Zoran Shihai adalah pemuda 19 tahun dari Bumi yang hidup sebagai perampok jalanan. Ia mencuri bukan karena rakus, melainkan demi bertahan hidup. Namun satu kesalahan fatal yakni merampok keluarga kaya yang terhubung dengan dunia gelap membuat hidupnya berubah selamanya.
Dikejar para pembunuh bayaran, Zoran terjebak dalam pelarian putus asa yang berakhir pada sebuah retakan ruang misterius. Ketika ia membuka mata, ia tidak lagi berada di Bumi, melainkan di Dunia Pendekar, sebuah dunia kejam tempat kekuatan menentukan segalanya.
Terlempar ke Hutan Angin dan Salju, Zoran harus bertahan dari cuaca ekstrem, binatang buas, manusia berkuasa, dan kelaparan tanpa ampun. Di dunia ini, uang Bumi tak berarti, belas kasihan adalah kelemahan, dan bahkan seorang pemilik kedai tua bisa memiliki kekuatan mengerikan.
Tanpa bakat luar biasa, tanpa guru, dan tanpa sistem,
Ini adalah kisah tentang bertahan hidup, ironi, dan kebangkitan seorang manusia biasa di dunia yang tidak memberi ampun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kon Aja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pintu kedua
Zoran menarik napas panjang lalu melangkah ke depan. “Aku akan mencari tahu sendiri.”
Jika ia hanya berdiam di ruangan itu, cepat atau lambat ia akan mati kelaparan. Tidak ada pilihan lain selain maju, apa pun risikonya.
Tangannya menyentuh pintu.
Saat ia membukanya perlahan...
Wus!
Tubuhnya tiba-tiba terasa disedot dari dalam, seolah ruang di balik pintu itu berubah menjadi pusaran tak kasatmata.
“Keparat!” Zoran mengumpat keras sebelum seluruh tubuhnya terseret masuk.
\*\*\*
Uhuk. Uhuk.
Zoran terbatuk pelan. Kepalanya terasa berat saat kesadarannya kembali. Ia terbaring di tanah keras yang dingin dan lengket. Bau menyengat langsung menusuk hidungnya. Ia membuka mata.
Tempat ini… adalah sebuah kota,
namun juga bukan kota.
Bangunan-bangunan di sekelilingnya rusak dan miring, sebagian runtuh seperti ditinggalkan setelah bencana. Jalanan dipenuhi lumpur hitam, sampah berserakan tanpa aturan, dan genangan cairan gelap yang ia tidak ingin tahu asalnya.
Dan bau itu, amis. pekat. menusuk. Dan lebih parah adalah tercium bau darah juga.
“Tempat apa lagi ini?”
Zoran menggeram pelan. Kepalanya berdenyut, dadanya terasa sesak. Ia bangkit perlahan, menepuk-nepuk tubuhnya, lalu melangkah maju dengan waspada.
Setiap langkah membuat ekspresinya semakin mengeras.
“Apa ini kota… atau tempat sampah raksasa? Kenapa bisa sekotor ini” Zoran meludah ke samping, menahan mual.
Jika desa sebelumnya terlalu damai hingga membuatnya muak, maka tempat ini adalah kebusukan yang tidak disembunyikan sama sekali.
\*\*\*
“Ampun… ampun… jangan pukul lagi…”
“Tidak punya uang kan?” Pria itu menyeringai kejam. “Kalau begitu, kamu pantas dipukul.”
Buk! Bak! Buk!
Tinju bertubi-tubi menghantam tubuh seorang anak berusia sekitar empat belas tahun di gang sempit yang sunyi.
Pria yang memukulinya berwajah tampan, tapi tampan dengan cara yang menjijikkan. Senyumnya licik, matanya dingin, jelas bukan orang baik. Ia adalah preman, salah satu dari banyak bangsat yang berkeliaran di kota ini.
Anak itu terjatuh ke tanah. Wajahnya bengkak, darah mengalir dari sudut bibir dan hidung, membasahi bajunya yang sudah kotor.
Bocah itu benar-benar tidak beruntung.
Padahal sebelumnya ia sudah memilih jalan yang sepi, berhati-hati, menghindari kerumunan preman. Tapi di kota ini, kehati-hatian sering kali tidak berarti apa-apa.
“Ayo,” ujar pria itu sambil mencengkeram kerah baju anak itu. “Berikan uangmu.”
“A-aku… aku tidak punya, tuan” suara anak itu bergetar.
Wajah pria itu mengeras. Tangannya terangkat tinggi. “Tidak punya uang? Kalau begitu, mati saja kamu.” Ia mengayunkan tinjunya,
Boom!
Udara bergetar.
Pria itu tiba-tiba merasa seolah kepalanya dihantam gunung raksasa. Pandangannya berputar, tubuhnya terhuyung ke samping.
“Apa yang...”
Boom!
Pukulan kedua menghantam wajahnya sebelum dia menyelesaikan ucapannya. Tubuhnya terlempar ke belakang, menghantam dinding gang, lalu ambruk ke tanah.
Darah menyembur dari mulutnya.
Matanya terbuka lebar, kosong, penuh kebingungan.
Siapa aku?
Kenapa aku tergeletak di sini?
Dan sebelum sempat memahami apa yang terjadim... Dia pingsan.
Pria yang memukuli preman itu tidak lain adalah Zoran.
Saat kebetulan melewati gang itu, Zoran melihat seorang bocah, bahkan belum genap lima belas tahun, dipukuli tanpa ampun oleh seorang preman. Tanpa berpikir panjang, dia langsung meledak.
Zoran mendengus dingin, menatap tubuh preman yang tergeletak pingsan di tanah dengan tatapan merendahkan. “Lemah begini sudah berani sok jago sampai memukuli anak kecil.”
Sebenarnya Zoran sedikit heran. Baik dunia di balik pintu pertama maupun dunia kedua ini, manusia-manusianya terasa… lemah. Sangat lemah. Bahkan tidak sebanding dengan pendekar tingkat raga spiritual terendah sekalipun. Mereka lebih mirip manusia biasa di bumi.
Sebenarnya, jika hanya manusia biasa, Zoran tidak ingin memukul mereka sampai seperti ini.
Namun… Saat melihat seorang bocah dipalak lalu dipukuli tanpa ampun, belas kasihnya langsung lenyap.
Zoran menoleh ke arah bocah yang tadi dipukuli. Ia tersenyum tipis, berusaha menenangkan. “Apa kamu terluka?” tanyanya basa-basi.
Wajah bocah itu berkedut.
Apa dia tidak bisa melihat wajahku penuh benjolan begini?
Namun bocah itu tetap mengangguk, menahan rasa sakit, lalu menunduk hormat. “Terima kasih… terima kasih sudah menolongku, tuan.”
Zoran melambaikan tangan. “Kenapa pria itu memukulimu?”
Bocah itu lalu menceritakan dengan suara lirih. Ia hanya ingin pergi ke pasar untuk berbelanja, namun tidak sengaja bertemu preman itu di jalan. Ia dipalak, tidak punya uang, lalu dipukuli.
Zoran mengangguk paham. “Apa kamu masih ingin berbelanja? Kalau mau, aku bisa menemanimu.”
Ia sedikit khawatir. Bocah itu jelas bukan tipe yang bisa menjaga diri. Jika berjalan sendirian, bukan tidak mungkin ia akan kembali bertemu preman lain dan berakhir dipalak, atau dipukuli lagi. Setidaknya, dengan keberadaan Zoran, bocah itu akan aman.
Lagipula, ini juga kesempatan baginya untuk mencari tahu dunia apa sebenarnya tempat ini.
Bocah itu terdiam cukup lama, lalu akhirnya mengangguk pelan. “Iya, tuan… aku memang masih ingin berbelanja. Tapi aku tidak perlu ditemani.”
Zoran mengerutkan kening. “Kalau kamu pergi sendiri, bagaimana kalau bertemu preman lagi?”
Bocah itu ragu sejenak sebelum menjawab. “Kalau anda menemaniku… apakah itu tidak merepotkan, tuan?”
Zoran terkekeh ringan. “Tidak. Sama sekali tidak.”
Bocah itu mengangguk, matanya menunjukkan rasa lega. “Kalau begitu… terima kasih banyak, tuan.”
“Baiklah, ayo kita berangkat.”
Mereka pun berjalan bersama.
Perjalanan menuju pasar memakan waktu sekitar satu kan. Jalan yang mereka lewati penuh bangunan rusak, beberapa masih ditinggali, beberapa hanya menyisakan dinding retak dan atap runtuh. Jalanan berlubang, kotor, dan bau tak sedap menemani setiap langkah mereka, sebelum akhirnya keluar dari wilayah kota.
Pasar tujuan mereka adalah pasar desa di luar kota.
Meskipun jaraknya jauh dan melelahkan, harga barang di sana jauh lebih murah dibanding pasar di dalam kota. Itulah alasan bocah itu tetap datang ke sana meski harus menempuh perjalanan panjang dan berbahaya.
Mungkin bagi sebagian orang, berbelanja di tempat terdekat jauh lebih masuk akal daripada harus berjalan jauh hanya demi harga yang sedikit lebih murah. Waktu, tenaga, dan kenyamanan lebih mereka utamakan.
Namun bagi kalangan bawah, harga miring jauh lebih berharga daripada jarak.
Bagi mereka, berjalan jauh hanya berarti lelah, dan lelah masih bisa diatasi dengan istirahat. Tapi kehilangan uang berarti kehilangan makanan, kehilangan hari esok, bahkan kehilangan hidup.
Orang-orang yang bergelimang harta bisa menyuruh orang lain untuk pergi jauh. Tapi bagi mereka yang tidak punya apa-apa, setiap koin adalah hasil keringat sendiri. Uang bukan sekadar alat tukar, melainkan jaminan bertahan hidup.
Kenapa bisa begitu?
Karena tenaga bisa pulih dengan tidur, tapi uang yang hilang tidak selalu bisa kembali. Tenaga memang penting untuk bekerja, tapi tanpa makanan, yang dibeli dengan uang, tenaga hanyalah angka kosong.
Itu pilihan yang tampak sederhana.
Namun tetap saja, selalu ada orang kaya yang tidak setuju, meski hanya sedikit.