cerita fantasi berlatarbelakang zaman majapahit, ada plot twistnya, ada pengkhianatannya, penghiatan cinta, sahabat, ada percintaan, percintaan sebelah tangan, cinta segitiga, ada intrik sosial ada intrik politik, pemeran utama adalah anak penguasa yang terbuang, dihinakan, terlunta-lunta dengan dibenci karena orang tuanya yang dicap penghianat, pada akhirnya dia menapak sedikit demi sedikit dengan menyembunyikan identitas, merangkak naik kekuasaan untuk membalas dendam, pemeran utama tidak baik-baik amat, dia juga menggunakan cara-cara untuk mencapai tujuan baik itu cara licik, pura2 menjalin hubungna asmara, pura-pura bersahabat untuk mencapai tujuan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6 – Arus yang Membawa Pergi
Wilwatikta masih berdiri.
Gerbangnya tegak. Menaranya tak runtuh. Bendera kerajaan tetap berkibar seperti biasa.
Namun sesuatu telah bocor.
Bukan darah.
Melainkan rasa takut.
Raka mulai menyadari satu kenyataan pahit: bukan hanya dirinya yang teror.
Orang-orang di sekitarnya—mereka yang pernah memberinya sisa makanan, yang pura-pura tak melihat ketika ia tidur di kolong serambi, yang sesekali menyelipkan kendi air—mulai menghilang.
Pertama, seorang penjual bubur yang biasa mangkal di sudut gang.
Keesokan harinya, perempuan pemilik rumah kosong tempat Raka pernah berlindung.
Lalu seorang bocah sebaya yang sempat berbagi kulit singkong dengannya.
Tak ada teriakan. Tak ada kabar. Tak ada jenazah.
Mereka seakan terhisap oleh tanah.
Raka mulai takut bukan hanya akan ditangkap—
melainkan menjadi alasan orang lain lenyap.
Ia menunduk lebih dalam. Ia berjalan lebih cepat. Ia berhenti berharap pada wajah-wajah baik.
Dan setiap malam, ia merasa tatapan-tatapan itu semakin dekat.
Tusukan pedang tak lagi selalu datang.
Kadang hanya bayangannya.
Kadang suara logam yang disengaja digesekkan ke dinding.
Kadang langkah berat yang berhenti tepat di depan tempat persembunyiannya, lalu berlalu tanpa apa pun.
Raka belajar bahwa ketakutan yang dibiarkan tumbuh lebih menyiksa daripada luka.
Lengannya yang pernah tergores kini mulai mengering, tapi ingatannya tidak.
Setiap kali ia mencium bau besi—darah atau karat—perutnya mual.
Ia tahu ia terlihat.
Entah oleh siapa. Entah untuk tujuan apa.
Sementara itu, Wilwatikta mulai bergerak.
Bukan pergerakan pasukan.
Melainkan pergerakan rakyat.
Di pasar, desas-desus beredar seperti angin panas: tentang keluarga yang dijemput malam hari, tentang orang-orang yang salah bicara lalu tak kembali, tentang anak-anak yang dibawa pergi tanpa jerit.
Orang-orang mulai menjual barang dengan harga rendah.
Kereta kecil dipersiapkan.
Ikat-ikat kain disusun.
Mereka tidak berteriak ingin pergi.
Mereka hanya… bersiap.
Raka melihatnya dari kejauhan—barisan kecil di pagi buta, orang-orang berjalan cepat dengan kepala tertunduk, tak berani menoleh ke gerbang kota.
Dan di antara mereka, ia merasakan sesuatu yang ganjil:
seolah-olah arus itu memang disiapkan.
Di suatu senja yang kelabu, ketika asap dapur bercampur dengan kabut rendah, seorang perempuan tua menghampirinya.
Rambutnya memutih kusam, punggungnya bongkok, matanya redup seperti tak lagi menyimpan rasa ingin tahu.
Ia tidak bertanya nama.
Tidak bertanya asal.
Ia hanya meletakkan sepotong kain kasar di tangan Raka.
"Kau terlalu bersih untuk hidup di jalan," katanya pelan.
Nada suaranya bukan iba.
Melainkan pasti.
Raka ingin lari.
Namun langkahnya tertahan.
Ada sesuatu dalam suara perempuan itu—bukan ancaman, bukan juga bujukan. Seperti perintah yang sudah lama ditunggu.
Malam itu, Raka dipermak.
Rambutnya dipotong tidak rata.
Wajahnya dilumuri abu dan tanah kering.
Pakainnya ditukar dengan kain goni lusuh yang bau apek.
Perempuan tua itu bekerja tanpa bicara, tangannya cekatan seperti sudah sering melakukan hal serupa.
Ketika selesai, Raka hampir tidak mengenali bayangannya di permukaan air.
Ia bukan lagi anak bangsawan yang jatuh.
Ia hanya satu dari sekian banyak bocah kelaparan.
Pagi berikutnya, barisan itu bergerak.
Perempuan tua menggenggam tangan Raka erat, menyeretnya masuk ke kerumunan tanpa ragu.
Di depan gerbang kota, prajurit berjajar.
Tombak tegak.
Wajah dingin.
Raka menahan napas.
Ia merasakan tatapan menyapu tubuhnya.
Lama.
Terlalu lama.
Namun tak ada yang menghentikan.
Beberapa prajurit saling berpandangan, seperti mencium sesuatu yang tidak kasatmata—arus halus yang sedang bekerja.
Mereka membiarkan barisan itu lewat.
Bukan karena tidak tahu.
Melainkan karena tahu terlalu banyak.
Saat kaki Raka melangkah keluar gerbang Wilwatikta, dadanya terasa sesak.
Ia tidak menoleh.
Ia takut jika menoleh, kota itu akan memanggilnya kembali.
Di belakangnya, Wilwatikta tetap berdiri seperti biasa.
Namun Raka tahu—
sesuatu telah ditinggalkan.
Dan sesuatu sedang menunggu di luar sana.
Ia tidak tahu bahwa kepergiannya sedang dihitung.
Ia tidak tahu bahwa namanya masih disebut di ruang-ruang tertutup.
Yang ia tahu hanyalah:
ia hidup.
Dan itu, untuk sementara, cukup.