NovelToon NovelToon
ABU DARI SIKLUS ABADI

ABU DARI SIKLUS ABADI

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Romansa Fantasi / Action / Fantasi Isekai / Komedi
Popularitas:747
Nilai: 5
Nama Author: Varss V

Ash adalah pria dari dunia lain yang datang tanpa misi heroik. Ia bercanda, bertarung, dan bertahan hidup dengan cara yang terasa terlalu santai untuk dunia yang penuh perang dan kebohongan. Namun di balik tawanya, ada sesuatu yang tersegel di dalam dirinya kekuatan purba yang mulai bangkit setiap kali ia kehilangan. Saat konflik antar kerajaan, malaikat, Naga, dan iblis memanas, Ash terjebak di pusat siklus kehancuran yang jauh lebih tua dari peradaban mana pun. Semakin kuat ia menjadi, semakin tipis batas antara manusia dan monster. Pada akhirnya, dunia tidak hanya bertanya apakah Ash bisa menyelamatkan mereka, tetapi apakah ia masih Ash yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# BAB 7 - ECLIPSE

Subuh di Vairlion lebih dingin dari yang Ash kira. Kabut tipis menyelimuti jalanan, dan hanya beberapa pedagang pagi yang sudah mulai membuka lapak mereka. Ash berjalan sambil menggosok-gosok tangannya, napasnya mengepul di udara dingin.

"Kenapa sih quest harus dimulai sesubuh ini?" gerutunya. "Matahari aja belum bangun sepenuhnya."

"Caravan biasanya berangkat pagi agar sampai sebelum gelap," jawab Eveline yang berjalan di sampingnya tanpa menunjukkan tanda-tanda kedinginan sama sekali. "Perjalanan di malam hari lebih berbahaya."

"Iya sih, logis. Tapi tetap aja dingin."

Mereka sampai di gerbang barat. Di sana sudah ada kerumunan orang dan gerobak-gerobak besar yang sedang dimuat barang. Ash menghitung ada tiga gerobak, masing-masing ditarik oleh dua ekor hewan mirip kerbau tapi berkaki enam dengan tandung melingkar yang lebih mirip domba jantan.

Razen sudah ada di sana, berdiri di samping salah satu gerobak sambil berbicara dengan seorang pria gemuk yang terlihat sangat gugup.

"Ah, kalian datang," sapa Razen begitu melihat Ash dan Eveline mendekat. "Tepat waktu. Bagus."

"Kami tidak pernah telat," kata Eveline.

Razen tersenyum tipis. "Kita lihat saja nanti." Dia menoleh pada pria gemuk di sampingnya. "Ini Tuan Gorman, pemilik caravan."

Gorman menatap Ash dan Eveline dengan ragu. "Mereka... penjaga tambahan? Yang satu terlihat terlalu muda. Dan yang satu... yah, tidak terlihat seperti warrior."

"Mereka cukup," potong Razen dengan nada final. "Percaya padaku."

Gorman masih terlihat ragu, tapi dia tidak protes lagi. "Baiklah. Kita berangkat sebentar lagi. Perjalanan ke Bernstead memakan waktu dua hari. Kalian akan dibayar setelah sampai dengan selamat."

"Bernstead?" tanya Ash. "Itu desa apa kota?"

"Desa kecil di selatan. Tempat pertanian," jawab Razen. "Jalurnya relatif aman. Tapi akhir-akhir ini ada laporan bandit di daerah perbukitan."

"Bandit? Seperti perampok?"

"Persis seperti itu."

Ash menelan ludah. Ini berbeda dengan tikus. Ini manusia sungguhan yang bisa menggunakan senjata.

Tapi dia sudah terlanjur setuju. Tidak ada jalan mundur.

Caravan mulai bergerak saat matahari mulai muncul di cakrawala. Ada sekitar sepuluh orang dalam rombongan ini: Gorman, beberapa pedagang, dua kusir gerobak, dan tiga penjaga bayaran lainnya selain Ash, Eveline, dan Razen.

Ash dan Eveline diberi posisi di barisan belakang, mengawasi dari punggung. Razen berjalan di samping gerobak tengah, matanya terus memindai daerah sekitar.

Perjalanan hari pertama berlangsung tanpa masalah. Mereka melewati padang rumput luas, sesekali bertemu dengan pedagang lain yang berjalan arah berlawanan. Cuaca cerah, dan Ash bahkan sempat bersiul-siul kecil karena bosan.

"Eveline, ini seperti jalan-jalan santai ya," komentarnya. "Aku pikir bakal ada drama."

"Jangan sampai ada," jawab Eveline. "Drama berarti masalah. Masalah berarti bahaya."

"Kau ini selalu pesimis."

"Aku realis."

Mereka berkemah di pinggir jalan saat matahari mulai terbenam. Api unggun dinyalakan, dan Gorman mengeluarkan persediaan makanan untuk semua orang. Roti, keju, dan daging asap.

Ash duduk dekat api, menikmati kehangatan. Razen duduk tidak jauh darinya, mengasah pedangnya dengan gerakan teratur.

"Razen," panggil Ash. "Boleh aku tanya sesuatu?"

"Tergantung pertanyaannya."

"Kenapa kau keluar dari LightOrder?"

Razen berhenti mengasah. Dia menatap api dengan ekspresi yang sulit dibaca.

"Aku diperintahkan untuk membunuh," ucapnya akhirnya. "Seluruh desa. Wanita, anak-anak, orang tua. Mereka dituduh menyembah dewa gelap. Tapi yang kulihat... hanya petani yang ketakutan. Anak-anak yang menangis."

Ash terdiam, mendengarkan.

"Aku tidak bisa melakukannya," lanjut Razen. "Aku membiarkan mereka lari. Dan aku pergi. Sejak itu, aku hidup seperti ini."

"Kau tidak menyesal?"

"Menyesal karena menyelamatkan nyawa? Tidak. Menyesal karena tidak berbuat lebih? Setiap hari."

Ada keheningan yang berat. Lalu Eveline, yang duduk di seberang api, berbicara.

"Desa mana?"

"Di perbatasan timur. Dekat Mound Seven."

"Bestkind territory."

"Ya. Desanya campuran manusia dan bestkind. LightOrder bilang mereka menyembah binatang. Tapi yang mereka sembah hanya roh leluhur dan alam." Razen menyimpan pedangnya. "Cukup cerita. Istirahat. Besok jalan lebih berat."

Ash berbaring di atas selimut tipis yang diberikan. Dia menatap langit malam yang dipenuhi bintang-bintang. Bintang di dunia ini lebih banyak dan lebih terang daripada di Bumi.

"Eveline," bisiknya. "Kau pikir kita akan baik-baik saja?"

"Selama kau tidak melakukan hal bodoh, seharusnya."

"Itu tidak meyakinkan."

"Itu yang bisa kuberikan."

Ash tertawa kecil. "Oke. Aku percaya padamu."

Dia memejamkan mata, mencoba tidur.

Tapi ada sesuatu yang mengganggu. Perasaan aneh di dadanya. Seperti ada yang mengawasi mereka dari kegelapan.

---

Hari kedua dimulai dengan suasana yang berbeda.

Mereka memasuki wilayah perbukitan. Jalan berkelok-kelok, diapit tebing di satu sisi dan jurang dangkal di sisi lain. Kabut pagi membuat jarak pandang terbatas.

Razen terlihat lebih tegang dari biasanya. Tangannya tidak pernah jauh dari gagang pedangnya.

"Ada apa?" tanya Ash yang berjalan di sampingnya.

"Terlalu sepi," jawab Razen. "Burung-burung tidak berkicau. Hewan-hewan tidak terlihat. Itu pertanda buruk."

Ash merasakan bulu kuduknya berdiri. Dia melirik ke Eveline yang juga sudah bersiaga, tangannya dekat dengan belati.

Lalu, dari depan, terdengar teriakan.

Dan ledakan.

BOOOOM!

Semburan api oranye menyala-nyala meledak dari tebing di atas, menghantam gerobak paling depan. Kayu pecah berkeping-keping. Hewan penariknya meringkik panik. Pedagang berteriak ketakutan.

"SERANGAN! BANDIT!" teriak salah satu penjaga.

Tapi ini bukan bandit biasa.

Dari atas tebing, Ash melihat sekelompok orang melompat turun dengan gerakan yang terlalu terlatih untuk perampok biasa. Mereka tidak memakai seragam. Tampak seperti orang biasa. Tapi ekspresi mereka dingin. Terlalu tenang untuk situasi seperti ini.

Dan di tengah mereka, berdiri seorang anak laki-laki.

Mungkin berusia sepuluh tahun. Rambut coklat berantakan, pakaian sederhana. Tapi matanya... matanya tua. Sangat tua. Seperti mata seseorang yang sudah melihat ratusan tahun berlalu.

Di tangannya, dia memegang sebuah jam saku perak yang terbuka.

"Waktunya tepat," ucap anak itu dengan suara yang terdengar jelas meski dari jarak jauh. Suaranya datar, tanpa emosi. "Target ada di gerobak kedua."

Salah satu anggota kelompoknya, seorang wanita dengan rambut pirang pendek dan mata tajam seperti elang, mengangguk. Di tangannya ada sepasang pedang pendek yang berkilau berbahaya.

Dia melompat dari tebing dengan anggun, mendarat tanpa suara, dan langsung berlari menuju gerobak kedua.

"Eclipse," bisik Razen, wajahnya pucat. "Kita harus pergi. Sekarang."

"Eclipse? Itu apa?" tanya Ash panik.

"Organisasi teroris. Mereka menghancurkan kota demi membunuh satu target. Tidak peduli korban sipil." Razen menarik lengan Ash. "Kita tidak bisa melawan mereka. Mereka adalah buronan Class S!"

Tapi Eveline sudah bergerak.

Dia melesat ke depan, belati terhunus, mengintersep wanita pirang itu tepat sebelum dia mencapai gerobak.

KLANG!

Belati dan pedang beradu. Percikan api kecil muncul dari benturan logam.

"Assassin?" wanita pirang itu, Tria mungkin namanya, tersenyum tipis. "Menarik. Tapi kau tidak cukup kuat."

Mereka bertarung dengan kecepatan yang membuat Ash hampir tidak bisa mengikuti. Eveline cepat, tapi Tria lebih cepat. Setiap serangan Eveline dipelintir, dihindari, dibalas dengan serangan yang lebih mematikan.

Dalam hitungan detik, Eveline sudah terluka. Goresan di lengan. Tusukan dangkal di paha.

"EVELINE!" teriak Ash.

Dia tidak berpikir. Hanya berlari.

Dia menerjang ke arah Tria, mencoba mendorongnya menjauh dari Eveline.

Tapi Tria hanya memiringkan badan sedikit, dan dengan gerakan sederhana, menendang dada Ash.

KRACK!

Ash merasakan sesuatu patah di dadanya. Tulang rusuk. Rasa sakit menusuk seperti pisau panas. Dia terlempar ke belakang, menghantam sisi gerobak dengan keras.

Dia terbatuk, darah keluar dari mulutnya. Penglihatannya kabur.

"Ash, jangan!" teriak Eveline, tapi dia sedang menghadapi Tria yang semakin agresif.

Tria melihat Ash yang tergeletak, lalu mengangkat bahu. "Pahlawan bodoh." Dia kembali fokus pada misi utamanya.

Dia membuka terpal gerobak kedua. Di dalamnya, seorang pria tua berjubah gemetar ketakutan.

"Tolong! Aku hanya pedagang!" pintanya.

"Maaf, Tuan Walikota," ucap Tria dengan nada datar yang mengerikan. "Tapi korupsimu sudah menghancurkan hidup ribuan orang. Ini untuk keadilan."

Dia mengangkat pedangnya.

Tapi sebelum pedang itu turun, sesuatu terjadi.

Udara berubah.

Menjadi berat. Sangat berat. Seperti gravitasi tiba-tiba berlipat ganda.

Dan dari kegelapan di antara pepohonan, sebuah figur berjalan keluar.

Wanita berambut hitam kecoklatan dengan senyum lebar yang sangat tidak pantas untuk situasi ini. Matanya berwarna kuning cerah, berkilau dengan kegembiraan yang aneh.

"Wah, wah, wah," ucapnya dengan nada nyanyian yang menyebalkan. "Serangga kecil saling bunuh. Nivraeth bosan melihat ini~"

Semua orang berhenti bergerak.

Bahkan Tria, yang tadi begitu percaya diri, mundur selangkah. Wajahnya waspada.

"Siapa?" tanyanya.

"Pertanyaan yang tidak penting~," balas wanita itu, Morgana, sambil berjalan santai mendekati Ash yang tergeletak. Dia menunduk, memiringkan kepala dengan gerakan yang terlalu tajam untuk manusia normal. "Bocah ini... lagi-lagi hampir mati. Menyebalkan."

Dia meletakkan tangan di dada Ash. Cahaya gelap, bukan hitam tapi warna yang seperti menyerap cahaya di sekitarnya, keluar dari telapak tangannya.

Ash merasakan panas, lalu dingin. Sakit di dadanya menghilang. Tulang-tulang yang retak menyatu dengan bunyi klik kecil yang membuatnya merinding.

Regenerasi. Tapi bukan seperti miliknya. Ini lebih halus. Terkontrol. Seperti dikembalikan ke kondisi semula oleh tangan yang sangat mahir.

"Kau... penyembuh?" tanya Ash bingung, suaranya serak.

"Bukan~," balas Morgana sambil berdiri. Senyumnya melebar, menunjukkan gigi yang terlalu putih. Dia menoleh ke Tria. "Kau. Serangga kecil yang membunuh walikota korup. Nivraeth tidak peduli dengan keadilanmu. Tapi kau melukai bocah ini. Itu mengganggu Nivraeth."

Tria mengatur posisi bertarung. "Siapapun kau, ini bukan urusanmu."

"Semuanya urusan Nivraeth jika Nivraeth mau~." Senyum Morgana menjadi lebih lebar, lebih tidak wajar. Matanya berubah menjadi seperti mata reptil. "Pergilah. Atau Nivraeth akan main-main denganmu~ Dan Nivraeth tidak pernah main-main dengan lembut."

Dari atas tebing, anak laki-laki dengan pocket watch berbicara. Suaranya terdengar jelas meski dari jarak jauh, seperti ada yang memperkuatnya.

"Tria. Mundur."

"Tapi Jack, targetnya—"

"Kekuatannya tidak terbaca," potong Jack dengan nada yang sama datarnya. "Level ancaman tidak diketahui. Tidak sepadan dengan resiko. Target sudah mati?"

Tria melirik ke gerobak. Walikota tua itu sudah tergeletak dengan darah menggenang di bawah tubuhnya. Tenggorokannya terpotong. Dia terbunuh saat Morgana mengalihkan perhatian semua orang.

"Ya," jawab Tria.

"Kita pergi."

Tria melirik Morgana terakhir kali dengan tatapan yang sulit dibaca. Takut? Penasaran? Mungkin keduanya. Lalu dia melompat kembali ke tebing.

Dalam sekejap, seluruh anggota Eclipse menghilang ke dalam hutan seperti hantu.

Keheningan menguasai caravan yang hancur.

Morgana berdiri di tengah kehancuran, masih dengan senyum lebar itu. Dia menoleh ke Ash yang masih duduk di tanah, terpana.

"Bodoh," komentarnya. "Mengejar musuh level S dengan kekuatanmu yang cuma setara level goblin. Nivraeth heran kau masih hidup hingga sekarang~"

"Kau... kau siapa?" tanya Ash, akhirnya berhasil berbicara.

"Morgana. Tapi panggil saja Nivraeth jika kau mau~" Dia berjalan mendekati Eveline yang masih berdiri dengan waspada, belati terhunus meski tubuhnya gemetar kelelahan. "Dan kau... assassin kecil. Lumayan cepat. Tapi masih lambat untuk ukuran Nivraeth."

"Jangan mendekat," peringat Eveline.

"Tenang~ Nivraeth tidak akan menyakiti kalian. Hari ini." Morgana berbalik, hendak pergi ke arah hutan.

"Tunggu!" panggil Ash sambil berusaha berdiri. "Kenapa kau menolongku?"

Morgana berhenti, tanpa menoleh. Senyumnya masih terdengar dalam suaranya.

"Karena kau menarik~ Dan Nivraeth bosan." Lalu, dengan suara lebih pelan, hampir seperti bisikan pada diri sendiri, "Dan karena kau mengingatkan Nivraeth pada sesuatu yang seharusnya tidak Nivraeth ingat~"

Dia melangkah ke dalam bayangan pohon, dan dalam sekejap, menghilang sepenuhnya. Seperti tidak pernah ada di sana.

Razen mendekat, wajahnya masih pucat. "Kita... kita selamat. Karena wanita itu."

"Kau kenal dia?" tanya Ash.

"Tidak. Tapi kekuatannya... itu bukan sihir biasa. Bahkan bukan aura. Itu sesuatu yang lain."

Sisa caravan dalam keadaan kacau. Tiga penjaga tewas dalam ledakan awal. Gerobak pertama hancur total. Dan walikota yang menjadi target sudah mati dengan cara yang sangat efisien.

Gorman, pemilik caravan, duduk di tanah dengan wajah kosong. Tangannya gemetar.

"Kita... kita harus kembali," ucapnya lemah. "Kembali ke Vairlion. Laporkan ini."

Razen mengangguk. "Itu pilihan paling bijak."

Perjalanan kembali ke Vairlion berlangsung dalam kesunyian yang mencekam. Tidak ada lagi candaan. Tidak ada lagi bersiul-siul. Hanya suara roda gerobak yang berderit dan langkah kaki yang berat.

Ash duduk di dalam gerobak yang masih utuh, memandangi tangannya. Tadi dia benar-benar hampir mati. Jika bukan karena Morgana...

"Aku terlalu lemah," gumamnya pelan.

Eveline yang duduk di sampingnya menoleh. "Kau melakukan apa yang bisa kau lakukan."

"Aku hanya jadi beban. Kau yang terluka karena melindungiku."

"Itu pilihanku."

"Tapi—"

"Ash," Eveline meletakkan tangannya di bahu Ash. "Kau belum terlatih. Kau baru beberapa hari di dunia ini. Tidak ada yang mengharapkanmu untuk melawan Class S dan menang."

"Tapi aku ingin bisa melindungi. Melindungimu. Melindungi orang-orang yang kupedulikan."

Eveline diam sejenak. Lalu dia tersenyum tipis. "Maka belajarlah. Menjadi lebih kuat. Tapi jangan terburu-buru. Kekuatan tanpa kontrol sama berbahayanya dengan kelemahan."

Ash menatap Eveline. Ada kehangatan di matanya yang biasanya kosong.

"Terima kasih," ucapnya.

"Jangan dibiasakan."

Mereka tiba di Vairlion saat matahari mulai terbenam. Gerbang kota terlihat seperti surga setelah perjalanan yang mengerikan itu.

Gorman memberikan separuh bayaran yang dijanjikan sebagai kompensasi. Satu silver untuk masing-masing dari mereka. Lebih sedikit dari rencana, tapi mengingat mereka selamat dari Eclipse, itu sudah lebih dari cukup.

Razen berpamitan setelah menerima bayarannya. "Aku akan tinggal di kota beberapa hari. Jika kalian butuh bantuan... mungkin aku bisa membantu." Dia memandang Ash. "Dan kau... berhati-hatilah dengan kekuatanmu. Dan dengan wanita aneh tadi. Dunia ini penuh dengan hal-hal yang tidak bisa dijelaskan. Kau adalah salah satunya."

Setelah Razen pergi, Ash dan Eveline berjalan kembali ke The Rusty Mug. Kamar yang sama. Kesunyian yang sama.

Tapi malam ini, Eveline tidak berdiri di jendela. Dia duduk di tepi ranjangnya, memandangi lantai.

"Eveline?" panggil Ash pelan.

"Keluargaku juga dibunuh oleh Eclipse," ucap Eveline tiba-tiba. Suaranya datar tapi ada getaran halus di dalamnya.

Ash duduk di ranjangnya sendiri, mendengarkan.

"Bukan keluarga Nightshade. Keluarga asli. Sebelum aku dijual kepada Nightshade." Eveline memejamkan mata. "Mereka dituduh menyembunyikan seorang pejabat korup. Eclipse datang. Membakar desaku. Membunuh semua orang. Termasuk orang tuaku."

"Eveline..."

"Aku selamat karena bersembunyi di sumur. Aku mendengar teriakan mereka. Mendengar api membakar rumah. Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa." Dia membuka mata. "Sejak itu, aku tidak pernah merasa aman. Tidak pernah percaya pada siapapun. Sampai..."

Dia menatap Ash.

"Sampai kau," ucapnya pelan. "Kau bodoh. Lemah. Cerewet. Tapi kau tulus. Kau melihatku sebagai manusia, bukan senjata. Dan hari ini, kau mencoba melindungiku meski tahu kau akan kalah."

Ash tersenyum sedih. "Maaf aku tidak bisa berbuat banyak."

"Kau sudah berbuat cukup. Kau mengingatkanku bahwa masih ada orang yang peduli." Eveline berdiri, berjalan ke jendela. "Terima kasih, Ash. Untuk menjadi temanku."

"Aku selalu akan jadi temanmu, Eveline. Janji."

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak bertemu, mereka berdua tidur dengan perasaan tenang. Ada ketakutan, ya. Ada trauma baru, tentu. Tapi juga ada kepercayaan.

Kepercayaan bahwa mereka tidak sendirian.

Dan di atap bangunan seberang, seorang wanita berambut hitam kecoklatan duduk sambil menendang-nendangkan kakinya seperti anak kecil.

Morgana tersenyum, mata kuningnya bersinar dalam gelap.

"Manusia belajar menjadi manusia. Uroboros belajar mengendalikan monster dalam dirinya. Semuanya sangat menarik~" Dia mengangkat tangan, memandangi telapaknya. "Tapi berapa lama sampai segel berikutnya pecah? Dan apa yang akan terjadi saat itu? Nivraeth penasaran~"

Dia tertawa pelan, suaranya hilang tertiup angin malam.

Dan di kejauhan, di sebuah menara tinggi di pusat kota, Guild Master Theron berdiri dengan sebuah buku tua terbuka di depannya.

Halaman yang dia baca menampilkan simbol ular memakan ekornya sendiri.

"Eclipse bergerak. Morgana muncul. Dan bocah itu..." Theron menutup buku. "Segalanya mulai bergerak. Roda takdir berputar."

Dia menatap ke arah The Rusty Mug dari jauh.

"Semoga kau siap, Ash. Karena dunia ini tidak akan membiarkanmu bersembunyi lebih lama."

1
anak panda
lantorrr thorrrr
anak panda
🔥🔥🔥
Varss V
Di usahakan secepat, dan sebanyaknya ka, kalo suka tolong kasih rating dan like nya ya🙏
anak panda
upp torre
Varss V
oke, makasih
anggita
ikut ng👍like aja, iklan👆.
anak panda
semangat torr
Varss V: Makasih ka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!