NovelToon NovelToon
Nenek Gerandong : Kisah Urban Legend Indonesia

Nenek Gerandong : Kisah Urban Legend Indonesia

Status: tamat
Genre:Kumpulan Cerita Horror / Horror Thriller-Horror / Hantu / Horor / Tamat
Popularitas:50
Nilai: 5
Nama Author: SARUNG GAME

Kisah ini Terinspirasi dari Lengenda Urban Nenek Gerandong Di Banten Indonesia

Dulu kala Ada Ibu Muda yang sedang menyusui bayi, tiba tiba sosok nenek menyeramkan hadir membuat si ibu muda ketakutan dan pingsan. si nenek seram itu lalu menculik bayinya dan masuk ke dalam hutan dengan cara melayang

Jika bayi Ibu menyusui tak cepat ditemukan apa yang akan terjadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SARUNG GAME, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Cinta yang Tumbuh

Desa Durian Berduri kini seperti lukisan yang baru saja dibersihkan dari debu yang menumpuk selama bertahun tahun—warnanya lebih cerah, garisnya lebih tegas, dan setiap detailnya bernapas dengan kehidupan baru.

Angin pagi bertiup lembut melalui jalan setapak tanah, membawa aroma bunga melati yang ditanam warga di sekitar rumah-rumah panggung, seolah alam sendiri ikut merayakan pemulihan yang lama ditunggu.

Pohon durian liar di pinggir desa tak lagi tampak menyeramkan; duri-durinya seperti penjaga ramah yang menjaga buah manis di balik kulit kasar.

Anak-anak berlarian tanpa takut gelap datang terlalu cepat, tawa mereka menggema seperti lonceng kecil yang tak pernah berhenti. Ibu-ibu mencuci kain di sungai dengan cerita ringan, suara air gemericik bercampur gosip kecil yang tak lagi dibayangi cerita hantu.

Para lelaki kembali ke sawah dengan semangat yang lama hilang, parang mereka menebas rumput liar seperti menebas sisa-sisa mimpi buruk.

Kang Asep dan Siti Aisyah—Mbak Neneng—menjadi contoh yang paling menyentuh hati warga. Trauma yang mereka lalui—godaan malam itu, pengorbanan Siti Aisyah di hutan, jeritan di gua—kini menjadi fondasi yang lebih kokoh untuk pernikahan mereka.

Suatu pagi cerah, Siti Aisyah bangun lebih awal, duduk di tepi bale kayu dengan rambut hitam panjang terurai bebas, kulit kuning langsatnya berkilau samar di bawah sinar matahari yang menyusup melalui celah dinding bambu.

Ia menatap Kang Asep yang masih tidur, wajah suaminya yang kasar tapi lembut itu tampak damai untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun.

“Kang Asep... bangun Kang,” bisik Siti Aisyah lembut, tangannya menyentuh pipi suaminya yang berjanggut tipis. Kang Asep membuka mata, matanya langsung bertemu dengan mata istrinya yang penuh cinta.

Ia bangun pelan, tangannya meraih pinggang Siti Aisyah, menariknya lebih dekat. “Nen... kau sudah bangun. Aku mimpi lagi malam tadi... mimpi kau ditarik ke gua itu... aku tak bisa selamatkan kau... hati aku sakit sekali, Nen... seperti dada aku robek.”

Siti Aisyah memeluknya erat, kepalanya bersandar di dada suaminya, air matanya jatuh pelan. “Itu cuma mimpi, Mas. Aku di sini... Akang selamatkan aku.

Kau selamatkan kita semua. Malam itu... aku takut sekali. Aku pikir aku tidak akan bisa memeluk anak-anak lagi... Tidak akan bisa peluk Kang Asep lagi. Aku rasain tangan dingin itu menarikku... aku merasakan nafsu liar Raja Biawak yang membuat tubuhku gemetar... tapi Akang di sana, berjuang... suara Kang Asep memanggil namaku... itu yang bikin aku kuat. Aku cinta kamu, Kang... lebih dari dulu.”

Kang Asep mencium kening istrinya, tangannya menyusuri punggung Siti Aisyah dengan lembut, merasakan kehangatan kulit kuning langsat itu. “Aku juga, Nen. Aku ingat godaan malam itu... aku hampir mengkhianatimu. Aku hampir menghancurkan apa yang kita bangun. Dadaku sakit setiap mengingat itu... aku berpikir aku tidak layak lagi jadi suamimu. Tapi kamu memaafkanku... kamu memberikan aku kesempatan kedua. Sekarang... aku janji, aku akan menjagamu lebih baik lagi. Setiap hari, aku akan ingat luka itu... supaya aku Tidak mengulangi lagi. Aku mau kita bahagia, Nen... benar-benar bahagia.”

Siti Aisyah tersenyum di tengah air mata, tangannya menyentuh dada suaminya. “Aku maafkan kamu sejak dulu, Kang. Kita sama-sama salah. Tapi sekarang... kita lebih kuat. Aku ingin kita mulai lagi... seperti dulu saat waktu baru nikah. Kita bangun rumah ini dengan cinta... sekarang kita bangun lagi dengan pengampunan. Aku... aku mau kita punya anak lagi, Kang. Biar keluarga kita tambah ramai... biar trauma ini diganti tawa baru.”

Kang Asep memeluk istrinya lebih erat, air matanya jatuh ke rambut Siti Aisyah. “Aku juga mau, Nen. Aku janji... aku akan jadi ayah yang lebih baik. Kita lalui ini bersama... selamanya.”

Kang Ujang, pemuda bujang yang dulu mudah tergoda nafsu murahan, kini menjadi sosok yang membuat warga desa berdecak kagum dengan perubahannya.

Ia tak lagi duduk di teras malam hari dengan mata melirik ke rumah Sari atau wanita lain. Sebaliknya, ia sering membantu di sawah Pak Kades atau memperbaiki jalan setapak desa. Suatu pagi, saat sedang menebang pohon mati di pinggir hutan, ia berhenti di depan monumen Mbah Saroh. Ia berlutut, tangannya menyentuh batu dingin itu, air matanya jatuh pelan.

“Mbah... aku tahu aku salah besar. Malam itu... aku hampir tergoda nafsu murahan. Aku lihat Teh Sari pingsan... aku hampir... aku hampir menodai istri tetanggaku sendiri. Dada aku sakit setiap ingat itu, Mbah. Aku pikir aku lelaki lemah... aku pikir aku tak layak hidup di desa ini. Maafkan aku, Mbah. Aku janji... tidak akan lagi mengulangi perbutan hina tersebut. Aku akan jadi lelaki yang lebih baik. Aku akan jagain desa ini... tanpa nafsu yang bikin aku buta. Aku... aku mau cari istri yang baik suatu hari, bangun keluarga seperti Kak Asep. Tolong bimbing aku dari sana, Mbah...”

Kang Ujang berdiri, matanya basah tapi tekadnya baru. Dari kejauhan, Kang Asep melihatnya, tersenyum tipis sambil mendekat. “Ujang... kau sudah dewasa sekarang. Aku bangga sama sekali sama dirimu. Dulu aku khawatir... kamu mudah tergoda. Tapi sekarang... kau berubah. Itu butuh hati yang kuat.”

Kang Ujang mengangguk, suaranya penuh emosi. “Kak... aku takut sekali waktu itu. Aku pikir nafsu itu kecil, tapi hampir hancurkan segalanya. Aku janji sama Akang... aku tidak akan tergoda lagi. Aku mau belajar dari Akang... cara menjaga keluarga, cara menjadi lelaki yang benar.”

Kang Asep memeluk bahu temannya yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri. “Kau akan. Dan aku akan membantumu. Kita seperti saudara, Ujang. Kita lalui ini bersama. Mulai sekarang... kau bagian dari keluarga kami. Cecep, Ratih, Lila... mereka sudah menganggapmu sebagai paman mereka sendiri.”

Kang Ujang tersenyum lewat air mata. “Terima kasih, Kang. Aku... aku tidak akan mengecewakan kamu lagi.”

Daeng Tasi, yang selama ini jadi pilar utama kekuatan desa, kini menemukan kedamaian dalam kehidupan sehari-hari. Ia tak lagi sering melaut—ia memilih tinggal lebih lama di desa, kadang sesekali membantu Bang Jaim memperbaiki kapal Phinisi di dermaga kecil tak jauh dari desah mereka .

Suatu sore, saat Sari duduk di teras memandang Lilis bermain dengan mainan kayu sederhana dipangkuannya, Daeng Tasi datang dari belakang, tangannya melingkar di pinggang istrinya.

“De Sari... kau tahu Tidak, aku setiap malam masih mimpi malam itu. Aku bermimpi kau ditarik ke air hitam... aku tak bisa meraih tanganmu...” bisik Daeng Tasi, suaranya penuh emosi yang lama tertahan.

Sari menoleh, tangannya menyentuh wajah suaminya, air matanya jatuh pelan. “Daeng... aku juga. Aku takut sekali waktu itu. Aku pikir aku  akan bisa memeluk Lilis lagi... Tidak akan bisa memeluk Dirimu lagi. Dada aku sesak setiap mengingat kejadian itu. Tapi setiap pagi aku bangun, kau di sampingku... Lilis tertawa... itu yang membuatkumenjadi kuat dan nyaman. Aku mencintaimu, Daeng... lebih dari dulu. Daeng adalah  pahlawanku.”

Daeng Tasi mencium bibir Sari pelan, pelukannya lebih erat, suaranya tersendat. “Aku juga, Sari. Aku hampir kehilangan kalian... aku hampir gila. Aku janji... aku kurangi melaut. Aku mau di sini setiap hari. Lilis perlu ayahnya... aku memerlukanmu setiap  setiap detik. Kita bangun mimpi baru... rumah lebih besar, anak lagi... apa pun yang kau mau.”

Sari tersenyum lewat air mata. “Anak lagi? Aku mau, Daeng. Aku mau keluarga kita tambah ramai. Tapi kali ini... tanpa takut apa pun. Kita sudah bebas.”

Kang Mamat, ipar Daeng Tasi yang setia, kini lebih sering membantu di sawah dan rumah. Ia duduk bersama Bang Jaim di teras suatu malam, minum teh panas sambil cerita. “Jaim... kau tahu tidak, malam di gua itu aku pikir aku mati. Aku lihat Sari saudariku ditarik ke air... aku tak bisa raih tangannya... dadaku sakit sekali, seperti robek. Aku tak mau kehilangan adikku... aku tak mau kehilangan keluarga lagi.”

Bang Jaim mengangguk, suaranya pelan tapi penuh emosi. “Kang... aku juga. Aku ingat masa kecilku, Babe Ji, ibu, kelurgaku dan warga desaku dibantai... aku tak mau kehilangan lagi. Tapi sekarang... kita punya keluarga baru. Aku janji, aku mejaga kalian semua. Aku... aku anggap Daeng seperti ayah ke empatku. Aku mau belajar lebih banyak... mau jadi seperti dia.”

Kang Mamat memeluk bahu Bang Jaim, air matanya jatuh. “Kau sudah seperti adikku, Jaim. Terima kasih sudah bantu kami dengan mantra dan hipotesis itu. Tanpa kau... kita tidak akan menang. Aku bangga sama denganmu. Mulai sekarang... kau tinggal di desa ini. Kita dagang bareng, hidup bareng.”

Bang Jaim tersenyum, air matanya jatuh. “Terima kasih, Kang. Aku… akhirnya punya desa lagi.”

Pak Kades, pemimpin desa yang sudah renta, kini sering duduk sendirian di depan monumen sore hari. Ia berbicara pelan seperti kepada teman lama.

“Mbah Saroh... aku dulu bagian dari warga yang bakar gubukmu. Aku muda, marah, tak pikir panjang. Dada aku sakit setiap ingat itu... aku pikir aku pahlawan, tapi aku yang jahat. Maafkan aku, Mbah. Aku pikir kau jahat... tapi aku yang salah. Sekarang aku menjaga desa ini... dengan hati yang lebih bijak. Terima kasih sudah memaafkan kami. Aku... aku harap kau damai di sana.”

Dua hansip desa, yang dulu selalu ronda dengan hati berdegup kencang, kini lebih sering tertawa saat tugas malam. “Kita tidak perlu takut lagi malam-malam,” kata hansip pertama ke yang kedua suatu malam. “Tapi kita harus ingat... jangan ulangi kesalahan dulu. Jangan khianati orang lemah. Aku... aku tak mau anak-anak kita merasakan apa yang kita rasain.”

Hansip kedua mengangguk, suaranya penuh emosi. “Iya... aku masih ingat jeritan di gua itu. Aku pikir aku mati malam itu... tapi kita hidup. Kita hidup untuk menjaga desa ini. Kita akan menceritkan ke anak-cucu... biar mereka tahu betapa pentingnya maaf dan pengertian.”

Beberapa warga yang ikut rombongan—nelayan, petani, ibu rumah tangga—kini hidup dengan cerita mereka sendiri yang penuh emosi. Seorang nelayan duduk di dermaga kecil bersama anaknya, matahari terbenam di depan. “Dulu aku takut masuk hutan. Sekarang aku sering ke sungai dekat hutan untuk memancing ikan. Airnya jernih, ikannya banyak. Terima kasih Mbah Saroh... kau beri kami damai. Aku... aku minta maaf atas nama ayahku yang dulu ikut membakar gubukmu. Aku tak tahu sebesar apa luka hatimu... tapi sekarang aku paham. Aku mengajari anakku ini... jangan pernah membiarkan orang tersiksa sendirian.”

Anaknya menatap ayahnya dengan mata besar. “Ayah... Mbah Saroh sekarang senang ya?”

Nelayan itu memeluk anaknya, air matanya jatuh. “Iya, Nak. Dia senang. Dia sudah damai. Dan kita juga.”

Seorang ibu rumah tangga berbicara dengan suaminya di teras malam, bintang-bintang berkedip di langit. “Aku Tidak lagi mimpi buruk. Anak-anak tidur nyenyak. Kita harus mengajari mereka meminta maaf kalau salah... seperti kita meminta maaf ke Mbah Saroh. Aku... aku takut sekali malam itu di gua. Aku pikir aku tidak akan pulang ke anak-anak lagi. Tapi kita pulang... kita pulang dengan hati baru.”

Suaminya memegang tangannya. “Aku juga, Sayang. Aku lihat kamu takut... dadaku sakit. Tapi sekarang... kita lebih dekat. Kita lebih sayang. Terima kasih Mbah Saroh... kau mengajari kami arti pengampunan.”

Dan begitulah kehidupan setiap karakter setelah Desa Durian Berduri damai—penuh dialog hati yang dalam, pelukan yang lebih erat, dan cerita yang tak pernah berhenti. Desa itu tak lagi hanya bertahan; ia tumbuh dengan cinta yang baru, cinta yang lahir dari pengampunan dan pemahaman.

***

1
Pemuja Rahasia 001
baru bab awal tapi bagus penyusunan kata halus , terutama saat deskripsi tentang teh sari
Pemuja Rahasia 001
bab 3 ini bagus penyusunan katanya bagus terutama saat teh sari pingsan di lantai
Pemuja Rahasia 001: bab 3 tentang moster laut bagus
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!