Mirea dikenal sebagai pembunuh bayaran yang paling ditakuti. Setelah bertahun-tahun menelusuri jejak masa lalunya, ia akhirnya pulang dan menemukan kenyataan bahwa orang tuanya masih hidup, dan ia memiliki tiga kakak laki-laki.
Takut jati dirinya akan membuat mereka takut dan menjauh, Mirea menyembunyikan masa lalunya dan berpura-pura menjadi gadis manis, lembut, dan penurut di hadapan keluarganya. Namun rahasia itu mulai retak ketika Kaelion, pria yang kelak akan menjadi tunangannya, tanpa sengaja mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lirien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjebak
Mirea melangkah satu langkah mendekat ke arah Deza.
Hanya satu langkah kecil, tapi efeknya seperti menekan seluruh ruangan.
Deza yang sejak tadi sudah duduk terpuruk di lantai langsung bereaksi keras. Ia mengesot mundur dengan panik, punggungnya hampir menabrak kaki salah satu anak buah Boris. Tangannya gemetar hebat, refleks mencengkeram betis pria itu seolah itu satu-satunya pegangan yang bisa menyelamatkannya.
Matanya membelalak, menatap lurus ke arah Mirea.
Ia mengangkat satu tangannya, menunjuk Mirea dengan jari yang bergetar, tapi dari mulutnya tidak keluar kata apa pun yang jelas. Hanya suara terengah-engah, napas tersengal, seperti orang yang kehabisan udara.
“Haa… haa…”
Suara itu keluar putus-putus, penuh ketakutan.
Semua orang di ruangan itu bisa melihat jelas: Deza bukan sedang berakting. Ketakutannya benar-benar nyata.
Kael yang sejak tadi mengamati dari sofa akhirnya berdiri. Farel ikut bangkit, begitu juga Boris yang refleks ikut maju beberapa langkah.
Kael menyelipkan kedua tangannya ke dalam saku celana, sudut bibirnya terangkat tipis.
“Menarik,” gumamnya santai tapi tajam.
“Sepertinya pelaku justru lebih takut pada korbannya.”
Ia melirik Mirea dari ujung kepala sampai kaki.
“Nona Mirea,” lanjutnya pelan, “mungkin kamu bisa jelaskan. Ada apa sebenarnya di sini?”
Mirea berhenti melangkah. Ia berdiri diam, menatap Deza tanpa ekspresi. Wajahnya masih terlihat lembut, bahkan sedikit pucat, tapi ada sesuatu di sorot matanya yang sulit dijelaskan—tenang, terlalu tenang untuk situasi seperti ini.
Sebelum Mirea sempat menjawab, Boris sudah lebih dulu maju dan berdiri tepat di depan Deza. Tubuhnya yang besar membuat Deza semakin tertekan.
Boris menunduk, menatap Deza dengan tajam.
“Katakan,” suaranya berat.
“Benar kamu yang menindas Pak Noel dan Nona Mirea tadi?”
Deza langsung menggeleng kuat-kuat. Kepalanya bergerak cepat ke kiri dan kanan, hampir seperti orang putus asa. Ia mengayunkan kedua tangannya ke depan, melambai-lambai seolah ingin mengatakan bukan aku, bukan aku.
Tapi lagi-lagi, tidak ada kata yang keluar dengan jelas. Hanya suara napas terburu-buru, tercekik oleh rasa takut.
“Haa… ha… ha…”
Ia seperti kehilangan kemampuan bicara.
“Cepat jawab!” teriak Boris dengan suara meninggi.
Ia sudah benar-benar kehilangan kesabaran. Namun Deza hanya bisa menunjuk ke arah mulutnya sendiri dengan wajah pucat pasi, matanya berkaca-kaca, tubuhnya gemetar hebat.
Tangannya bergerak canggung, satu menunjuk bibirnya yang terbuka, seolah ingin mengatakan sesuatu yang mustahil untuk ia ucapkan.
Tak mendapat jawaban, Boris semakin kesal. Ia langsung mencengkeram kerah baju Deza dan menariknya sedikit ke atas, lalu dengan kasar memegang pipinya, memaksa Deza membuka mulut lebih lebar.
Dan di detik itulah—
Boris membeku.
Matanya membelalak, cengkeramannya mengendur, lalu ia refleks mundur beberapa langkah.
“Li—li… lidahnya…” suara Boris bergetar.
“Lidahnya… hilang.”
Seketika ruangan menjadi sunyi.
Farel terdiam. Kael berhenti bergerak. Bahkan anak buah Boris saling berpandangan dengan wajah tegang.
Deza terus menunjuk ke arah mulutnya, lalu dengan tangan yang sama gemetarnya ia mengarahkannya ke Mirea.
Isyarat itu jelas.
Mirea.
Sementara itu, Mirea hanya mengernyit tipis, ekspresinya datar, nyaris tak bereaksi. Tangannya pelan-pelan masuk ke dalam tas kecilnya, lalu tanpa suara ia memasukkan kembali pisau kecil yang tadi sempat ia genggam.
Tak ada satu pun yang menyadari gerakan itu.
Deza belum berhenti. Satu tangannya terus menunjuk mulutnya, tangan lainnya menunjuk ke arah Mirea berulang-ulang, napasnya tersengal, matanya penuh ketakutan seperti orang yang baru lolos dari mimpi buruk.
Dan saat itulah Mirea mulai “berakting”.
Ia langsung menarik tangan Noel dengan wajah panik, matanya membesar, suaranya bergetar.
“Orang hidup… mana bisa tanpa lidah, kak?” ujarnya lirih tapi jelas terdengar.
Noel menoleh kaget.
“Apa?”
“Stone at Black itu… menakutkan banget…” lanjut Mirea, suaranya melemah, tubuhnya sedikit gemetar.
“Aku takut… aku takut…” katanya berulang, seolah benar-benar syok.
Kael hanya memiringkan kepalanya sedikit, memperhatikan reaksi itu dengan senyum tipis yang sulit dibaca.
Noel langsung naik pitam melihat adiknya seperti itu.
“Kamu bikin adikku takut! Cepat bawa dia pergi!” teriak Noel dengan nada tegas.
Sontak kedua anak buah Boris langsung bergerak. Mereka kembali mengangkat tubuh Deza yang masih gemetar, lalu menyeretnya keluar ruangan tanpa banyak bicara. Deza bahkan tak sempat melawan, tubuhnya lemas seperti boneka rusak.
Boris menatap ke arah pintu dengan ekspresi jijik, lalu membersihkan tangannya dengan tisu seolah baru saja menyentuh sesuatu yang kotor.
“Menjijikkan,” gumamnya pelan.
Noel segera berbalik ke arah adiknya. Ia memegang kedua pundak Mirea, menatapnya penuh kekhawatiran.
“Dik, jangan takut. Dia sudah pergi,” ujarnya lembut, berusaha menenangkan.
“Sini, duduk dulu,” lanjut Noel sambil menarik Mirea pelan agar kembali ke sofa.
Mirea menurut. Tubuhnya masih tampak lemas, napasnya sedikit tidak teratur, seolah benar-benar belum pulih dari kejadian barusan. Noel mendudukkannya di sebelahnya, lalu mengambil segelas air putih dan menyodorkannya.
“Minum dulu,” katanya sambil mengelus punggung adiknya perlahan.
Kael dan Farel sudah kembali duduk seperti semula, tapi jelas suasana tak lagi sama. Udara terasa lebih berat, lebih tegang, meskipun tak ada yang mengatakannya secara langsung.
Sementara itu, Mirea menerima gelas air dengan kedua tangan. Bibirnya menyentuh tepi gelas, tapi matanya kosong menatap ke depan.
Di dalam kepalanya, pikirannya justru jauh berbeda.
Nanti aku kasih hadiah ekstra buat anak-anak deh…
mereka memotong lidahnya rapi banget.
Tanpa sadar, sudut bibir Mirea sedikit terangkat. Sebuah senyum kecil yang sangat samar, nyaris tak terlihat.
Namun Kael melihatnya.
Saat Mirea menoleh, mata mereka bertemu. Kael ikut tersenyum tipis, lalu mengangkat gelas wine di tangannya seolah sedang memberi toast kecil, penuh makna yang hanya mereka berdua yang paham.
Mirea membalasnya dengan ekspresi datar, lalu kembali menunduk.
Ah… hampir lupa, batinnya dingin.
Masih ada satu orang yang benar-benar mengganggu di sini.
Matanya melirik ke arah Boris sekilas.
Aku harus cari cara… supaya dia bisa “nurut”.
Mirea lalu berbalik badan, menoleh ke arah Boris yang sedang berbincang singkat dengan Noel.
“Terima kasih, Pak Boris… sudah membelaku,” ujar Mirea lembut sambil tersenyum manis.
Ia sedikit menunduk sopan, lalu menambahkan dengan nada tulus,
“Pak Boris orang yang sangat baik.”
Sontak pujian itu membuat Boris tertawa lebar. Wajahnya langsung berbinar, jelas terlihat ia tersanjung setengah mati.
“B-bisa membela cewek secantik Nona Mirea itu kehormatan besar buat saya,” ujar Boris sambil terkekeh bangga, dadanya sedikit dibusungkan.
Mendengar itu, Mirea tampak berpikir sejenak. Ia memainkan ujung jarinya, lalu mengangkat wajahnya lagi dengan ekspresi agak malu-malu.
“Eumm… besok itu pesta pengakuan keluargaku,” katanya pelan.
“Kalau… aku undang Pak Boris, boleh?” tanyanya hati-hati, seolah takut ditolak.
“Aku ingin berterima kasih dengan lebih baik,” tambahnya lagi, senyumnya mengembang manis.
Kalimat itu seperti bom kecil bagi Boris.
Matanya langsung membesar, senyumnya makin lebar sampai hampir ke telinga. Ia refleks membenarkan kerah jasnya, lalu merapikan dasinya sambil tersenyum gugup.
“T-tentu! Tentu saja boleh!” jawabnya cepat, jelas salting setengah mati.
“Suatu kehormatan bisa diundang langsung oleh Nona Mirea.”
Sementara itu, di sisi lain sofa, Farel yang duduk di samping Kael langsung berbisik kesal, suaranya ditahan tapi nadanya tajam.
“Dia malah mengabaikan putra konglomerat dari Zhenkai…”
“…tapi justru mengundang bocah rendahan itu?” gerutu Farel tidak terima.
Kael tidak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis, matanya tetap menatap Mirea dengan sorot yang sulit ditebak.