NovelToon NovelToon
ORBIT TAK TERENCANA

ORBIT TAK TERENCANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Dosen / Pernikahan Kilat / One Night Stand
Popularitas:83
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

Antares Bagaskara adalah dosen dan ilmuwan antariksa yang hidup dengan logika dan keteraturan. Cinta bukan bagian dari rencananya—hingga satu malam tak terduga memaksanya menikah dengan Zea Anora Virel, mahasiswi arsitektur yang ceria dan sulit diatur.
Pernikahan tanpa cinta.
Perbedaan usia.
Status dosen dan mahasiswi.
Terikat oleh tanggung jawab, mereka dipaksa berbagi hidup di tengah batas moral, dunia akademik, dan perasaan yang perlahan tumbuh di luar kendali.
Karena tidak semua cinta lahir dari rencana.
Sebagian hadir dari orbit yang tak terencana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Distorsi Logika dan Air Mata

Zea tidak peduli lagi dengan sopan santun akademis saat ia mendorong pintu kayu ruang dosen dengan napas yang memburu. Pemandangan di depannya justru membuat dunianya seolah runtuh. Clarissa berdiri di sana dengan air mata yang membasahi pipi cantiknya, sementara Antares berdiri sangat dekat, tampak baru saja meletakkan sebuah berkas di hadapan wanita itu. "Jadi ini urusan mendadak yang Mas maksud sampai harus berangkat pagi-pagi buta tanpa pamit ke aku?" tanya Zea dengan suara bergetar, matanya menatap tajam ke arah Antares yang tampak terkejut melihat kedatangan istrinya yang tiba-tiba.

Antares segera melangkah mendekat, mencoba meraih bahu Zea untuk menenangkan kegemparan emosi yang terpancar jelas dari wajah pucat istrinya. "Zea, ini tidak seperti yang kamu pikirkan, saya hanya sedang menyelesaikan urusan administrasi yang sangat penting dengan Clarissa," ucap Antares dengan nada setenang mungkin, meskipun ia tahu bahwa dalam kondisi mood swing seperti ini, logika Zea sedang berada di titik buta. Namun, Zea menepis tangan Antares dengan kasar, ia justru menatap Clarissa yang kini menunduk, tampak seperti korban yang sedang dizalimi oleh otoritas sang Profesor.

Clarissa, yang melihat celah untuk memancing kekacauan, sengaja mengusap air matanya dengan gerakan dramatis agar Zea semakin terpancing emosinya. "Zea, tolong jangan salah paham, Antares hanya mencoba menjelaskan bahwa posisi saya di sini memang akan selalu menjadi gangguan bagi kalian," ucap Clarissa dengan suara lirih yang dibuat-buat, sengaja menggunakan nama panggilan akrab untuk memanaskan suasana. Zea mengepalkan tangannya, rasa mual di perutnya kini bercampur dengan api cemburu yang membakar harga dirinya di depan wanita yang ia anggap jauh lebih sempurna darinya itu.

"Mas puas sekarang? Puas melihat mantan Mas menangis karena perbuatan Mas sendiri, sampai-sampai Mas harus berduaan di sini pagi-pagi?!" seru Zea, air matanya akhirnya jatuh, mengalir melewati pipinya yang tembam karena hormon kehamilan. Antares menghela napas panjang, ia memberikan tatapan peringatan yang mematikan pada Clarissa sebelum akhirnya menarik Zea paksa ke dalam dekapannya yang kokoh. "Cukup, Zea, berhenti menyiksa diri kamu dengan asumsi yang salah karena wanita ini baru saja saya pecat demi melindungi kamu," bisik Antares tepat di telinga Zea, sebuah pengakuan yang seketika membuat tangis Zea terhenti dalam keheningan yang mencekam.

Clarissa terperangah mendengar kejujuran Antares yang begitu telanjang di depan Zea, menyadari bahwa rencananya untuk terlihat sebagai korban telah gagal total. "Kamu... kamu benar-benar memberitahunya, Antar?" tanya Clarissa dengan suara yang kini benar-benar bergetar karena rasa malu yang tidak bisa lagi ia tutupi. Antares tidak menoleh sedikit pun, ia justru semakin erat memeluk Zea, seolah menegaskan bahwa kehadiran Clarissa sudah tidak memiliki eksistensi lagi di dunianya.

Zea yang masih berada dalam dekapan Antares mendongak, menatap suaminya dengan mata yang sembab dan bingung. "Dipecat? Mas... Mas mecat dia karena aku?" tanya Zea dengan suara yang masih sesenggukan, mencoba memproses informasi yang baru saja ia dengar di tengah badai emosinya. Antares mengecup kening Zea dengan lembut di depan Clarissa, menunjukkan supremasi cintanya yang mutlak. "Saya sudah katakan, Zea, siapa pun yang mencoba mengganggu orbit kamu akan saya eliminasi dari sistem saya, tanpa pengecualian," jawab Antares final, mengakhiri perdebatan itu dengan kedinginan yang hanya ia tujukan untuk dunia luar.

Zea masih sesenggukan dalam pelukan Antares, sementara Clarissa berdiri membeku hanya beberapa langkah dari mereka dengan wajah yang pucat pasi karena terhina. Antares tidak membiarkan istrinya melihat wajah wanita itu lagi; ia justru menekan kepala Zea ke dadanya, memberikan perlindungan mutlak sambil menatap Clarissa dengan sorot mata yang mengusir. "Silakan keluar sekarang, Clarissa, karena kehadiran Anda di sini hanya akan mengontaminasi ruang pribadi istri saya dan saya tidak ingin keamanan mentalnya terganggu lebih lama lagi," ucap Antares dengan nada dingin yang sangat merendahkan, seolah Clarissa hanyalah debu yang harus segera disingkirkan dari sistem hidupnya.

Clarissa ingin membalas, namun lidahnya terasa kelu melihat bagaimana Antares mencium puncak kepala Zea dengan begitu posesif dan intim di hadapannya. Ia menyadari bahwa di mata Antares, dirinya sudah benar-benar mati dan digantikan sepenuhnya oleh gadis yang sedang menangis manja itu. Dengan tangan gemetar, Clarissa menyambar tasnya dan melangkah keluar dari ruangan itu dengan langkah seribu, meninggalkan aroma parfum mawarnya yang kini terasa hambar di udara.

Antares menarik napas panjang, ia membawa Zea duduk di kursi kerjanya sementara ia sendiri berlutut di depan istrinya untuk menghapus air mata yang masih tersisa di pipi tembam itu. "Berhenti menangis, Zea, karena setiap tetes air mata kamu adalah kegagalan terbesar bagi saya dalam menjaga pusat semesta saya," ucap Antares dengan nada yang begitu dewasa dan penuh pengabdian, membuat Zea yang tadinya ingin marah lagi justru terdiam karena luluh. Zea mengerucutkan bibirnya, menatap Antares dengan sisa-sisa cemburu yang masih ada di matanya meski hatinya sudah mulai tenang. "Habisnya Mas bikin aku takut, aku kira Mas mau balik lagi sama tante-tante elegan itu dan ninggalin aku yang cuma mahasiswi manja ini," cicit Zea pelan, yang langsung dibalas Antares dengan sebuah kecupan hangat di punggung tangannya sebagai segel janji yang mutlak.

Antares terkekeh rendah, sebuah tawa langka yang hanya bisa dipancing oleh kepolosan Zea. "Logika saya tidak akan pernah mengizinkan saya kembali pada masa lalu yang cacat, terutama saat saya sudah memiliki 'anomali' paling berharga seperti kamu di sini." Antares mengusap perut Zea yang masih rata dengan sangat lembut. "Sekarang, katakan pada saya, apa yang diinginkan bayi kita untuk meredakan kemarahan ibunya yang sangat menggemaskan ini?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!