NovelToon NovelToon
ANTARA KETIGA DALANG ITU Dan AKU

ANTARA KETIGA DALANG ITU Dan AKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Duniahiburan
Popularitas:15
Nilai: 5
Nama Author: Siti Gemini 75

Sekar Arum, gadis desa Plumbon, memiliki cinta yang tak biasa: wayang kulit. Ia rela begadang demi menyaksikan setiap pertunjukan, mengabaikan cemoohan teman-temannya. Baginya, wayang adalah jendela menuju dunia nilai dan kearifan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kemenangan yang Hambar

Pada hari perlombaan, Sekar Arum datang ke GOR Giri Mandala Wonogiri dengan hati yang berdebar-debar. GOR itu ramai dengan peserta lain yang juga terlihat gugup dan tegang. Ia mencoba untuk tidak terpengaruh oleh suasana tersebut dan fokus pada dirinya sendiri. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri sebelum tampil di atas panggung. Ia mengenakan kebaya sederhana yang dipilihkan ibunya, merasa sedikit aneh karena biasanya ia lebih suka mengenakan kaus dan celana jeans.

Saat namanya dipanggil, Sekar Arum berjalan menuju panggung dengan langkah yang mantap, meski jantungnya berdegup kencang. Lampu sorot membuat matanya sedikit silau, dan ia bisa merasakan tatapan para juri dan penonton tertuju padanya. Ia menarik napas dalam-dalam dan mulai membacakan puisi yang telah ia buat.

Ia membacakan puisi itu dengan penuh penghayatan dan emosi. Kata-kata itu mengalir dari bibirnya, membawa pesan yang ingin ia sampaikan dengan jelas dan lugas. Ia menutup mata sejenak, membayangkan Plumbon, desanya yang tenang dengan ladang tembakau yang menghijau, dan wajah ibunya. Ia berharap, puisinya bisa menyentuh hati para juri dan penonton, dan menyampaikan apa yang ada di dalam hatinya.

Setelah selesai membacakan puisi, Sekar Arum kembali ke tempat duduknya dengan perasaan lega. Beban di pundaknya seolah terangkat. Ia merasa telah memberikan yang terbaik. Sekarang, ia hanya bisa menunggu hasil penilaian dari para juri.

Waktu terasa berjalan lambat saat pengumuman pemenang. Sekar Arum semakin gugup, menggenggam tangannya erat-erat. Ia memejamkan matanya dan berdoa dalam hati, memohon agar ia bisa mendapatkan hasil yang terbaik.

Tiba-tiba, ia mendengar namanya disebut sebagai juara pertama dalam lomba menulis puisi tersebut. Ia terkejut dan tidak percaya. Ia membuka matanya dan melihat ke arah panggung. Para juri tersenyum padanya, dan tepuk tangan membahana di seluruh ruangan GOR Giri Mandala Wonogiri.

Ia melihat para juri memberikan selamat kepadanya dan menyerahkan piala serta hadiah. Ia merasa sangat bahagia dan bangga. Air mata haru mulai menggenangi pelupuk matanya. Ia tidak menyangka bisa meraih prestasi sebesar ini di GOR sebesar ini.

Ia berjalan menuju panggung dengan langkah yang gemetar. Ia menerima piala dan hadiah dengan senyuman yang lebar. Ia mengucapkan terima kasih kepada para juri, guru, teman-temannya, dan keluarganya yang telah mendukungnya selama ini. Ia mendedikasikan kemenangannya untuk ibunya, yang selalu percaya padanya.

Setelah menerima hadiah, Sekar Arum turun dari panggung dan menghampiri teman-temannya. Rini dan Sinta, sahabat-sahabatnya dari Ngadirejo, melompat-lompat kegirangan menyambutnya. Mereka bertiga adalah siswi SMAN 1 Eromoko, dan persahabatan mereka telah terjalin sejak MOS (Masa Orientasi Siswa) di sekolah itu.

Saat sedang merayakan kemenangannya bersama teman-temannya, Sekar Arum melihat Sinta sedang berdiri di kejauhan. Sinta tidak mendekat dan tidak memberikan selamat kepadanya secara langsung. Ia hanya melihat Sekar Arum dengan tatapan yang sulit diartikan, seolah ada sesuatu yang ingin diungkapkan, namun tertahan.

Sekar Arum merasa sedikit kecewa karena Sinta tidak memberikan selamat kepadanya seperti teman-teman yang lain. Namun, ia tidak mempermasalahkannya. Ia sudah terbiasa dengan sikap Sinta yang seperti itu. Ia mengerti, Sinta mungkin masih merasa canggung atau tidak nyaman dengan situasi ini.

Ia menghampiri Sinta dan mencoba untuk mengajak berbicara, berharap bisa mencairkan suasana.

"Makasih ya, udah dateng," kata Sekar Arum dengan nada tulus, berusaha tersenyum.

Sinta terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Selamat ya," jawabnya singkat, tanpa ekspresi yang berarti.

Sekar Arum tersenyum mendengar ucapan Sinta. Ia tahu, Sinta tidak mudah mengungkapkan perasaannya. Tapi, ia senang karena Sinta akhirnya memberikan selamat kepadanya, meski hanya dengan beberapa kata.

"Makasih," kata Sekar Arum. "Aku nggak nyangka bisa menang."

"Lo emang pinter," kata Sinta. "Lo pantes menang."

Sekar Arum terharu mendengar ucapan Sinta. Ia tidak menyangka Sinta akan mengatakan hal itu. Kata-kata itu terdengar tulus, meski diucapkan dengan nada datar.

"Makasih ya, Sin," kata Sekar Arum, terdorong untuk memeluk Sinta. "Lo emang sahabat terbaikku."

Sinta membalas pelukan Sekar Arum dengan singkat, lebih seperti formalitas. "Sama-sama, Sekar," bisiknya pelan.

Setelah berpelukan, Sekar Arum melepaskan pelukan mereka dan saling tersenyum tipis. Mereka berdua merasa lega karena persahabatan mereka telah melewati badai yang berat, dan mereka berhasil melewatinya bersama, atau setidaknya itulah yang ingin dipercayai oleh Sekar Arum. Ia berharap, semuanya akan kembali seperti dulu.

"Gimana kalau kita rayain kemenanganku?" tanya Sekar Arum, mencoba mencairkan suasana dan mengajak Sinta untuk merayakan bersamanya. "Kita pergi makan es krim?"

Sinta mengangkat bahu. "Terserah," jawabnya singkat, tanpa antusiasme.

Sekar Arum mengangguk dan mereka berjalan menuju toko es krim terdekat, meskipun kebersamaan itu terasa hambar. Kemenangan ini terasa kurang lengkap tanpa dukungan penuh dari sahabatnya.

Sesampainya di toko es krim, mereka memesan es krim. Sinta memesan rasa favoritnya tanpa bertanya pada Sekar Arum. Mereka duduk di meja dan menikmati es krim dalam diam yang canggung. Sesekali Sekar Arum mencoba memulai percakapan, tetapi respons Sinta singkat dan tidak menunjukkan minat untuk berlama-lama.

Setelah menghabiskan es krim, Sekar Arum dan Sinta memutuskan untuk pulang. Mereka berjalan kaki menuju Plumbon, desa tempat Sekar Arum tinggal, yang terkenal dengan ladang tembakaunya.

Saat sedang berjalan, mereka tidak sengaja berpapasan dengan Abimanyu. Abimanyu sedang berjalan bersama teman-temannya.

Sekar Arum dan Sinta merasa sedikit gugup saat melihat Abimanyu. Sekar Arum merasakan pipinya memanas, sementara Sinta memasang ekspresi datar.

Abimanyu tersenyum pada Sekar Arum dan Sinta. "Hai," sapanya ramah.

Sekar Arum membalas senyum Abimanyu. "Hai," jawabnya, sementara Sinta hanya mengangguk kecil sebagai balasan.

"Selamat ya, Sekar," kata Abimanyu. "Gue denger lo menang lomba puisi."

"Makasih," jawab Sekar Arum, pipinya merona. Ia merasa senang karena Abimanyu mengucapkan selamat kepadanya.

"Lo emang hebat," kata Abimanyu. Pujian itu membuat jantung Sekar Arum berdebar lebih kencang.

"Eh, udah ya, gue duluan," kata Sinta tiba-tiba, memotong percakapan mereka. "Udah mau sore." Ia seperti ingin segera mengakhiri pertemuan ini.

"Oh, oke," jawab Abimanyu agak bingung dengan sikap Sinta.

Sekar Arum tersenyum tipis. "Duluan ya, Abi," sapanya.

"Oke, sampai ketemu," jawab Abimanyu.

Sinta dan Sekar Arum melanjutkan perjalanan mereka, meninggalkan Abimanyu dan teman-temannya. Suasana kembali menjadi canggung.

Sesampainya di depan jalan yang menuju ke Ngadirejo, Sinta berhenti. "Gue duluan ya, udah deket," katanya tanpa menatap Sekar Arum.

Sekar Arum mengangguk. "Oke, hati-hati ya," jawabnya. Ia ingin mengatakan sesuatu yang lebih, tetapi ia tidak tahu harus berkata apa.

Sinta berbalik dan berjalan menuju Ngadirejo. Sekar Arum melihat kepergian Sinta dengan perasaan yang campur aduk. Ia merasa senang karena telah meraih kemenangan, tetapi ia juga merasa sedih karena persahabatannya dengan Sinta tidak lagi sama seperti dulu. Ia merindukan saat-saat mereka bisa tertawa dan berbagi cerita tanpa ada kecanggungan.

Sekar Arum menghela napas dalam-dalam. Ia tahu, ia tidak bisa memaksa Sinta untuk berubah. Ia hanya bisa menerima kenyataan dan terus menjalani hidupnya, berharap suatu saat nanti, semuanya akan kembali seperti semula.

Sekar Arum tiba di rumahnya dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan menatap langit-langit kamar. Piala kemenangannya tergeletak di meja belajar, menjadi pengingat atas prestasinya hari ini.

Ia memikirkan semua yang telah terjadi hari ini. Ia memikirkan kemenangannya dalam lomba puisi di GOR Giri Mandala Wonogiri, pertemuannya dengan Abimanyu yang membuatnya salah tingkah, dan sikap Sinta yang masih menjaga jarak dengannya.

Ia merasa bersyukur atas semua yang telah ia capai. Ia merasa bahagia karena telah meraih prestasi yang membanggakan. Tetapi, ia juga merasa sedih karena persahabatannya dengan Sinta tidak lagi sama seperti dulu. Kemenangan ini terasa hambar karena ia tidak bisa merayakannya dengan sahabatnya seperti dulu.

Sekar Arum memejamkan matanya dan mencoba untuk tidur. Ia berharap Ia berharap, esok hari akan menjadi hari yang lebih baik. Ia berharap, ia akan bisa menghadapi semua tantangan dan kesulitan yang ada di hadapannya dengan tegar dan kuat, serta menemukan kedamaian dalam dirinya sendiri, meski tanpa persahabatan yang utuh dengan Sinta. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa ia bisa bahagia dengan pencapaiannya sendiri, dan bahwa hidup akan terus berjalan, meski ada hal-hal yang tidak sesuai dengan harapannya.

                  ***********

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!