NovelToon NovelToon
Silk&Steel: Cinta Dalam Kontrak Berbahaya

Silk&Steel: Cinta Dalam Kontrak Berbahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / CEO / Romantis / Mafia / Romansa / Nikah Kontrak
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Cerrys_Aram

Elara Vance mengira hidupnya di London akan tenang setelah lulus kuliah seni. Namun, satu kesepakatan rahasia ayahnya menyeret Elara ke dunia Julian Moretti—pengusaha muda dengan pengaruh luar biasa yang gerak-geriknya selalu dipenuhi misteri. Demi melindungi keluarganya, Elara setuju untuk masuk ke dalam sebuah pernikahan kontrak.

​Julian itu dingin dan penuh kendali, namun ia memiliki satu aturan: tidak boleh ada yang menyentuh Elara selain dirinya. Di balik kemewahan mansion Moretti, Elara harus mencari tahu siapa pria itu sebenarnya, sambil menyembunyikan cincin rahasia di jarinya yang menjadi tanda bahwa ia adalah milik sang penguasa bayangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerrys_Aram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: THE QUEEN’S GAMBIT

Silas menyeringai, jemarinya yang pucat menekan tombol pada pemindai biometrik. "Kau pikir gaun mahal dan nama belakang baru bisa menyembunyikan detak jantungmu, Elara? Di sistem ini, kau tetaplah sebuah angka. Aset yang rusak."

Elara tidak bergerak. Ia membiarkan belati peraknya tetap tersembunyi di balik telapak tangannya, namun ia menurunkan bahunya—sedikit gemetar, sebuah sandiwara kepanikan yang sempurna.

"Silas... kau seharusnya sudah mati di pelabuhan," bisik Elara, suaranya dibuat serak.

"Kematian itu membosankan. Aku lebih suka melihat kehancuran," Silas mendekatkan kursi rodanya, menikmati ekspresi "takut" di wajah Elara. "Akan kupanggil penjaga sekarang. Paman Baron akan sangat senang melihat koleksi lamanya kembali."

"Tunggu," potong Elara cepat. Ia melangkah maju satu langkah, masuk ke dalam zona nyaman Silas. "Jika kau memanggil Baron, kau kehilangan satu-satunya kartu as-mu untuk menjatuhkannya."

Silas tertawa sumbang. "Menjatuhkan pamanku sendiri? Untuk apa?"

"Jangan naif, Silas. Aku melihat data Silk yang tidak sempat kalian ekstrak sepenuhnya," Elara menatap langsung ke mata biru pucat Silas yang lumpuh sebelah. "Baron Vane tidak menyelamatkanmu karena dia peduli. Dia membiarkanmu cacat agar kau tidak bisa menggantikan posisinya di Dewan. Kau tahu apa yang ada di dalam File 709?"

Gerakan tangan Silas yang hendak menekan alarm berhenti. Matanya menyipit. "Apa maksudmu?"

"Data keuangan gelap atas namamu. Baron sedang membangun bukti bahwa kaulah yang mencuri dana operasional Silk & Steel sepuluh tahun terakhir," Elara tersenyum tipis, kali ini senyum yang penuh racun. "Dia tidak menjadikanku mangsa, Silas. Dia menjadikanmu kambing hitam. Saat aku tertangkap nanti, kau adalah orang pertama yang akan dia eksekusi untuk 'membersihkan' nama Dewan."

Silas terdiam. Paranoia adalah sifat dasar keluarga Vane, dan Elara baru saja membakar sumbunya.

"Kau bohong," desis Silas, namun suaranya mulai tidak stabil.

"Periksa sistemnya sendiri. Kau punya akses level 4, bukan? Masuk ke protokol Cronos—kode yang hanya diketahui Julian dan Baron. Gunakan frekuensiku untuk memicu pintu belakangnya," Elara mengulurkan tangannya, membiarkan Silas memindai denyut nadinya lagi. "Lihat sendiri siapa yang sebenarnya sedang dikhianati di sini."

Silas, yang didorong oleh rasa haus akan kekuasaan dan dendam pada pamannya, melakukan persis seperti yang Elara harapkan. Ia menghubungkan pemindainya ke panel dinding balkon, menggunakan "kunci" biometrik Elara sebagai bypass.

Di layar kecil pemindai Silas, barisan kode mulai bergulir. Elara memperhatikan dengan saksama melalui penglihatan bio-digitalnya.

Tiga... dua... satu...

"Ini... ini tidak mungkin," gumam Silas saat melihat dokumen palsu yang telah Elara tanam di sistem pusat melalui akses jarak jauh beberapa jam lalu.

Silas terlalu fokus pada layar hingga ia tidak menyadari bahwa akses yang ia buka bukan hanya untuk melihat dokumen, melainkan akses administratif untuk seluruh sektor rubanah.

"Kau lihat?" bisik Elara di dekat telinga Silas. "Dia tidak pernah menginginkanmu, Silas. Dia hanya menginginkan tahtanya."

Dalam satu gerakan halus, Elara merebut pemindai dari tangan Silas dan menghantamkan pangkal belatinya ke titik syaraf di leher Silas. Pria itu pingsan seketika, tubuhnya merosot di kursi roda.

Elara segera mengambil alih kendali pemindai itu.

[ACCESS GRANTED: SECTOR 4 - ISOLATION CELLS]

Lampu indikator di pemindai berubah menjadi biru. Pintu sel di lantai bawah baru saja terbuka secara sistem.

Elara menatap Silas yang tak berdaya. "Kau benar, Silas. Aku adalah aset yang rusak. Dan hal terbaik dari sesuatu yang rusak adalah... ia tidak lagi memiliki beban untuk berfungsi sesuai aturan."

Elara tidak memanggil lift. Ia menuju tangga darurat, berlari menuruni anak tangga dengan kecepatan yang hanya bisa dicapai oleh seseorang yang didorong oleh kerinduan yang membakar.

Ia sampai di depan pintu baja tebal di ujung koridor yang gelap. Pintu itu sudah tidak terkunci. Dengan tangan bergetar, Elara mendorongnya.

Bau udara lembap dan pengap menyeruak. Di sudut sel yang hanya diterangi satu lampu redup, seorang pria duduk di lantai dengan rantai melilit pergelangan tangannya. Rambutnya panjang tak terawat, wajahnya penuh bayang-bayang, namun bahunya tetap tegak.

Pria itu mendongak. Mata mereka bertemu.

Selama enam bulan, Elara membayangkan momen ini. Ia membayangkan akan menangis, atau memeluknya. Namun saat ia melihat Julian, satu-satunya hal yang ia rasakan adalah amarah yang dingin—amarah pada dunia yang telah melakukan ini pada mereka.

Julian menatapnya seolah melihat hantu. Suaranya pecah, hampir tak terdengar.

"Elara...?"

Elara melangkah masuk ke dalam sel, cahayanya memantul di mata digitalnya. Ia berlutut di depan Julian, mengeluarkan belati peraknya bukan untuk mengancam, melainkan untuk merusak mekanisme kunci rantai itu.

"Bangun, Julian," ucap Elara, suaranya setajam baja. "Aku tidak datang jauh-jauh ke sini hanya untuk melihatmu membusuk di tempat ini."

Julian memegang tangan Elara, meraba kulitnya seolah ingin memastikan ini bukan halusinasinya yang keseribu kali. "Matamu... kau bisa melihat?"

"Aku bisa melihat segalanya sekarang, Julian," Elara menarik Julian berdiri. "Dan hal pertama yang ingin kulihat adalah kerajaan ini terbakar habis."

1
YuWie
wis pasraho wae elara..
YuWie
hmm latar cerita luar negri ya
Cerrys_Aram: Iya, tadinya konsepnya Indo. Tapi setelah dipikir lagi, konflik dan karakternya lebih cocok kalau latarnya luar negeri.
total 1 replies
YuWie
mulai baca
Arifinnur12
Keren sih iniiiii
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!