NovelToon NovelToon
Sekretaris Pengganti Sang CEO Dingin

Sekretaris Pengganti Sang CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Langit

"Aku tahu kamu bukan dia. Dan sekarang, bayar harga penyamaranmu dengan menjadi istriku."
Demi nyawa ibunya, Alana nekat menyamar menjadi kakaknya untuk bekerja pada Arkananta, CEO kejam yang dijuluki "Monster Es". Namun, Arkan justru menjebaknya dalam pernikahan kontrak untuk menghadapi ular-ular di keluarganya.
Dari puncak kemewahan hingga titik terendah saat Arkan dikhianati dan terusir dari hartanya, Alana tetap bertahan. Bersama, mereka membangun kembali kekaisaran dari nol untuk membalas dendam pada setiap pengkhianat.
Saat rahasia identitas terbongkar dan dunia membuang mereka, mampukah cinta sang sekretaris pengganti menjadi kekuatan terakhir sang CEO?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Singgasana di Atas Kaca Tipis

Udara di lantai tertinggi gedung Arkananta Group terasa jauh lebih tipis dan dingin daripada biasanya. Pagi ini bukan sekadar rapat rutin; ini adalah sidang penghakiman terselubung bagi Arkan setelah kegaduhan yang melibatkan Kevin. Di koridor yang dilapisi karpet beludru tebal, Alana berjalan di samping Arkan, langkahnya yang menggunakan sepatu hak tinggi berbunyi ritmis, seolah menghitung detik-detik menuju medan pertempuran.

Alana mengenakan setelan blazer formal berwarna abu-abu baja yang dirancang khusus untuk memberikan kesan otoritas. Rambutnya disanggul rapi tanpa menyisakan satu anak rambut pun yang terurai. Ia harus tampak seperti Elena—wanita yang cerdas, dingin, dan tak tergoyahkan. Namun di balik kain sutra yang melekat di tubuhnya, telapak tangan Alana terasa dingin dan basah.

"Jangan pernah menunduk," bisik Arkan tanpa mengalihkan pandangan dari pintu ruang rapat besar di depan mereka. "Di dalam sana, mereka adalah serigala. Begitu mereka melihatmu ragu meski hanya sedetik, mereka akan merobek lehermu."

Alana menarik napas panjang, mencoba menstabilkan debaran jantungnya. "Bagaimana jika mereka menanyakan detail operasional tahun lalu, Tuan? Saya sudah menghafalnya, tapi..."

"Kau tidak perlu menjadi ahli keuangan untuk membungkam mereka," Arkan memotong dengan suara rendah namun penuh keyakinan. "Kau hanya perlu menjadi istriku. Biarkan aku yang menangani angkanya, kau cukup menangani harga diri keluarga kita."

Pintu terbuka otomatis. Di dalam, tiga puluh anggota dewan direksi dan pemegang saham utama sudah duduk melingkari meja oak raksasa. Tuan Besar Arkananta duduk di kursi pusat, tampak seperti monumen kuno yang masih menyimpan kekuatan mematikan. Semua mata tertuju pada Alana saat ia melangkah masuk. Ada tatapan sinis, ada yang penuh selidik, dan ada yang terang-terangan menunjukkan ketidaksukaan setelah skandal Kevin merebak.

Rapat dimulai dengan suasana yang sangat tegang. Selama satu jam pertama, Arkan membombardir para direksi dengan laporan laba rugi yang memukau—sebuah taktik untuk membuktikan bahwa di bawah kepemimpinannya, perusahaan tetap kokoh meskipun ada konflik internal keluarga. Namun, ketenangan itu pecah ketika Tuan Hendrawan, salah satu pemegang saham tertua yang dikenal sebagai sekutu dekat mendiang ayah Kevin, mengangkat bicara.

"Laporan yang luar biasa, Tuan CEO," ucap Hendrawan dengan nada bicara yang manis namun berbisa. "Namun, perusahaan ini bukan hanya soal angka. Ini soal integritas. Kami mendengar desas-desus tentang ketidakstabilan di mansion Arkananta. Dan Nona Elena... kudengar kau mengalami amnesia pasca kecelakaan? Bagaimana kami bisa memercayakan posisi strategis di yayasan perusahaan kepada seseorang yang bahkan mungkin lupa cara menghitung hartanya sendiri?"

Ruangan itu mendadak sunyi. Beberapa direksi berbisik-bisik. Ini adalah serangan langsung terhadap Alana.

Arkan hendak bicara, namun Alana merasakan sebuah dorongan keberanian yang asing. Ia tahu, jika Arkan selalu membelanya, para serigala ini akan menganggapnya sebagai kelemahan Arkan. Ia harus membuktikan bahwa ia bukan sekadar pajangan.

Alana menegakkan punggungnya, menatap Tuan Hendrawan tepat di matanya—sebuah tindakan yang biasanya hanya dilakukan oleh Elena yang asli.

"Tuan Hendrawan," suara Alana terdengar jernih dan stabil, bergema di seluruh ruangan. "Amnesia saya adalah luka fisik, bukan cacat intelektual. Ingatan saya mungkin terfragmentasi mengenai detail masa lalu yang tidak relevan, namun kemampuan saya untuk membedakan mana mitra bisnis yang setia dan mana yang hanya mencoba memancing di air keruh tetap tajam."

Alana membuka tablet di depannya, menggeser layar menuju sebuah dokumen yang sudah disiapkan Arkan semalam sebagai "senjata darurat".

"Bicara soal integritas, saya baru saja meninjau laporan dana hibah untuk yayasan pendidikan di bawah pengawasan Anda, Tuan Hendrawan. Ada selisih sekitar lima persen yang masuk ke perusahaan cangkang di Seychelles. Apakah amnesia saya membuat saya salah membaca angka tersebut, atau memang ada yang mencoba mencuri di bawah hidung Kakek?"

Wajah Hendrawan berubah dari pucat menjadi merah padam. Tuan Besar Arkananta sedikit memiringkan kepalanya, menatap Alana dengan kilat kekaguman yang jarang terlihat. Arkan pun tampak terkejut; ia tidak menyangka Alana akan menggunakan informasi itu dengan begitu tenang dan mematikan.

"Itu... itu hanya kesalahan administratif!" gagap Hendrawan.

"Maka pastikan kesalahan itu diperbaiki sebelum rapat kuartal depan, atau saya sendiri yang akan memastikan dewan audit melakukan kunjungan harian ke kantor Anda," pungkas Alana dingin.

Rapat berakhir dengan kemenangan mutlak bagi pihak Arkan. Satu per satu direksi menyalami Arkan dan memberikan hormat pada Alana saat mereka keluar. Alana tetap berdiri di samping Arkan hingga orang terakhir pergi, mempertahankan topeng kaku itu hingga pintu benar-benar tertutup.

Begitu mereka hanya berdua bersama Tuan Besar, Alana merasa lututnya hampir lemas.

"Kau melakukannya dengan baik, Elena," ucap Tuan Besar sambil berdiri perlahan. "Kau mengingatkanku pada ibumu. Dia juga tahu kapan harus menggigit. Arkan, kau beruntung memiliki wanita yang bisa mengimbangi kegelapanmu."

Setelah sang Kakek pergi, Arkan berbalik menatap Alana. Tanpa kata, ia mendekat dan menarik Alana ke dalam pelukannya. Bukan pelukan yang singkat, melainkan pelukan yang penuh dengan rasa terima kasih dan sesuatu yang lebih dalam.

"Aku tidak menyangka kau akan melakukan itu," bisik Arkan di rambut Alana.

"Saya hanya melakukan apa yang perlu dilakukan agar kita tetap selamat," sahut Alana, suaranya kini kembali lembut, kembali menjadi Alana.

Namun, kemenangan di kantor pusat tidaklah berumur panjang. Di balik kemegahan hari itu, sebuah ancaman baru sedang mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Sesosok wanita cantik dengan kacamata hitam bermerek dan gaya yang sangat elegan melangkah keluar dari gerbang kedatangan internasional. Namanya adalah Bianca Adiwangsa, putri dari salah satu konglomerat terbesar di Asia dan wanita yang pernah dijanjikan Kakek untuk menjadi istri Arkan sebelum Arkan bersikeras memilih Elena.

Bianca tidak datang untuk sekadar berkunjung. Ia datang membawa tawaran merger raksasa yang tidak bisa ditolak oleh Tuan Besar Arkananta, dan ia memiliki satu tujuan utama: mengambil kembali tempat yang menurutnya telah dicuri oleh seorang wanita kelas dua seperti Elena.

Malam itu, saat Arkan dan Alana baru saja tiba di mansion, mereka menemukan sebuah buket bunga lili putih besar di meja ruang tamu. Bunga kesukaan Arkan, namun bunga yang paling dibenci oleh Elena.

Terlampir sebuah kartu kecil bertuliskan:

"Selamat atas posisi barumu, Arkan. Aku kembali untuk menagih janji lama. Sampai jumpa besok di makan malam keluarga. - Bianca."

Alana menatap kartu itu dengan perasaan was-was. Ia belum pernah mendengar nama Bianca sebelumnya. Namun, saat ia melihat ekspresi Arkan yang mendadak mengeras dan rahangnya yang terkunci rapat, Alana tahu bahwa masa tenangnya telah berakhir.

"Siapa dia, Tuan?" tanya Alana pelan.

Arkan meremas kartu itu hingga hancur di telapak tangannya. "Seseorang dari masa lalu yang seharusnya tetap berada di sana. Besok akan menjadi hari yang panjang, Alana. Pakailah gaun yang paling tidak mencolok. Bianca bisa mencium bau kelemahan dari jarak satu kilometer."

Di saat yang sama, di paviliun belakang, Elena yang asli baru saja selesai menghancurkan piring makannya. Ia menatap lewat jendela ke arah gedung utama mansion. Ia telah mendengar tentang Bianca dari bisik-bisik perawat.

"Datanglah, Bianca," bisik Elena dengan senyum gila di wajahnya yang pucat. "Hancurkan mereka berdua. Dan saat mereka hancur, aku akan bangkit untuk mengambil kembali sisa-sisanya."

Pusaran konflik di Arkananta Group kini semakin melebar. Bukan lagi sekadar tentang rahasia identitas, tapi tentang cinta masa lalu, ambisi bisnis yang kejam, dan dua wanita kembar yang kini berada di sisi berlawanan dari cermin nasib. Alana menyadari, singgasana yang ia duduki saat ini benar-benar terbuat dari kaca tipis yang sewaktu-waktu bisa hancur dan melukainya hingga tak bersisa.

1
Sweet Girl
Nikmati aja dulu kemewahan yang diberikan Arkan, toh kamu sendiri belum punya pacarkan...
Sweet Girl
Nah... ini gak enaknya...
Sweet Girl
Kok seperti nya Arkan sudah mengenal Alana ya Tor...
Sweet Girl
Dirantai kamu Alana...
Sweet Girl
Apa kau terpesona pada pandangan pertama dengan Sekretaris kecil pengganti, Tuan CEO...???
Sweet Girl
Bwahahaha bener tau dia.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!