NovelToon NovelToon
The Monster'S Debt

The Monster'S Debt

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Nikah Kontrak / Berbaikan
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: ALNA SELVIATA

Dante Valerius tidak mengenal ampun. Sebagai pemimpin sindikat paling ditakuti, tangannya telah terlalu banyak menumpahkan darah. Namun, sebuah pengkhianatan fatal membuatnya sekarat di gang sempit—hingga sepasang tangan lembut membawanya pulang.
​Aruna hanya seorang janda yang mencoba bertahan hidup demi putra kecilnya. Ia tahu pria yang ia selamatkan adalah maut yang menyamar, namun nuraninya tak bisa membiarkan nyawa hilang di depan matanya.
​Kini, Dante terjebak dalam hutang nyawa yang tidak bisa ia bayar dengan uang. Ia bersumpah akan melindungi Aruna dari bayang-bayang masa lalunya. Namun, mampukah seekor monster mencintai tanpa menghancurkan satu-satunya cahaya yang ia miliki?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: Bayang-Bayang Sang Pewaris

​​Suara serak Elena di telepon tadi masih terngiang di telinga Aruna, bergetar seperti frekuensi radio yang rusak. Di luar vila Tuscany, kabut malam mulai merangkak naik dari lembah, menyelimuti pepohonan zaitun dengan kain putih yang dingin. Suasana yang tadinya tenang kini berubah menjadi mencekam; setiap gesekan daun terdengar seperti langkah kaki, dan setiap bayangan pohon tampak seperti sosok yang sedang membidik.

​"Enzo, matikan semua lampu luar. Gunakan sensor termal saja," perintah Dante dengan nada rendah yang tidak terbantahkan. Ia sedang berdiri di ruang kendali darurat vila, menatap layar monitor yang menampilkan perimeter luar.

​Aruna masuk ke ruangan itu sambil menyampirkan jaket kulit hitamnya. Ia telah memindahkan Bumi dan Martha ke ruang rahasia di bawah gudang anggur—sebuah bunker kecil yang diperkuat baja.

​"Dante, siapa Leo?" tanya Aruna. "Dokumen Icarus tidak pernah menyebutkan nama anak angkat."

​Dante mengusap wajahnya yang tampak kaku. "Julian Thorne adalah pria yang terobsesi dengan suksesi. Jika Elena adalah senjata rahasianya, maka Leo adalah 'asuransi'-nya. Nama lengkapnya adalah Leo Thorne-Vance. Julian menemukannya di panti asuhan militer di Serbia sepuluh tahun lalu. Dia tidak dilatih untuk menjadi mafia, Aruna. Dia dilatih untuk menjadi mesin pembunuh murni."

​"Mesin pembunuh?" Aruna menyipitkan mata. "Artinya dia tidak akan bermain politik atau mencoba bernegosiasi seperti Julian."

​"Tepat," sahut Enzo yang sedang sibuk mengunci akses gerbang elektronik. "Leo tidak peduli pada Dana Abadi atau Proyek Icarus. Baginya, Julian adalah sosok ayah yang sempurna. Dan bagi seorang anak yang setia, satu-satunya cara untuk menghormati ayahnya yang mati adalah dengan membalas dendam kepada siapa pun yang memicu ledakan di Danau Como."

​Tiba-tiba, monitor di depan mereka berkedip merah. Salah satu sensor termal di pagar utara baru saja menangkap pergerakan. Sesuatu yang bergerak sangat cepat, lebih cepat dari manusia biasa.

​"Dia di sini," bisik Dante.

​Di luar, di bawah naungan kabut yang tebal, seorang pemuda berusia awal dua puluhan bergerak dengan keheningan yang mematikan. Ia mengenakan pakaian taktis serba hitam dengan penutup wajah yang hanya memperlihatkan matanya yang dingin dan tajam—mata yang tidak memiliki empati. Di tangannya, ia memegang sepasang belati pendek berbahan karbon dan sebuah pistol berperedam suara.

​Leo Thorne-Vance tidak datang dengan pasukan. Ia tidak butuh pasukan. Baginya, ini adalah tugas suci. Ia melompati pagar setinggi tiga meter seolah gravitasi tidak berlaku baginya.

​Bzzzt.

​Salah satu penjaga luar milik Dante tumbang tanpa sempat mengeluarkan suara. Sebuah belati tertancap tepat di pangkal tenggorokannya. Leo menarik kembali belatinya dengan gerakan yang sangat efisien, lalu menghilang kembali ke dalam kabin.

​Di dalam vila, Aruna merasakan firasat buruk yang sangat kuat. Ia mengambil senapan laras pendek miliknya. "Dante, dia tidak menyerang lewat gerbang utama. Dia sudah ada di dalam perimeter."

​"Enzo, ambil posisi di balkon atas. Aruna, tetap di dekatku," perintah Dante.

​Namun, Aruna menggeleng. "Tidak. Jika dia mencari kepalaku, aku akan menjadi umpannya. Kau masih terluka, Dante. Jangan biarkan dia melihat kelemahanmu."

​Sebelum Dante sempat memprotes, lampu di seluruh vila mendadak padam. Jeeer... Suara generator cadangan yang biasanya otomatis menyala tetap hening. Leo telah memutus kabel utama dan menyabotase cadangannya.

​Kegelapan total menyergap.

​Aruna mengaktifkan kacamata night vision-nya. Dunia berubah menjadi hijau neon yang berbayang. Ia bergerak menyusuri lorong panjang menuju ruang tamu utama. Ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang, namun tangannya tetap stabil pada senjatanya.

​"Leo!" Aruna berteriak, suaranya menggema di ruangan yang luas itu. "Aku tahu kau mencariku! Julian mati karena keserakahannya sendiri, bukan karena aku! Jangan biarkan dirimu menjadi pion dari pria yang sudah menjadi abu!"

​Sebuah tawa dingin terdengar dari arah langit-langit. "Dia bukan pria biasa bagiku, Nyonya Valerius. Dia adalah Tuhan yang menyelamatkanku dari selokan Belgrade. Dan kau... kau hanyalah kerikil yang membuat-Nya jatuh."

​Syuuuut!

​Sebuah anak panah kecil meluncur dari kegelapan, menyambar bahu jaket Aruna. Aruna segera berguling ke balik sofa marmer dan membalas tembakan ke arah sumber suara.

​Bang! Bang! Bang!

​Pelurunya hanya menghantam kayu langit-langit. Leo sudah berpindah posisi. Dia sangat lincah, bergerak di antara balok-balok kayu atap seperti pemangsa di hutan.

​Sementara itu, di lantai atas, Enzo dan Dante terlibat baku tembak dengan dua rekan Leo yang ternyata baru saja tiba sebagai bantuan. Suasana vila yang indah itu kini hancur oleh peluru. Vas-vas bunga pecah, lukisan-lukisan mahal terkoyak.

​"Aruna! Keluar dari sana!" teriak Dante melalui komunikator.

​Aruna tidak menjawab. Ia sedang fokus pada suara gesekan kecil di atasnya. Ia melepaskan kacamata night vision-nya—ia menyadari Leo mungkin menggunakan alat yang sama untuk melacak cahayanya. Ia mengandalkan indra pendengarannya, persis seperti yang diajarkan Elena dalam latihan singkat mereka dulu.

​Langkah... geser... napas.

​Aruna berbalik dan menusukkan pisau lipatnya ke arah belakang tepat saat Leo melompat turun dari atas.

​Logam beradu dengan logam. Percikan api muncul di kegelapan. Leo terkejut melihat reaksi Aruna yang begitu cepat. Mereka berdua terjatuh ke lantai, bergulat dengan brutal. Leo mencoba menusukkan belatinya ke leher Aruna, namun Aruna menahan tangannya dengan sekuat tenaga.

​"Kau... kau hanya seorang penjahit!" desis Leo, kekuatannya luar biasa besar untuk pemuda seukurannya.

​"Dan aku tahu cara memotong kain yang rusak!" balas Aruna. Ia menghantamkan kepalanya ke dahi Leo, membuat pemuda itu limbung sejenak.

​Aruna menendang perut Leo dan segera bangkit. Ia tidak lari; ia justru menerjang maju dengan serangan bertubi-tubi. Ia menggunakan semua kemarahan yang ia pendam atas kematian Elena, Satria, dan penderitaan Bumi. Pukulan dan tendangannya tidak lagi teratur, namun mematikan.

​Leo terdesak hingga ke balkon yang menghadap ke lembah. Di bawah sinar bulan yang mulai muncul dari balik awan, wajah Leo terlihat. Ia tampak sangat muda, hampir seperti seorang remaja yang tersesat dalam kebencian yang salah alamat.

​"Hentikan, Leo!" teriak Aruna, menodongkan pistolnya ke dada pemuda itu. "Julian tidak pernah mencintaimu! Dia hanya menggunakanmu sebagai alat pemukul!"

​Leo terengah-engah, darah mengalir dari hidungnya. "Itu sudah cukup bagiku! Dicintai atau digunakan, setidaknya aku memiliki tujuan!"

​Leo menarik sebuah granat asap dari pinggangnya dan meledakkannya di lantai. Whuush! Asap putih pekat menyelimuti balkon. Saat asap itu menghilang, Leo sudah tidak ada di sana. Hanya tersisa sebuah catatan kecil yang dipaku ke lantai balkon dengan belati karbonnya.

​Aruna mengambil catatan itu. Isinya hanya satu kalimat pendek:

"Ini baru ronde pertama. Aku akan mengambil Bumi."

​Aruna merasakan dunianya seolah runtuh. Ancaman itu bukan lagi tentang dirinya atau Dante, tapi tentang satu-satunya alasan ia masih bernapas.

​Dante dan Enzo muncul di balkon dengan luka-luka ringan. Dante melihat wajah Aruna yang pucat pasi dan mengambil catatan itu.

​"Dia tahu di mana bunker itu?" tanya Dante, suaranya bergetar karena amarah.

​"Dia tidak tahu sekarang, tapi dia akan mencarinya," jawab Aruna. Ia menatap ke arah kegelapan lembah Tuscany, menyadari bahwa ketenangan singkat mereka telah berakhir selamanya.

​Bab 34 ditutup dengan Aruna yang berdiri di balkon, mendekap senjatanya erat-erat. Ia menyadari bahwa musuh kali ini bukan lagi pria tua yang bisa diajak bernegosiasi atau diintimidasi dengan uang. Musuh kali ini adalah seorang pemuda yang tidak memiliki beban dan hanya memiliki satu tujuan: kehancuran total keluarga Valerius-Kirana.

​Aruna tahu, ia harus melakukan sesuatu yang lebih radikal. Ia tidak bisa hanya bertahan. Ia harus memburu mesin pembunuhnya sebelum mesin itu menyentuh anaknya.

1
Nasya Sifa Aura
sampai sini sungguh mengesal kn dante atau labonte sbgai lelaki tdk punya ketegasan
Kusii Yaati
Aruna harus di latih agar menjadi kuat dan tangguh 💪
mama ubay
keren cerita novelnya 💪💪💪lanjut lanjut
mama ubay
berarti aruna sudah jadi kekasih dante yah??
mama ubay
mantap.semoga dante bs jatuh cinta sm aruna
mama ubay
tidak lama lagi d tandai sebagai orang istimewah
mama ubay
selamat tp masuk kandang harimau
mama ubay
emang tdk bs panggil nama apa
mama ubay
keren keren letak tanda baca dan alur cerita tdk membuat bosan 👍👍👍👍👍
mama ubay
aanak yg polos
mama ubay
setiap kebaikan insyaALLAH pasti akan kembali lg ke diri kita👍
mama ubay
andaikan itu aku pasti cari aman
mama ubay
penasaran kenapa dia d tolong
Vanni Sr
di bab bro aruna sm dante nikah?? ko tau² udh kek suami istri aja
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!