Elisa (18 tahun) hanyalah gadis yatim piatu yang berjuang sendirian demi menyekolahkan adiknya. Namun, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk saat sebuah pesanan makanan membawanya ke kamar yang salah. Di sana, ia kehilangan segalanya dalam satu malam yang tragis. Di sisi lain, ada Kalandra (30 tahun), pewaris tinggal kaya raya yang dikenal dingin dan anti-perempuan. Malam itu, ia dijebak hingga kehilangan kendali dan merenggut kesucian seorang gadis asing. Elisa hancur dan merasa mengkhianati amanah orang tuanya. Sedangkan Kalandra sendiri murka karena dijebak, namun bayang-bayang gadis semalam terus menghantuinya. Apa yang akan terjadi jika benih satu malam itu benar-benar tumbuh di rahim Elisa? Akankah Kalandra mau bertanggung jawab, atau justru takdir membawa mereka ke arah yang lebih rumit? Yukkk…ikuti ceritanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senimetha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Elisa-23
Berita tentang kehamilan Elisa yang triplets atau si kembar tiga bukan hanya mengubah semua rencana masa depan keluarga Mahendra, tetapi juga mengubah suasana harian di dalam mansion Mahendra. Jika sebelumnya Kalandra sudah cukup protektif, sekarang ia berada di level yang hampir tidak masuk akal. Setiap sudut ruangan yang memiliki sudut tajam mulai ditutup dengan pelindung busa, dan jalur jalan Elisa di dalam rumah harus dipastikan bebas dari hambatan sekecil apa pun.
Namun, tantangan sesungguhnya dari mengandung tiga nyawa sekaligus baru saja dimulai yaitu fase mengidam yang mulai tidak masuk akal.
Malam hari, jam digital di atas nakas menunjukkan pukul 01.15 dini hari. Suasana kamar yang sangat tenang, dan hanya terdengar deru halus dari AC. Kalandra sedang tertidur lelap dan itu merupakan sebuah kemewahan yang jarang ia dapatkan karena akhir-akhir ini lambungnya sering terasa perih.
Tiba-tiba, ia merasakan sebuah guncangan pelan di bahunya.
"Mas... Mas Landra..." bisik sebuah suara yang terdengar sangat ragu namun mendesak.
Kalandra langsung terjaga. Refleksnya sebagai calon ayah siaga satu membuatnya duduk tegak dalam sekejap. "Ya? Kenapa? Ada yang sakit? Perutmu Kram? Ayo Kita ke dokter sekarang?"
Elisa meringis melihat kepanikan suaminya. “Enggak, Mas. Enggak ada yang sakit. Cuma itu…emm…”Elisa menggigit bibir bawahnya, wajahnya tampak sangat tidak enak hati. "Mereka... mereka sepertinya mau sesuatu."
Kalandra menarik napas lega, lalu mengusap wajahnya yang masih mengantuk. “Mau apa, sayang? Air hangat? Buah? Atau apa?” Tanya kalandra dengan begitu lancar dan tante sengajah menyebut kata sayang
Elisa terpaku sejenak karena mendengar kata sayang yang keluar begitu lancar dari mulut suaminya dan menggeleng pelan. "Saya... saya tiba-tiba ingin makan sate padang. Tapi bukan sate padang yang di restoran besar. Saya mau sate padang yang gerobaknya warna kuning, yang bumbunya sangat pedas, dan... dan harus dimakan di atas motor."
Kalandra terdiam. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali, memastikan pendengarannya tidak salah dan ia tidak sedang bermimpi. "Di atas motor? Elisa, ini jam satu malam. Dingin juga ini. Dan kamu harus bed rest, ingatkan?"
"Saya tahu, Mas. Makanya saya tadi coba tahan selama dua jam. Tapi rasanya...rasanya hampa sekali kalau nggak dituruti," Elisa menunduk, tangannya mengusap perutnya yang mulai terasa sedikit kencang. "Mungkin ini keinginan si bungsu yang di pojok kiri itu."
Kalandra menghela napas panjang. Ia menatap istrinya. Bagaimana mungkin ia bisa menolak jika Elisa sudah membawa-bawa si bungsu?
"Baiklah. Tapi kita tidak pakai motor," ujar Kalandra tegas. "Kita pakai mobil untuk mencari pedagang sate yang seperti kamu mau itu. Dan soal makan di atas motor, em…nanti kita pikirkan caranya."
...----------------...
Sepuluh menit kemudian, sebuah SUV berwarna hitam meluncur pelan keluar dari gerbang mansion yang dijaga ketat. Di kursi kemudi ada Kalandra yang mengenakan jaket hoodie dan di sampingnya ada Elisa yang sudah dibungkus rapat dengan jaket tebal dan syal.
Mereka berkeliling di daerah Jakarta Selatan yang mulai sepi. Kalandra menatap setiap sudut jalan dengan teliti.
"Bukan yang itu, Mas. Itu gerobaknya warna cokelat," ujar Elisa saat melihat tukang sate di pinggir jalan.
"Yang itu? Terlalu ramai, Elisa. Bahaya," Kalandra menunjuk pedagang lain.
"Bumbunya kelihatan pucat, Mas. Harus yang merah gelap," sahut Elisa lagi.
Hampir empat puluh menit mereka berputar-putar. Kalandra mulai merasakan mual simpatiknya muncul. Perutnya melilit, sebuah sinyal bahwa Elisa di sampingnya mulai merasa frustrasi. Akhirnya, di sebuah sudut jalan dekat pasar tradisional yang mulai menggeliat, mereka menemukan sebuah gerobak kuning menyala dengan kepulan asap yang menebarkan aroma rempah tajam.
"Itu! Itu dia, Mas!" seru Elisa senang.
Kalandra memarkir mobilnya. Ia turun dan memesan dua porsi dengan instruksi khusus menggunakan ekstra bumbu pedas. Namun, masalah muncul saat pesanan itu jadi.
"Mas... tadi janjinya dimakan di atas motor," tagih Elisa saat Kalandra membawakan bungkusan sate ke dalam mobil.
Kalandra memijat pelipisnya. Ia melihat ke arah motor bebek tua milik tukang sate yang terparkir di samping gerobak. "Elisa, itu tidak mungkin. Saya tidak akan membiarkanmu duduk di motor tua itu malam-malam begini."
"Cuma duduk, Mas. Tidak usah dijalankan. Lima menit saja," pinta Elisa dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Kalandra menyerah total. Ia mendekati tukang sate tersebut, mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu. "Pak, saya sewa motor Bapak sepuluh menit. Tolong pegangi supaya stabil, istri saya mau duduk di sana sebentar."
Si tukang sate melongo, namun segera mengangguk semangat melihat nominal uangnya.
Dengan sangat hati-hati, Kalandra membantu Elisa duduk di jok motor bebek yang agak keras itu. Di bawah sinar lampu jalan yang temaram, di atas motor tua di pinggir jalan Jakarta, Elisa memakan sate padangnya dengan lahap. Kalandra berdiri tepat di sampingnya, memayungi Elisa dari angin malam dengan tubuhnya yang tegap, sambil sesekali menyuapi istrinya kerupuk kulit.
"Enak, Mas?" tanya Elisa sambil menyodorkan satu tusuk sate ke mulut Kalandra.
Kalandra mencicipinya. Rasa pedas yang meledak di lidahnya langsung membuat keringat dingin keluar. "Pedas sekali, Elisa. Perut saya rasanya langsung panas."
"Berarti anak-anak suka," Elisa tertawa senang.
Di saat itulah, Kalandra menyadari sesuatu. Di tengah kegilaan mengidam ini, ia melihat Elisa yang begitu lepas. Tidak ada lagi bayang-bayang trauma dan ketakutan pada Danu, tidak ada tekanan etiket dari ibunya. Hanya ada seorang wanita muda yang bahagia karena keinginannya terpenuhi. Dan bagi Kalandra, itu sepadan dengan semua rasa perih di lambungnya.
...----------------...
Keesokan paginya, Kalandra terbangun dengan rasa mulas yang luar biasa. Efek sate padang semalam benar-benar terasa dua kali lipat pada tubuhnya. Saat ia sedang memijat perutnya di depan wastafel, ponselnya berdering. Nama Bimo muncul di layar.
"Lan, kita dapet momennya," suara Bimo terdengar bersemangat di seberang sana.
Kalandra membasuh wajahnya, mencoba kembali ke mode profesional. "Apa?"
"Danu baru saja melakukan transaksi besar ke rekening luar negeri untuk mencoba melarikan sisa aset perusahaannya. Tim IT kita sudah mencegat jalurnya. Papa juga sudah koordinasi dengan pihak bank. Dia terjebak, Lan. Dia nggak punya uang lagi untuk bayar orang-orang suruhannya."
"Bagus," jawab Kalandra dingin. "Terus tekan dia Bum. Gue mau sebelum kontrol dokter berikutnya, nama Danu sudah masuk dalam daftar hitam semua bank nasional."
"Siap. Oh, satu lagi... ada surat dari Pak Gunawan. Dia minta maaf secara pribadi soal keraguan dia kemarin. Sepertinya aksi Elisa di pesta itu benar-benar bikin dia kagum."
Kalandra tersenyum tipis. "Elisa memang selalu punya cara untuk mengejutkan orang lain."
Setelah menutup teleponnya, Kalandra kembali ke kamar. Ia mendapati Aris sedang duduk di tepi tempat tidur Elisa. Bocah itu tampak sedang menempelkan tangannya di perut kakaknya dengan wajah yang sangat serius.
"Kenapa, Ris?" tanya Kalandra sambil mendekat.
"Kak Landra, Kak Elisa bilang di dalam sini ada tiga bayi," ujar Aris dengan mata bulat penuh keajaiban. "Berarti nanti Aris jadi kakak dari tiga orang sekaligus?"
"Iya, Aris. Kamu bakal jadi kakak paling hebat buat mereka," Kalandra mengacak rambut Aris.
"Berarti nanti Aris harus belajar main bola sama tiga orang? Aris butuh tim yang banyak ya, Kak?"
Elisa tertawa lembut, ia menyandarkan kepalanya di sandaran ranjang. "Nanti Aris yang jadi kaptennya, ya."
Kalandra duduk di sisi lain tempat tidur. Suasana pagi itu terasa begitu hangat dan normal. Sebuah kata yang dulu terasa mustahil bagi mereka berdua. Namun, di tengah kedamaian itu, Kalandra tetap waspada. Ia tahu Danu yang dalam keadaan terdesak bisa menjadi lebih berbahaya daripada Danu yang berkuasa.
...----------------...
Siang harinya, Tuan Baskoro meminta Kalandra dan Elisa untuk menemuinya di taman belakang. Tuan Baskoro sedang duduk di kursi rotannya, menatap hamparan rumput hijau.
“Kalandra, Elisa, kemari, Nak” panggil Baskoro.
"Ada apa, Pa?"
Baskoro mengeluarkan sebuah dokumen kecil berwarna biru. "Ini adalah akta kepemilikan sebuah rumah di daerah pegunungan yang lebih tenang dari Puncak, di Jawa Barat. Papa sudah membeli tanah di sekitarnya juga. Papa ingin kalian pindah ke sana setelah bayi-bayi ini lahir."
Kalandra mengernyit. "Kenapa tiba-tiba, Pa?"
"Jakarta bukan tempat yang sehat untuk membesarkan tiga anak sekaligus dengan status keluarga kita," ujar Baskoro dengan nada bijak yang jarang ia tunjukkan. "Kalian butuh privasi yang sesungguhnya. Dan Elisa... papa ingin kamu mengelola yayasan itu dari sana saja. Di sana udaranya bersih, jauh dari kamera paparazzi."
Elisa menatap dokumen itu dengan haru. Tuan Baskoro, pria yang awalnya ia takuti, ternyata memikirkan kenyamanan masa depannya sedalam itu.
"Terima kasih, Pa. Kami akan memikirkannya," ucap Kalandra.
"Jangan hanya dipikirkan, tapi kerjakan," potong Baskoro sambil melirik perut Elisa. "Satu Mahendra saja sudah cukup bikin gempar, apalagi tiga. Pastikan mereka tumbuh menjadi orang yang kuat seperti ibunya."
Elisa tertegun mendengar pujian itu. Kuat seperti ibunya. Kata-kata itu seolah memberikan suntikan kekuatan baru baginya untuk menghadapi bulan-bulan kehamilan berikutnya yang pasti akan semakin berat.
Malam harinya, setelah malam kemarin saat ia kelelahan setelah petualangan sate padang, Kalandra duduk di meja kerjanya yang ada di sudut kamar. Ia memandangi foto USG si kembar tiga yang ia selipkan di sudut monitor laptopnya.
Ia merasakan sebuah kedutan lagi di perutnya sendiri. Sebuah rasa lapar yang mendadak, padahal ia baru saja makan malam.
"Mau apa lagi sekarang?" bisik Kalandra pada udara kosong, seolah bicara pada janin di rahim istrinya. "Martabak? Nasi uduk? Atau soto mie?"
Ia tersenyum sendiri. Ternyata, menjadi ayah dari tiga orang anak sekaligus dimulai dengan belajar menjadi kurir makanan pribadi yang paling sabar di dunia. Dan Kalandra Mahendra, sang pewaris tunggal, tidak pernah merasa sebahagia ini saat menjadi seorang pelayan bagi keluarga kecilnya.
Trimester pertama hampir berakhir. Badai Danu mulai menunjukkan tanda-tanda akan mereda di bawah kekuatan finansial Mahendra. Namun, badai yang sesungguhnya adalah permintaan-permintaan bumil yang akan datang tanpa aba-aba
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Selamat Membaca☺️🥰...
...Terimah kasih🙏🏻❤️...
...Jangab lupa like, comment, vote dan ratenya ya manteman, karena dukungan kalian adalah semangat untuk Author🙏🏻🙌🏾❤️...