Reza telah memiliki Zahra, model ternama dengan karier cemerlang dan ambisi besar. Namun, demi keluarga, ia dipaksa menikahi Ayza, perempuan sederhana yang hidupnya penuh keterbatasan dan luka masa lalu.
Reza menolak pernikahan itu sejak awal. Baginya Ayza hanyalah beban yang tak pernah ia pilih. Pernikahan mereka disembunyikan, Ayza dikurung dalam peran istri tanpa cinta, tanpa ruang, dan tanpa kesempatan mengembangkan diri.
Meski memiliki bakat menjahit dan ketekunan luar biasa, Ayza dipatahkan perlahan oleh sikap dingin Reza. Hingga suatu hari, talak tiga dijatuhkan, mengakhiri segalanya tanpa penyesalan.
Reza akhirnya menikahi Zahra, perempuan yg selalu ia inginkan. Namun pernikahan itu justru terasa kosong. Saat Reza menyadari nilai Ayza yg sesungguhnya, semuanya telah terlambat. Ayza bukan hanya telah pergi, tetapi juga telah memilih hidup yg tak lagi menunggunya.
Waalaikumsalam, Mantan Imam adalah kisah tentang cinta yg terlambat disadari dan kehilangan yg tak bisa ditebus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Janji yang Tak Pernah Ditujukan Padanya
Di balik cadarnya, Ayza tertawa tanpa suara. Bukan tawa bahagia, melainkan tawa kering, tanpa humor.
“Lucu sekali,” gumamnya pelan, lebih seperti bicara pada diri sendiri.
Dari mata dan kerut halus di sudutnya, Reza tahu Ayza sedang tertawa.
“Apa yang kau tertawakan?” tanyanya.
Ayza mengangkat wajah. Untuk pertama kalinya, ia menatap mata seorang laki-laki cukup lama—karena pria itu kini halal baginya.
“Aku menertawakan situasi ini,” ucapnya lembut. “Seorang pria datang meminang, berjanji melindungi… lalu bertanya apa yang kuharapkan dari pernikahan ini. Bukankah itu ironis?”
Nada suaranya halus. Kata-katanya tetap tajam.
Rahang Reza mengeras. Ia tahu Ayza tidak salah, tapi tetap bersikeras menyangkal.
“Kau tahu bagaimana hubungan kita sejak kecil. Dunia kita berbeda. Cara pandang kita tak sama.”
Ayza tersenyum di balik cadarnya.
“Lalu kenapa Kakak mau menikah denganku?”
Reza menatap lurus ke depan.
“Karena aku ingin berbakti pada orang tuaku. Aku tak ingin dibenci mereka karena menolak pernikahan ini.” Ia berhenti sejenak. “Dan kau… jangan salah paham—”
“Aku bahkan ragu menikah denganmu,” potong Ayza lembut. “Dan ternyata firasatku benar.”
Ia menarik napas pelan. “Tapi aku tidak menyesal. Aku melakukannya sebagai balas budi pada orang tuamu. Selebihnya, aku akan menjalankan tugasku sebagai istri sesuai ajaran agama kita.”
Ia menatap Reza tenang. “Soal bagaimana Kakak menerimanya, itu pilihan Kakak. Aku permisi.”
Tanpa menunggu jawaban, Ayza berbalik. Koper kecil itu ia seret menuju kamar yang tadi ditunjuk Reza.
Reza menatap punggungnya, tak percaya. "Kukira dia akan menunduk. Mengangguk. Atau menangis."
Reza menarik napas pelan. Kata-kata Ayza terasa seperti tamparan. Tanpa suara, tapi sangat terasa.
Langkah kaki terdengar mendekat. Reza menoleh. Matanya menyipit menatap wanita paruh baya yang hampir sepuluh tahun melayani keluarganya.
“Nak Reza,” ucapnya ragu, jemarinya meremas ujung hijab instan.
“Ada apa, Bik? Katakan saja.”
Wanita itu menarik napas pelan. “Begini, Nak. Ibu Bibi di kampung jatuh sakit. Nggak ada yang merawat. Jadi… Bibi izin pulang.”
Reza terdiam sejenak. “Akan lama?”
Wanita itu menggeleng pelan. “Bibi nggak tahu, Nak.”
Reza menghela napas singkat. “Ya sudah. Nggak apa-apa. Tunggu sebentar, saya ambilkan gaji Bibi bulan ini.”
Wajah wanita itu langsung lega. “Terima kasih, Nak. Tolong sampaikan juga terima kasih saya ke ayah dan ibu.”
Reza mengangguk, lalu berbalik pergi.
Ayza menutup pintu kamar pelan. Ia bersandar sejenak di baliknya, memejamkan mata.
Suara ibunya kembali terngiang.
Kamu sudah memutuskan. Maka jalani sepenuh hati. Jangan setengah-setengah.
Ayza membuka mata.
“Aku anggap ini ujian dari-Nya,” gumamnya lirih. “Akan kujalani dengan ikhlas dan sabar. Bismillah.”
Ia berbalik menuju lemari, mulai menyusun pakaiannya satu per satu, rapi dan teratur—seolah keteraturan bisa menenangkan hatinya.
Usai selesai, pandangannya tertuju pada jam dinding.
“Sebentar lagi waktu makan siang,” gumamnya.
Ayza keluar kamar, melangkah ke arah dapur—tepat saat suara mesin mobil terdengar di halaman. Ia berhenti. Dari balik jendela, mobil Reza melaju pelan meninggalkan pekarangan.
“Dia mau ke mana?” gumamnya lirih.
Tak ada jawaban.
Ayza melanjutkan langkah. Di meja makan, makanan sudah tersaji rapi. Masih hangat.
Ia menoleh ke sekeliling. Sunyi.
“Sepi sekali,” bisiknya. “Apa nggak ada orang lain di rumah ini?”
Rumah sebesar ini terasa terlalu hening.
Ayza berdiri di tengah dapur, menatap sekeliling, lalu tertawa pendek, pahit.
"Aku bukan hanya istri yang tak diharapkan, tapi juga sendirian."
***
Di sebuah restoran, ruangan VIP, Reza duduk berhadapan dengan Zahra. Lampu kristal menyala redup, makanan tersaji di atas meja, lilin menyala di tengahnya, setangkai bunga ikut melengkapi meja makan. Romantis.
"Aku senang bisa makan denganmu. Sudah lama sekali," ucap Reza seraya mengambil sendok dan garpu. Wajahnya tak setenang hatinya yang gelisah.
Zahra tersenyum tipis. "Kau tahu sendiri bagaimana skedul aku, Sayang."
Reza mengangguk. "Aku mengerti. Apa kau benar-benar akan ke luar negeri?"
"Iya," sahut Zahra. "Ini kesempatan emas. Karirku akan melejit jika fashion show itu sukses."
"Aku akan merindukanmu," gumam Reza.
Zahra tertawa kecil. "Come on, Darling, jangan bikin aku goyah."
Reza menatapnya. "Tak akan. Aku hanya mengatakan perasaanku. Tapi jujur, aku pengen segera nikah sama kamu." Dalam hati ia melanjutkan, “dan bercerai dengan Ayza.”
Zahra meletakkan sendoknya menggenggam tangan Reza. "Sabar, ya. Aku juga pengen cepat nikah sama kamu, tapi dalam setahun ini belum bisa."
Reza menggenggam balik tangan Zahra. "Aku selalu menunggumu."
--
Mobil Reza berhenti di apartemen Zahra. Ia bergegas turun membuka pintu untuk Zahra.
"Ra, bisa kita bicara sebentar?" tanya Reza, tatapannya penuh keseriusan.
Zahra mengernyit tipis, lalu mengangguk. "Tentu. Ayo," ujarnya.
Setelah masuk ke apartemen, mereka duduk di ruang tamu.
"Bicaralah. Sepertinya serius," ujar Zahra.
Diam sejenak, lalu menatap Zahra. "Aku mau jujur sebelum kamu pergi. Aku sudah menikah. Se--"
"Apa?!" Zahra hampir berdiri dari duduknya, matanya melebar, napasnya tertahan. Lalu sesaat kemudian tertawa tanpa humor. "Kau bercanda. Apa karena sudah berulang kali aku menolak ajakanmu untuk menikah?"
Reza menghela napas berat. "Aku serius."
"Reza..!"
Reza menunduk. “Bundaku sakit. Kanker stadium awal, agresif. Beliau harus berobat ke luar negeri. Ayah menemaninya. Bisa lama.”
Ia menghela napas. “Karena itu mereka memintaku menikah dengan Ayza. Mereka yakin dia bisa mengurus aku dan Fahri.”
Zahra menggeleng pelan. Jemarinya mengepal. “Kau menikah saat kita masih bersama? Tanpa bicara padaku?” Suaranya rendah, bibirnya bergetar.
“Malam itu kau sedang party, Ra. Paginya kau tak menghubungiku. Saat aku menelepon, kau sudah bersiap pergi.”
“Itu bukan alasan, Rez. Lima tahun kita bersama, dan kau—”
“Tenang, Ra.” Reza menggenggam tangannya. “Kau tetap prioritasku. “Aku menikahi dia secara siri.” Reza berhenti sejenak. “Biar semuanya… gak rumit.”
Zahra memejamkan mata sejenak sebelum memeluknya. “Aku mencintaimu,” bisiknya. “Tapi aku juga ingin mengejar mimpiku.”
Reza mengangkat tangannya, membalas pelukan itu. "Aku tahu. Karena itu aku menikahi dia secara siri. Aku tak ingin jadi anak yang tak berbakti dan dijauhi orang tuaku. Aku juga terpaksa menikahinya."
Zahra mengangkat wajahnya. "Siapa dia? Apa dia cantik? Dan kalian...apa kalian sudah.."
Kata-kata itu menggantung.
Reza menggeleng. "Dia kenalan dari kecil. Jarang bertemu. Sudah lama. Aku tak tahu bagaimana wajahnya sekarang, karena dia memakai cadar. Kami tidur di kamar berbeda."
Ada helaan napas lega dari Zahra. Lalu ia melepaskan pelukannya, menegakkan tubuhnya, memegang kedua lengan Reza, menatap pria itu lurus. "Berjanjilah padaku."
"Apa?"
...🔸🔸🔸...
...“Tak semua pernikahan dimulai dengan cinta....
...Sebagian dimulai dengan keterpaksaan,...
...dan berakhir dengan pengkhianatan.”...
...“Halal tak selalu berarti dipilih.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Fahri selalu ngingetin Ayza jangan sampai jatuh Cinta sama Pria Bestard kaya si Reza🤣,tenang saja Fahri...Ayza tidak akan pernah jatuh cinta sama kakakmu,Ayza mh sudah ada yang nungguin Cinta sejatinya Ayza...Kaisyaf😍