Arc 1 : Bab 1 — 41 (Dunia Melalui Mata Bayi Ajaib)
Arc 2 : Bab 42 — ... (On-going)
Aku terlahir kembali di dunia kultivasi dengan ingatan utuh dan selera yang sama.
Di sini, kekuatan diukur lewat tingkat kultivasi.
Sedangkan aku? Aku memulainya dari no namun dengan mata yang bisa membaca Qi, meridian, dan potensi wanita sebelum mereka menyadarinya sendiri.
Aku akan membangun kekuatanku, tingkat demi tingkat bersama para wanita yang tak seharusnya diremehkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26 : Di Ambang Gua, Darah Menentukan.
[PoV Lin Jie]
Aku mendarat di tanah dengan lutut sedikit ditekuk, membiarkan berat tubuhku tenggelam ke bumi agar tidak menimbulkan suara. Daun-daun basah di bawah kakiku hanya bergeser tipis. Udara pagi masih dingin, bercampur bau tanah dan lumut.
Lima aura di depanku langsung berubah.
Mereka terkejut, tapi bukan orang bodoh. Dalam satu tarikan napas, mereka menyebar dan membentuk formasi setengah lingkaran. Jarak diatur. Sudut tertutup. Tidak ada celah langsung menuju gua di belakangku.
Bagus. Itu berarti mereka serius.
“Kapten, ini—” salah satu dari mereka mulai bicara, suaranya naik setengah nada.
“Aku tahu.”
Pria di tengah melangkah maju. Kapten Lan. Aku mengenal langkah itu. Tenang, terukur, seperti seseorang yang terbiasa memberi perintah tanpa perlu meninggikan suara.
Matanya menyipit saat menatapku, bukan dengan amarah, tapi dengan penilaian. Seolah aku bukan manusia, melainkan variabel lama yang akhirnya muncul kembali.
“Lin Jie,” katanya. Namaku terdengar seperti sesuatu yang sudah lama dia hafalkan. “Senior pelarian Klan Ling.”
Aku berdiri tegak, membiarkan jubahku berhenti bergerak. Tanganku tetap kosong, telapak terbuka. Jangan beri mereka alasan terlalu cepat.
“Kami mencari adikmu,” lanjutnya. “Dan bayinya.”
Nada suaranya datar, tapi aku bisa mendengar kepastian di baliknya. Mereka tidak datang untuk bertanya. Mereka datang untuk mengambil.
“Tidak ada di sini,” kataku.
Aku tidak berteriak. Tidak berbohong dengan nada berlebihan. Satu kalimat pendek. Jika mereka ingin memaksaku bicara, mereka akan melakukannya apa pun jawabanku.
Kapten Lan menghela napas pendek, seolah kecewa tapi tidak terkejut.
“Kami punya cara untuk mengetahui.”
Dia mengangkat tangan, dan sebuah kompas hitam muncul di telapak tangannya. Ukirannya kasar, penuh simbol pencarian darah. Artefak kelas rendah, tapi menyebalkan.
Jarumnya berputar liar, bergetar, lalu perlahan melambat.
Dan berhenti.
Menunjuk lurus ke arah gua.
Jantungku berdetak lebih keras dari yang seharusnya. Jimat itu seharusnya bekerja. Aku memasangnya sendiri. Aku memastikan setiap simpul energi tertutup.
Aku menatap jarum itu lebih lama.
Ada yang salah.
Ia tidak bergetar seperti ketika mendeteksi Shen Yu. Tidak berdenyut seperti saat mendekati Lin Mei.
Ia stabil.
Fokus.
Dan aku mengerti.
Yu Yan.
Simpul gelap di tubuhnya. Luka lama yang pernah bersentuhan dengan energi yang tidak murni. Tanda itu tidak sepenuhnya bisa disembunyikan. Tidak oleh jimat biasa.
“Menarik,” gumam Kapten Lan. “Ada yang lain.”
Matanya berkilat sedikit. Bukan kegembiraan. Keserakahan.
“Seseorang dengan warisan unik.”
Rahangku mengeras. Kalau mereka masuk ke gua…
“Berikan bayi itu,” katanya, nada suaranya berubah lebih dingin. “Kami akan pergi dengan damai.”
Aku menatapnya lurus.
“Tidak akan pernah.”
Untuk pertama kalinya, senyum tipis muncul di wajahnya. Bukan senyum senang. Senyum orang yang akhirnya diberi izin untuk melakukan kekerasan.
“Sayang sekali.”
Dia mengeluarkan bola kristal hitam dari balik jubahnya. Energi di sekitarnya langsung berubah. Udara terasa berat, seperti ditarik ke bawah.
“Aku sebenarnya berharap kau lebih kooperatif.”
Tangannya menutup.
Kristal itu hancur.
Pecahannya tidak jatuh ke tanah. Mereka menguap di udara, berubah menjadi bayangan pekat yang menggeliat, merangkak keluar seperti makhluk hidup.
Aku mencium bau itu. Jiwa yang dirantai. Dendam yang diperas sampai kering.
Jiwa Terkurung.
Satu … dua … tiga.
Mereka tidak punya wajah. Hanya siluet manusia dengan cakar panjang dan mata merah menyala, menatap tanpa benar-benar melihat.
“Serang!” perintah Kapten Lan.
Kelima pemburu bergerak bersamaan.
Aku menarik napas dalam-dalam.
Dan mengulurkan tanganku ke samping.
Pedang perakku muncul di genggamanku, dingin dan ringan, seperti selalu. Ujungnya bergetar pelan, seolah menyambut pertempuran yang tertunda terlalu lama.
Aku menurunkan pusat gravitasi tubuhku.
Dan melangkah maju.
Pertarungan dimulai.