"Apa? Anak perempuan lagi? Jika begini terus, maka kamu harus kembali hamil dan melahirkan anak laki-laki untuk ku."
"Tapi.."
"Tidak ada tapi-tapi. Sebagai seorang istri yang baik, kamu harus menuruti semua perkataan suami mu ini."
"Ya. Baiklah."
Nasib baik tidak berpihak pada seorang wanita yang bernama Seruni. Ia di tuntut untuk terus melahirkan anak oleh suami nya. Di karenakan, ia belum bisa melahirkan anak laki-laki. Suami nya sama sekali tidak pernah membantu nya. Dengan lima anak perempuan yang masih kecil, wanita itu berjuang sendirian. Hingga akhir nya anak ke 6 lahir dan malapetaka itu pun terjadi. Seruni menyerah. Ia pergi dengan anak-anak nya meninggalkan sang suami yang sibuk dengan wanita lain.
Bagaimana kah perjalanan Seruni dan anak-anak nya?
Jangan lupa berikan komentar supaya author nya tambah semangat.
Terima kasih dan selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uul Dheaven, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Hamdan datang ke rumah sakit saat membaca pesan yang di kirimkan oleh Adelia. Adel mengatakan jika Seruni sudah melahirkan. Wanita baik itu sama sekali tidak mengatakan jika anak yang di lahirkan oleh Seruni sudah meninggal dunia.
"Runi, dimana anak kita? Apakah dia laki-laki?" Tanya Hamdan begitu antusias. Saat itu, Seruni baru saja mau makan walaupun sesuap bubur.
"Dimana Nasha dan Sari, Bang?"
Bukan nya menjawab pertanyaan sang suami, Seruni bahkan bertanya tentang dua anak nya yang lain.
"Runi, maafkan Abang. Nasha dan Sari hanyut ketika mandi di pantai. Sari saat ini sedang di tangani oleh dokter. Sedangkan Nasha, ia meninggal dunia. Maafkan Abang. Abang tahu kalau Abang salah. Abang tidak menjaga anak kita dengan baik." Hamdan tampak memasang wajah sedih. Akan tetapi, isi hati nya siapa yang tahu.
"Nasha sudah meninggal? Bahkan bayi yang baru saja aku lahirkan juga meninggal. Kenapa anak-anak ku harus meninggal kan aku."
"Apa? Jadi anak yang baru saja kamu lahir kan juga meninggal? Lalu, apa jenis kelamin nya?"
"Anak ku meninggal karena terlambat penanganan nya. Aku telat di tangani selama berjam-jam. Nomor kamu tidak bisa di hubungi. Lalu aku harus bagaimana? Dan, Abang tidak perlu tahu apa jenis kelamin anak kita. Anak ku sudah dua-duanya berada di surga."
Huhuhuhuhuhu
Seruni menangis sambil menahan sesak yang ada di dalam dada nya. Selama ini, ia tidak pernah marah ataupun kecewa di beri anak perempuan. Kepergian dua anak nya, membuat nya begitu terluka.
"Sudah lah. Kamu masih punya anak lainnya. Tidak perlu berlebihan seperti itu, Seruni. Kamu juga masih bisa hamil lagi setelah ini." Hamdan mengucapkan hal itu dengan enteng nya tanpa perasaan.
"Aku mau melihat Nasha. Del, kakak titip mereka, ya."
"Baik, kak." Ucap Adelia yang masih berada di sana. Anak-anak nya Seruni yang lain begitu penurut. Jadi, tidak ada alasan bagi Adelia untuk menolak menjaga mereka. Karena wanita itu pun sangat menyukai mereka.
Seruni di dampingi Hamdan, pergi untuk melihat Sari. Anak ke empat nya yang selamat saat itu.
Tubuh mungil itu terbaring di ruang rawat darurat dengan tangan yang di infus. Mata nya terpejam. Wajah nya pucat dengan bibir kebiru-biruan.
Pakaian nya sudah di ganti. Seruni pun mendekat dan mengelus kepala anak nya dan juga menci-um kening nya.
"Sayang, bangun nak. Ibu di sini. Kita pulang ya. Pulang sama Ibu." Ucap Seruni. Sedangkan Hamdan, ia langsung pergi entah kemana saat Seruni sedang berbicara dengan anak-anak nya.
Perlahan, mata Sari terbuka saat mendengar suara lembut Ibu nya. Ia menatap wajah sang ibu sambil berurai air mata.
"Ayah jahat, Bu. Ayah punya anak lain. Ayah main sama anak dan ibu lain."
Huhuhu
Seruni sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh anak nya itu. Apa maksud anak dan ibu lain.
"Ayah bukan nya pergi dengan teman kantor?"
"Bukan. Aku, adek, ayah, ibu lain dan anak lain."
Sari masih saja menangis sambil menceritakan apa yang baru saja terjadi di pantai itu. Seruni sedikit banyak sudah mengerti dengan kata-kata anak umur tiga tahun itu.
Hamdan berbohong pada nya. Seruni yakin sekali jika yang di maksud adalah Susan dan juga anak laki-laki nya. Hamdan kali ini sudah benar-benar keterlaluan.
"Sudah, tak apa. Sekarang ada Ibu yang sayang pada mu. Kalau kamu sudah sehat, kita pulang ya nak."
Seruni baru saja melahirkan tapi ia harus kuat demi anak-anak nya. Kali ini, kemarahan Seruni sudah tidak bisa lagi ia simpan. Kehilangan kedua anak nya karena Hamdan yang lebih mementingkan Susan daripada diri nya.
Seruni bertekad untuk mencari semua bukti yang melibatkan Hamdan dalam pembunuhan anak nya. Walaupun tidak di sengaja, tapi Hamdan telah lalai sebagai seorang Ayah.
*****
Hari demi hari berlalu. Seruni sama sekali tidak peduli dengan keberadaan Hamdan. Ia dan anak-anak nya berencana pindah ke rumah baru mereka yang baru saja ia beli dengan uang hasil jerih payah nya.
Rumah itu pun belum sepenuhnya lunas. Adelia membantu Seruni untuk mendapat kan rumah sederhana itu.
Setelah beberapa hari itu juga, Seruni terus mengumpulkan bukti-bukti terkait kematian anak-anak nya. Untung saja pantai yang menjadi tempat liburan nya dengan Susan, memiliki cctv.
Tempat itu memang lumayan mewah. Entah berapa banyak Hamdan mengeluarkan uang hanya untuk menyenangkan janda beranak satu itu.
"Kamu tidak masak hari ini?" Tanya Hamdan yang siang itu tiba-tiba pulang.
"Tidak. Aku capek. Uang pun habis."
"Capek? Kamu cuma duduk dan tiduran saja di rumah. Apa nya yang capek. Dan juga, uang yang aku berikan itu banyak. Kenapa cepat sekali habis."
"Bang, untuk anak dan istri dengan uang segitu dapat apa? Kamu membelikan Susan banyak barang mewah dan mahal, aku tidak protes. Jangan pelit sama istri sendiri, bang."
"Ah, diam kamu! Kamu kenapa tahu aku beli barang mahal untuk Susan?"
"Semua juga tahu. Susan itu sudah menyebarkan semua nya di sosial media milik nya. Dasar perempuan tidak tahu malu. Ada hak aku dan anak-anak dari uang yang kau berikan pada nya. Aku tidak ikhlas."
"Suka-suka aku dong. Itu uang aku. Bukan uang kamu."
"Ya kalau begitu, minta makan sana sama janda gatal itu. Jangan minta makan sama istri mu yang tidak kau beri nafkah."
"Seruni! Sudah berani kamu, ya."
"Memang nya kenapa? Suami tukang zina dan juga pembunuh, tidak perlu lagi di hormati. Bang, aku tidak pernah ikhlas kau membohongi ku."
"Ah! Dasar istri tidak tahu diri. Kau bisa apa tanpa ku?"
"Aku bisa tanpa mu. Aku yang selama ini menghidupi anak-anak ku. Bukan kamu."
"Pergi kau dari rumah ini, Seruni. Benar kata Ibu ku. Perempuan yang tidak bisa melahirkan anak laki-laki tidak lah pantas untuk aku pertahankan. Aku muak. Tunggu saja surat cerai dari ku."
"Baik. Bercerai lebih baik daripada aku harus tinggal bersama suami tidak jelas seperti mu. Anak-anak, ayo kita pergi."
Seruni dan ke empat anak nya bersiap pergi dari rumah. Mereka memang sudah menyiapkan semua itu sejak lama. Barang-barang dan juga peralatan masak yang dibeli dengan uang Seruni, sudah lebih dulu mereka pindahkan ke rumah baru.
Saat ini, mereka hanya membawa tas ransel yang di dalam nya terdapat baju ganti.
Hamdan menatap kepergian anak-anak dan istri nya dengan perasaan yang campur aduk. Jujur, ia masih sangat mencintai Seruni. Akan tetapi, keluarga nya selalu menuntut anak laki-laki dari nya. Entah seperti apa nanti nya kehidupan Hamdan tanpa mereka.
bersinar 😮