Di sebuah fasilitas penelitian bawah tanah yang terisolasi dari peradaban, seorang peneliti jenius bernama Esmeralda Aramoa terjebak dalam dilema moral dan ancaman nyawa. Demi bayaran besar untuk kelangsungan hidupnya, ia setuju memimpin Proyek Enigma, sebuah eksperimen ilegal untuk menyatukan gen serigala purba ke dalam tubuh seorang pria bernama AL. Selama satu bulan, Esme menyaksikan transformasi mengerikan sekaligus memikat pada diri AL, yang kini bukan lagi manusia biasa, melainkan predator puncak dengan insting Enigma yang jauh lebih buas dari Alpha mana pun. Hubungan antara pencipta dan subjek ini menjadi permainan kucing dan tikus yang berbahaya, di mana batas antara benci, obsesi, dan insting liar mulai memudar saat AL mulai menunjukkan tanda-tanda perlawanan terhadap kurungan kacanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Dilema Sang Peneliti
Sinar matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah tirai jendela, menyinari butiran debu yang menari di udara ruang tengah pondok Esmeralda Aramoa. Esme terbangun dengan leher yang terasa kaku karena ia tertidur dalam posisi duduk di kursi kayu dekat perapian, sambil memegang sebuah pisau dapur kecil yang ia siapkan untuk berjaga-jaga semalaman. Matanya yang sembap perlahan terbuka, dan hal pertama yang ia lihat adalah sosok raksasa yang masih meringkuk di atas karpet bulu di bawah sana.
AL, atau Aleksander gadungan itu, terlihat jauh lebih tenang saat tidur. Rambut hitamnya yang gondrong dan berantakan menutupi sebagian wajahnya yang memiliki pahatan tulang pipi yang tegas. Jika saja orang tidak tahu bahwa di dalam tubuh itu mengalir gen Enigma yang sanggup menghancurkan satu gedung laboratorium, mungkin orang akan mengira dia hanyalah seorang pria urakan yang sangat tampan.
Esme menghela napas panjang, meletakkan pisaunya di meja dengan pelan. Rasa bersalah kembali menghujam dadanya seperti ribuan jarum kecil. Ia teringat kembali pada malam kehancuran tiga tahun lalu di Leb City. Ia teringat wajah rekan-rekannya yang tidak sempat menyelamatkan diri, dan ia teringat bagaimana AL yang asli—pria yang memiliki mimpi dan masa lalu—telah ia bunuh secara perlahan melalui setiap suntikan genetik yang ia berikan.
"Apa yang sedang kulakukan?" bisik Esme pada dirinya sendiri. "Aku menampung monster yang hampir membunuhku kemarin malam, membohonginya dengan skenario pernikahan konyol, dan sekarang aku duduk di sini seolah-olah semuanya normal. Esme, kau benar-benar sudah gila."
Ia tahu tindakannya ini bukan karena ia masih terobsesi pada sains. Proyek Enigma sudah mati. Ia melakukannya karena ia tidak bisa membiarkan AL berkeliaran sebagai mesin pembunuh tanpa ingatan di dunia luar. Jika AL membantai penduduk desa atau mengamuk di kota, maka tangan Esmelah yang akan berlumuran darah lagi. Menjaganya di sini adalah satu-satunya cara untuk menebus dosa, meskipun itu berarti ia harus hidup dalam ketakutan setiap harinya.
Tiba-tiba, telinga AL bergerak sedikit. Kelopak matanya terbuka, menampakkan warna kuning keemasan yang langsung fokus menatap Esme. AL bangun dengan gerakan yang sangat efisien, tidak ada rasa kantuk sama sekali, seolah-olah sensor predatornya selalu aktif bahkan dalam tidur.
"Moa... kau sudah bangun?" tanya AL. Suaranya yang berat di pagi hari terdengar lebih parau. Dia bangkit berdiri, membuat kaos abu-abu pemberian Esme semalam terlihat sangat sesak menempel di otot dadanya.
"I-iya, Aleksander. Aku sudah bangun sejak tadi," dusta Esme sambil buru-buru berdiri dan merapikan rambutnya yang berantakan. "Bagaimana tidurmu? Apakah karpet itu cukup nyaman untuk... suamiku?"
AL berjalan mendekat, setiap langkahnya membuat lantai kayu sedikit berderak. Dia berhenti tepat di depan Esme, menunduk untuk menatap wajah wanita itu. "Karpetnya bau debu, tapi baumu ada di mana-mana di ruangan ini. Itu membuatku merasa... tidak ingin merobek sesuatu. Tapi kepalaku berisik. Ada banyak gambar yang muncul tapi aku tidak tahu itu apa."
Esme menegang. "Gambar apa?"
"Besi. Cairan biru. Dan wajahmu yang memakai kain putih kaku. Tapi kau di sana tidak tersenyum seperti sekarang. Kau di sana terlihat seperti... orang yang sangat dingin," ucap AL sambil mencoba menyentuh pipi Esme dengan ujung kukunya yang tajam namun dengan gerakan yang sangat hati-hati.
Esme segera memalingkan wajahnya, merasa ngeri jika AL mulai mendapatkan kembali ingatannya. "Itu pasti mimpi buruk akibat koma! Lupakan saja. Nah, sekarang pelajaran pertama hari ini adalah: Kebersihan!"
"Ke-ber-si-han?" AL memiringkan kepalanya, rambut gondrongnya jatuh menutupi bahunya yang lebar.
"Iya! Kau bau seperti serigala yang habis berguling di lumpur dan darah kelinci! Kau harus mandi!" Esme menarik tangan AL menuju kamar mandi kecil di sudut pondok. "Ini namanya sabun. Baunya harum. Dan ini air mengalir. Kau harus menyiram tubuhmu dengan ini."
Esme menyalakan shower, dan begitu air menyembur keluar, AL langsung melompat mundur dan mengeluarkan geraman rendah. Dia mengangkat tangannya seolah ingin mencakar air tersebut.
"Tenang! Itu cuma air! Kau tidak akan mati kena air!" teriak Esme frustasi. "Ayo masuk ke bawah air itu. Lepas bajumu!"
AL menatap Esme dengan tatapan curiga. "Kenapa aku harus melepas pelindung tubuh ini? Dan kenapa airnya berisik sekali? Moa, kau ingin menyiksaku lagi?"
Esme ngebatin, "Menyiksa? Aku sedang mencoba membuatmu tidak bau seperti bangkai, kau pria raksasa yang tidak tahu diri!" Namun yang keluar dari mulutnya adalah, "Tentu saja tidak, Sayang! Ini adalah ritual manusia setiap pagi. Istri akan merasa sangat bahagia jika suaminya harum seperti bunga lavender."
AL tampak bimbang, namun kata-kata "Istri akan merasa sangat bahagia jika suaminya harum seperti bunga lavender" sepertinya memberikan efek magis pada instingnya yang lugu. Dia perlahan menarik kaosnya hingga lepas, memamerkan punggungnya yang penuh dengan garis otot yang sempurna namun juga terdapat bekas luka lama akibat prosedur lab. Esme sempat terpaku sesaat melihat fisik luar biasa di depannya, sebelum ia tersadar dan melemparkan handuk ke wajah AL.
"Mandi sendiri! Aku akan menunggu di luar. Jangan sampai kau menghancurkan pipa airnya, atau aku benar-benar akan menendangmu kembali ke hutan!" seru Esme sambil buru-buru keluar dari kamar mandi dan menutup pintunya rapat-rapat.
Esme bersandar di pintu, jantungnya berdebar kencang. "Gila. Benar-benar gila. Aku baru saja menyuruh subjek eksperimen paling berbahaya di abad ini untuk mandi pakai sabun lavender. Kalau pimpinan proyek di Leb City melihat ini, mereka pasti akan menganggapku sudah kehilangan seluruh sel otakku."
Di dalam kamar mandi, terdengar suara air yang tumpah ke lantai disertai bunyi "Ouch!" dan "Dingin!" serta suara benda jatuh. Esme hanya bisa memejamkan mata, membayangkan kehancuran apa yang sedang terjadi di dalam sana.
Sepuluh menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka. AL keluar dengan hanya melilitkan handuk kecil di pinggangnya—yang terlihat sangat tidak memadai untuk menutupi tubuh raksasanya—dan rambutnya yang basah kuyup meneteskan air ke lantai kayu. Baunya memang sudah harum lavender, namun penampilannya justru jauh lebih berbahaya bagi kesehatan mental Esme.
"Sudah, Moa. Aku merasa... ringan. Tapi benda licin tadi jatuh ke dalam lubang," ucap AL sambil menunjuk ke arah kamar mandi. Sepertinya sabun batangan Esme sudah berakhir di dalam saluran pembuangan.
"Ya sudah, biarkan saja sabun itu menemukan jalannya ke laut," gumam Esme pasrah. "Sekarang, duduk! Aku harus memotong rambutmu. Kau terlihat seperti hantu penunggu pohon tua kalau rambutmu sepanjang ini."
Esme mengambil gunting dan sisir. Dia menyuruh AL duduk di lantai agar dia bisa menjangkau kepalanya. Saat Esme mulai menggunting rambut hitam yang kasar itu, AL tiba-tiba memegang lutut Esme.
"Moa, kenapa kau sangat peduli padaku? Jika aku kecelakaan dan aku merepotkan, kenapa kau tidak membuangku saja di hutan? Tadi malam aku merasa ada sesuatu di dalam diriku yang ingin membunuhmu, tapi sekarang... aku hanya ingin kau terus menyentuh rambutku seperti ini," ucap AL dengan nada yang sangat tulus dan polos. Esme terlihat tertegun, kata-kata sejenis itu lagi.
Tangan Esme terhenti. Tenggorokannya terasa tercekat. Rasa bersalah itu kembali lagi, lebih kuat dari sebelumnya. Bagaimana mungkin ia bisa menjelaskan bahwa dialah alasan AL tidak punya masa lalu? Bahwa dialah yang telah mencuri jati diri pria ini?
"Aku kan sudah bilang tadi malam itu Karena... karena itu adalah janji pernikahan kita, aku istrimu dan kita keluarga Aleksander," jawab Esme dengan suara yang sedikit bergetar. "Susah dan senang, ingat? Meskipun kau menjadi monster sekalipun, aku akan tetap... merawatmu." Esme ngebatin lagi, "Setidaknya sampai aku menemukan cara untuk membuatmu benar-benar aman bagi dunia luar."
AL memejamkan matanya, menikmati tarikan pelan gunting di rambutnya. "Istri adalah makhluk yang sangat baik. Aku beruntung memiliki Moa."
Esme hanya bisa tersenyum pahit. "Iya, kau beruntung suamiku. Dan aku... aku sepertinya sedang menjalani hukuman paling aneh di dunia."
Setelah rambut AL sudah lebih rapi—meski potongannya agak sedikit tidak beraturan karena tangan Esme yang gemetar—pria itu terlihat jauh lebih bersih dan "manusiawi". Namun, tantangan sebenarnya baru dimulai. Saat Esme sedang menyisir sisa rambut di lantai, terdengar suara ketukan di pintu depan pondok.
Mata AL langsung berubah tajam. Dia melompat berdiri, kuku-kukunya memanjang secara otomatis, dan geraman rendah kembali keluar dari tenggorokannya. Dia bergerak ke depan pintu, siap menerjang siapa pun yang ada di balik sana.
"Aleksander, BERHENTI! JANGAN!" Esme berteriak panik, ia segera berlari dan memeluk pinggang AL dari belakang untuk menahannya. "Itu mungkin cuma Paman Silas atau tetangga! Jangan bunuh mereka!"
"Bau asing! Ancaman!" geram AL, tubuhnya terasa sekeras baja di bawah pelukan Esme.
"Bukan ancaman! Itu tamu! Manusia tidak membunuh tamu!" Esme berbisik cepat, keringat dingin mengucur di dahinya. "Dengar, masuk ke kamar sekarang! Jangan keluar sampai aku bilang keluar! Kalau kau keluar dan menggigit mereka, aku akan marah besar dan tidak akan memberimu makan malam!"
Mendengar ancaman tidak diberi makan, AL perlahan mereda. Dia menatap Esme dengan bingung. "Marah?"
"Iya, sangat marah! Sekarang masuk!" Esme mendorong tubuh besar AL ke dalam kamar tidurnya dan mengunci pintunya dari luar.
Esme mengatur napasnya yang memburu, merapikan jas laboratoriumnya yang sudah lusuh, lalu berjalan menuju pintu depan dengan senyum yang dipaksakan. Di dalam hatinya, ia hanya bisa berdoa agar AL tidak tiba-tiba menjebol dinding kamar karena mencium bau manusia lain.
"Selamat pagi, Paman Silas! Wah, ada apa pagi-pagi sekali ke sini?" sapa Esme saat membuka pintu, mencoba bersikap senormal mungkin sementara di dalam kamar terdengar suara "Bruk!" yang cukup keras.
Hidup Esme benar-benar telah berubah menjadi sebuah bom waktu yang berdetak di atas tumpukan drama komedi yang sangat berbahaya.
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Paman Silas curiga dengan suara gaduh di dalam rumah Esme, atau AL akan melakukan hal konyol di dalam kamar yang membuat penyamaran Esme terbongkar?