Tanpa terasa, satu minggu telah berlalu sejak Nala resmi menyandang status sebagai Nyonya Adhitama. Kehidupan di mansion yang dulunya sunyi itu kini memiliki ritme baru yang lebih hidup. Jika sebelumnya rumah itu terasa seperti museum yang dingin dan tak berpenghuni, kini ada jejak-jejak kehidupan yang hangat di setiap sudutnya.
Ada aroma cat minyak yang samar tercium dari arah sayap timur. Ada suara langkah kaki ringan Nala yang menuruni tangga setiap pagi. Dan yang paling mengejutkan bagi para pelayan, ada suara tawa kecil yang sesekali terdengar dari ruang makan saat sarapan, sebuah suara yang sudah lima tahun absen dari rumah itu.
Siang itu, matahari bersinar malu-malu di balik awan putih yang berarak.
Nala berada di dalam studio lukisnya. Ia sedang bergulat dengan sebuah masalah teknis. Ia membutuhkan kuas fan brush ukuran besar untuk membuat tekstur awan pada lukisan terbarunya, namun kuas itu tersimpan di rak paling atas lemari penyimpanan.
Nala mendongak, mengukur ketinggian lemari kayu jati itu. Tingginya hampir tiga meter. Jelas tidak terjangkau oleh tubuh mungilnya.
Biasanya ia akan memanggil Pak Hadi atau pelayan lain untuk membantu, namun hari ini ia merasa enggan mengganggu mereka. Ia baru saja melihat para pelayan sibuk membersihkan lampu kristal gantung di ruang tamu utama untuk persiapan acara bulanan. Ia tidak ingin menjadi nyonya yang manja dan menyusahkan.
Nala mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Matanya tertumbuk pada sebuah kursi kayu bulat yang biasa ia gunakan untuk menaruh palet cat. Kursi itu terlihat cukup kokoh.
"Aku bisa melakukannya sendiri," pikir Nala optimis.
Ia menyeret kursi itu mendekati lemari. Dengan hati-hati, Nala menaikkan gaun panjangnya sedikit agar tidak terserimpet, lalu memanjat naik ke atas kursi. Ia berjinjit, mengulurkan tangannya setinggi mungkin untuk menggapai gagang kuas yang menyembul di ujung rak.
Sedikit lagi. Ujung jarinya sudah menyentuh bulu kuas itu.
Nala berjinjit lebih tinggi, menumpukan seluruh berat badannya pada satu kaki untuk meraih benda itu.
Tiba-tiba, bencana kecil itu terjadi.
Salah satu kaki kursi yang ternyata tidak rata bergeser di atas lantai kayu yang licin. Keseimbangan Nala goyah seketika.
"Aaah!" pekik Nala tertahan.
Tubuhnya limbung ke belakang. Gravitasi menariknya jatuh. Dalam sepersekian detik itu, Nala memejamkan mata, bersiap merasakan sakitnya punggung yang menghantam lantai keras. Ia membayangkan tulang ekornya akan retak atau kepalanya akan benjol.
Namun, sebelum tubuhnya menghantam lantai, sebuah tangan yang kuat mencengkeram pergelangan tangannya.
Nala tersentak, tubuhnya bergelantungan sesaat sebelum ditarik dengan kasar namun menyelamatkan.
Bruk.
Nala jatuh terduduk di lantai, tepat di samping roda kursi roda yang besar. Napasnya memburu, jantungnya berdetak kencang seolah mau melompat keluar dari rongga dada. Ia mendongak dengan wajah pucat.
Di atasnya, Raga menatap dengan mata menyala-nyala karena marah. Tangan pria itu masih mencengkeram lengan Nala erat-erat. Cengkeraman itu begitu kuat hingga Nala yakin akan meninggalkan bekas merah. Raga rupanya meluncurkan kursi rodanya dengan kecepatan penuh tepat pada waktunya untuk menangkap Nala sebelum kepalanya membentur lantai.
"Apa kau sudah bosan hidup?" desis Raga, suaranya rendah namun penuh amarah yang menakutkan.
Nala gemetar. "Tuan... maaf..."
"Apa gunanya aku menggaji puluhan pelayan di rumah ini kalau kau malah memanjat lemari seperti orang bodoh?" bentak Raga, melepaskan tangan Nala dengan kasar. "Kalau kau jatuh dan lehermu patah, siapa yang akan repot? Aku tidak butuh mayat di rumahku!"
Nala menunduk, air mata menggenang di pelupuk matanya karena kaget dan dimarahi. "Saya hanya ingin mengambil kuas... Saya tidak mau merepotkan Pak Hadi."
Raga menghela napas kasar, menyisir rambutnya ke belakang dengan frustrasi. Wajahnya terlihat tegang. Jelas sekali pria itu panik melihat istrinya hampir celaka.
"Lain kali panggil pelayan. Atau panggil aku. Jangan bertindak bodoh," ucap Raga, nadanya sedikit melunak meski masih ketus. "Berdirilah. Kau terlihat menyedihkan di lantai."
Nala buru-buru berdiri, membersihkan debu di gaunnya. Ia melirik Raga. Pria itu tampak duduk kaku di kursi rodanya, tangannya mencengkeram sandaran tangan.
"Maafkan saya, Tuan," ucap Nala lagi.
"Sudahlah," Raga memutar kursi rodanya, membelakangi Nala sejenak untuk menenangkan diri. "Aku ke sini bukan untuk melihat atraksi sirkusmu, tapi untuk memberimu kabar."
"Kabar apa, Tuan?" Nala mencoba mengalihkan rasa bersalahnya.
"Ingat lukisan pertamamu? Yang kau beri judul 'Pejuang Luka'?" tanya Raga tanpa menoleh.
"Ya, Tuan. Lukisan yang dipajang di ruang kerja Tuan."
"Lukisan itu sudah tidak ada di sana," kata Raga.
Nala terkejut. "Kenapa? Tuan membuangnya? Apa lukisannya jelek?"
Raga memutar kursinya kembali menghadap Nala. Senyum tipis dan penuh arti tersungging di bibirnya.
"Tidak. Lukisan itu sudah kubawa ke galeri nasional pagi ini. Kurator di sana, temanku yang bernama Ben, sangat menyukainya. Dia bilang lukisan itu punya aura yang kuat, berbeda dari lukisan dekoratif yang membosankan."
Nala menutup mulutnya dengan tangan, tak percaya. "Galeri nasional? Tuan... Tuan bercanda kan?"
"Aku tidak pernah bercanda soal bisnis, Nala," tegas Raga. "Minggu depan akan ada acara lelang amal besar-besaran yang dihadiri oleh kolektor seni, pejabat, dan sosialita seluruh Jakarta. Lukisanmu akan menjadi salah satu barang yang dilelang."
Lutut Nala lemas. Ia harus berpegangan pada meja agar tidak jatuh lagi. Berita ini terlalu besar untuk dicerna otaknya yang sederhana.
"Tapi Tuan... saya bukan siapa-siapa. Saya tidak punya nama besar. Lukisan itu mungkin biasa saja bagi orang lain. Orang-orang kaya itu akan menertawakan saya," tolak Nala panik. Perasaan rendah diri kembali menyerangnya. Bayangan Bella dan ibu tirinya yang selalu menghina gambarnya kembali menghantui. Ia merasa seperti penipu kecil yang mencoba masuk ke pesta orang dewasa.
Raga menjalankan kursi rodanya mendekat lagi. Kali ini ia tidak marah. Ia menatap Nala dengan sorot mata tajam seorang mentor.
"Dengarkan aku, Nala," suara Raga melembut namun penuh otoritas. "Kau bukan lagi Nala si anak buangan. Kau adalah Luna. Seniman misterius yang baru ditemukan. Di dunia seni, misteri adalah mata uang yang paling mahal. Orang tidak akan menertawakanmu karena mereka tidak tahu siapa kau."
"Tapi bagaimana kalau tidak ada yang menawar?" tanya Nala cemas.
"Maka aku yang akan membelinya," jawab Raga santai, seolah uang adalah daun kering. "Aku akan menawar dengan harga tertinggi sampai tidak ada yang berani melawan. Lukisan itu akan kembali ke dinding ruang kerjaku, dan kau akan mendapatkan reputasi sebagai pelukis mahal. Anggap saja investasi."
Nala terdiam menatap suaminya. Pria ini... dia sudah memikirkan segalanya. Dia menggunakan kekuasaan dan uangnya untuk membangun jalan emas bagi Nala. Meski kakinya tidak bisa berjalan, tangan Raga mampu mengangkat derajat Nala lebih tinggi dari siapa pun.
"Tuan curang," bisik Nala sambil tersenyum haru.
"Dunia ini memang curang, Istriku. Kita hanya perlu bermain lebih pintar daripada mereka," balas Raga sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Sekarang, bersiaplah. Nanti malam Pak Hadi akan membawakan gaun baru untukmu. Kita akan datang ke acara lelang itu. Kau harus melihat sendiri bagaimana karyamu dihargai oleh dunia."
Malam harinya, kamar utama Adhitama Estate diselimuti keheningan yang nyaman.
Raga sudah berbaring di tempat tidur, menyandarkan punggungnya pada tumpukan bantal. Laptopnya menyala di pangkuan, menampilkan grafik saham yang bergerak naik turun. Wajahnya terlihat lelah. Seharian mengurus bisnis dan mengamankan posisi lukisan Nala di galeri ternyata cukup menguras energi.
Nala baru saja selesai mandi. Ia mengenakan piyama sutra panjang yang sopan. Ia melihat Raga sesekali memijat pahanya sendiri dengan kening berkerut.
"Kaki Tuan sakit lagi?" tanya Nala prihatin. Ia tahu cuaca malam ini cukup dingin.
Raga berhenti mengetik. Ia melirik kakinya yang tertutup selimut. "Sedikit kaku. Biasalah."
"Boleh saya memijatnya?" tawar Nala lembut.
Raga terdiam sejenak. Ia sebenarnya tidak ingin merepotkan Nala, tapi rasa kaku di kakinya memang mengganggu. Sirkulasi darah di kaki yang lumpuh memang sering tidak lancar.
"Terserah kau," jawab Raga singkat, kembali menatap layar laptop.
Nala tersenyum. Ia mengambil botol minyak aromaterapi dari meja rias, lalu naik ke atas kasur. Ia duduk bersimpuh di dekat kaki Raga.
Nala menyingkap sedikit selimut Raga. Ia menuangkan minyak ke telapak tangannya, menggosoknya hingga hangat, lalu mulai memijat betis Raga.
Tangan Nala merasakan dinginnya kulit kaki Raga. Otot-otot di sana terasa sedikit kaku dan pasif, tidak memberikan respons terhadap pijatannya. Nala memijat dengan telaten, berusaha melancarkan peredaran darah dan memberikan kehangatan.
"Terima kasih, Tuan," ucap Nala tiba-tiba di tengah keheningan.
"Untuk apa?" tanya Raga tanpa mengalihkan pandangan dari pekerjaan.
"Untuk semuanya. Studio, lukisan, galeri... Saya tidak tahu bagaimana cara membalasnya," ucap Nala tulus. Matanya menatap kaki Raga yang diam tak bergerak. "Saya berharap saya bisa melakukan lebih banyak untuk Tuan daripada sekadar memijat kaki."
Raga menghentikan ketikannya. Ia menutup laptopnya perlahan dan meletakkannya di meja nakas. Ia menatap Nala yang sedang menunduk tekun.
"Kau sudah melakukan cukup banyak, Nala," ucap Raga, suaranya terdengar lebih dalam. "Keberadaanmu di sini, tidak lari ketakutan melihat wajahku, itu sudah lebih dari cukup."
Nala mendongak, tersenyum manis. "Saya tidak akan lari, Tuan. Saya sudah berjanji."
Raga menatap istrinya lama. Ada perasaan hangat yang menjalar di dadanya, perasaan ingin melindungi yang semakin kuat. Namun di balik perasaan itu, ada juga rasa frustrasi yang mendalam. Frustrasi karena ia terperangkap di kursi roda ini. Frustrasi karena ia tidak bisa berdiri dan memeluk Nala dengan benar.
"Sudah cukup," Raga menarik kakinya pelan, menyudahi sesi pijat itu. "Tidurlah. Besok adalah hari besarmu."
Nala mengangguk patuh. Ia membereskan botol minyaknya, mengelap tangannya dengan tisu basah, lalu berbaring di sisi tempat tidur yang lain. Ia menarik selimut sebatas dada.
"Selamat malam, Tuan," bisik Nala.
"Selamat malam, Luna," balas Raga pelan.
Tidak butuh waktu lama bagi Nala untuk terlelap. Suara napasnya yang teratur mengisi keheningan kamar.
Raga masih terjaga. Ia menatap langit-langit kamar yang gelap. Pikirannya melayang pada kejadian siang tadi saat Nala hampir jatuh. Jantungnya serasa berhenti saat melihat Nala tergelincir. Rasa tidak berdaya itu menyiksanya. Andai saja dia bisa berdiri, dia pasti bisa menangkap Nala lebih cepat, lebih aman.
Raga menoleh menatap wajah tidur Nala. Ia mengulurkan tangannya, menyentuh pipi istrinya dengan punggung jari, sangat pelan agar tidak membangunkannya.
"Maafkan ketidakberdayaanku, Nala," bisik Raga lirih, penuh penyesalan. "Aku berjanji akan memberimu dunia, meski aku harus melakukannya dari kursi roda ini selamanya."
Raga menarik tangannya kembali. Ia membetulkan letak selimut Nala, lalu memejamkan mata, mencoba berdamai dengan takdirnya yang pahit, tanpa menyadari bahwa takdir kadang menyimpan kejutan di tikungan jalan yang tak terduga.
ceritanya bagu😍