NovelToon NovelToon
The Librarian'S Midnight Guest

The Librarian'S Midnight Guest

Status: sedang berlangsung
Genre:Vampir / Fantasi Wanita / Harem
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: treezz

Di balik rak-rak kayu ek yang menjulang tinggi, Genevieve Isolde Clara adalah cahaya yang tak pernah padam. Sebagai pustakawan, ia dikenal karena senyumnya yang merekah bagi siapa saja dan keramahannya yang membuat siapa pun merasa diterima. Namun, keceriaan itu hanyalah tirai tipis yang menutupi luka batin yang sangat dalam. Genevieve adalah ahli dalam berpura-pura—ia membalut rasa sakitnya dengan tawa, memastikan dunia melihatnya sebagai gadis yang paling bahagia, meski hatinya perlahan hancur dalam kesunyian.
Kehidupan Genevieve yang penuh kepura-puraan terusik ketika Valerius Theodore Lucien muncul. Valerius adalah seorang pria dengan aura bangsawan kuno, pucat, dan memiliki tatapan yang seolah bisa menembus waktu—ia adalah seorang vampir yang telah hidup berabad-abad. Sejak pertama kali melihat Genevieve, Valerius merasakan sesuatu yang janggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Antara Mimpi dan Kenyataan

Cahaya matahari pagi yang tajam menusuk dari jendela loteng, memaksa kelopak mata Genevieve terbuka dengan berat.

Ia mengerang pelan, merasakan kepalanya berdenyut ringan. Hal pertama yang ia sadari adalah dirinya masih mengenakan pakaian pustakawan semalam, namun tertidur dengan rapi di bawah selimut tebalnya.

"Mimpi..." bisiknya dengan suara serak. "Tuhan, itu pasti hanya mimpi buruk yang sangat gila."

Ia teringat sosok pria pucat bernama Valerius, jubah hitam yang menyapu lantai, dan bagaimana ia memukul bayangan itu dengan gagang sapu.

Semuanya terasa begitu nyata—dinginnya tangan pria itu, detak jantung yang absen, dan mata merah yang menghujam jiwanya.

Namun, saat ia melihat ke sekeliling kamarnya, semuanya tampak normal. Pintu masih terkunci dari dalam, dan tidak ada tanda-tanda kehadiran makhluk apa pun.

Genevieve melirik jam beker di samping tempat tidurnya. Matanya membelalak.

"Astaga! Aku terlambat!"

Ia melompat turun dari ranjang. Hari ini adalah jadwalnya mengajar di sekolah anak-anak. Ia tidak punya waktu untuk memikirkan mimpi aneh itu.

Dengan terburu-buru, ia mencuci wajahnya, mengganti gaun klasiknya dengan pakaian mengajar yang rapi, dan menyisir rambutnya yang berantakan.

Ia memaksakan diri di depan cermin. Menarik napas panjang, lalu perlahan membentuk sebuah lengkungan di bibirnya. Senyum yang ramah. Senyum yang ceria. Senyum yang berkata bahwa semuanya baik-baik saja.

"Kau bisa, Genevieve. Hanya satu hari lagi," gumamnya pada bayangannya sendiri di cermin yang retak.

Namun, tepat saat ia hendak menyambar tas tangannya di atas meja, langkahnya terhenti. Di atas meja kayu itu, tepat di samping tumpukan surat tagihan yang belum dibayar, terletak sebuah benda yang membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.

Sebuah mawar merah darah yang masih segar, persis seperti yang ada dalam "mimpinya" semalam. Dan di bawah mawar itu, terdapat sebuah amplop hitam kecil dengan tulisan tangan yang sangat rapi, berbunyi:

"Ini bukan mimpi, Genevieve. Mengajarlah dengan tenang hari ini. Bebanmu sudah berkurang setengahnya."

Tangan Genevieve gemetar saat ia menyentuh kelopak mawar itu. Dingin. Persis seperti sentuhan pria itu semalam. Rasa takut kembali merayap di tengkuknya, namun ia harus segera pergi. Anak-anak menantinya.

Ia memasukkan amplop itu ke dalam sakunya dengan panik dan berlari keluar menuju sekolah, merasa seolah-olah ribuan mata merah sedang mengawasinya dari setiap sudut bayangan pohon di sepanjang jalan.

Baginya, logika adalah penyelamat.

Dan logika mengatakan bahwa ia harus berada di depan kelas dalam sepuluh menit, atau ia akan kehilangan satu-satunya pekerjaan yang membuatnya merasa tetap menjadi manusia.

Ia berlari menyusuri jalanan berbatu yang masih berkabut. Napasnya terengah-engah, udara pagi yang dingin menusuk paru-parunya, namun ia terus memacu langkah.

Di kepalanya, ia hanya menyusun rencana pelajaran hari ini: alfabet, lagu baru tentang burung pipit, dan krayon warna-warni. Segala hal yang normal. Segala hal yang tidak melibatkan pria tanpa detak jantung.

Begitu sampai di gerbang sekolah yang bercat putih, Genevieve berhenti sejenak untuk mengatur napas.

Ia menepuk-nepuk pipinya agar terlihat lebih segar, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena angin, dan yang paling penting: ia memasang kembali topengnya.

"Selamat pagi, Miss Genevieve!" sapa penjaga gerbang dengan ramah.

"Selamat pagi, Pak Thomas! Hari yang indah, bukan?" jawab Genevieve dengan nada yang begitu riang, seolah-olah ia tidak baru saja pingsan karena teror semalam.

Ia melangkah masuk ke dalam kelas. Suasana riuh rendah suara anak-anak langsung menyambutnya.

"Miss Genevieve! Lihat, aku menggambar bunga!"

"Miss, ayo menyanyi!"

Genevieve berlutut di tengah kerumunan anak-anak itu, tertawa dan memuji hasil karya mereka. Untuk beberapa saat, ia berhasil lupa. Ia fokus pada tawa polos mereka, pada jari-jari kecil yang belepotan cat, dan pada cerita-cerita sederhana tentang naga dan peri.

Di sini, ia merasa aman. Di sini, ia merasa berkuasa atas hidupnya sendiri.

Namun, di tengah-tengah pelajaran menggambar, kepalanya mendongak secara refleks. Ia menatap ke arah jendela besar yang menghadap ke hutan di seberang jalan.

Di sana, di balik rimbunnya pohon ek yang gelap, ia melihat sebuah siluet berdiri mematung. Seorang pria jangkung dengan jubah hitam yang kontras dengan cahaya matahari pagi. Meskipun jaraknya jauh, Genevieve bisa merasakan tatapan itu—dingin, intens, dan penuh obsesi.

Senyum Genevieve membeku selama satu detik sebelum ia memaksanya kembali.

"Miss Genevieve, kenapa berhenti?" tanya seorang murid kecil sambil menarik ujung gaunnya.

Genevieve tersadar, ia meremas amplop hitam di dalam sakunya yang terasa seberat timah. "Ah, tidak apa-apa, sayang. Miss hanya... mengagumi betapa indahnya warna hutan hari ini."

Ia tahu sekarang. Valerius tidak berbohong. Pria itu tidak hanya ada di dalam mimpinya. Pria itu ada di sana, di antara bayang-bayang, mengawasi setiap geraknya seperti predator yang menjaga harta karunnya.

1
May Maya
lanjut Thor
May Maya
baru kali ini aku baca novel ada kata2 kiasan sekuat batu nisan biasanya kan sekeras n sekuat baja atau beton 🤭
May Maya
kacian velerius 😄
Afri
alur cerita nya bagus. . tidak buru buru .. mengalir dgn perlahan
keren
Afri
aku suka karya mu thor ..
cerita nya manis
May Maya
suka dgn genre ini
May Maya
vieve di dekati vampir tampan tp namanya makhluk gaib pasti takut jg ya vie🤭
May Maya
mulai baca Thor
treezz: semoga suka kakak🤭
total 1 replies
Afri
bagus
Afri
cerita nya bagus thor
fe
mantapp
anggita
👍👆 sip.,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!