Dunia telah berubah menjadi permainan maut.
Gerbang dimensi terbuka, monster meluap ke bumi, dan manusia terpilih membangkitkan kekuatan luar biasa yang disebut "Hunter". Namun, Kenzo tidak seberuntung itu. Dia hanyalah seorang Cleaner—pemulung mayat monster kelas rendah yang direndahkan dan dianggap sampah masyarakat.
Nasibnya berubah saat ia dikhianati dan dibiarkan mati di dalam Dungeon level tinggi oleh timnya sendiri. Di ambang maut, sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem God Level Extraction Diaktifkan!]
[Target: Black Shadow Wolf (Grade A). Ekstraksi Berhasil!]
[Anda Mendapatkan Skill: Kecepatan Bayangan!]
Siapa sangka, pemulung yang dulunya diinjak-injak kini bisa mencuri bakat, kekuatan, hingga ingatan dari makhluk apa pun yang ia sentuh.
Satu per satu Hunter pengkhianat ia jatuhkan. Satu per satu monster penguasa ia jadikan batu loncatan. Dari pembersih sisa pertempuran, Kenzo bangkit menjadi predator puncak yang akan mengekstrak seluruh dunia!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SINTESIS BAYANGAN DAN KEJATUHAN MERLION
Singapura yang biasanya rapi, bersih, dan sombong, sekarang nggak lebih dari sekadar tumpukan beton yang lagi dipanggang. Langit di atas Marina Bay Sands warnanya bukan lagi biru, tapi merah tua pekat, kayak luka yang baru aja dikuliti.
Red Gate raksasa di atas sana berdenyut denyut, ngeluarin ribuan Gargoyle bersayap duri yang tiap detik ngejatuhin api Mana ke gedung gedung mewah di bawahnya.
Suasana di ruang kendali Jakarta nggak kalah tegang, tapi Kenzo cuma duduk nyender di kursi singgasana marmernya sambil mainin pemantik api. Dia natap layar hologram yang nampilin kekacauan di seberang selat itu dengan tatapan kosong.
"Bos, IHA beneran udah berlutut," Arka masuk ke ruangan, mukanya kusut. "Permintaan resmi mereka baru aja masuk. Mereka janji bakal kasih hak kelola distrik ekonomi, akses ke semua satelit mereka, dan bayaran yang cukup buat beli satu pulau asalkan kita nutup gerbang itu."
Kenzo nyengir, yang bikin Arka pengen mundur satu langkah. "Cepat juga ya mereka berubah pikiran kalau lehernya udah mau putus. Elara, siapin transmisi bayangan. Kita nggak bakal pake jet. Terlalu lambat buat tontonan sebagus ini."
Valeria yang lagi ngasah belatinya nengok heran. "Terus kita ke sana jalan kaki di atas air, Bos?"
"Gue baru nemu mainan baru," kata Kenzo sambil ngebuka jendela sistemnya yang transparan.
[Membuka Fitur: Shadow Synthesis]
Kenzo nggak butuh pasukan kroco yang cuma menang jumlah. Dia butuh sesuatu yang bisa bikin musuh mati kena serangan jantung sebelum sempet ngelawan. Dia milih sepuluh jiwa tentara elit IHA yang dia kumpulin di Selatan Jawa, terus dia campur sama esensi monster Drake yang dia simpan di penyimpanan jiwa.
“Satuin mereka jadi sesuatu yang ngeri, sistem. Jangan bikin gue malu.” ucap Kenzo
[Proses Sintesis Selesai. Anda mendapatkan: Shadow Chimera - Knight Grade.]
Dari bayangan di bawah kaki Kenzo, muncul lima sosok setinggi tiga meter. Mereka pake zirah item legam, tapi punya sayap naga kecil di punggung dan cakar yang dialirin api ungu. Baunya? Kayak kematian yang baru aja dibakar.
"Hana," panggil Kenzo ke arah murid barunya yang lagi berdiri kaku di pojok. "Lo ikut gue. Gunakan Absolute Perception lo buat nyari titik lemah si bos gerbang. Jangan kedip, atau lo bakal ketinggalan pelajaran paling penting di hidup lo."
Hana cuma bisa ngangguk gemeteran. "S-siap, Guru."
"Oke, semuanya... Shadow Road!" teriak Kenzo.
Seketika, bayangan di lantai aula meluas, ngebentuk lubang hitam yang dalem banget. Kenzo melompat masuk duluan, disusul Valeria dan pasukannya. Rasanya kayak ditarik lewat sedotan raksasa selama satu detik, dan detik berikutnya, udara panas Singapura langsung nampar muka mereka.
Mereka mendarat di atap gedung yang udah miring. Di bawah sana, suasananya bener bener kacau. Hunter IHA yang biasanya pake seragam rapi sekarang cuma jadi potongan daging yang diseret seret Gargoyle. Bau belerang nyengat banget, nyampur sama bau daging gosong.
"Banyak banget... Guru, ada lebih dari sepuluh ribu monster di bawah sana!" teriak Hana sambil megang kepalanya, indranya pasti lagi dibombardir sama sinyal Mana yang gila gilaan.
Kenzo menghunus pedang hitamnya. Bilahnya ngeluarin uap item yang bikin suhu di sekitarnya makin pengap. "Sepuluh ribu? Bagus. Itu artinya sepuluh ribu bahan baku baru buat gue. Val, bawa anak anak Chimera ke bawah. Bersihin jalanan. Jangan biatin warga sipil kena sentuh kalau mereka ada di jangkauan lo. Gue nggak mau upeti gue mati sia sia."
"Siap, Bos!" Valeria melesat turun kayak peluru, disusul lima ksatria Chimera yang terbang ngebantai apa pun yang punya sayap duri.
Kenzo natap ke langit. Di depan Red Gate, muncul sesosok monster yang gedenya bukan main. Ksatria tanpa kepala, duduk di atas naga tulang yang badannya diselimuti api merah. Dullahan.
"Hana, cari intinya. Sekarang," perintah Kenzo.
Hana merem, konsentrasi penuh sampe pembuluh darah di keningnya keliatan.
"Di sana! Di dalem dada naga itu... tapi dilapisin tiga dimensi pelindung. Susah ditembus, Guru!" teriak Hana.
"Nggak ada yang susah buat gue," desis Kenzo.
[Dragon Sovereign Mode: 50% Activation.]
Sayap naga item raksasa meledak keluar dari punggung Kenzo. Dia melesat ke langit kayak komet item, nabrak kerumunan Gargoyle sampe mereka hancur jadi abu cuma karena kesenggol aura Kenzo.
Si Dullahan ngangkat pedang gedenya, nembakin gelombang api merah yang panasnya minta ampun.
Tapi Kenzo cuma nyengir. Pake Dominator’s Touch, dia nangkep api itu di udara, diperes jadi bola kecil, terus dipantulin balik ke muka si naga tulang.
BOOOOOM!
Kepala naga itu hancur separo. Kenzo nggak nunggu asapnya ilang. Dia langsung muncul di depan dada monster itu.
"Sato! Leviathan! Gabung sekarang!"
Kenzo manggil bayangan Jenderal Sato dan nyampurinnya sama fragmen kekuatan air Leviathan. Sato muncul dengan Odachi yang dialirin tekanan air super tinggi yang bisa motong intan sekalipun.
"Tebas!" perintah Kenzo.
Satu ayunan pedang Sato ngebelah pelindung dimensi itu kayak kertas basah. Kenzo masukin tangannya ke rongga dada monster itu, nyengkeram kristal inti merah yang detak-detaknya udah kayak jantung mau copot.
"EXTRACTION!" ucap Kenzo.
Seketika, energi merah dari Red Gate mulai kesedot masuk ke badan Kenzo. Langit Singapura yang tadinya merah darah perlahan mulai pudar. Monster monster di jalanan mendadak diem, terus hancur jadi debu pas koneksi energi mereka diputus paksa sama Kenzo.
Pas Kenzo lagi asik nyedot energi, dia ngerasain ada hawa dingin yang nggak wajar. Bukan dari gerbang, tapi dari arah gedung pencakar langit di seberangnya. Melalui Absolute Perception Hana yang tersambung ke dia, Kenzo bisa liat dua orang lagi berdiri santai di sana.
Seorang cewek dengan rambut pirang yang bersinar emas Seraphina. Dan satu cowok raksasa yang dikelilingi badai salju Vladimir.
Kenzo mendarat di aspal yang hancur, tangan kanannya masih megang inti gerbang yang sekarang warnanya udah item. Dia nengok ke arah mereka, suaranya diperkuat Mana biar nyampe ke telinga mereka di ketinggian.
"Jauh jauh amat dari Rusia sama Vatikan cuma buat nonton konser gue? Atau kalian mau jadi target ekstraksi gue selanjutnya?" Sinis Kenzo.
Vladimir melompat turun, mendarat di atas air teluk yang langsung beku jadi es setebal lima meter cuma karena dia injek. "Lo ceroboh, Kenzo," suaranya berat banget, kayak suara bongkahan es yang bergeser. "Lo pamer kekuatan cuma buat nyelamatin kota yang bukan punya lo. Itu bikin lo kelihatan lemah."
Gue ngeludah ke samping, darah monster di muka gue kerasa lengket. "Gue nggak nyelamatin mereka, Vlad. Gue cuma lagi belanja bahan baku. Liat nih," gue angkat tangan gue, dan si Dullahan ksatria tanpa kepala yang baru gue bunuh bangkit dari bayangan. Dia sekarang berlutut di belakang gue. "Keren, kan? Daripada lo, cuma bisa bikin es batu."
Seraphina yang melayang di atas cuma masang muka jijik. "Dasar noda dunia. Lo baru aja ngerusak perjanjian antar Sovereign dengan ikut campur di wilayah IHA secara ilegal."
"Gue nggak pernah tanda tangan apa pun sama kalian, Cantik," bales Kenzo sambil majuin pedang. "Kalau kalian nggak suka, ayo sini, turun. Gue pengen tau rasa Mana Sovereign itu kayak gimana."
Pas Vladimir udah mau nerjang Kenzo dengan badai saljunya, tiba-tiba... Sistem kedip merah ungu gila gilaan.
[PERINGATAN! Red Gate di Moscow dan Vatikan Meledak!]
Kenzo diem sebentar, terus ketawa kenceng banget sampe perut gue sakit. Kenzo liat muka Vladimir sama Seraphina yang tadinya sok jagoan langsung pucet kayak mayat pas mereka nerima kabar yang sama di sistem mereka masing masing.
"Woi, mending kalian pulang deh," ejek kenzo sambil nunjuk ke langit. "Rumah kalian lagi dibakar sama IHA. Mereka sengaja buka gerbang di Singapura cuma buat mancing kalian keluar biar rumah kalian kosong. IHA emang pinter ya? Kalian berdua aja yang kemakan pancingan."
Vladimir ngeremes es di tangannya sampe hancur berkeping keping. Tanpa ngomong apa apa, dia langsung melesat pergi menuju jet pribadinya. Seraphina natap gue dengan kebencian yang mendalam.
"Ini belum selesai, Kenzo. Kalau Vatikan beneran jatuh, gue bakal pastiin bayangan lo adalah hal pertama yang bakal gue bakar abis!"
"Iya, iya... pulang sana. Jangan lupa matiin kompor," usir kenzo santai.
kenzo berdiri di tengah Singapura yang hancur, dikelilingin ribuan orang yang sekarang natap kenzo kayak Kenzo ini Tuhan baru mereka. Hana nyamperin kenzo, mukanya pucet. "Guru... kenapa IHA tega ngelakuin itu ke pemimpin mereka sendiri?"
Kenzo natap langit yang udah balik normal. "Karena bagi IHA, nggak ada yang namanya pemimpin. Yang ada cuma kontrol. Pas para Sovereign dianggap terlalu kuat buat dikontrol, IHA bakal cari cara buat ngebakar rumah mereka. Tapi mereka lupa satu hal..."
Kenzo nengok ke arah Valeria yang lagi ngumpulin kristal Mana dari tumpukan debu monster.
"Mereka lupa kalau bayangan nggak bisa dikhianati sama kegelapan. Karena bayangan... adalah kegelapan itu sendiri."
[Ding! Level Meningkat: Lv.83]
[Misi Baru: Selidiki Markas Rahasia IHA di Pulau Jeju.]
Kenzo nyengir. "Val, bungkus semua kristalnya. Kita balik ke Jakarta. Kita punya turnamen yang harus kita datengin di Pulau Jeju... dan kali ini, kita nggak dateng buat jadi peserta. Kita dateng buat jadi algojo."