Elisa (18 tahun) hanyalah gadis yatim piatu yang berjuang sendirian demi menyekolahkan adiknya. Namun, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk saat sebuah pesanan makanan membawanya ke kamar yang salah. Di sana, ia kehilangan segalanya dalam satu malam yang tragis. Di sisi lain, ada Kalandra (30 tahun), pewaris tinggal kaya raya yang dikenal dingin dan anti-perempuan. Malam itu, ia dijebak hingga kehilangan kendali dan merenggut kesucian seorang gadis asing. Elisa hancur dan merasa mengkhianati amanah orang tuanya. Sedangkan Kalandra sendiri murka karena dijebak, namun bayang-bayang gadis semalam terus menghantuinya. Apa yang akan terjadi jika benih satu malam itu benar-benar tumbuh di rahim Elisa? Akankah Kalandra mau bertanggung jawab, atau justru takdir membawa mereka ke arah yang lebih rumit? Yukkk…ikuti ceritanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senimetha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Elisa-30
Suasana di ruang pemulihan setelah Elisa melahirkan, ruang VIP Rumah Sakit itu mendadak berubah menjadi panggung opera sabun yang penuh haru sekaligus hiruk pikuk. Belum genap tiga jam sejak tangisan bayi kembar tiga itu memecah kesunyian subuh, pintu kamar 301 sudah nyaris jebol karena dorongan antusias dari dua orang yang merasa paling berkuasa di keluarga Mahendra.
"Mana cucu-cucuku? Di mana bidadari-bidadariku?!"
Suara menggelegar Tuan Baskoro terdengar lebih dulu bahkan sebelum sosoknya muncul. Ia masuk dengan langkah lebar, masih mengenakan piyama sutra yang dibalut jubah mandi mahal, tanda bahwa ia langsung meloncat ke mobil tanpa sempat berganti pakaian terlebih dahulu. Di belakangnya, Nyonya Siska mengekor dengan wajah yang sembab karena air mata bahagia, tangannya sibuk memegang tas berisi perlengkapan bayi yang lupa di bawah sama kalandra.
Kalandra, yang sedang duduk di samping tempat tidur Elisa sambil mengelus rambut istrinya, hanya bisa menghela napas panjang namun bibirnya tak berhenti tersenyum.
"Sstt... Pa, pelan-pelan. Elisa baru saja bisa memejamkan mata," tegur Kalandra lembut.
Baskoro mendadak mengerem langkahnya. Ia mendekat ke arah tiga boks bayi yang berjejer rapi di sisi kiri ruangan. Matanya yang biasanya tajam dan menakutkan bagi musuh bisnisnya kini berkaca-kaca. Ia menatap dua boks dengan label merah muda dan satu boks berlabel biru.
"Ya Tuhan..." bisik Baskoro. Suaranya gemetar. Ia membungkuk, menatap salah satu bayi perempuan yang sedang menggeliat kecil. "Cantik sekali. Mirip sekali dengan neneknya. Dan lihat si Jagoan ini, hidungnya persis Kalandra."
Siska mendekati Elisa yang terbangun karena suara mertuanya. “Elisa, sayang... terima kasih. Mama tidak tahu harus bilang apa. Kamu hebat sekali melahirkan mereka secara normal, Nak!”
Elisa tersenyum lemah namun bercahaya. "Terima kasih, Ma. Ini semua karena dukungan Mas Landra juga."
Nyonya Siska kembali menatap sang anak yang ada di samping istrinya, “ kamu juga Landra, kenapa tidak membangunkan mama sama papa? Kalian juga sampai lupa membawa perlengkapan bayinya”
“Aduhh…itu mah, Landra panik banget lihat Elisa yang menahan sakit dan ketubanya juga sudah pecah dan merembes di kasur, ya Landra langsung bawah dia ke rumah sakit, pas nyampe sini Elisa sudah pembukaan delapan Ma. Tambah paniklah aku karena terlalu cepat dan tidak bisa dilakukan operasi”jawab kalandra
“Tapikan bisa kamu telfon setelah sudah selesai, untung Art dirumah bangunin papa sama mama waktu melihat kamu gendong Elisa dengan panik” sahut pak Baskoro
“Iya pak, maaf Landra lupa, Hp Landra juga ketinggalan di rumah” jawab Landra yang masi menatap Elisa, lalu beralih ke ayahnya. "Pa, ingat taruhan kita? Aku kalah karena ada dua bidadari, kemarin waktu tujuh bulanan Landra sudah pakai sekali dan sepertinya benar-benar harus aku pakai lagi warna pink nanti di acara syukuran mereka di rumah."
Baskoro tertawa tertahan agar tidak membangunkan bayi-bayi itu. "Haha..Lupakan soal baju pink itu, Landra! Melihat mereka lahir sehat saja sudah membuat Papa merasa memenangkan lotre triliunan rupiah. Tapi... kalau kamu mau pakai baju pink lagi untuk menyenangkan anak-anakmu nanti, Papa tidak akan melarang!"
Tak lama kemudian, pintu kembali terbuka pelan. Gery dan Bimo masuk dengan gaya mereka yang khas. Gery membawa buket bunga raksasa yang hampir menutupi wajahnya, sementara Bimo membawa beberapa kantong plastik berisi makanan dan kopi.
"Selamat, Bos! Selamat, Bu Elisa!" bisik Gery dengan suara yang sok imut. "Gue denger tadi di koridor, katanya Bu Elisa hebat banget. Tiga gol tanpa balas!"
Bimo menyikut pinggang Gery. "Mulut lo, Ger. Ini rumah sakit." Bimo lalu menaruh kopi di meja depan Kalandra. "Lan, selamat ya. Gue udah urus semua administrasinya. Dan buat Danu... kabarnya dia makin stres di sel begitu tahu cucu-cucu Mahendra lahir dengan selamat."
Kalandra berdiri, ia memeluk Bimo dan Gery bergantian sebuah gestur yang sangat jarang ia lakukan. "Makasih untuk kalian berdua. Makasih sudah menjaga keamanan di luar tadi."
"Sama-sama, Bos. Tapi jujur, Lan," Gery nyengir lebar sambil melirik Kalandra. "Muka lo tadi pas panik di parkiran bener-bener kayak orang habis dikejar hantu. Rambut acak-acakan, kemeja yang kancingnya salah. Baru kali ini gue liat CEO Mahendra Group se-berantakan itu."
"Diam kamu, Gery," sahut Kalandra, tapi kali ini tanpa nada ancaman. Ia justru terkekeh.
Setelah kemeriahan itu sedikit mereda dan para orang tua sibuk mengerumuni boks bayi, Kalandra kembali duduk di samping Elisa. Ia mengambil tangan Elisa, menggenggamnya erat. Ada perubahan nyata dalam cara Kalandra menatap dan bicara sekarang. Batas yang selama ini ia bangun, benar-benar sudah runtuh tertimbun oleh tangisan pertama anak-anak mereka.
"Masih sakit banget, Sayang?" tanya Kalandra pelan. Panggilan Sayang itu kini terdengar begitu alami, tidak lagi kaku seperti minggu lalu.
Elisa sedikit tersipu mendengar perubahan gaya bicara Kalandra. "Sedikit, Mas. Tapi liat mereka sakitnya jadi hilang dan nggak kerasa lagi."
"Aku bener-bener takut kehilangan kamu tadi, El," bisik Kalandra, jemarinya mengusap pipi Elisa. "Pas kamu teriak kesakitan, aku ngerasa jadi pria paling nggak berguna di dunia karena nggak bisa gantiin rasa sakitnya. Maafin aku ya, karena kejadian malam itu kamu harus lewat jerih payah kayak gini."
Elisa menatap mata Kalandra yang masih memerah. "Mas, jangan bahas itu lagi. Malam itu memang awalnya kesalahan, tapi sekarang aku sadar itu adalah cara Tuhan yang paling aneh buat nemuin kita. Kalau bukan karena malam itu, aku nggak akan punya kamu, dan kita nggak akan punya tiga malaikat itu."
Kalandra mencium kening Elisa lama sekali. "Aku janji, setelah ini nggak akan ada lagi jarak di antara kita. Aku mau jadi suami yang bisa kamu ajak bercanda, bukan cuma bos yang nyuruh-nyuruh kamu. Kamu mau kan, sabar ngajarin aku jadi orang yang lebih santai?"
Elisa tertawa kecil, meski perutnya masih terasa nyeri. "Boleh. Syarat pertama, Mas nggak boleh lagi panggil aku pake bahasa formal kalau kita lagi berdua."
"Siap, Nyonya Mahendra," Kalandra tersenyum lebar, menampakkan lesung pipinya yang jarang terlihat. "Apapun buat kamu. Aku bakal belajar jadi ayah yang asik juga buat si Abang dan dua putri kita."
Di sisi lain ruangan, Tuan Baskoro tampak sedang sibuk berdebat kecil dengan Nyonya Siska.
"Ma, ini yang perempuan yang hidungnya mungil ini harus jadi pengusaha hebat kayak kakeknya!" seru Baskoro.
"Enak saja! Dia harus jadi seniman atau dokter, Pa. Biar hatinya lembut," sahut Siska tak mau kalah.
Bimo dan Gery yang berdiri di dekat mereka hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Baru lahir tiga jam yang lalu tapi masa depan mereka udah ditentuin," bisik Gery pada Bimo. "Gue taruhan seratus ribu, yang laki-laki bakal jadi pemain bola dulu sebelum jadi direktur."
"Gue nggak mau taruhan sama lo, Ger. Biasanya tebakan lo soal kekacauan selalu bener," balas Bimo sambil tersenyum tipis melihat kebahagiaan keluarga besar itu.
Tiba-tiba, salah satu bayi perempuan menangis. Suara tangisannya sangat nyaring dan kuat. Kalandra langsung berdiri dengan sigap. Ia belum pernah menggendong bayi sebelumnya, tapi instingnya bekerja. Dengan arahan suster yang baru masuk, Kalandra menggendong putri kecilnya itu dengan sangat hati-hati, seolah ia sedang memegang kristal paling rapuh di dunia.
"Sstt... ini Papa, Sayang. Papa di sini," bisik Kalandra sambil menimang pelan.
Keajaiban terjadi. Bayi itu diam, matanya yang masih terpejam tampak tenang mendengar suara bariton ayahnya. Kalandra menoleh ke arah Elisa dengan wajah penuh kemenangan dan haru.
"Liat, El. Dia tahu kalau suaraku, suara papanya" ucap Kalandra dengan binar mata yang begitu cerah.
Elisa melihat pemandangan itu dengan hati yang meluap. Pria yang dulu sangat ia takuti karena pernah menjadi monster yang membuat dunianya hancur, kini berdiri di sana, menggendong sang putri mereka dengan penuh kasih sayang.
Hari ini, kamar 301 bukan hanya menjadi tempat lahirnya tiga nyawa baru, tapi juga tempat lahirnya kembali seorang Kalandra Mahendra yang baru. Seorang pria yang akhirnya berani melepaskan topeng kekuasaannya demi sebuah kata bernama cinta.
Perjalanan mereka dari sebuah kesalahan satu malam hingga menjadi keluarga utuh memang penuh lika-liku yang menyakitkan. Namun, saat melihat Kalandra mencium pipi bayi mereka, Elisa tahu bahwa setiap tetes air mata dan rasa sakit yang ia lalui adalah harga yang sangat murah untuk kebahagiaan yang ia miliki sekarang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Selamat membaca guyssss☺️🥰🥳...