NovelToon NovelToon
Kultivasi : Menilai Kecantikan, Meningkatkan Kekuatan

Kultivasi : Menilai Kecantikan, Meningkatkan Kekuatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Fantasi Timur / Action / Fantasi Isekai / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: MagnumKapalApi

Arc 1 : Bab 1 — 41 (Dunia Melalui Mata Bayi Ajaib)
Arc 2 : Bab 42 — ... (On-going)

Aku terlahir kembali di dunia kultivasi dengan ingatan utuh dan selera yang sama.

Di sini, kekuatan diukur lewat tingkat kultivasi.

Sedangkan aku? Aku memulainya dari no namun dengan mata yang bisa membaca Qi, meridian, dan potensi wanita sebelum mereka menyadarinya sendiri.

Aku akan membangun kekuatanku, tingkat demi tingkat bersama para wanita yang tak seharusnya diremehkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 26 : Di Ambang Gua, Darah Menentukan.

[PoV Lin Jie]

Aku mendarat di tanah dengan lutut sedikit ditekuk, membiarkan berat tubuhku tenggelam ke bumi agar tidak menimbulkan suara. Daun-daun basah di bawah kakiku hanya bergeser tipis. Udara pagi masih dingin, bercampur bau tanah dan lumut.

Lima aura di depanku langsung berubah.

Mereka terkejut, tapi bukan orang bodoh. Dalam satu tarikan napas, mereka menyebar dan membentuk formasi setengah lingkaran. Jarak diatur. Sudut tertutup. Tidak ada celah langsung menuju gua di belakangku.

Bagus. Itu berarti mereka serius.

“Kapten, ini—” salah satu dari mereka mulai bicara, suaranya naik setengah nada.

“Aku tahu.”

Pria di tengah melangkah maju. Kapten Lan. Aku mengenal langkah itu. Tenang, terukur, seperti seseorang yang terbiasa memberi perintah tanpa perlu meninggikan suara.

Matanya menyipit saat menatapku, bukan dengan amarah, tapi dengan penilaian. Seolah aku bukan manusia, melainkan variabel lama yang akhirnya muncul kembali.

“Lin Jie,” katanya. Namaku terdengar seperti sesuatu yang sudah lama dia hafalkan. “Senior pelarian Klan Ling.”

Aku berdiri tegak, membiarkan jubahku berhenti bergerak. Tanganku tetap kosong, telapak terbuka. Jangan beri mereka alasan terlalu cepat.

“Kami mencari adikmu,” lanjutnya. “Dan bayinya.”

Nada suaranya datar, tapi aku bisa mendengar kepastian di baliknya. Mereka tidak datang untuk bertanya. Mereka datang untuk mengambil.

“Tidak ada di sini,” kataku.

Aku tidak berteriak. Tidak berbohong dengan nada berlebihan. Satu kalimat pendek. Jika mereka ingin memaksaku bicara, mereka akan melakukannya apa pun jawabanku.

Kapten Lan menghela napas pendek, seolah kecewa tapi tidak terkejut.

“Kami punya cara untuk mengetahui.”

Dia mengangkat tangan, dan sebuah kompas hitam muncul di telapak tangannya. Ukirannya kasar, penuh simbol pencarian darah. Artefak kelas rendah, tapi menyebalkan.

Jarumnya berputar liar, bergetar, lalu perlahan melambat.

Dan berhenti.

Menunjuk lurus ke arah gua.

Jantungku berdetak lebih keras dari yang seharusnya. Jimat itu seharusnya bekerja. Aku memasangnya sendiri. Aku memastikan setiap simpul energi tertutup.

Aku menatap jarum itu lebih lama.

Ada yang salah.

Ia tidak bergetar seperti ketika mendeteksi Shen Yu. Tidak berdenyut seperti saat mendekati Lin Mei.

Ia stabil.

Fokus.

Dan aku mengerti.

Yu Yan.

Simpul gelap di tubuhnya. Luka lama yang pernah bersentuhan dengan energi yang tidak murni. Tanda itu tidak sepenuhnya bisa disembunyikan. Tidak oleh jimat biasa.

“Menarik,” gumam Kapten Lan. “Ada yang lain.”

Matanya berkilat sedikit. Bukan kegembiraan. Keserakahan.

“Seseorang dengan warisan unik.”

Rahangku mengeras. Kalau mereka masuk ke gua…

“Berikan bayi itu,” katanya, nada suaranya berubah lebih dingin. “Kami akan pergi dengan damai.”

Aku menatapnya lurus.

“Tidak akan pernah.”

Untuk pertama kalinya, senyum tipis muncul di wajahnya. Bukan senyum senang. Senyum orang yang akhirnya diberi izin untuk melakukan kekerasan.

“Sayang sekali.”

Dia mengeluarkan bola kristal hitam dari balik jubahnya. Energi di sekitarnya langsung berubah. Udara terasa berat, seperti ditarik ke bawah.

“Aku sebenarnya berharap kau lebih kooperatif.”

Tangannya menutup.

Kristal itu hancur.

Pecahannya tidak jatuh ke tanah. Mereka menguap di udara, berubah menjadi bayangan pekat yang menggeliat, merangkak keluar seperti makhluk hidup.

Aku mencium bau itu. Jiwa yang dirantai. Dendam yang diperas sampai kering.

Jiwa Terkurung.

Satu … dua … tiga.

Mereka tidak punya wajah. Hanya siluet manusia dengan cakar panjang dan mata merah menyala, menatap tanpa benar-benar melihat.

“Serang!” perintah Kapten Lan.

Kelima pemburu bergerak bersamaan.

Aku menarik napas dalam-dalam.

Dan mengulurkan tanganku ke samping.

Pedang perakku muncul di genggamanku, dingin dan ringan, seperti selalu. Ujungnya bergetar pelan, seolah menyambut pertempuran yang tertunda terlalu lama.

Aku menurunkan pusat gravitasi tubuhku.

Dan melangkah maju.

Pertarungan dimulai.

1
^_^
tampar balik aja wajahnya (๑˃ᴗ˂)ﻭ
Aku Suka Plagi, Kamu Diam
aku nunggu adegan insectnya kk
Auzora Taraka Vesta
yang komentar Ironside semua /Sweat//Sweat//Sweat/
Auzora Taraka Vesta: Tapi bagus tuh...bang yoga jadi ada reader setia /Proud//Smile/
total 5 replies
Ironside
/Doge/
Ironside
owalah, kukira timeskip
Ironside
Gak sadar, udah lima tahun aja 🗿
Lin Mei: kecepatan kalo timeskip lima tahun, Pace slow-burn ini bg Leo 🗿
total 1 replies
Ironside
Tidak bisa dipungkiri, memakai antithesis itu enak /Chuckle/
Ironside: bentuk keren dari penolakan
total 2 replies
Ironside
👀
Ironside
Dongjua /Tongue/
Lin Mei: ahh iya typo njrr
total 1 replies
Ironside
Pengungkapannya kurang bagus menurutku, sebenarnya bisa tunjukkan lewat deduksi Malingseng aja 👀
Lin Mei: iyasih seharusnya MC yg ambil kesimpulan soal mata saktinya, tapi yg tahu soal seluk beluk dunia itu cmn si ibu 😭
total 1 replies
Ironside
Mana mesumnya? 🥀💔
Lin Mei: belum 🗿
total 1 replies
Ironside
Mirip-mirip nih novel Fantim Ucok, gak pakai dinkus.
Lin Mei: fantim emang aku ambil referensi dari Ucok, termasuk pecah bab juga
total 1 replies
Ironside
kyknya ini lupa tanda petik
Lin Mei: jirr iyaa 🗿
total 1 replies
Ironside
Chapter ini mengingatkanku dengan satu karakter wanita berambut pink itu /Chuckle/
Lin Mei: hentikaaaan bg Leo /Curse/
total 1 replies
Ironside
Kebiasaan malingseng dengan elipsisnya
Lin Mei: aowkaowkaok hampir setiap dialog, bahkan narasi pun /Facepalm/
total 1 replies
Ironside
Yey ... susu itu kembali
@Xiao Han (GG) ୧⍤⃝🍌 : SUSU!!
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!