NovelToon NovelToon
Cintaku Nyangkut Di Utang Kopi

Cintaku Nyangkut Di Utang Kopi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita / Romansa / Komedi / Slice of Life / Urban
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

Gia mengira hidupnya sudah berakhir saat karier cemerlangnya di Jakarta hancur dalam semalam akibat fitnah dari mantan tunangannya, Niko. Pulang ke kampung halaman untuk menjaga kedai kopi tua milik ayahnya adalah pilihan terakhir untuk menyembuhkan luka.
Namun, kedai itu ternyata sarang para pengutang! Yang paling parah adalah Rian, tukang bangunan serabutan yang wajahnya selalu belepotan debu semen, tapi punya rasa percaya diri setinggi langit. Rian tidak punya uang untuk bayar kopi, tapi dia punya sejuta cara untuk membuat hari-hari Gia yang suram jadi penuh warna—sekaligus penuh amarah.
Saat Gia mulai merasa nyaman dengan kesederhanaan desa dan aroma kopi yang jujur, masa lalu yang pahit kembali datang. Niko muncul dengan kemewahannya, mencoba menyeret Gia kembali ke dunia yang dulu membuangnya.
Di antara aroma espresso yang pahit dan senyum jail pria tukang utang, ke mana hati Gia akan berlabuh? Apakah kebahagiaan itu ada pada kesuksesan yang megah, atau justru nyangkut di dalam d

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Tawaran di Meja Kayu

Erlangga ternyata bukan tipe orang yang mudah menyerah hanya karena gertakan seorang pria berbaju semen. Keesokan harinya, saat matahari bahkan belum mencapai puncaknya, mobil merah menyala itu sudah kembali terparkir di depan Kedai Harapan. Namun kali ini, targetnya bukan Gia.

"Pak Jaya, ini biji kopi terbaik dari kebun kemitraan kami di Gayo. Silakan dicicipi, saya yakin lidah ahli seperti Bapak bisa merasakan bedanya," suara Erlangga terdengar sangat santun dari arah bar kedai.

Gia yang sedang merapikan stok cangkir di belakang bar hanya bisa mendesah. Ia melirik ayahnya yang tampak tertarik memeriksa biji kopi hijau (green beans) yang dibawa Erlangga. Pak Jaya memang lemah jika sudah urusan kualitas kopi; baginya, setiap biji kopi punya nyawa yang layak dihormati.

"Bagus ini, Lang. Ukurannya seragam, proses full washed-nya bersih," puji Pak Jaya sambil mengendus aroma biji mentah tersebut.

"Tentu, Pak. Dan bayangkan kalau biji sekelas ini diolah dengan mesin roasting digital terbaru milik kami. Profil rasanya bisa keluar maksimal tanpa ada risiko gosong," tambah Erlangga telaten. "Itulah kenapa saya sangat ingin bekerja sama dengan Balai Kreatif yang sedang dibangun Rian dan Gia. Saya ingin Sukamaju jadi pusat kopi terbaik, bukan sekadar tempat pelatihan tradisional."

Di luar, Rian sedang berdiri di atas perancah bambu, memasang kerangka kayu untuk bagian atap. Ia bisa melihat interaksi di dalam kedai melalui jendela yang terbuka. Meski dari kejauhan, Rian bisa merasakan aura "penjilat" yang dipancarkan Erlangga.

"Mas Rian, itu paku kayunya miring!" Jon mengingatkan dari bawah.

"Hah? Oh, iya," Rian tersentak. Ia memukul paku itu dengan emosi yang sedikit berlebihan hingga suaranya bergema ke seluruh halaman.

"Sabar, Mas. Orang ganteng pakai mobil merah memang biasanya bikin panas hati," goda Jon sambil terkekeh.

"Berisik kamu, Jon! Urus saja adukannya itu!" gerutu Rian. Ia turun dari perancah dengan gerakan cepat, menepis debu di celananya, dan melangkah menuju kedai dengan langkah lebar.

Begitu masuk, Rian langsung berdiri di samping Gia, seolah menetapkan wilayah kekuasaannya. "Bapak lagi sibuk ya? Sepertinya ada kiriman semen yang butuh tanda tangan Bapak di depan."

Pak Jaya menoleh, sedikit bingung. "Semen? Bukannya tadi pagi sudah?"

"Ada tambahan, Pak. Buat bagian selasar," dusta Rian tanpa berkedip. Begitu Pak Jaya keluar, Rian langsung menatap Erlangga yang masih duduk santai dengan segelas air mineral.

"Mas Erlangga ini sepertinya rajin sekali bertamu ya. Nggak ada kantor yang harus diurus?" tanya Rian ketus.

Erlangga tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat tenang. "Bagi saya, kantor itu bisa di mana saja, Rian. Terutama di tempat yang punya masa depan cerah seperti Sukamaju. Oh ya, saya baru saja bicara dengan Pak Jaya soal pengadaan mesin. Sepertinya beliau sangat setuju kalau kita menaikkan standar kedai ini."

Gia menyela, "Mas Erlangga, seperti yang Rian bilang kemarin, kami ingin Balai Kreatif ini jadi milik warga. Kalau mesinnya terlalu mahal dan teknologinya terlalu rumit, warga malah akan takut untuk belajar."

Erlangga mencondongkan tubuhnya ke meja, menatap Gia dengan intens. "Gia, dunia tidak menunggu orang yang takut pada teknologi. Kalau kalian tetap pakai cara lama, Sukamaju hanya akan jadi catatan kaki. Tapi bersama saya, kita bisa bikin brand kopi Sukamaju masuk ke hotel-hotel di Jakarta. Bukankah itu yang kamu mau? Membuktikan pada orang kota bahwa kamu bisa sukses?"

Kalimat itu telak mengenai titik sensitif Gia. Ia teringat pada penghinaan Niko dan Mahendra. Keinginan untuk membuktikan diri memang masih ada di sudut hatinya.

Rian menyadari perubahan ekspresi Gia. Ia segera mengambil alih pembicaraan. "Sukses itu nggak harus menjual jiwa pada industri besar, Mas. Kami mau sukses dengan cara kami sendiri. Cara yang... manusiawi."

"Manusiawi?" Erlangga berdiri, merapikan kemeja linannya. "Rian, kamu mungkin arsitek hebat, tapi soal bisnis kopi, kamu masih amatir. Gia, pikirkan tawaranku. Besok malam saya mengadakan cupping session eksklusif di kota. Saya harap kamu datang. Sendirian, agar kita bisa bicara bisnis tanpa interupsi... teknis."

Erlangga memberikan senyum tipis, mengangguk pada Rian yang rahangnya sudah mengeras, lalu melenggang pergi.

Malam harinya, suasana di dalam rumah Pak Jaya terasa tegang. Gia duduk menatap kartu nama Erlangga, sementara Rian sibuk dengan laptopnya di meja pojok, namun suaranya hanya diisi oleh ketukan jari yang tidak beraturan pada meja kayu.

"Kamu mau datang?" tanya Rian tiba-tiba tanpa menoleh.

"Aku cuma mikirin soal mesinnya, Rian. Kalau dia benar bisa kasih harga miring dengan kualitas setinggi itu, itu bakal ngebantu warga banget," jawab Gia pelan.

"Nggak ada yang gratis di dunia ini, Gia. Terutama dari orang kayak Erlangga. Kamu lihat cara dia ngomong? Dia itu tipe orang yang bakal minta 'pajak' di kemudian hari," Rian menutup laptopnya dan menghampiri Gia.

"Kamu cuma cemburu karena dia lebih paham soal kopi daripada kamu," cetus Gia, mencoba memancing reaksi Rian.

Rian terdiam. Ia menarik napas panjang, lalu duduk di kursi depan Gia. "Mungkin. Mungkin aku cemburu. Tapi aku juga punya insting yang kuat soal orang-orang dari masa lalu. Kamu tahu siapa investor utama di balik Langka Coffee Roastery milik dia?"

Gia menggeleng.

"Salah satu mantan rekan bisnis Tuan Mahendra yang namanya nggak terseret kasus kemarin karena dia bermain sangat bersih," Rian menunjukkan sebuah layar di ponselnya yang berisi diagram struktur kepemilikan perusahaan.

"Ini bukan soal kopi, Gia. Ini soal Mahendra yang mencoba masuk lagi lewat pintu belakang. Erlangga itu cuma pion yang lebih cantik daripada Niko."

Gia terpaku. Rasa bangganya sesaat tadi langsung runtuh berganti dengan kewaspadaan. "Jadi... dia cuma mau sabotase Balai Kreatif dari dalam?"

"Atau mau memiliki kamu untuk menghancurkan aku," bisik Rian, suaranya terdengar sangat parau. "Gia, aku nggak masalah kalau kamu mau sukses. Aku bakal dukung kamu sampai titik darah terakhir. Tapi tolong, jangan sama dia."

Gia menatap mata Rian. Di sana ia tidak hanya melihat cemburu, tapi juga ketakutan yang nyata akan kehilangan. Gia perlahan merobek kartu nama Erlangga menjadi potongan kecil di depan Rian.

"Besok malam, kita nggak akan ke kota buat cupping session," ujar Gia mantap.

"Terus kita ke mana?"

"Kita ke pasar malam di desa sebelah. Kita makan gulali dan naik bianglala. Aku mau ngerasain sukses yang 'manusiawi' bareng kamu."

Rian tersenyum lebar, senyum yang akhirnya mencapai matanya. "Siap, Neng Bos! Tapi diongkosin ya? Utang kopiku kan belum lunas."

"Enak aja! Bayar sendiri!"

Tawa mereka pecah, meruntuhkan ketegangan malam itu. Namun di kejauhan, di dalam kegelapan jalan desa, Erlangga sedang menatap Kedai Harapan dari dalam mobilnya. Ia memutar-mutar ponselnya, lalu melakukan sebuah panggilan.

"Rencana A ditolak. Kita masuk ke rencana B. Mulai sabotase pasokan semen untuk Balai Kreatif besok pagi. Kita lihat seberapa lama si 'kuli berijazah' itu bisa bertahan tanpa material."

1
Satri Eka Yandri
penasaran pov gia wktu di kota,di fitnah apa yah?
Sefna Wati: ayo baca bab selanjutnya kak
biar GK penasaran waktu gia di kota kenapa difitnah🥰🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!