NovelToon NovelToon
Taubatnya Si Kupu-Kupu Malam

Taubatnya Si Kupu-Kupu Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Yatim Piatu / Cinta Seiring Waktu / Romansa / PSK / Konflik etika / Mengubah Takdir
Popularitas:39.1k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Kayla dikenal sebagai Queen, seorang kupu-kupu malam yang terkenal akan kecantikan wajahnya dan bermata indah.

Suatu hari Kayla menghindar motor yang tiba-tiba muncul dari arah samping, sehingga mengalami kecelakaan dan koma. Dalam alam bawah sadarnya, Kayla melihat mendiang kedua orang tuanya sedang disiksa di dalam neraka, begitu juga dengan ketiga adik kesayangannya. Begitu sadar dari koma, Kayla berjanji akan bertaubat.

Ashabi, orang yang menyebabkan Kayla kecelakaan, mendukung perubahannya. Dia menebus pembebasan Kayla dari Mami Rose, sebanyak 100 juta.

Ketika Kayla diajak ke rumah Ashabi, dia melihat Dalfa, pria yang merudapaksa dirinya saat masih remaja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Dapur rumah Pak Ramlan siang itu terasa lebih pengap daripada biasanya. Aroma makanan masih tertinggal di udara, bercampur dengan bau sabun pencuci piring dan uap air panas. Kayla berdiri membelakangi pintu, tangannya bergerak mekanis menggosok piring, tetapi pikirannya jauh melayang.

Di belakangnya, Zahira berdiri bersandar pada kusen pintu, memperhatikan setiap gerak Kayla dengan tatapan yang tidak lagi hangat, melainkan menilai, menghakimi.

“Kayla,” panggil Zahira pelan.

Kayla menegang. Ia tahu nada itu bukan nada ramah. Ia mematikan keran air, menaruh piring dengan hati-hati, lalu berbalik.

“Iya, Mbak Zahira?” jawabnya sopan, meski suaranya sedikit bergetar.

Zahira melangkah masuk ke dapur, sepatu haknya mengklik di lantai. Ia berdiri begitu dekat sehingga Kayla bisa mencium parfumnya yang mahal.

“Kamu pintar, ya,” ucap Zahira, suaranya manis tetapi dingin. “Datang ke rumah ini, terlihat polos, bekerja dengan rajin, tapi diam-diam menarik perhatian dua pria sekaligus.”

Jantung Kayla seperti diremas. “M-Maksud Mbak apa?” tanyanya gugup.

Zahira tersenyum tipis. “Kamu tahu maksudku.”

Zahira menatap Kayla dari atas ke bawah, membuat perempuan itu merasa kecil, kotor, dan tak berarti. “Aku lihat cara Abi memandangmu. Cara Dalfa juga. Dan aku lihat kamu sangat menikmatinya. Iya, kan?”

Kayla menggeleng cepat. “Tidak, Mbak. Saya tidak—”

Zahira memotong dengan tajam. “Jangan berpura-pura bodoh. Perempuan sepertimu biasanya memang jago bermain peran.”

Tangan Kayla gemetar. Spons di tangannya hampir terlepas.

Zahira mendekat lagi, suaranya kini seperti bisikan tajam yang menembus telinga. “Kamu pikir aku tidak tahu maksud kamu sebenarnya? Kamu suka sama Ashabi, kan?”

Kayla membeku. Wajahnya pucat seketika.

Zahira melihat reaksi itu dan tahu ia telah mengenai titik paling rapuh Kayla. “Aku akan cari tahu semua tentangmu,” lanjut Zahira tanpa belas kasihan.

“Tentang masa lalumu. Tentang pekerjaanmu dulu.” Zahira menekankan setiap kata dengan sengaja.

Dunia Kayla runtuh dalam sekejap. Dadanya sesak, napasnya terengah, matanya mulai panas. Kayla terhuyung mundur, menabrak meja dapur. Air mata mengalir deras tanpa bisa ditahan.

“Berani-beraninya kamu menaruh hati pada Abi,” Zahira melanjutkan, suaranya dingin menusuk. “Dia bukan untuk perempuan miskin sepertimu.”

“Atau kamu mau menjajakan tubuhmu untuk menjerat Ashabi? Melihat kamu, kenapa aku merasa seperti wanita malam penghibur pria hidung belang.”

Kalimat itu seperti tamparan keras yang menghancurkan seluruh pertahanan Kayla. Tubuhnya bergetar hebat.

“A-ku ... aku tidak pernah berniat—” Kayla terisak, suaranya patah-patah.

“Tahu dirilah,” potong Zahira. “Kamu dan Abi berbeda dunia. Dia pria terhormat dari keluarga terpandang. Sedangkan kamu?”

Zahira tertawa kecil, tetapi menyakitkan. “Wanita miskin yang beruntung bisa jadi pembantu di rumah ini.”

Kata itu menggema di kepala Kayla seperti palu yang menghantam berulang-ulang. Air matanya mengalir semakin deras, membasahi pipinya, jatuh menetes ke lantai dapur.

Zahira berbalik, melangkah pergi tanpa rasa bersalah.

Kayla jatuh terduduk di lantai, kedua tangannya menutupi wajahnya. Di dalam dadanya, sesuatu patah.

Sejak hari itu, Kayla berubah. Ia tidak lagi menatap Ashabi seperti dulu dengan penuh rasa kagum, hangat, dan tanpa sadar berbinar.

Kini, setiap kali Ashabi berbicara dengannya, Kayla menunduk. Menjaga jarak. Menjawab seperlunya.

Jika Ashabi mendekat, ia akan mundur setengah langkah. Jika Ashabi tersenyum padanya, ia hanya membalas dengan senyum tipis yang dipaksakan.

Suatu sore, Ashabi berdiri di ruang tamu, memerhatikan Kayla yang sedang merapikan meja. Ia mengernyit. Ada yang berbeda.

“Kayla,” panggil Ashabi.

Kayla menegang, lalu menoleh sebentar. “Iya, Den?”

Kata itu membuat dada Ashabi terasa tertusuk.

Dulu Kayla memanggilnya “Mas Abi” atau sekadar “Abi”. Kini menjadi formal, dingin.

“Aku hanya ingin tanya, kamu baik-baik saja?” tanya pria itu pelan.

Kayla menunduk. “Saya baik.”

Jawaban singkat yang terasa ada jarak jauh. Ashabi menggenggam gelas di tangannya sedikit lebih erat. Ia semakin yakin kalau Kayla sedang menjauh. Dan itu menyakitinya lebih dari yang ia duga.

Sore harinya, Ashabi baru pulang dan berniat menemui ibunya di ruang keluarga. Namun, langkahnya terhenti saat ia mendengar suara Zahira dan Bu Aisyah dari ruang tengah.

“…Perempuan seperti itu tidak pantas berada di dekat Abi, Tante,” suara Zahira terdengar jelas.

Ashabi membeku di balik dinding. Dia penasaran dengan apa yang sedang dua orang itu bahas.

Bu Aisyah terdengar ragu. “Zahira, jangan berbicara seperti itu. Kayla sudah banyak membantu—”

Zahira memotong. “Tante tidak tahu bagaimana sifat asli Kayla. Dia itu bukan wanita baik. Saya tidak ingin Abi terjerat perempuan seperti itu.”

Dada Ashabi terasa terbakar. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah masuk.

Zahira dan Bu Aisyah langsung terdiam melihatnya. Wajah mereka menunjukan keterkejutan.

Ashabi berdiri tegak, wajahnya tegang, rahangnya mengeras. “Zahira,” ucapnya dingin.

Zahira menoleh, terkejut. “Abi—”

Ashabi menatapnya tajam. “Kamu tidak berhak menghakimi Kayla.”

Suasana ruangan langsung menegang. Bu Aisyah menahan napas.

Zahira tampak tersinggung. “Aku hanya—”

“Aku tidak peduli dengan pikiran kamu yang jahat itu,” potong Ashabi tegas. “Yang aku tahu, Kayla bekerja dengan jujur, menjaga adik-adiknya, dan tidak pernah menyakiti siapa pun.”

Nada suara Ashabi bergetar, bukan karena marah semata, tetapi karena emosi yang tertahan.

Zahira menggigit bibirnya. “Jadi kamu membelanya di depanku?”

Ashabi menatapnya lurus-lurus. “Jika kamu tidak bisa menghormati orang di rumah ini, terutama ibuku dan orang yang bekerja di sini, maka kamu tidak perlu datang lagi.”

Kalimat itu menghantam Zahira lebih keras dari apa pun. Matanya berkaca-kaca, wajahnya memucat.

Bu Aisyah hanya bisa terdiam, hatinya campur aduk antara terkejut, sedih, dan bangga pada putranya.

Ashabi berbalik, meninggalkan ruang keluarga tanpa menoleh lagi.

Di dapur, Kayla berdiri mematung, tanpa sadar telah mendengar semua pembicaraan mereka. Air mata kembali mengalir di pipinya. Namun kali ini, bukan hanya karena luka, tetapi karena sesuatu yang semakin ia takutkan. Perasaannya pada Ashabi yang tak bisa ia bunuh begitu saja.

***

Insya Allah, karya ini sebagai ganti kisah Kayla, ya. Semoga masih diberi umur, sehat, dan pikiran waras.

1
Naufal Affiq
kenapa di gantung ceritanya,
nuraeinieni
orang itu pintar koreksi kesalahan orang,tapi tdk sadar utk inropeksi mulutnya utk berbicara yg sopan.
nuraeinieni
semoga saja sdh ada calon baby,,,biar aby dan kayla,merasakan juga jadi orang tua.
martiana. tya
bikin penasaran ihhhh.... 😄
Nar Sih
semoga usaha dan ihtiar mu kali ini sgra membuah kan hasil ya kayla sgra hadir buah cinta kalian
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
ken darsihk
Dengan kesabaran dan tawakal pasti semua nya akan indah pada waktu nya
Sugiharti Rusli
bahkan karena itu bu Aisyah tidak ragu tuk membela sang menantu yang sudah dipilih oleh Ashabi karena hatinya yang memilih dan bukan nafsunya,,,
Sugiharti Rusli
ternyata ucapan Ashabi saat dulu mau meniatkan Kayla sebagai calon istri kepada kedua ortunya yang pada akhirnya meluluh kan pak Ramlan dan bu Aisyah tentang niat sang putra yah,,,
Sugiharti Rusli
kalo sampai sekian lama Allah belum takdir kan hal itu terjadi, berarti memang belum saatnya terjadi kan😪😪😪
Sugiharti Rusli
padahal sejatinya jodoh, rejeki dan maut tuh bukan ranah manusia dan kita hanya bisa berikhtiar dan berdoa,,,
Sugiharti Rusli
terkadang yah lidah kita tuh kenapa tidak bisa kita jaga buat tidak berbicara yang bukan ranahnya,,,
Cindy
lanjut
Wiwi Sukaesih
yah d gantung Thor
up LG Thor
Cindy
lanjut
Irni Yusnita
bagus ceritanya 👍 aku suka banget, lanjut Thor
Nar Sih
sabar dan semagat ya kayla semoga doa mu ditanah suci sgra terkabul kan
nuraeinieni
semua butuh proses kayla,ada yg di beri kepercayaan dgn cepat,ada yg harus bersabar menunggu dan ada juga yg tdk di beri keturunan,tugas kita berihtiar dan berdo'a,selebih kita pasrakan pada yg punya kehidupan.
ken darsihk
Sabar Kayla tidak ada yng salah dngn diri mu , Alloh sedang menguji ketakwaan mu Kayla jadi tetap bersabar dan terus 💪💪
Dini Anggraini
Sabar Kayla kamu tahu konten kreator yang selalu membagikan video anak kembar 3 nya mereka menunggu 13 tahun lamanya buat punya anak mereka bersabar lama2 punya rumah sendiri, usaha toko sendiri mereka jalani dengan ikhlas tanpa adanya perselingkuhan dari keduanya dan ALLAH SWT memberikan hadiah terindahnya melalui punya anak 3 sekaligus. Coba mereka punya anak saat masih sulit hutang banyak, rumah gak ada pekerjaan belum tetap pasti mereka sering bertengkar karena bingung sama biayanya anaknya. Tapi ALLAH memberikan mereka 3 buah hati di saat yang tepat. Suatu saat kamu pasti punya anak Kayla sabar, berdo'a dan berusaha apapun hasilnya nanti kamu pasrahkan pada ALLAH SWT. 💪💪💪👍👍😍😍
Dini Anggraini: amien🤲🏻🤲🏻 yarobal alamin semoga Kayla segera dapat momongan.
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!