Dijuluki "Sampah Abadi" dan dicampakkan kekasihnya demi si jenius Ma Yingjie tak membuat si gila kekuatan Ji Zhen menyerah. Di puncak dinginnya Gunung Bingfeng, ia mengikat kontrak darah dengan Zulong sang Dewa Naga Keabadian demi menjadi kultivator terkuat.
"Dunia ingin aku merangkak? Maka aku akan menaklukkannya lebih dulu!"
[Like, vote dan komentar sangat bermanfaat bagi kelanjutan cerita. Selamat membaca]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Racun dan Pembalasan Diam
“Kau yakin penjaga gudang sedang mabuk tuak buah sekarang?” Ji Zhen berbisik, langkahnya nyaris tidak terdengar di atas jalan setapak berbatu.
Di sampingnya, Lian Shu mendengus, matanya terus memindai kegelapan koridor luar. “Aku sudah membayar pelayan dapur untuk mencampur arak mereka. Kita punya waktu tiga puluh menit sebelum pergantian jaga. Jika kau gagal, jangan harap aku akan mengaku mengenalmu.”
“Tenanglah. Kau terlalu banyak bicara untuk ukuran seorang informan,” balas Ji Zhen dengan seringai tipis.
Tanpa berdebat lebih jauh, mereka pun kini telah berhenti tepat di depan pintu kayu raksasa gudang ramuan murid luar. Ji Zhen tidak langsung menyentuh gagang pintunya. Ia memejamkan mata sejenak, menarik qi dari pusat energinya. Selembar lapisan kristal transparan mulai merambat dari ujung jarinya, membungkus gagang pintu dan engselnya. Saat ia mendorong pintu itu terbuka, tidak ada suara derit sedikit pun. Es naga miliknya telah melumasi sekaligus mengunci gesekan logam. Sementara di lantai, ia menciptakan jalur beku tipis agar jejak sepatu mereka tidak membekas di atas ubin yang kotor.
Di dalam gudang itulah, bau obat-obatan herbal yang menyengat segera menyambut mereka. Zulong berbisik di dalam kesadaran Ji Zhen, suaranya terdengar penuh kemenangan. “Di sudut kanan, rak ketiga. Aku merasakan sisa-sisa energi yang korosif. Itu bukan bahan ramuan biasa.”
Ji Zhen lantas memberi isyarat pada Lian Shu. Mereka bergerak cepat menuju lokasi yang ditunjuk. Di sana, terdapat deretan botol porselen berisi ramuan dasar untuk murid luar. Di balik tumpukan kotak, Lian Shu menemukan sebuah botol hitam tanpa label yang terselip rapi. Saat ia membukanya, ia menemukan secarik kertas kecil yang terselip di balik sumbat botol, sebuah catatan pesanan dari Tetua Ma untuk pedagang pasar gelap bernama ‘Si Tangan Besi’.
“Debu Meridian Ungu,” Lian Shu membaca tulisan itu dengan setengah terkejut. “Jika ini masuk ke tubuh murid luar, aliran energi mereka akan terhambat selamanya. Ma Yingjie benar-benar ingin mematikan persaingan sebelum ujian besar dimulai.”
Ji Zhen mengangkat setengah alisnya saat mengambil botol itu, menimbangnya di telapak tangan. “Melaporkan ini ke Patriark tidak akan berguna. Tetua Ma akan punya seribu alasan untuk membantah. Kita mainkan permainan mereka.”
“Lalu apa rencanamu? Membuangnya?”
“Mudah saja,” Ji Zhen mengeluarkan pil Pengumpul Qi Menengah pemberian Yun Xia dari sakunya. Ia menghancurkannya menjadi bubuk halus, lalu menatap telapak tangannya sendiri sambil berbisik. “Zulong, beri aku sedikit esensi es naga yang paling murni. Sesuatu yang terasa seperti penguat, tapi punya efek samping ‘menarik’ jika bertemu dengan qi yang agresif.”
“Licik sekali. Bocah, aku suka caramu berpikir,” tawa Zulong menggema.
Ji Zhen mencampurkan bubuk pil dengan esensi dingin naga, menciptakan ramuan palsu yang terlihat persis seperti aslinya. Sambil tangannya bekerja dengan cekatan mengganti isi botol-botol di rak, ia melirik Lian Shu yang tampak waspada.
“Kau terlihat tegang, Lian Shu. Padahal ini lebih menyenangkan daripada sekedar menjual hasil kebun di pasar,” ejek Ji Zhen dengan santainya.
Lian Shu memutar bola matanya. “Menyenangkan bagimu, maut bagiku. Jika kita tertangkap, aku akan memastikan namamu yang tertulis paling besar di papan eksekusi.”
“Setidaknya namaku akan dikenang sebagai orang yang membuat Ma Yingjie tersiksa saat buang air besar,” Ji Zhen terkekeh pelan sambil menyumbat botol terakhir. “Selesai. Racun asli ini biar aku yang simpan. Suatu saat akan berguna.”
Tiga hari kemudian, kegemparan melanda barak murid luar. Alih-alih mendapatkan peningkatan kekuatan, belasan pengikut setia Ma Yingjie mendadak tumbang saat latihan pagi karena harus bolak balik ke toilet. Wajah mereka membiru, dan setiap kali mereka mencoba menarik qi, jalur energi mereka justru terasa membeku dan rasa mulas menguasai perut mereka.
Puncaknya terjadi di arena latihan utama. Ma Yingjie, yang selalu tampil dengan gerakan elegan dan kuat, mendadak jatuh berlutut di tengah peragaan teknik pedang. Napasnya tersengal, wajahnya yang biasanya tampan kini terlihat pucat pasi. Qi di dalam tubuhnya mendadak bergejolak hebat, seolah-olah ada bongkahan es yang menyumbat setiap jalur meridiannya.
“Sial! Apa yang terjadi dengan ramuanku?!” raung Ma Yingjie, suaranya parau karena menahan sakit.
Adapun Ji Zhen berdiri di pinggir arena, bersandar pada sebuah tiang kayu dengan tangan bersedekap. Ia memperhatikan kekacauan itu dengan tatapan datar yang menyembunyikan kepuasan luar biasa. Dan ketika Ma Yingjie menoleh, matanya yang merah karena marah menatap tajam ke arah Ji Zhen.
“Kau… Ji Zhen! Kau pasti melakukan sesuatu!” teriak Ma Yingjie sambil menudingkan jarinya yang gemetar.
Ji Zhen hanya mengangkat bahu, wajahnya menunjukkan ekspresi bingung yang sangat meyakinkan. “Tuan Muda Ma, saya bahkan dilarang masuk ke area penting oleh Patriark. Bagaimana mungkin saya menyentuh ramuan berharga milikmu? Bukankah ramuan itu diawasi ketat oleh ayahmu sendiri?”
Ma Yingjie hendak membalas, namun rasa perih di dada dan perut membuatnya kembali meringis. Tetua Ma segera datang dengan wajah panik, memeriksa botol-botol ramuan yang tersisa. Hasilnya nihil. Tidak ada jejak racun, tidak ada jejak penyusup, dan semua segel gudang masih utuh. Yang mereka temukan hanyalah sisa ramuan yang terlihat “terlalu murni” sehingga tubuh para murid tidak kuat menahannya.
Malam itu, di kamar pribadinya, Ji Zhen duduk bersila. Rasa lelahnya terbayar tuntas. Senyumannya tidak sirna sepanjang hari.
“Strategi yang bagus, Bocah,” puji Zulong. “Kau membiarkan mereka memakan umpan mereka sendiri. Sekarang fondasi Ma Yingjie sedang kacau karena pengaruh es naga yang kau campurkan. Dia butuh waktu lama untuk pulih.”
Ji Zhen memandangi telapak tangannya, merasakan energi dingin yang mengalir jauh lebih lancar sekarang. “Ini baru permulaan. Dia ingin aku kehilangan masa depanku dengan racun itu. Sekarang, biarkan dia merasakan bagaimana rasanya melihat puncak dunia semakin menjauh saat kakinya tergelincir es.”
Ia menutup mata, kembali masuk ke dalam meditasi. Langkah berikutnya sudah tersusun di kepalanya. Turnamen atau tidak, ia akan memastikan Ma Yingjie jatuh ke titik terdalam sebelum ia benar-benar menghancurkannya secara terbuka.