Zafira Amara, belajar bahwa cinta tidak selalu berakhir dengan indah. Ditinggal Anggara tanpa kabar setelah janji melamar, ia membangun benteng tinggi di hatinya.
Hingga akhirnya datang Aditya Pranata, pengagum rahasia yang mengisi kekosongan itu. Dari teman, menjadi hubungan tanpa status, hingga akhirnya resmi berpacaran.
Namun ironi terjadi, saat status sudah jelas, mereka justru kehilangan esensi. Trauma masa lalu Zafira bertabrakan dengan ketakutan komitmen Aditya.
Di tengah hiruk pikuk Yogyakarta, mereka belajar bahwa tidak semua yang dicintai bisa bertahan. Tidak semua janji bisa ditepati. Dan terkadang, melepaskan adalah bentuk cinta paling tulus meski itu menyakitkan. Sebuah kisah tentang kehilangan, trauma, dan keberanian untuk move on.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jarak yang Fira Buat
Hari pertama setelah kejadian di Alun-Alun, Fira bangun dengan mata bengkak parah. Kepalanya terasa pusing, badannya lemes, bahkan hatinya merasa hancur.
Ponselnya berbunyi dari pagi, puluhan pesan masuk dari Ditya.
"Pagi Fir. Kamu udah bangun?"
"Fira, maafin aku soal yang kemarin."
"Kumohon jawab aku, Fir."
"Aku tau aku salah. Tapi please.. jangan ignore aku kayak gini."
"Fira, aku kangen sama kamu."
Fira membaca satu persatu pesan itu, dengan air mata yang mulai turun lagi. Fira ingin banget membalasnya, tpi ia nggak bisa.
Fira nggak bisa terus-terusan menjadi pilihan kedua. Fira mematikan notifikasi chat dari Ditya, lalu melempar ponselnya ke kasur. Fira harus kuat, ia harus bisa menjaga jarak.
***
Siang itu, Fira masuk kerja dengan wajah yang kusut. Anna langsung terlihat begitu khawatir.
"Fira, kamu sakit ya? Muka kamu kok pucat banget."
"Nggak kok, Anna. Aku cuma kurang tidur aja."
"Yakin? Kamu keliatan nggak sehat Fir. Mau pulang aja? Aku bisa menghandlenya sendiri kok."
"Nggak usah, aku butuh kesibukan biar nggak terlalu memikirkan dia."
Anna mengerti siapa yang Fira maksud, tapi Anna nggak bertanya lebih jauh, cuma tepuk bahu Fira pelan.
Jam dua siang, bel pintu kafe berbunyi, Ditya masuk dengan wajah panik, matanya sembab seperti abis nangis.
Jantung Fira langsung berdetak kenceng. Kenapa dia dateng? Kenapa nggak bisa kasih Fira waktu sendiri dulu?
Ditya langsung jalan ke counter, menatap Fira dengan tatapan yang putus asa.
"Fira, kenapa kamu nggak membalas chat dari aku?"
Fira hanya menunduk, ia nggak berani menatap mata Ditya. "Aku lagi sibuk, Dit."
"Sibuk dari pagi sampai sekarang? Fira please.. jangan kayak gini. Aku pengen ngobrol sama kamu."
"Aku nggak ada waktu, dan nggak ada yang mau diomongin, Dit."
"Tapi aku ada!" suara Ditya naik sedikit, hingga membuat beberapa pengunjung melihat ke arahnya.
Anna menghampiri dan berdiri di samping Fira, seperti memberikan support pada Fira.
"Ditya, mungkin sekarang bukan waktu yang tepat. Fira juga lagi nggak enak badan."
Ditya melihat Fira khawatir. "Kamu sakit Fir? Kenapa kamu nggak bilang? Ayo, aku anterin ke dokter."
"Nggak usah, Dit. Aku baik-baik aja kok."
"Tapi kamu keliatan pucat. Ayo, aku anatar. Motor aku juga ada di luar."
"Aku bilang nggak usah!" suara Fira keras, hingga membuat Ditya tersentak.
Keheningan yang canggung. Nafas Fira terasa berat, tangannya gemetar, dan ia nggak pernah membentak Ditya seperti itu.
"Maaf," bisik Fira pelan sambil melihat lantai. "Maaf, karena aku sudah bentak kamu. Tapi, aku beneran nggak butuh bantuan kamu, Dit. Aku mau sendiri dulu."
"Sendiri kenapa, Fir? Apa gara-gara kejadian kemarin? Apa karena aku cerita tentang Jessica?"
Fira menggigit bibir bawahnya kuat. Nama Jessica disebut membuat dadanya semakin sakit.
"Tolong, Dit. Tolong jangan bahas itu di sini."
"Terus kapan? Kapan kita bisa ngobrol kayak biasanya? Aku nggak bisa kayak gini terus, Fir. Aku nggak bisa membayangkan, gimana kalo aku sampai kehilangan kamu."
"Tapi kamu juga nggak bisa mengikhlaskan Jessica, kan?" ucap Fira pelan, nyaris berbisik.
Ditya terdiam, dan nggak bisa membantah.
"Pulang, Dit. Aku harus kerja, dan kasih aku waktu untuk sendiri dulu."
"Fira."
"Kumohon, Ditya!"
Suara Fira bergetar, air matanya udah ngumpul di pelupuk mata. Ditya yang melihat itu, hatinya terasa seperti diremas.
"Oke," akhirnya Ditya mengalah. "Oke Fira. Aku kasih kamu waktu, tapi jangan lama-lama ya. Aku nggak sanggup jika kamu terus dingin seperti ini."
Fira nggak menjawab, ia cuma menunduk sambil menggenggam counter dengan erat.
Ditya jalan keluar kafe dengan langkah berat. Sebelum bener-bener keluar, ia menengok ke belakang satu kali. Berharap Fira bakal melihatnya dan tersenyum seperti biasa.
Tapi Fira nggak menengok sedikitpun, ia cuma berdiri diem sambil menunduk. Dan akhirnya Ditya pergi dengan hati yang berat.
***
Malem itu setelah kerja, Fira langsung pergi ke kost Rania. Fira nggak kuat sendiri, ia butuh bicara dan menangis di pelukan sahabatnya.
Rania membuka pintu, dan ia langsung merasa shock, saat melihat keadaan Fira yang berantakan.
"Astaga Fira! Kamu kenapa? Ayo, masuk dulu."
Rania menarik Fira masuk, duduk di kasur sambil peluk Fira yang langsung menangis.
"Ran, aku sakit hati banget," isak Fira di pelukan Rania.
"Ada apa, Fir? Cerita sama aku."
Dan Fira cerita semuanya. Cerita tentang Jessica, tentang konfrontasi di Alun Alun, tentang Ditya yang nggak bisa bilang cinta sama Fira, tentang gimana dia cuma di jadikan pelarian.
Rania mendengarkan sambil sesekali mengelus punggung Fira. Hatinya sakit banget, saat melihat sahabatnya seperti ini.
"Fira, aku nggak tau harus bilang apa. Aku marah sama Ditya, marah banget."
"Jangan marah Ran, dia juga punya luka. Dia juga korban dari traumanya sendiri."
"Tapi itu bukan suatu alasan, buat dia nyakitin kamu kayak gini, Fir! Dia harusnya jujur dari awal kalau dia belum siap. Harusnya dia nggak kasih harapan sama kamu, kalau ternyata hatinya masih untuk orang lain!"
Fira menangis semakin kenceng. Soalnya Rania bener. Ditya harusnya jujur dari awal.
"Ran, aku udah buka hati, udah siap buat dia, dan aku rela nerima semua kekurangan dia. Tapi ternyata dia belum siap buat aku, dan itu sakit banget Ran."
"Aku tau sayang," Rania peluk Fira semakin erat. "Tapi Fir, dengerin aku. Kamu udah bener memutuskan buat jaga jarak. Kamu nggak bisa terus-terusan sama orang, yang nggak bisa kasih hati sepenuhnya buat kamu."
"Tapi aku sayang banget sama dia, Ran."
"Aku tau, tapi sayang aja nggak cukup Fira. Kamu juga harus sayang sama diri kamu sendiri, jangan nyiksa diri sendiri demi orang, yang belum bisa menghargai kamu."
Fira diam dan mencoba merenungkan kata-kata Rania.
"Ran, apa aku salah? Apa aku salah untuk jatuh cinta lagi setelah Anggara?"
"Kamu nggak salah, Fira. Kamu punya hak buat jatuh cinta lagi, tapi.. timingnya yang kurang tepat, Ditya belum sembuh dari lukanya, dan kamu malah menjadi korban dari luka itu."
"Terus aku harus gimana sekarang?"
"Jaga jarak dan fokus sama diri sendiri. Sembuhkan luka kamu, dan biarkan Ditya sembuhkan lukanya sendiri. Kalau emang kalian jodoh, kalian bakal ketemu lagi di waktu yang tepat. Tapi kalau nggak. ya udah, legowo."
Fira mengangguk pelan sambil masih menangis.
"Ran, apa Ditya bakal ngejar aku? Atau malah membiarkan aku pergi?"
Rania diem sebentar, dia nggak tau jawabannya. Tapi dia nggak mau kasih harapan palsu ke Fira.
"Fira, jangan berharap kalau dia bakal ngejar kamu. Soalnya kalau kamu berharap terus dan dia nggak ngejar, kamu bakal sakit lagi. Lebih baik kamu anggap dia udah pergi, dan fokus sama diri kamu sendiri."
"Tapi gimana kalau dia ngejar?"
"Ya kalau dia ngejar, kamu pikirkan aja lagi. Tapi jangan langsung luluh, Fir. Pastikan bahwa dia beneran udah sembuh. Pastikan bahwa dia udah siap, dan jangan sampai kamu jadi korban lagi."
Fira mengangguk sambil mengusap air mata.
"Makasih Ran, makasih karena kamu selalu ada buat aku."
"Sama-sama Fira. Aku bakal selalu ada buat kamu, apapun yang terjadi."
Malem itu, Fira tidur di kost Rania. Tidur sambil dipeluk sahabatnya, bahkan menangis sampe Fira ketiduran.
Dan di apartemennya, Ditya duduk sendirian sambil melihat ponselnya. Chat terakhir sama Fira yang nggak pernah dibalas.
Ditya membuka galeri, melihat folder sampah yang masih menyimpan foto-foto Jessica. Foto yang seharusnya udah Ditya hapus permanen, tapi dia belum bisa.
"Kenapa aku nggak bisa mengikhlaskan kamu, Jess." gumamnya pelan sambil menangis. "Kenapa aku masih merasa berat, buat mengikhlaskan semuanya. Padahal, kamu juga udah bahagia sama orang lain?"
Tapi di saat yang bersamaan, wajah Fira muncul di ingatannya. Fira yang menangis di Alun-Alun. Fira yang bersikap dingin saat berada di kafe, dan Fira yang mulai menjauh.
"Fira, maafkan aku," bisiknya pelan. "Maafkan aku yang belum bisa jadi orang yang kamu butuhkan. Maafkan aku yang masih terjebak di masa lalu."
Ditya menangis sendirian di apartemen yang gelap, menangis karena dia sadar, bahwa dia lagi kehilangan Fira.
Di satu sisi, Ditya masih belum bisa move on dari Jessica, tapi di sisi lain, Ditya juga nggak mau kehilangan Fira. Tapi dia tau, dia nggak bisa punya keduanya.
Dan mungkin dia bakal kehilangan keduanya. Jessica yang udah pergi, dan Fira yang sekarang mulai pergi juga.
Karena semua itu, salah Ditya sendiri, yang nggak bisa melepaskan masa lalunya. Dan malah memberi harapan pada Fira, padahal hatinya belum sepenuhnya buat dia.
jadilah wanita teges jng terlalu bucin ma laki. fira Cinta sendirian 🤣