"Bagiku, mencintaimu adalah anugerah terindah. Namun, membiarkanmu terus berjuang untukku yang hampir mati adalah sebuah dosa."
Arini tahu hidupnya tidak lama lagi. Di saat Rangga datang membawa cincin dan janji masa depan, Arini justru memilih untuk menghancurkan hati laki-laki itu. Ia ingin Rangga pergi, mencari wanita yang lebih sehat, dan hidup bahagia tanpa beban dirinya.
Namun, Rangga bukanlah pria yang mudah menyerah. Semakin Arini mengusir, semakin erat Rangga menggenggam.
"Aku tidak butuh masa depan tanpa kamu, Rin. Kalau kamu bilang kamu rapuh, maka biarkan aku hancur bersamamu."
Bisakah cinta yang sekarat menang melawan takdir yang kejam? Ataukah perjuangan Rangga hanya akan berakhir pada nisan yang dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: Ruang Kosong yang Membunuh
BAB 6: Ruang Kosong yang Membunuh
Pagi itu, udara di koridor rumah sakit terasa lebih dingin dari biasanya, atau mungkin itu hanya perasaan Rangga saja. Ia berjalan dengan langkah ringan, membawa kantong plastik berisi bubur ayam hangat dan sebuah buket kecil bunga krisan putih yang ia beli di depan gerbang. Rangga tersenyum sendiri. Semalam Arini sempat bangun dan meskipun lemah, gadis itu tersenyum padanya. Bagi Rangga, senyum itu adalah bahan bakar yang cukup untuk membuatnya bertahan seribu tahun lagi.
Ia sempat mampir ke bagian administrasi untuk mengurus beberapa tagihan laboratorium. Meskipun angka-angka di kuitansi itu membuat napasnya sedikit tertahan, Rangga tidak peduli. Selama Arini masih bersamanya, uang hanyalah kertas yang bisa ia cari lagi.
"Pagi, Sayang," ujar Rangga lembut saat ia mendorong pintu kamar 402.
Hening.
Rangga mematung di ambang pintu. Matanya menyisir ruangan yang kini tampak begitu luas dan kosong. Ranjang rumah sakit itu sudah rapi. Spreinya sudah diganti dengan yang baru, putih bersih tanpa noda. Tidak ada lagi botol infus yang menggantung, tidak ada lagi bunyi mesin monitor jantung yang ritmis, dan yang paling penting... tidak ada Arini di sana.
"Rin?" panggilnya, suaranya sedikit bergetar.
Ia meletakkan bubur dan bunga itu di atas nakas yang kosong. Ia berlari ke arah kamar mandi, berharap Arini hanya sedang membersihkan diri.
Kosong. Hanya ada tetesan air dari keran yang bocor, menggema di ruangan yang sunyi itu.
Rangga keluar dari kamar dengan napas tersengal, ia mencegat seorang perawat yang sedang lewat. "Suster! Pasien di kamar 402 mana? Arini! Di mana dia?"
Suster itu menatap Rangga dengan tatapan iba, seolah sudah dilatih untuk menghadapi momen seperti ini. "Pasien atas nama Arini sudah pulang paksa pagi tadi, Pak. Sekitar jam tujuh. Ada seorang wanita paruh baya yang mengurus administrasinya dan membawanya pergi."
Dunia Rangga seolah berhenti berputar. Ibu.
"Ke mana? Mereka pergi ke mana?!" Rangga mencengkeram bahu suster itu tanpa sadar.
"Maaf, Pak, kami tidak tahu. Pasien berpesan agar tidak memberikan informasi apa pun kepada siapa pun yang mencari. Ini surat yang ditinggalkan untuk Bapak." Suster itu menyerahkan selembar amplop putih yang terlihat sangat rapi.
Rangga merampas amplop itu dengan tangan yang gemetar hebat. Ia tidak sanggup membukanya di sana. Ia kembali masuk ke kamar 402, duduk di pinggiran ranjang yang kini terasa dingin, dan merobek amplop itu dengan kasar.
Rangga,
Saat kamu baca surat ini, aku mungkin sudah jauh. Jangan cari aku, Ga. Aku pergi atas kemauanku sendiri. Aku sadar, melihatmu hancur perlahan karena menjagaku adalah rasa sakit yang jauh lebih hebat daripada penyakitku.
Kamu pria hebat. Kamu punya masa depan yang luas. Jangan biarkan masa depan itu mati hanya karena seorang wanita yang masa depannya sudah terhenti. Hiduplah untuk dirimu sendiri, untuk Mamamu, dan untuk impian-impianmu yang sempat tertunda.
Maafkan aku karena harus pergi seperti ini. Anggap saja Arini yang kamu kenal sudah tidak ada. Berhenti memperjuangkan aku, Rangga. Izinkan aku pergi dengan tenang, tanpa beban melihat air matamu.
Selamat tinggal.
"Brengsek!" Rangga berteriak, suaranya menggema di seluruh ruangan. Ia meremas surat itu hingga hancur. "Kamu pikir ini cara yang adil, Arini?! Kamu pikir aku bisa bahagia setelah kamu buang begini?!"
Rangga berlari keluar rumah sakit, mengabaikan tatapan heran orang-orang. Ia memacu mobilnya dengan kecepatan gila menuju rumah ibunya. Pikirannya kalut. Pusing yang luar biasa menghantam kepalanya—pusing karena amarah, pusing karena pengkhianatan, dan pusing karena rasa takut kehilangan yang amat sangat.
Sesampainya di rumah mewah milik ibunya, Rangga langsung mendobrak pintu depan.
"Ma! Di mana Arini?!" teriaknya saat melihat Ibu Sarah sedang duduk tenang menyesap teh di ruang tamu.
Ibu Sarah meletakkan cangkirnya perlahan. "Dia sudah pergi ke tempat yang lebih baik, Rangga. Tempat di mana dia bisa tenang tanpa merasa menjadi beban untukmu."
"Mama sembunyikan dia di mana?!" Rangga mendekat, matanya merah padam. "Mama pikir Mama bisa mengatur hidupku terus? Arini itu nyawaku, Ma!"
"Nyawamu? Nyawamu sedang mati perlahan di rumah sakit itu, Rangga! Mama melakukan ini untuk kebaikanmu!" Ibu Sarah berdiri, suaranya tidak kalah keras. "Suatu hari nanti kamu akan berterima kasih pada Mama karena sudah melepaskanmu dari beban itu."
"Aku nggak akan pernah berterima kasih!" Rangga menunjuk wajah ibunya. "Kalau sampai terjadi sesuatu pada Arini, aku nggak akan pernah menganggap Mama sebagai orang tuaku lagi."
Rangga berbalik pergi, meninggalkan ibunya yang terpaku kaget. Sepanjang jalan, Rangga menelepon semua teman Arini, semua rumah sakit yang ia tahu, namun hasilnya nihil. Arini seolah lenyap ditelan bumi.
Malam itu, Rangga kembali ke apartemen Arini. Ia duduk di lantai kamar yang gelap, memeluk jaket milik Arini yang masih meninggalkan aroma parfum lavender yang lembut. Di sana, di tengah kesunyian, pertahanan Rangga runtuh. Laki-laki yang biasanya tegar itu menangis meraung-raung, memukul lantai hingga tangannya berdarah.
"Kenapa kamu setega ini, Rin... Kenapa kamu nggak biarkan aku jadi sandaranmu..." rintihnya di tengah isak tangis yang menyesakkan.
Rangga tidak tahu bahwa di sebuah klinik terpencil di pinggiran kota, Arini sedang terbaring lemah sambil menatap ponselnya yang terus bergetar. Ia melihat nama "Rangga" di layar itu sebanyak ratusan kali. Arini ingin mengangkatnya. Ia sangat ingin mendengar suara Rangga sekali saja. Namun, Ibu Sarah yang berdiri di pojok kamar klinik itu terus menatapnya dengan tatapan yang mengingatkan akan janjinya.
Arini mematikan ponselnya. Ia mencabut kartu SIM-nya dan mematahkannya menjadi dua.
Sakit, Ga... kepalaku pusing banget... tapi melihatmu bebas dari aku adalah obat yang paling pahit yang harus kutelan.