Yang Chi, seorang mahasiswi sekaligus penulis novel amatir, terbangun di dalam dunia ceritanya sendiri setelah menyelesaikan bab tragis tentang kematian sang Permaisuri, Yang Nan. Namun, bukannya menjadi pahlawan, ia justru terjebak dalam tubuh Xiao Xi Huwan, putri dari kerajaan tetangga sekaligus antagonis utama yang baru saja membunuh Permaisuri tersebut.
Kini, Yang Chi harus berhadapan dengan murka Kaisar Long Wei, pria yang seharusnya menjadi pelindung permaisurinya namun kini bersumpah akan memenggal kepala Xiao Xi dengan tangannya sendiri. Berbekal pengetahuannya sebagai penulis tentang rahasia istana dan plot masa depan, Yang Chi harus memutar otak untuk membersihkan namanya, menghindari hukuman mati, dan mengungkap konspirasi gelap yang ternyata jauh berbeda dari apa yang ia tulis di atas kertas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Hari ini kau adalah permaisuriku"
Wajah Yang Chi kini tertutup sempurna oleh selembar kain sutra berwarna merah transparan, sesuai dengan tradisi pernikahan agung kekaisaran. Meskipun pandangannya agak samar, ia bisa merasakan jantungnya berdegup kencang seiring langkah kakinya yang pelan, dibimbing oleh kedua pelayan senior di sisi kiri dan kanannya.
Suasana di luar kamar begitu megah. Wangi dupa cendana dan suara musik petik kecapi tradisional menggema di sepanjang koridor istana pada sore hari ini.
Di ujung koridor, Long Wei sudah berdiri menunggu. Sang Kaisar tampak luar biasa gagah dengan jubah pernikahan berwarna merah tua bersulam naga emas yang senada dengan milik Yang Chi. Begitu melihat sosok Yang Chi muncul, Long Wei sempat terpaku selama beberapa detik. Meskipun wajah gadis itu tertutup kain, aura kecantikan dan keanggunannya terpancar begitu kuat.
Long Wei melangkah maju, lalu dengan lembut ia meraih dan menggandeng tangan kecil Yang Chi.
"Jangan takut," bisik Long Wei dengan suara rendah yang sangat dalam, memberikan ketenangan di tengah riuhnya suasana. Genggamannya terasa hangat dan sangat protektif, seolah ia sedang menggenggam seluruh dunianya.
Yang Chi hanya bisa meremas pelan jari-jari Long Wei. Aduh, tanganku sampai keringat dingin begini. Tenang Yang Chi, fokus! Jangan sampai tersandung gaun sendiri di depan para menteri! batinnya berusaha menyemangati diri sendiri.
Mereka pun berjalan bersisian menuju altar agung di tengah istana, di mana Ibu Suri dan seluruh pejabat kerajaan sudah menunggu dengan tatapan yang beragam—ada yang kagum, ada pula yang masih tak percaya dengan takdir luar biasa ini.
Upacara pernikahan agung itu akhirnya dimulai di bawah langit sore yang cerah pada tahun ini. Di hadapan altar suci, Long Wei dan Yang Chi berdiri berdampingan. Meskipun kain merah menutupi wajahnya, Yang Chi bisa merasakan tatapan ratusan orang yang tertuju pada mereka.
"Penyembahan pertama... pada Langit dan Bumi!" seru tetua istana.
Long Wei dan Yang Chi membungkuk dengan khidmat. Di saat itulah, Yang Chi merasa beban berat di pundaknya—bukan hanya karena mahkota emasnya, tapi karena ia sadar bahwa mulai detik ini, hidupnya di dunia novel ini telah berubah selamanya. Ia bukan lagi mahasiswi tahun ini yang tersesat, melainkan wanita yang berdiri di puncak kekaisaran bersama pria yang paling dicintainya.
"Penyembahan kedua... pada Orang Tua!"
Mereka membungkuk ke arah Ibu Suri yang duduk di singgasana perak. Meskipun wajah Ibu Suri masih tampak kaku, ia tidak bisa mengelak lagi dari takdir ini. Ia hanya bisa mengangguk pelan, merestui persatuan yang tidak terduga ini.
"Penyembahan ketiga... Saling memberi hormat antara suami dan istri!"
Long Wei berbalik menghadap Yang Chi. Dengan tangan yang sedikit bergetar, ia perlahan mengangkat kain sutra merah yang menutupi wajah istrinya. Saat kain itu tersingkap, Long Wei terpaku. Wajah Yang Chi yang telah dirias begitu cantik tampak bercahaya, matanya yang bulat menatapnya dengan penuh cinta dan sedikit rasa malu.
"Mulai hari ini, kau adalah Permaisuriku," bisik Long Wei dengan nada yang sangat emosional.
Tanpa mempedulikan protokol istana yang kaku, Long Wei menarik Yang Chi ke dalam pelukannya dan melumat bibir istrinya itu di depan seluruh rakyat dan pejabat istana. Suasana yang tadinya sunyi seketika pecah oleh sorak-sorai dan tepuk tangan yang membahana.
Yang Chi hanya bisa memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam kebahagiaan yang tidak pernah ia sangka akan ia tulis untuk dirinya sendiri.
Malam Pengantin...
Di dalam kamar yang kini dihias dengan lilin merah dan kelopak bunga mawar, Long Wei menutup pintu rapat-rapat. Ia mendekati Yang Chi yang duduk di tepi ranjang dengan wajah merona.
"Tadi kau bilang... kau ingin merasakan apa yang menjadi milikmu, bukan?" goda Long Wei sambil melepaskan mahkota emas Yang Chi dengan sangat lembut.
Yang Chi tersipu malu, menutupi wajahnya dengan tangan. "T-tuan... itu kan cuma bercanda tadi siang!"
Long Wei tertawa rendah, ia menarik tangan Yang Chi dan mengecup jemarinya. "Sayangnya, aku tidak sedang bercanda, Permaisuriku."
Glek...
Yang chi berusaha mencerna nya ,
Tapi sebelum mencerna kata kata itu
Long Wei sudah melepas jubah nya
Long Wei meraih tangan yang chi dan menempel kan nya di dadanya,
Yang membuat yang chi terkejut .
"Tuan...", kata yang chi lirih berusaha menenangkan dirinya sendiri yang hampir terbang.
" Bukan kah kau menginginkan ini Xiao xi,
Long Wei terus menggoda yang chi ia terus
Mengeluskan tangan yang chi di dada nya sendiri , aku akan memberikan nya semua hari ini sayang ",