Keyla Atmadja (18 tahun) baru saja memimpikan indahnya bangku perkuliahan sebelum dunianya runtuh dalam semalam. Ayahnya, Alan Atmadja, berada di ambang kehancuran total; kebangkrutan membayangi dan ancaman penjara sudah di depan mata. Namun, sebuah "tali penyelamat" datang dari sosok yang tak terduga: Dipta Mahendra 35 tahun), seorang konglomerat dingin dan predator bisnis yang disegani.
Pertemuan singkat yang dianggap Keyla sebagai kebetulan di sebuah kafe, ternyata adalah awal dari rencana matang Dipta. Terpesona oleh kemurnian dan kecantikan alami Keyla, Dipta menawarkan sebuah kesepakatan gelap kepada Alan: seluruh hutang keluarga Atmadja akan lunas, dan modal bisnis akan mengalir tanpa batas, asalkan Keyla diserahkan menjadi tunangannya.
Terjepit di antara rasa bakti kepada orang tua dan keinginannya untuk merdeka, Keyla terpaksa menerima cincin berlian yang terasa seperti borgol di jemarinya. Di pesta pertunangan yang megah namun penuh ketegangan, Keyla harus berhadapan dengan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31.PINTU KECIL UNTUKNYA TERBANG
Matahari pagi menyusup malu-malu di balik tirai mansion tua, membawa aroma embun dan tanah basah ke dalam kamar. Suasana yang biasanya kaku kini terasa lebih hangat. Keyla terbangun lebih awal, membantu para pelayan menyiapkan sarapan favorit Sofia. Namun, saat waktu keberangkatan tiba, mendung seolah kembali menggelayuti wajah sang ibu mertua.
Di teras depan, Sofia berdiri dengan tangan yang saling bertautan, wajahnya tampak masam dan bibirnya melengkung kebawah. Ia menatap mobil hitam Dipta seolah itu adalah monster yang akan merampas kebahagiaan barunya.
"Kenapa harus sekarang?" tanya Sofia pelan, suaranya sedikit bergetar. "Kalian baru saja di sini. Rumah ini akan kembali sepi."
Dipta, yang sedang merapikan jam tangannya, tampak ragu untuk menjawab. Namun Keyla segera melangkah maju, menggenggam kedua tangan Sofia dengan lembut.
"Ma, dengar Keyla," ucap Keyla sambil menatap mata Sofia dengan tulus. "Kami harus kembali karena aku ada jadwal kuliah dan Dipta harus bekerja. Tapi aku janji, ini bukan kunjungan terakhir. Aku akan sering datang ke sini, bahkan mungkin tanpa Dipta jika dia terlalu sibuk. Kita akan jalan-jalan ke kolam ikan lagi, ya?"
Sofia menatap Keyla lama, mencari kepastian. "Janji? Kau tidak akan membohongiku seperti... seperti yang lain?"
"Aku janji, Ma. Aku akan membawakan Mama buku-buku baru atau tanaman bunga yang cantik nanti," Keyla memeluk Sofia erat, memberikan kehangatan yang membuat wanita paruh baya itu akhirnya mengangguk pelan meski dengan berat hati.
Dipta menyaksikan interaksi itu dari ambang pintu. Ada rasa lega sekaligus takjub melihat bagaimana Keyla mampu menjinakkan badai dalam diri ibunya hanya dengan kata-kata sederhana. Setelah berpamitan, mereka masuk ke dalam mobil. Mansion itu perlahan menghilang dari spion, menyisakan kesunyian yang kembali menyelimuti halamannya.
***
Sepanjang perjalanan menuju Jakarta, keheningan menyelimuti kabin mobil. Namun, ini bukan lagi keheningan yang penuh ancaman seperti biasanya. Dipta sesekali melirik Keyla yang tampak sedang melamun menatap jalanan.
"Bagaimana kuliahmu?" tanya Dipta tiba-tiba, memecah kesunyian.
Keyla sedikit tersentak, menoleh ke arah suaminya. "Eh? Kuliahku... baik. Tapi cukup banyak tugas yang menumpuk karena aku sempat absen."
"Apa kau merasa kesulitan? Maksudku, dengan materi atau dosen-dosen di sana?" Dipta bertanya lagi, nadanya datar namun ada nada kepedulian yang terselip.
Keyla menggeleng. "Tidak terlalu. Aku suka HI. Tapi kadang aku merasa tertinggal beberapa diskusi penting di perpustakaan."
Dipta mengangguk perlahan. Mobil terus melaju membelah jalan tol. Pria itu tampak sedang menimbang sesuatu dalam kepalanya. "Soal beasiswa itu," ucap Dipta, membuat napas Keyla tertahan sejenak. "Aku sudah memikirkannya semalam."
Keyla menegang. Ia teringat kemarahan Dipta di restoran tempo hari. "Dipta, jika kau ingin membatalkannya—"
"Dengar dulu," potong Dipta tenang. "Beasiswa yang kau daftar itu... aku akan meminta pihak universitas untuk memberikannya kepada mahasiswa lain yang lebih membutuhkan secara finansial. Kau tidak butuh uang itu, Keyla. Aku suamimu, dan tugasku adalah memastikan semua kebutuhan pendidikanmu terpenuhi tanpa kau harus mengemis pada dana bantuan."
Keyla menghela napas, hendak membantah, namun Dipta melanjutkan.
"Tapi," Dipta meliriknya sekilas, "soal program pertukaran pelajar itu... aku tahu itu bukan soal uang. Itu soal prestasimu."
Keyla menoleh sepenuhnya, matanya berbinar penuh harap. "Lalu?"
"Jika kau memang mampu menembus seleksinya secara murni, tanpa bantuan namaku, aku tidak akan melarangmu. Kau bisa mengambilnya jika kau benar-benar menginginkannya," ujar Dipta.
"Benarkah? Kau mengizinkanku pergi?" tanya Keyla hampir tak percaya.
"Dengan satu syarat," suara Dipta kembali memberat, menunjukkan sisi posesifnya yang belum hilang sepenuhnya. "Kau harus membuktikan padaku bahwa kau bisa menjaga dirimu—dan martabatku—di luar sana. Dan ingat, kau tetap istriku. Ke mana pun kau pergi, jarak tidak akan mengubah kenyataan itu."
Keyla terdiam, meresapi setiap kata-kata Dipta. Ini adalah sebuah kemajuan besar. Pria yang tadinya ingin mengurungnya dalam sangkar emas, kini mulai membuka pintu kecil untuknya terbang, meski kakinya masih terikat tali yang tak terlihat.
"Terima kasih, Dipta," bisik Keyla. "Aku akan membuktikannya. Aku akan belajar lebih giat lagi."
Dipta mendengus pelan, namun ada sedikit senyum tipis di sudut bibirnya. "Jangan terlalu giat sampai lupa makan. Aku tidak ingin menjemput mayat hidup di kampus."
Percakapan mengalir lebih ringan setelah itu. Keyla mulai bercerita tentang teman-temannya—Bella dan Resti—meskipun ia berhati-hati untuk tidak menyebut nama Rendy. Ia bercerita tentang dosen-dosennya yang unik dan impiannya untuk bekerja di kedutaan suatu hari nanti.
Dipta mendengarkan dengan saksama. Baginya, mendengarkan Keyla bercerita tentang dunianya terasa seperti mendengarkan melodi yang asing namun menenangkan. Ia mulai menyadari bahwa kecerdasan Keyla bukan untuk ditakuti, melainkan untuk dibanggakan.
***
Saat mobil akhirnya sampai di lobi penthouse, suasana kembali berubah formal. Doni dan beberapa pengawal sudah menunggu di sana. Namun, saat Dipta turun dari mobil, ia tidak lagi memerintahkan pengawalan ketat di belakang Keyla seperti biasanya.
"Doni, pastikan jadwal kuliah Keyla disesuaikan dengan sopir. Tidak perlu terlalu mencolok di area kampus, cukup pantau dari jauh," perintah Dipta sebelum mereka masuk ke lift.
Keyla merasa sedikit beban terangkat dari bahunya. Meskipun ia masih diawasi, setidaknya ia tidak lagi merasa seperti narapidana yang dikawal ketat setiap saat.
Di dalam lift yang bergerak naik, Keyla berdiri di samping Dipta. Ia melihat pantulan mereka di dinding lift yang mengkilap. Mereka tampak seperti pasangan sempurna dari luar, namun hanya mereka yang tahu luka dan rahasia yang tersimpan di balik pakaian mahal tersebut.
"Dipta," panggil Keyla saat lift hampir sampai di lantai mereka.
"Ya?"
"Tentang Papa... Haris," Keyla ragu sejenak. "Apakah kau akan tetap membencinya selamanya?"
Rahang Dipta mengeras seketika. "Beberapa luka terlalu dalam untuk disembuhkan, Keyla. Jangan meminta sesuatu yang tidak bisa kuberikan."
Keyla mengangguk, mengerti bahwa ia tidak bisa memaksakan segalanya sekaligus. Keberhasilannya membuat Sofia tersenyum adalah kemenangan besar, namun mendamaikan Dipta dengan ayahnya adalah perang yang jauh lebih panjang.
Pintu lift terbuka. Mereka melangkah masuk ke dalam penthouse yang kini terasa sedikit lebih hangat daripada saat pertama kali Keyla menginjakkan kaki di sana. Malam itu, untuk pertama kalinya, mereka makan malam bersama tanpa ada perdebatan atau ketegangan.
Dipta sibuk dengan tabletnya, sementara Keyla membaca buku referensi HI-nya. Sesekali mata mereka bertemu, dan ada sebuah pengertian bisu yang mulai tumbuh. Bahwa di balik segala paksaan dan obsesi, ada sebuah ikatan yang mulai bertransformasi menjadi sesuatu yang lebih nyata.
***
Bersambung...
mahasiswa normal, apakah kau pernah jadi mahasiswa normal, Dipta ? melihat sikapmu yakin kau tak pernah jadi mahasiswa normal atau bahkan lbh parah, tak pernah kuliah
Dipta, gunakan hati & otakmu, bisa kan ? kalau kau ingin Keyla menurut, perlakukan dia dg baik, dg pendekatan hati pasti timbal baliknya juga baik
ayo Dipta buktikan, dirimu manusia baik" atau kakek moyangnya iblis dg perilakumu