Alisa Putri adalah seorang guru TK yang lembut dan penuh kasih, sosok yang mendedikasikan hidupnya untuk keceriaan anak-anak.
Namun, dunianya yang berwarna mendadak bersinggungan dengan dunia dr. Niko Arkana, seorang dokter spesialis bedah yang dingin, kaku, dan perfeksionis.
Niko merupakan cucu dari pemilik rumah sakit tempatnya bekerja dan memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga reputasi keluarganya.
Pertemuan mereka bermula lewat Arka, keponakan Niko yang bersekolah di tempat Alisa mengajar.
Niko yang semula menganggap keramahan Alisa sebagai hal yang "tidak logis", perlahan mulai tertarik pada ketulusan sang guru.
Sebaliknya, Alisa menemukan bahwa di balik dinding es dan jubah putih Niko, tersimpan luka masa lalu dan tanggung jawab berat yang membuatnya lupa cara untuk bahagia.
Bagaimana kelanjutan???
Yukk baca cerita selengkapnya!!!
Follow IG: @Lala_Syalala13
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Datanglah Ke Sekolah
Pagi itu Niko masuk ke kamar 502 dengan jas dokter yang disampirkan di lengan bukan dikenakan.
Ia tampak baru saja menyelesaikan sif malam namun matanya tetap tajam, ia memeriksa lembar grafik stabilitas suhu tubuh Alisa untuk yang terakhir kalinya.
"Hasil tes darahmu sudah kembali normal, Leukositmu sudah turun." ujar Niko sembari meletakkan papan rekap medis itu ke meja.
"Aku akan menandatangani surat izin pulangmu hari ini." lanjutnya.
Alisa hampir saja melompat dari tempat tidur jika saja kabel infus tidak menahannya.
"Benarkah? Akhirnya! Aku sudah sangat rindu menghirup udara luar yang tidak beraroma karbol." ujar Alisa dengan senang.
Niko mendengus pelan, sebuah suara yang hampir menyerupai tawa kecil namun tertahan.
"Jangan senang dulu, ada syaratnya. Aku yang akan mengantarmu pulang dan aku akan memastikan persediaan makanan di rumahmu cukup untuk tiga hari ke depan dan kamu belum boleh kembali ke sekolah sampai hari Senin." ujar Niko dengan dinginnya namun terlihat cukup perhatian.
"Niko, aku bisa pulang sendiri pakai taksi online dan kamu pasti lelah setelah sif malam." tolak Alisa sungkan.
Ia tidak ingin menjadi beban lebih jauh bagi pria yang sudah sangat sibuk ini.
Niko berhenti merapikan peralatannya dan menatap Alisa dengan intensitas yang membuat wanita itu bungkam.
"Aku tidak menerima bantahan dari pasien yang baru saja pulih dan aku juga sudah meminta sopir rumah sakit membawakan mobilmu kembali ke rumahmu semalam. Jadi, kamu tidak punya pilihan selain ikut denganku." utasnya.
Alisa hanya bisa menghela napas, kalah telak. Ada sesuatu dalam nada bicara Niko yang tidak mengizinkan adanya negosiasi, namun di balik ketegasan itu, Alisa tahu ada kekhawatiran yang tulus.
Proses keluar dari rumah sakit berlangsung sangat cepat.
Status Niko sebagai cucu pemilik rumah sakit tentu saja membuat segala urusan administrasi seolah "terbang".
Saat mereka berjalan keluar menuju lobi, Alisa merasa sedikit aneh berjalan di samping Niko tanpa jubah putihnya.
Pria itu kini hanya mengenakan kemeja hitam yang pas di tubuh, terlihat lebih seperti seorang model daripada seorang dokter bedah.
Mobil sedan hitam Niko sudah menunggu di depan lobi, Niko membukakan pintu untuk Alisa sebuah gestur sederhana yang membuat beberapa perawat yang melihat dari jauh berbisik-bisik penuh rasa ingin tahu.
Selama perjalanan suasana di dalam mobil terasa nyaman namun sedikit canggung dan ini adalah pertama kalinya mereka benar-benar berdua di ruang tertutup tanpa ada Arka sebagai penengah.
"Di mana alamatmu?" tanya Niko singkat.
Alisa menyebutkan sebuah kompleks perumahan kecil yang asri di daerah Jakarta Selatan.
Perjalanan memakan waktu sekitar empat puluh menit karena kemacetan ibu kota.
Sepanjang jalan Niko sesekali bertanya tentang alergi makanan Alisa atau apakah ia memiliki asisten rumah tangga yang bisa menjaganya.
"Aku tinggal sendiri Niko, orang tuaku di Yogyakarta." jawab Alisa lembut.
"Tapi jangan khawatir karena aku sudah biasa mengurus diriku sendiri." ucap gadis itu yang terlihat begitu mandiri.
"Itulah yang membuatmu berakhir di rumah sakit-ku dua hari lalu." sahut Niko tanpa menoleh, namun tangannya mencengkeram kemudi sedikit lebih erat.
"Berhenti mengatakan kamu bisa mengurus semuanya sendiri saat kamu bahkan lupa untuk makan." ujar Niko dengan intonasi yang sedikit naik namun tetap mode dinginnya.
Alisa terdiam, ia merasa sedikit tersindir namun juga merasa... diperhatikan.
Begitu sampai di depan rumah mungil Alisa yang dipenuhi dengan tanaman hias di terasnya kemudian Niko mematikan mesin mobil, ia turun lebih dulu dan segera mengambil tas kecil Alisa di bagasi.
"Aku bisa membawanya sendiri Niko." ujar Alisa saat ia turun dari mobil.
Niko tidak mendengarkan tpi ia justru berjalan menuju pintu depan rumah Alisa.
"Buka pintunya." ucap Niko tegas.
Alisa mengeluarkan kunci dari tasnya dengan perasaan gugup.
Memasukkan seorang pria seperti Niko ke dalam rumahnya yang sederhana terasa seperti membawa sebuah berlian mahal ke dalam kotak kayu biasa.
Begitu pintu terbuka, aroma vanila dari pengharum ruangan menyambut mereka.
Rumah Alisa sangat rapi, hangat dan dipenuhi dengan sentuhan-sentuhan feminin yang lembut.
Niko masuk dan langsung menuju dapur, ia meletakkan tas Alisa di meja makan, lalu tanpa izin, ia membuka lemari es wanita itu.
"Sesuai dugaanku." gumam Niko sembari menatap isi kulkas yang hampir kosong, hanya ada beberapa botol air mineral dan sisa roti tawar.
"Ini bukan kulkas manusia tapi ini kulkas pajangan toko." ucapnya sebagai sindiran atau bagaimana tapi itu bukan seperti kulkas pada umumnya.
Alisa berdiri di ambang pintu dapur, merasa malu.
"Aku belum sempat belanja sebelum sakit kemarin." asalannya.
Niko mengeluarkan ponselnya, mengetik sesuatu dengan cepat.
"Aku sudah memesan makanan sehat dan beberapa bahan pokok untuk dikirim ke sini dalam satu jam dan jangan mencoba memasak sesuatu yang berat dulu." serunya.
Niko kemudian berbalik, matanya menyapu seisi rumah Alisa hingga berhenti pada rak buku yang penuh dengan buku-buku pendidikan anak dan beberapa novel.
Ia berjalan perlahan ke arah sofa, lalu menatap Alisa yang masih berdiri mematung.
"Duduklah, wajahmu mulai pucat lagi karena terlalu banyak berdiri." perintahnya.
Alisa menurut dan ia duduk di sofa beludru hijaunya. Niko tidak langsung pulang.
Ia justru melepas jam tangannya dan meletakkannya di meja lalu duduk di kursi tunggal di seberang Alisa.
"Niko... kamu tidak perlu melakukan semua ini. Aku benar-benar merasa tidak enak." ucap Alisa dengan suara rendah.
Niko menatap Alisa cukup lama, ruangan itu mendadak terasa lebih sempit.
"Alisa, apakah kamu tahu kenapa aku sangat bersikeras membawamu pulang sendiri?" serunya.
Alisa menggeleng perlahan.
"Karena selama kamu di rumah sakit aku bisa memantau monitor jantungmu kapan pun aku mau dari ruanganku tapi sekarang kamu di sini dan aku tidak punya cara untuk tahu apakah kamu baik-baik saja atau tidak." suara Niko terdengar lebih jujur, tanpa lapisan sarkasme atau kedinginan yang biasanya ia pakai sebagai tameng.
Jantung Alisa berdegup kencang, apakah ini sebuah pengakuan? Tapi dia tidak boleh terlalu percaya diri karena bagaimanapun bis saja Dokter Niko hanya berterima kasih karena Alisa adalah guru keponakannya.
"Kamu... bisa meneleponku jika ingin tahu kabarku." ucap Niko dengan sedikit gugup namun tertutupi dengan sikap dingin dan cueknya itu.
Niko sedikit membuang muka, tampak canggung dengan kejujurannya sendiri.
"Aku bukan tipe pria yang suka berbicara di telepon untuk hal-hal yang tidak mendesak." serunya dengan dingin dan entah kenapa dia mengatakan hal tersebut
.
.
Cerita Belum Selesai.....
...JANGAN LUPA BERI DUKUNGAN ⬇️⬇️⬇️...
...ULASAN DAN BINTANG LIMA NYA🌟...
...FAVORITKAN CERITA INI ❤️...
...VOTE 💌...
...LIKE 👍🏻...
...KOMENTAR 🗣️...
...HADIAHNYA 🎁🌹☕...
...FOLLOW IG @LALA_SYALALA13...
...SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA...
ayo lanjut lagi